Seberapa Serius Kita Mempertahankan Hidup?

Sebuah catatan dari buku berjudul “The Survivors Club” oleh Ben Sherwood.

Berawal dari buku yang saya pinjam dari teman saya (inisial YuYa), akhirnya sebuah jawaban mengapa keinginan untuk terus hidup itu perlu, meski pasti ada akhirnya. Ya, sebuah buku “The Survivors Club” memberikan jawabannya. Kunci untuk mempertahankan hidup dan mengapa.

Pada awalnya memang buku ini terlihat sedikit sekuler, ya, karena saya memang kadang terlalu sekuler. Akan tetapi, mati tetaplah takdir-Nya, tidak bisa ditolak. Semua pasti yakin dengan itu (wajib!). Akan tetapi, satu hal yang paling menarik terkait buku tersebut adalah tentang bunuh diri, terlepas dari ratusan trik-trik untuk menyelamatkan diri dalam rangka mempertahankan hidup.

Anyway, banyak di antara kita kadang mencoba bunuh diri, dalam artian bukan meminum racun tikus atau menusukkan pisau ke perut, atau mengiris nadi pergelangan dengan serpihan kaca (terlalu sinetronik). Atau kita mencoba ingin merasakan seperti apa terlindas roda-roda baja rel kereta? Ya, yang ini tentu saja sangat tidak ingin dilakukan.

Tentu tidak ada yang ingin seperti kisah burung dodo, menyerahkan diri pada pembunuh. Tidak mungkin misalkan dari kita menyaksikan Merapi sedang mual dan muntah, eh, malah mendekat. Meski kadang banyak yang menilai itu sebagai keberanian, namun saya menganggap itu adalah bunuh diri.

Bunuh diri, sebenarnya frase itu (dalam tulisan singkat ini) memiliki makna mendekati konotatif saja. Makna berdasarkan pengamatan peristiwa sehari-hari, perlintasan rel kereta api, rumah makan, mobil, motor, pantai, bus, jalan raya, penyeberangan dan sebagainya.

Satu kalimat yang perlu digaris bawahi adalah, manusia kadang bunuh diri tanpa sengaja. Ini mungkin yang terkesan membingungkan, frontal, atau apalah. Namun saya menyimpulkan itu dari berbagai fenomena di bawah ini (contoh, kadang saya juga sering).

1. Tidak memakai helm ketika naik motor.

Dalam hal ini, kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di jalan. Mungkin kalau hanya kehilangan duit, rasanya bukan masalah, tapi kalau kepala terbentur ke aspal, rasanya itu kecelakaan yang disengaja.

2. Melanggar rambu dan aturan lalu lintas

Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa korban kecelakaan saat mudik ternyata lebih banyak dari kasus kematian pandemi sekelas flu burung, (di TV). Dan banyak penyebab di antara kecelakaan itu adalah pengemudi yang ngantuk, kebut-kebutan, tidak sabaran, bawaan yang berat dll. Padahal, Operasi Ketupat sudah memberikan saran. Begitu juga dengan fotografer (bapaknya Najib di Pesantren dan Rock n Roll), yang mengabadikan momen pelanggaran aturan mudik.

Oke, itu mungkin tentang mudiknya. Sementara itu, sering kita lihat adanya pelanggaran rambu lalu lintas. Tanda tidak boleh berbalik di abaikan. Tanda Awas busway di abaikan. Egoisme ditingkatkan, seakan-akan jalan adalah kepunyaan nenek moyang. Lampu kuning justru ngebut. Apakah ini bukan bunuh diri?

3. Terlambat

Mungkin banyak yang menertawakan statemen ini (kadang termasuk saya), tapi mungkin kita bisa sedikit lebih cermat. Secara general, orang terlambat akan terbirit-birit, fokus pada tujuan (jam sudah lewat), sampai kadang melakukan berbagai macam hal yang tidak berbahaya, seperti menyeberang jalan sembarangan.

4. Menumpang di atap gerbong

Ada aturannya, akibatnya juga di stasiun-stasiun.

5. Melupakan aturan dasar seperti mengenakan sabuk pengaman di mobil, tidak mematikan handphone ketika di SPBU, buang sampah pada tempatnya (bisa membuat terpeleset seperti kulit pisang, gegar otak, masuk rumah sakit), memaksakan banyak colokan kabel, dan banyak hal lain.

6. Dan berbagai hal lainnya.

Dan sekarang, terkait kata-kata bunuh diri dalam tulisan ini, satu pertanyaan muncul da menjadi judul tulisan ini, seberapa serius kita mempertahankan hidup? Mungkin sering kita menganggap aneh orang yang law-freak, rule-freak, (dll), dan ini mungkin adalah tanda ketidakseriusan kita dalam mempertahankan hidup.

Saya rasa, memang kadang berniat untuk memperpanjang hidup seperti melawan takdir (jangan tanyakan soal yang satu ini). Akan tetapi, perlu kita tilik kembali apa sebenarnya tugas manusia dalam hidup ini. Pemimpin, khalifah, pemelihara kehidupan di bumi. Jadi, kehidupan itu sangat berharga, berharga sekali. Ibaratkan kita hidup hanya mampir untuk minum, tentu kita takkan datang dengan muka masam, meletakkan gelas seenaknya, atau tidak mengucapkan terima kasih pada hidup yang telah memberikan kita waktu untuk minum itu.

Pesan saya, terutama bagi saya sendiri, juga teman-teman semua, pertahankanlah hidup kita sebaik mungkin. Jaga dia baik-baik, seperti minuman dalam gelas itu. Jangan sampai kita menumpahkannya, apalagi memecahkan gelasnya, karena Sang Pemilik akan marah. Dan tentunya, kita tidak akan cepat pergi meninggalkan dunia ini, karena kita masing-masing memiliki tugas di dunia ini, sebuah tugas yang mulia, dan beribu kemuliaan yang tidak akan pernah kita ketahui. Oleh karena itu, saya ingin mengajak teman-teman untuk bertanya pada diri sendiri, karena pertanyaan paling bijak adalah pertanyaan pada diri sendiri (kayaknya dari tere-liye).

Seberapa serius kita mempertahankan hidup? #terima_kasih_untuk Ben Sherwood, teman saya YuYa, dan semua yang telah membaca tulisan ini. Mari jadikan hidup lebih bermakna! – Tulisan ini ada juga di blog wendyachmmad[dot]multiply[dot]com.

1 thought on “Seberapa Serius Kita Mempertahankan Hidup?”

  1. padahal, berbagai macam aturan dari larangan buang sampah sembarangan sampe aturan berlalu lintas itu dibuat ya supaya kita semua hidup teratur, nyaman, aman, eh kok ya banyak kita yg ga pengen hidup teratur dan nyaman gara2 pengen enak/menangnya sendiri..

    jadinya ya banjir, macet, kecelakaan, dsb itu..

    makasih udah ngingetin ya wen 🙂

    Reply

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA