#SaveFloraHutanUI: Sampai Golok-Golok itu Menebas Kami Pak Rektor …


0

Kata-kata ini kami rangkai dalam rasa cemas kami. Sebuah perasaan, yang mungkin memiliki ruang dalam ruang luas hati kawan-kawan kami.

Kami tidak menuntut janji, lagipula tiada yang pernah berjanji bahwa hidup kami akan selalu terjaga. Kami tidak menagih belas kasih, lagipula tidak perlu menagih belas kasih untuk diri sendiri.

Kami hanya sebagian kecil dari mereka, jutaan di antara sahabat kami yang kini cemas. Jutaan dari teman-teman kami yang siap kehilangan rumah.

Karena? Karena? Semua itu, demi uang. Semua akan hilang ketika makhluk bernama manusia, makhluk yang benar-benar telah merenggut kebahagiaan kami karena uang. Tapi, kami hanya diam, hanya diam. Kami tidak pernah melawan. Apalah gunanya kami melawan? Tidak ada bukan. Benar-benar sebuah ketidakadaan yang memang tiada.

Ya, benar. Di luar sana, sahabat-sahabat kami menjadi santapan perut-perut buncit tak bermuka.

Sebuah perpecahan, manusia telah benar-benar kelihatan berimbangnya. Satu di antara mereka menghancurkan, satu di antara mereka mencoba memulihkannya. Hutan itu, hutan Sumatera, Kalimantan, Papua. Lalu, tegakah kiranya kami di tengah hiruk pikuk pusat peradaban negeri ini suatu saat nanti tinggal kenangan? Tegakah? Benarkah kau akan menjadikan kami masa lalu? Menggantikannya dengan lapang-lapang rumput berlubang itu?

Ah, begitu jika kami bisa berkata. Tapi, kami benar-benar hanya mendengar, itu pun kalau kami tahu rencana di balik gedung-gedung tinggi di sana. Atau suara-suara yang terbiaskan oleh traktor-traktor dan truk-truk besar? Mungkin mereka hanya akan mengasap di udara.

Mungkin cinta di antara kami, ya, cinta antara kami dan burung-burung merdu. Cinta kami dengan mereka juga, ular-ular cantik yang kau mungkin anggap itu seram. Cinta antara kami dengan si nafas-nafas kulit. Kaki-kaki peloncat. Suara-suara bising pengerat pohon, ekor mengembang.

Bagaimana pun, tiada yang bisa kami lakukan bukan. Mereka, hewan-hewan itu, mungkin bisa berlari melintas di malam hari. Menyeberangi lembah ketidakmungkinan pemukiman besar manusia-manusia pembunuh. Dan kami akan tetap disini, sampai golok-golok atau gergajimu membantai kami. Membantai teman-teman kami, menghabisi semuanya.

Sampai suatu saat nanti, semua orang benar-benar melupakan kami. Melupakan apa yang sudah ada. Siapa juga yang ingin mengingatnya, bukankah semua manusia pelupa? Ya begitulah, kecuali hanya sebagian dari mereka.

Dan kami memang, tidak akan pernah bisa pergi dari tempat kami. Kami tidak akan pernah melawan, karena kau pasti akan menang. Bukankah kau makhluk yang paling sempurna? Ya, kami hanya tubuh-tubuh diam.

Dan mereka, mereka yang berteriak “selamatkan kami!” Mereka yang menghujatmu karena mengancam kami, tapi sama saja. Mereka kepulkan asap-asap roda itu. Membuat kami menjadi sesak. Jarang dari mereka mau mengenal kami. Ah, ini memang sebuah umpatan, jika saja pernah ada yang memikirkan.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Achmmad

Bio: Logi. (aka Wendy Achmmad M). Anak Lawu

2 Comments

Leave a Reply

  1. Iya emang lagi banyak pembangunan di UI.
    otomatis pohon-pohon pun akan digantikan tiang-tiang beton .
    dan UI depok pun semakin panas.