Judul di atas adalah hasil adopsi dari judul cerpen legendaris milik A.A. Navis, ‘Robohnya Surau Kami’. Bercerita tentang seorang kakek yang bertugas sebagai garin, atau pengurus masjid dalam bahasa Minang. Sang kakek, dalam cerita ini,  memiliki kepercayaan bahwa satu-satunya cara hidup agar sesuai dengan kehendak Tuhan adalah dengan melaksanakan ritual ibadah terus menerus dan menganggap kegiatan selain itu adalah masalah duniawi yang harus ditinggalkan. Maka ia menghabiskan seluruh waktunya di Surau untuk bermunajat kepada Yang Kuasa.

Lantas dimana korelasi antara UI dan Surau? Kita tentu sepakat bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk ibadah, maka dalam hal ini, kampus bisa diibaratkan layaknya surau dalam fungsinya sebagai tempat ibadah. Lagi pula, seperti surau yang dipimpin seorang garin, sebagai sebuah perguruan tinggi,UI juga memiliki pimpinannya sendiri. Bedanya, ia disebut rektor.

Tak terhitung metafor yang ada untuk menganalogikan seorang pemimpin. Ia bisa saja diandaikan bagai seorang nahkoda, yang bertugas mengendalikan kapal organisasi menuju arah yang tepat. Pada kesempatan lain ada yang menyebut pemimpin bak lokomotif, berlari paling depan membawa gerbong bangsa. Tapi ada juga yang menasihati, “Asal jangan pemimpin yang seperti jamaahnya Mamah Dedeh, bisa jadi bakal sering curhat.”

Tidak dipungkiri, UI dengan nama besarnya kerap menjadi sorotan media. Baik itu prestasi yang ditorehkan baik di bidang akademis, maupun non-akademis. Bahkan untuk sebuah berita mengenai demonstrasi mahasiswa, seorang wartawan pernah berujar “UI itu legitimator, kalo gak ada warna kuningnya, liputan tentang demo susah buat naik cetak.”

Tentu saja ada resiko bagi siapapun yang menyandang nama besar. Pameo “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa” cukup relevan untuk menggambarkan situasi UI saat ini. Awalnya hanya beredar di kalangan internal kampus, desas-desus mengenai penyalahgunaan anggaran pembangunan di UI. Lalu kita tercengang saat BPK menyatakan telah menemukan kejanggalan hingga milyaran rupiah dalam  pembangunan fasilitas di UI.  Hanya butuh waktu singkat sampai hal ini terangkat ke media. Hal yang selama ini, paling banter, menjadi topik diskusi di kampus sendiri, segera berubah menjadi perbincangan di khalayak. Kita sebagai civitas akademika UI harus selalu siap dengan pertanyaan “Itu kenapa sih di UI, kok bisa gitu?”. Entah bagaimana cara menjelaskan kepada mereka bahwa itu juga pertanyaan kita, “Kok bisa gitu?”. Maka terbentuklah sebuah gerakan, sebagai buah kekecewaan atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Mirisnya, pertanyaan itu membentur meja-meja kekuasaan. Jawaban mereka utuh, pemberhentian secara sepihak terhadap Dekan FKUI Prof. Ratna Sitompul yang juga turut aktif sebagai koordinator ‘UI Bersih’. Otokritik di kampus ini mati dengan cara yang menggelikan.

advertisement

Sampai pada suatu hari, pada kisah Robhnya Surau Kami, Si kakek didatangi oleh pemuda bernama Ajo Sidi. Dari mulut Ajo Sidi ini keluar sebuah cerita mengenai murka Tuhan terhadap hamba-NYA yang hanya melaksanakan ibadah ritual untuk dirinya sendiri,tanpa mau memperhatikan keadaan sekitar, anak-istri dan orang-orang di dekatnya. Sang kakek geram karena ada yang mengusik keyakinannya , terpikirkan olehnya untuk menggorok leher Aji Sidi. Namun apa daya, ia sudah berumur dan tak mungkin menang melawan Aji Sidi yang masih muda. Maka masyarakat sekitar surau pun gempar ketika esoknya menemukan sang kakek sudah tidak bernyawa akibat menggorok lehernya sendiri.

Ajo Sidi dalam tubuh UI bisa jadi adalah UI Bersih atau gerakan sejenis yang berjuang demi perbaikan dalam tubuh UI. Mereka mengingatkan pemimpin untuk tidak hanya terpaku pada kepentingan pribadi dan lebih fokus pada tujuan bersama. Tentu bukan keputusan bijak bila sang pemimpin memilih untuk tidak mengindahkannya, apalagi kalau sampai ingin menghancurkan. Bisa-bisa nasibnya jadi seperti sang kakek.



[reaction_buttons]