Saya Lupa Memasukkan Kesabaran dalam Adonan Es Krim Saya


0

Saya suka membuat es krim. Meracik sendiri adonannya. Memutar campuran antara tepung es krim, susu, dan cokelat. Memasukkannya dalam lemari pendingin. Menunggunya. Dan tentu saja, segera melumatnya bila sudah beku.

Itu mudah. Murah.

“Ah, lebih baik beli. Lebih cepat. Bikin sendiri tak pernah berhasil!” celoteh teman saya.

“Masak sih?” hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut saya. Ya, saya heran. Berkali-kali saya selalu meracik adonan es krim saya sendiri. Tinggal membeli tepung es krim yang dijual bebas. Mengaduknya di rumah. Selesai.

“Gimana caranya? Bikin es krim yang enak seperti itu? Setiap kali saya buat selalu saja gagal. Tak bisa membeku.” teman saya masih penasaran. Saya lebih penasaran lagi.

“Ehm, apa ya?” saya berpikir keras.

“Coba teliti merknya, sudah samakah dengan merk yang saya pakai?” oh iya, bukannya saya promosi, tetapi hanya merk tertentu yang menurut saya bisa menghasilkan es krim yang lebih baik. Memang, harganya sedikit lebih mahal.

“Sama dengan yang kamu pakai biasanya!” dia menjawab sekenanya.

“Takaran air yang kamu gunakan? Waktu mengaduk dan mengocoknya? Tempat yang kamu gunakan?” saya menanyakan detail teknis dalam membuat es krim.

“Ya, seperti yang tertera di petunjuk pembuatan. Tak ada yang kurang atau lebih!” dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Wah, itu mah berarti keterampilan tangan si pembuat juga berpengaruh! Haha” saya bercanda. Dia terlihat mengangguk.

“Eh, biasanya kamu nyimpen es krimnya di lemari es berapa lama?” tiba-tiba dia menanyakan itu kepada saya.

“Ya, biasanya sih semalam atau bahkan sehari.” saya merasa waktu penyimpanan adalah hal yang biasa. Hampir semua orang tahu, begitu dugaan saya.

“Wah, lama juga ya?” dia sedikit heran.

“Lha, emangnya kamu menyimpan es krimmu berapa lama? Kok sampai dibilang gagal?”

“3 jam!” tanpa dosa dia menjawab seperti itu. Saya tertawa. Ngakak. Saya hanya berpikir bagaimana mungkin es krim membeku dalam lemari pendingin biasa dalam waktu 3 jam. Aneh-aneh saja.

Namun, anehnya, adanya percakapan saya dengan teman saya itu membuat saya tersadar bahwa kadang-kadang kita juga lupa untuk memasukkan kesabaran dalam setiap usaha kita. Ya, kita merasa sudah melakukan semua hal yang seharusnya dilakukan. Dalam kasus es krim tersebut, teman saya sudah membeli merk yang tepat dan segala bentuk pembuatan ditaatinya. Tetap saja gagal. Karena dia lupa untuk sabar dalam menunggu es krimnya membeku.

Begitulah kehidupan. Biasanya kita menuntut Tuhan bila semuanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Protes pada Tuhan sebab kita merasa sudah berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin. Kita lupa. Tuhan memberikan kita jeda bukan untuk menunda keinginan kita. Tetapi untuk mengajari kita arti kesabaran. Tidak ada satu pun yang instan. Bahkan, segelas mie instan yang paling instan. Ada proses yang harus ditempuh. Ada waktu untuk menunggu.

Begitulah kehidupan. Biasanya kita mengecam usaha kita yang tak kunjung menuai hasil. Merasa putus asa dengan usaha kita. Padahal, kita hanya perlu sedikit waktu untuk bersabar. Untuk menghirup kasih sayang Tuhan. Kita hanya perlu berprasangkan baik pada Tuhan atas jeda yang diberikan Tuhan pada kita. Bukankah Tuhan akan selalu menjawab doa-doa umatnya? Kalau tidak sekarang, nanti, atau besok di kehidupan yang kekal.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Fitria Sis Nariswari
Fitria Sis Nariswari | Jombang | 17 April | Pecinta hujan | Penikmat jingga dan senja | Pejalan kaki | Pecandu sastra, naskah, dan bahasa | Tidurlah dan jangan minum kopi!

0 Comments

Leave a Reply