Apakah jiwa itu suatu hal yang riil?

Apakah roh itu adalah suatu hal yang nyata?

Pertanyaan ini selalu menggoda setiap intelektual dan akademisi. Bukan tanpa sebab, karena di dalam setiap agama ada suatu kepercayaan: yang namanya jiwa dan roh adalah suatu hal yang nyata dan setiap manusia yang mati akan mengalami pelepasan roh atau jiwa dari tubuh untuk menuju alam surgawi.

Setiap agama mempunyai kepercayaan supraindrawi dan  jika kepercayaan roh atau jiwa tersebut di uji secara ilmiah dan filosofis tentu akan sangat menarik. Kali ini saya akan memberikan perspektif tentang permasalahan roh dan jiwa dari para pemikir materialisme.

Roh dan Materi dalam Perspektif Filsafat Materialisme

Simbol perenungan filsafat (Sumber: ibtimes.id)

Ketika manusia mati maka manusia akan mengalami pelepasan roh dari tubuh dan roh tersebut akan mengalami perjalanan menuju dunia surgawi. Tetapi apakah itu rasional dan benar? Menurut seorang filsuf materialisme Prancis yaitu Baron von Holbach (1723-1789) yang namanya jiwa atau roh sebenarnya tidak lebih dari fungsi-fungsi otak, sementara filsuf-filsuf materialisme lainnya menyatakan bahwa roh, jiwa, dan nyawa sebenarnya hanyalah fungsi-fungsi otak dan kesatuan kerja dari sistem organ.

Roh, jiwa, dan nyawa hal yang dianggap sebagai entitas lembut yang immaterial dan bisa keluar dari tubuh saat kematian hanyalah imajinasi dan kepercayaan tanpa dasar. Roh yang digambarkan seperti itu sebenarnya tidaklah ada, yang ada hanyalah otak dan kesatuan kerja sistem organ. Begitu manusia mati tidaklah ada yang namanya perpisahan roh dari tubuh melainkan yang ada hanyalah kerusakan sistem organ dan fungsi otak. Yang nyata di dunia ini hanyalah materi sementara yang immateri adalah suatu ketiadaan.

advertisement

Jadi menurut filsuf-filsuf materialisme yang namanya roh atau jiwa tidaklah ada, yang ada hanyalah fungsi-fungsi otak dan kesatuan sistem kerja organ tubuh. Konsekuensi dari pernyataan itu adalah yang namanya kehidupan setelah kematian tidaklah ada. Kematian hanyalah kehancuran struktur-struktur atom yang menyusun tubuh. Atom-atom itu akan mengalami penguraian dan mungkin persenyawaan dengan atom-atom milik organisme lainnya.

Jadi di sini materialisme ingin mengatakan bahwa kehidupan hanyalah terdapat di dunia ini yang terdiri dari materi semata sementara kehidupan setelah kematian yang bersifat immateri tidaklah ada.

Para filsuf materialisme juga sebenarnya menerima pemikiran reinkarnasi tetapi bukan reinkarnasi dalam bentuk perpindahan jiwa kepada tubuh lain melainkan perpindahan atom kepada atom yang terdapat di organisme lain. Setelah manusia mati maka atom-atom yang membentuknya akan mengalami penguraian dan mungkin mengadakan persenyawaan dengan atom dari organisme lain misalnya cacing ataupun botfly (belatung) dan jika cacing itu misalnya ditangkap oleh manusia lainnya dan digunakan untuk umpan memancing ikan, maka atom-atom cacing yang  terdiri dari atom-atom tubuh kita akan bergabung menjadi atom-atom di tubuh ikan dan jika ikan tersebut dimakan oleh manusia lainnya maka atom-atom ikan yang terdiri dari atom cacing dan atom tubuh kita yang mati akan bergabung dengan atom manusia lainnya.

Jadi kita dapat mengalami reinkarnasi dalam bentuk penggabungan atom di tubuh orang lain. Jadi roh dalam perspektif materialisme tidaklah diterima bahkan seluruh hal yang bersifat immateri akan ditolak oleh para filsuf materialisme.

Bagaimana dengan dewa-dewa dalam perspektif materialisme? Menurut para filsuf materialisme dewa-dewa hanyalah proyeksi manusia semata. Manusialah yang  menciptakan sosok dewa bukan dewa yang menciptakan manusia. Itu sebabnya menurut mereka dewa selalu mempunyai rupa dalam bentuk-bentuk tertentu yang sifatnya antropomorfisme. Materialisme menolak segala hal yang bersifat immateri.

Kritik

advertisement

Tetapi menurut saya ada hal yang dilewatkan oleh para filsuf materialisme yaitu Tuhan dalam agama monoteisme. Saya mungkin setuju jika dewa-dewa yang digambarkan dalam bentuk tertentu dalam agama politeisme adalah hasil proyeksi manusia tetapi Tuhan dalam agama monoteisme tidaklah memilki rupa dan bergambar sehingga hanya ada satu kemungkinan yaitu Tuhan dalam perspektif monoteisme adalah hasil wahyu bukan hasil proyeksi manusia.

Untuk permasalahan roh yang direduksi secara kausal pada fungsi-fungsi otak mungkin dapat dilakukan secara kausal tetapi secara ontologi tidaklah dapat dilakukan. Ketika saya mencicipi kopi A dan teman saya mencicipi kopi A juga mungkin kopi objektif yang dicicipi sama tetapi rasa atau pengalaman subjektif ketika mencicipi kopi itu berbeda-beda. Jadi sebenarnya ada semacam dunia subjektif yang tidak dapat di objektifikasi didalam fungsi-fungsi otak semata.

Daftar Referensi

  1. https://plato.stanford.edu/entries/holbach/
  2. Van der Weij, P.A.2018. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia.( Cetakan ke-4). Terjemahan oleh Dr.K.Bertens. Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama.
  3. https://www.britannica.com/biography/Paul-Henri-Dietrich-baron-dHolbach
  4. https://www.kompasiana.com/rismayu/5e9b98c7097f3623ed6973c2/pengertian-filsafat-materialisme-dan-pemikiran-tokoh-tokoh-filsafat-materialisme

Sumber gambar simbol Patung Filsafat