Saat Kekalahan Menjadi Kebanggaan

Oleh Ibni Sabil A. Z. M.

Anggota Kelompok Studi Geografi – UI

Bukan hal aneh ketika pemilihan judul dari esai, makalah, hingga buku mengangkat kalimat fenomenal dan kontroversial. Seperti halnya dalam esai saya tentang “Saat Kekalahan Menjadi Kebanggan…“, saya juga bermaksud melanjutkan judul tersebut dengan patahan kalimat yang sengaja tidak saya rangkai karena kekhawatiran over controversial dari esai yang saya tulis ini, yakni kalimat “…Dan Kemenangkan menjadi Keprihatinan”.

Bingung, adalah kata yang mewakili perasaan yang diakibatkan oleh rumitnya susunan kata per kata yang ingin saya sampaikan. Bukan karena saya tidak memahami apa yang coba saya sampaikan, tetapi karena saya ingin mentransfer utuh pemikiran dalam tulisan saya ini kepada pembaca, baik dari pengertian hingga pemahaman keseluruhannya. It isn’t mean that paradigma yang saya angkat ini harus menjadi paradigma atau pandangan bulat dan masal bagi pembaca, tetapi harapan saya dalam tulisan ini dapat memperkaya pemikiran kritis masing-masing kepala dan lebih jauh lagi agar egoisme yang mengedepankan individualitas serta mengalahkan lapang dada atau tenggang rasa semakin bisa kita sama-sama kontrol.

Mengawali satu pernyataan khas yang sering kita dengar, terlebih lagi kaum muda mahasiswa yang telah banyak “tercekoki” sewaktu masa orientasi kehidupan kampus berlangsung, yakni Tridharma Perguruan Tinggi (PT) menjadi pokok pedoman saya dalam tulisan ini. Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat menjadi isi dari Tridharma PT ini. Sangat singkat dan padat tetapi penuh makna.

Pengabdian Tridharma PT Bukan Pilihan

Pemaparan ringkas di atas mengenai isi Tridharma PT akan saya lanjukan dengan pernyataan tambahan bahwa ketiga lingkup pengaplikasiannya tidak lagi dapat dianggap sebagai “pilihan”. Hal ini kembali saya tekankan karena sejujurnya masih kita kenal jelas akan banyaknya istilah mahasiswa dalam perkuliahan seperti Kupu (Kuliah Pulang), Kuda (Kuliah Dagang), Kunang (Kuliah Nangkring), dan sebagainya. Dari contoh itu tersirat seakan pendidikan, dalam hal ini perkuliahan adalah satu-satunya prioritas yang wajib diemban oleh orang berpredikat mahasiswa. So, bagaimana dengan kabar kewajiban sosok mahasiswa yang lain, yakni penelitian dan pengabdian masyarakat?

Tidak terelakkan, tujuan kita jauh merantau menjadi sosok mahasiswa adalah tugas berat yang menjadi harapan Ibunda dan Ayahanda, serta keluarga yang kita tinggalkan. Mereka memimpikan putra yang gigih berjuang dan giat belajar menempa ilmu di bangku perkuliahan. Tapi saya yakin bukan sosok penghafal rumus, presenter, atau peraih IPK tertinggi saja yang mereka harapkan dari sang putra kebanggaan.

Penelitian merupakan aplikasi dari materi yang tertuang dalam pembelajaran perkuliahan / pendidikan. Tanpa penelitian ini, seakan bobot pendidikan tidak akan setimpal baiknya jika dibandingkan dengan pendidikan yang teraplikasi dalam penelitian. Memang satu paket yang sangat erat kaitannya, bahkan seharusnya tidak terpisahkan antar keduanya.

Pengabdian masyarakat menjadi parameter dari betapa upaya keras kita bermanfaat buat saya, anda, dia, mereka, kita, dan kalian sebagai insan sosial. Dari mana sih senyum datang? Ketika semua kebutuhan tercukupi, sepertinya senyum di wajah siapapun akan berseri-seri. Iya, seperti itulah perumpamaan pentingnya pengabdian masyarakat dalam kehidupan ini. Dan nyata bahwa apapun yang kita abdikan ke masyarakat merupakan hasil riset / penelitian, walau sekecil apapun bentuknya. Untuk mencukupi suatu kebutuhan, kita harus memahami dulu apa, di mana, siapa, kapan, serta bagaimana kebutuhan tersebut bisa tercukupi. Bukan begitu? Nyata dan tidak terelakkan bahwa untuk mengetahui itu semua membutuhkan penelitian.

Berorganisasi, tergabung dalam kepanitian, serta partisipasi aktif kita dalam hal positif lain akan sangat membantu usaha aplikasi kita dalam pengabdian masyarakat. Entah sekecil apapun peran kita, hal-hal di atas akan menjembatani pendewasaan sesungguhnya dalam memasyarakatkan diri kita.

Jadi masihkah hanya memilih salah satu dari ketiga isi Tridharma PT? Kita mahasiswa Bung! Kita akademisi Cin! Be 100% on all of it! 100% dalam pendidikan, 100% dalam penelitian, dan 100% dalam mengabdikan diri pada masyarakat. 😀

Pengabdian Tridharma PT Bukan Persaingan

Iya, mungkin uraian dalam sub ini semakin subyektif saja. Sejujurnya yang akan saya paparkan merupakan pengamatan dari pengalaman pribadi dalam berorganisasi dan masuk dalam kepanitiaan. Rasa iri memang penyakit hati yang sangat berat untuk kita usir. Iri dalam harta, iri dalam perebutan tahta, serta iri dalam memenangkan cinta. Mungkin akan saya perjelas deskripsi sub ini dengan menampilkan beberapa contoh.

Organisasi biasanya memiliki visi misi yang jelas dan teraplikasi dalam program kerja nyata. Tentunya kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan juga mengacu pada satu haluan besar Tridharma PT. Dalam satu departemen / jurusan saja, dapat muncul berbagai organisasi dengan kepentingan dan program kerja yang berbeda-beda. Terlebih lagi di fakultas atau dalam lingkup luas lagi di universitas. Tentunya akan semakin kompleks dan semakin banyak organisasi yang aktif menjalankan program kerja rancangannya masing-masing.

Nah, banyaknya organisasi dengan program kerja masing-masing inilah yang terkadang selalu bersinggungan dan menimbulkan gesekan. Kunci dari rasa iri akan image, pengakuan, dan keunggulan adalah sering menumbuhkan egoisme dari tingkat individu hingga rumpun organisasi yang berujung pada perseturuan atau secara kasar dapat dibilang bersaing dan konflik.

Memang tidak naïf, tampil eksis menjadi impian individu maupun organisasi / kelompok. Tetapi sangat disayangkan ketika upaya keras dalam mengaplikasikan Tridharma PT yang bertujuan mulia dalam menyeimbangkan skala prioritas, hanya berujung pada titik pangkal persaingan, bahkan berimbuhkan kata tidak sehat serta saling mengucilkan.

So, apa tidak sepantasnya saja kita saling mendukung? Apa tidak akan lebih baik dan maksimal ketika kita saling berkordinasi dan bekerja sama? “Sip kawan, mari nge-teh, mari bicara.” 😀

Saat Kau Dikalahkan dan Apresiasi Kemenangan Lawan

Sub pamungkas yang sangat menarik saya kira. Sengaja saya tuliskan di akhir untuk memberikan rasa haus membaca dan penasaran. Sub inilah akan menjawab judul yang saya berikan di atas.

Saya punya mimpi dan cita-cita. Anda juga yakin pasti memilikinya. Begitupun dia dan mereka. Saya punya mimpi dan cita-cita besar untuk diri saya, untuk agama saya, untuk kelompok saya, untuk organisasi saya, untuk universitas saya, untuk Negara dan bangsa saya, untuk dunia, begitupun saya yakin anda, dia, mereka pun punya harapan, mimpi, serta cita-cita untuk semua yang saya sebutkan di atas. Harapan ini tidak pernah kita kerdilkan, selalu kita buat sebesar mungkin kita ingin. Dengan percaya diri dan yakin, bertahap kita rancang dan susun semuanya perlahan, dari pondasi hingga kerucut atap kita runtut pencapaiannya. Hingga membuat kita merasakan kebanggaan tersendiri untuk menunjukkannya pada orang lain dan sampaikan bahwa “inilah yang terbaik!”.

Bagaimana saat semua rancangan harapan itu harus dibandingkan untuk menemukan yang benar-benar terbaik? Siapkah kita “dikalahkan”? Atau sikap kita yang egois akan menuntut kita harus menang? Seharusnya tidak begitu adanya. Ketika kita yakin yang kita susun adalah yang terbaik, maka sesungguhnya sosok jujur yang “mengalahkan” kita adalah sosok yang patut untuk bisa lebih kita banggakan. Sosok dengan mimpi, cita-cita, serta harapan yang lebih jelas dan besar adalah yang sepatutnya mampu kita sebagai lawannya untuk memberi apresiasi atas kerja lebih kerasnya.

Jadi, siapkah untuk “kalah”? Siapkah untuk mengapresiasi “rival”? Jawab tidak untuk optimisme dan semangat kerja keras yang membaramu, Boy! 😀

Saatnya menjawab tantangan. “The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” (Walter Bagehot). Let’s move on! Ciptakan karya-karyamu dan inspirasikan dunia. J

 

~~~00~~~

 

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA