Pernah ga sih merasa bingung sama hidup ini? kayak, gatau harus ngapain atau bahkan merasa sendirian ada di situasi tertantu. Pernah ga sih? Kayak mikir aja gitu ini bener ga ya jalan hidupku? Mimpi aku disini ga sih? Kok aku kayak ga menikmati hidup aku ya? Atau kamu bahkan merasa itu mimpimu tapi ga bisa meraihnya. Tenang guys ku juga lagi merasakan hal yang sama. Perasaaan itu mungkin muncul karena itu sesimpel kalian berada di Fase Quarter Life Crisis. Yok! Karena kita merasakan hal yang sama baca sampe abis yuk artikel nya hehe 😊

Sumber: health.detik.com

Oke, sebelumnya kita mesti menyamakan perspektif dulu sih tentang apa itu Quarter Life Crisis (QLC)? Simpelnya, fase ini membuat kalian overthinking tentang hal-hal dalam hidup kayak mimpi, passion, keluarga, atau apapun itu. Sebagai Mahasiswa, pertanyaan yang muncul biasanya tentang keraguan jurusan kuliah atau mau jadi apa saat lulus? Nikah? Kerja? S2? atau hal yang lain. Pada  fase QLC, kalian tidak bisa lagi menikmati hidup bagai remaja tapi  masih belum siap memikul beban hidup sebagai orang dewasa. Masa transisi itu memang ga mudah karena pendewasaan diri itu butuh proses. Tau ga sih? Itu hal yang lumrah dan semua orang menurutku pernah melalui itu.

Oke, aku akan berbagi bagaimana aku mengatasi Quarter Life Crisis yang menurutku muncul terlalu dini. QLC biasanya dihadapi oleh orang yang lagi memasuki masa dewasa muda sekitar umur 20-30 tahun (Kirnandita, 2019). Menurut teori Erik Erikson, tentang tugas perkembangan, orang dewasa muda berada pada tahap Intimacy Vs Isolation (Videbeck, 2011). Kalau kalian bisa melewati tantangan saat dewasa muda dalam hal ini QLC kalian bisa berada dalam tahapan Intimacy, tapi kalau gagal kalian berada tahap Isolation. Kenapa aku singgung teori ini? karena kalian mengetahui bahwa seberat apapun QLC kalian, usahakan tidak terjebak dalam hal itu dan berada pada track yang benar. Pemahaman tentang adanya tugas perkembangan juga penting. Hal ini karena jika kalian tidak bisa menyelesaikan tugas sebelumnya kalian tidak bisa optimal pada tahapan selanjutnya. Sebagai contoh, tugas remaja adalah mencari jati diri jika kalian belum bisa menemukannya saat dewasa, kalian akan mengalami role confusion (kebingungan untuk berperan). Balik lagi ke QLC, Menurut Ka Dewi Nur Aisyah (2019), sebenarnya untuk bisa ga terjebak dalam fase ini intinya simpel yaitu kenali dirimu. Untuk itu, ada 3 tips untuk melalui pertanyaan yang bikin overthinking saat QLC.

advertisement

1. Cari Tahu Siapa Dirimu Sebenarnya?

Sumber: betabios.com

Pertanyaan pertama yang harusnya kamu pertanyakan saat menghadapi QLC adalah siapa sebenarnya aku? Dengan mengetahui asalmu, kamu akan lebih tau dirimu sesungguhnya. Pertanyaan ini bisa saja kamu telusuri dari sisi biologis, asal muasal manusia bahkan garis keturunan dirimu.

Kalau penulis jawab dari sudut pandang kepercayaan penulis sendiri, kita ya sesimpel manusia yang tercipta karena kehendak Allah. Manusia yang terlahir dengan takdir tertentu entah itu tentang dimana kamu lahir? harus berada di keluarga yang seperti apa? dan lain sebagainya. Tapi, sebagai manusia yang percaya akan takdir bukan berarti kita tidak punya pilihan dalam hidup. Allah yang Maha Tahu mengetahui pilihan yang akan kamu pilih dan sudah menuliskan hal itu pada kitab tentang takdir.  Oke, jadi jawaban atas pertanyaan ini adalah aku itu manusia, lantas apa? Buat terus harus apa kalau jadi manusia?. Sebenarnya, pertanyaan pertama ini bisa dikembangkan sampai kalian menemukan image apa yang akan kamu tampilkan sebagai dirimu?

2. Lantas Untuk Apa Aku Ada?

Sumber: tirto.id

Setelah berhasil menjawab pertanyaan pertama, kamu bisa lanjut ke pertanyaan kedua. Lantas kalau aku manusia, aku akan menjadi apa? Untuk apa aku ada? Nah, ini pertanyaan yang sangat bisa dijawab secara pribadi. Ini semua tentang apa sebenarnya mimpimu, tujuan hidupmu dan bagaimana kamu ingin menjalani hidup? Menurutku ga masalah kalau kamu belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan mudah. Kamu mungkin akan galau, ansietas karena merasa kemampuanmu tidak sebanding dengan mimpimu. Kamu bahkan bisa saja merasa bahwa tidak berada dijalan yang tepat. Pertanyaan ini merupakan inti dari QLC yang membenturkan antara keraguan terhadap diri sendiri dan mimpi atau tujuan hidup. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Oliver Robinson, seorang psikolog dari University of Greenwich, perasaan yang sering muncul yaitu merasa terjebak dalam pekerjaan, relasi atau lainnya (Kirnandita, 2019). Tidak hanya itu, kalian mungkin juga berpikir bahwa perubahan itu bisa saja terjadi. Oleh karena itu, kalian butuh menyusun rencana hidup sesuai dengan kemampuan diri dan potensi lingkungan yang ada.

advertisement

3. Aku Akan Berakhir Dimana?

Sumber: carp.ca

Oke, ini pertanyaan terakhir yang harus kamu jawab dalam fase QLC. Setelah tahu rencana hidupmu, kamu akan mengakhiri rencana itu seperti apa? Dari sudut pandang penulis pribadi, pertanyaan ini bisa dengan mudah dijawab melalui sisi religi, lagi. Kita perlu ingat bahwa tujuan hidup kita di dunia akan berakhir pada kematian. Kita tidak bisa naif tentang kematian bukan? Agar dua pertanyaan sebelumnya bisa dijawab juga disini, kalian mesti menyadari bahwa kita hidup sementara dan akan berakhir. Kalian juga pasti tahu bahwa tujuan akhir yang paling dinantikan pastinya surga. Sebanyak apapun pertanyaan saat QLC, ingatlah tiga pertanyaan simple ini dan kenali situasi kalian sekarang dan cocokan dengan jati dirimu. Dengan hal itu, seburuk apapun situasi kamu tidak merasa terjebak karena kamu menjadi dirimu sendiri.

Sumber : gardamaya.com

Quarter Life Crisis memang sulit tapi itu bisa mudah kalau kalian kenal dengan diri kalian sendiri. Buatlah prioritas dalam hidup, susun mimpi kalian, dan berbahagialah. Masa transisi dari remaja ke dewasa memang butuh proses. Kedewasaan itu dipelajari bukan hanya didapatkan dari pengalaman yang ada. Sebagai Mahasiswa, banyak hal yang membuatmu terjebak dalam pertanyaan akan hidup dalam fase QLC ini.  Kamu bahkan bukan hanya bertanya tentang tujuan hidup tetapi juga membandingkan hidupmu pada orang lain. Kamu bisa saja merasa iri dengan teman kuliahmu yang sepertinya sangat menikmati keselarasan antara mimpi, kemampuan dan tujuan hidupnya. Mungkin 3 pertanyaan ku belum bisa menjawab semua pertaan dalam fase Quarter Life Crisismu. Akan tetapi yakinlah kalau kamu jadi dirimu sendiri dimana pun kamu berada, kamu bisa enjoy dan menikmati hari-harimu. Sekian, dari aku yang baru saja berkepala dua.

Daftar Pustaka

Aisyah, D. N. (2019). How to Deal with Quarter Life Crisis. Liqo Ukhuwah Muslimah Islamiyah.

advertisement

Kirnandita, P. (2019, April 1). Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang. Gaya Hidup. Retrieved from https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Videback, S. L. (2011). Psychiatric Mental Health Nursing (5 ed.). China: Wolters Kluwer Health: Lippincott Williams & Wilkins.

 

advertisement