Senandung Petruk untuk Pak BeYe

Oleh : Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

fb : mang oejank Indro / twitter : @mang_oejank

Pagi-pagi buta Petruk sudah rapi dengan kemeja berdasi, rutinitas menyiram kebun belakang rumahnya dan nyelendro “dikhianati” sejenak. Hari ini Petruk ingin mlaku-mlaku ngintip bumi nusantara, terutama tanah Jawa yang disinggahi Pak BeYe dan adipati-adipati KIB jilid II. Ia juga berniat singgah di gedung DPR RI, bertemu tuan Gayus, nyambangi Jeng Ayin, dan nginep di kantor KPK. “Monggo Juragan, mobil sampun siap..!!” Sukirno, sopir pribadi Petruk menyilahkan sang majikan nunggang lymosin putih pemberian Batara Guru.

Beberapa menit dari singgasana Petruk di Pulau Kahyangan, Suralaya, Sukirno bertanya, “Juragan, enak’e lewat jalan tol apa jalan biasa?” Dengan suara mbindeng Petruk bersua, “Lho, jalan tol di Jakarta sudah bebas hambatan to? Wong pendega Jakarta terbukti bukan ahlinya koq!!” Sukirno bingung. “Terus, lewat mana Juragan?” Sahutnya. “Wis, lewat jalur biasane wae. Ojo lali pake For Ridder yo..!” Jawab Petruk sambil memainkan iPhone 4 di tangan kanan dan BB Torch di tangan kirinya.

“Walah, Juragan, mosok wis mimpin hampir dua periode nguna-ngunu wae, rakyat cilik dibohongi dengan kebohongan ala balita, ckckckck..!” Geram Sukirno di bangku depan lymosin. “Hemmm… Raimu koyok gak ngerti Pak BeYe. Aku kesini juga gara-gara prihatin.” Kata Petruk. “Oalah, Prihatin tukang jamu yang bahenol itu to Juragan?” Sambung Sukirno. “Untumu keropos…!! Prihatin Kir, prihatin temenan cok..!! Wis, Aku turun sini. Kamu langsung balik ke Suralaya.” Dawuh Petruk. Sukirno pun langsung bergegas kembali ke Suryalaya. Petruk nyamar seperti biasa, baju kabanggaanya yang seperti kaus kutang terbelah disematkannya. Perut buncit meluber kedepan diatas celana pendek berbalut sarung yang terselendangkan melingkar.

****

Suasana Istana Negara siang ini lumayan ramai. Teriakan demonstran dari Universitas Indonesia memecah ke-galau-an penghuni Istana Negara. Segerombolan manusia berseragam militer kurang lengkap melecit berbaur dengan demonstran, alih-alih mengamankan, pak Pol malah melakukan pengamanan beberapa demonstran. Walah-walah, polisi dari jaman Soeharto sampai sekarang koq kerjaannya sama saja. Nggak kreatif. Kalau ndak ngerampok” di jalanan, yo “main-main” bongkar rumah, eksekusi tanah, dan ngantemi demonstran. Itu Polisi kasta paling bawah lho Bes, apalagi Pak Pol yang berbintang-bintang itu? Hemmm…

Petruk mengais dan menyisir pemukiman di bantaran Kali Ciliwung sebelum ke gedung DPR RI, disana ia bertemu Romo Sandyawan Sumardi. Seorang “wakil rakyat” yang tinggal diluar gedung wakil rakyat, yang membangun ratusan rumah untuk korban tsunami Aceh. Mereka berdiskusi tentang keputusan – lebih tepatnya ke-nekat-an, bisa juga keberingasan – wakil rakyat di DPR untuk membangun gedung baru dengan banderol Rp. 1,3 triliun. Wow..!! Petruk teringat tulisan Jaya Suprana di Kompas (29/1/11) yang menghitung-hitung jumlah rumah layak huni dan layak kerja yang mampu dibangun dengan anggaran Rp. 1,3 T. Bang Jaya mendapatkan angka 86.666.666.666 rumah dengan estimasi Rp. 15.000.000 per rumah. Sambil ngiler Petruk memaksakan pikirannya membayangkan angka-angka kongkrit di atas.

Perjalanan selanjutnya, Petruk berpapasan dengan Paskah Suzetta dan Panda Nababan. Kelihatannya kedua orang ini sedang nyungsep gara-gara ulah KPK. Oalah, padahal Cak Panda akan “bertamasya” ke Batam untuk Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) partai moncong putih kesayangannya. Sialnya, masih ada 17 anggota DPR lagi yang ngantri dipreteli” KPK. Petruk makin bingung. Di jamannya, orang sangat patuh terhadap hukum, dan penegak hukum demen mati-urip nandangi pelanggar hukum. Sekarang jamane wis edan, yen ora edan ora kaduman. “Kata Pak BeYe pas kampanye Pilpres 2009 akan menjadi garda terdepan melawan koruptor, koq malah tambah subur tandang-gawe pejabat korupsi, malah mucul markus, mafia pajak, mafia hukum. Duh Gusti…!!! Pak BeYe, tak enteni janjimu Pak!” Tukas Petruk.  Akhirnya, agenda kunjungannya ke DPR RI dikaji ulang untuk waktu yang tidak ditentukan.

Petruk gumulung ke-edan-an. Ia hendak nyambangi tuan Gayus HP Tambunan. Bintang mafia kelas teri yang sejak pertengahan tahun 2010 menanjak karir “ke-artis-an”-nya ini memang menyita perhatian Petruk. “Ternyata ono sing luwih licik dari Naya Truna yang belagak mateni Jaya Parusa dalam kisah Karta Sura dan Gunung Kidul, hemmm… Nggapleki yo awakmu, Gayus.” Celotehan pun mengalir antara Petruk dan Gayus, di dalam jeruji – yang lembek jika di-sawur uang. Belum lepas dari memori otak di dalam kepala Petruk yang mirip kelapa hijau, memanjang oval dengan beberapa lembar rambut, ketika Gayus ngotot ingin jadi staf ahli Polri. “Lha, kalau yang jadi pejabat tindak-tanduke koyok awakmu, Indonesia bakal jadi benar-benar negara hukum. Toh pejabatnya memang orang hukuman semua, hehehe.” Bayangkan, dari 33 kepala daerah, hanya belasan dari mereka yang tidak menyandang status koruptor. Belum lagi 286 perkara sengketa Pilkada yang tertimbun di MK di awal tahun kelinci ini. Petruk memengangi kepalanya, meremas dada kirinya, merasakan degub jantung yang mulai instabil. Nuraninya ingin segera kembali ke Suralaya, ngeloni isteri dan minum kopi.

Setelah mampir di warung Cak Gundul urnuk mencicipi kepiting bakar, Petruk menuju ke Istanah Negara. Di jalan ia disapa beberapa dari 100 tokoh Geram Hukum (Gerakan Rakyat Anti Mafia Hukum). Diantaranya Bang Tobas (Taufik Basari), Kamaruddin Hidayat, Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Wimar Witoelar, dan beberapa tokoh nasional lainnya. Pak Kamaruddin mbisiki Petruk, “Upaya kriminalisasi dan pelemahan penegak hukum ini harus kita lawan. Kita tidak ingin hukum dijadikan komodifikasi untuk memeras, memperkaya diri, atau menyingkirkan lawan politik.” Petruk manggut-manggut, seperti orang faham permasalahan. Petruk angen-angen ibu manis yang baru-baru ini menghirup udara bebas dari lembaga permasyarakatan (LP) khusus wanita, Tanggerang. Banyak pihak yang nyanggah kejadian ini. Namun, ada juga yang nyumanggaaken, tentu anda mnegetahui siapa orang ini. “Patrialis Akbar..!!!” Pekik Petruk yang sedang ngelamuti capit kepiting sambil berjalan.

Ditengah perjalanan, di sebelah selatan masjid Istiqlal Petruk ngaso, ngombe. “Mosok wong maling ayam disamakan dengan Ayin? Pembinaan yo pembinaan, kealakuan baik yo kalaukan baik.” Petruk terkesiap pernyataan Ketua Komisi III DPR RI, Benny K Harman, “Jangan-jangan malah mereka (petugas rumah tahanan) yang dibina penghuni..!” Petruk segera membuka serat dari Pak BeYe tentang aturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. “Jangkrik..!! Yo pantes, wong di sini (sambil menunjuk serat) ndak ada pembedaan perbuatan baik bagi penjahat kelas teri dan penjahat kelas kakap. Eh, salah, kelas paus.” Petruk merasa kurang puas dengan peraturan pemerintah tersebut. Ia merasa di-goblok-goblok-i pemerintah. “Opo anccene wong Indonesia goblok-goblok yo? Hiks..hiks..hiks..” Celoteh Petruk lantas kabur menuju ke Istana Negara.

Di depan Istana Negara, Petruk melihat beberapa pedagang asongan yang sliwar-sliwer mencari kehidupan. Mulai dari jajanan, bakso, mie ayam, dan es cendol. Petruk melihat mobil Dauhatsu Terios diikuti beberapa orang dengan perlengkapan jurnalistik. Setelah aksi intip-mengintip, ternyata mobil Terios tersebut dikendarai jaksa Cirus Sinaga. “Loh, koq Pak Cirus masih keleleran nang dalan. Piye Kapolri iki..!!” Geram Petruk. Memang wis mbalelo sama penegakan hukum di bumi Indonesia. Polri dan Kejaksaan, dan Ditjen Pajak sudah kronis. Sejatinya harus segera di “suntik” oleh Pak BeYe sedini mungkin. “Suntik pake 12 instruksi ora mempan, mosok kudu naik gaji dulu.” Cetus Petruk. Ia langsung melangkahkan kaki menuju Istana Negara. Dengan mudah ia melewati “jebakan” yang dibuat oleh penjaga istana. Sayang seribu sayang, Petruk ditilap Pak BeYe ke Congress Hall Zentrum, Davos, Swiss. Di kota tertinggi di benua Eropa itulah Pak BeYe menjadi tunggal wicara dalam World Economic Forum (WEF). Pak BeYe, denger-denger, ngajak dunia mengatasi ketimpangan ekonomi. “Mbok yo ketimpangan di Indonesia di beresno dulu, pertumbuhan ekonomi 6.0 % dan GDP 2.968 toh masih seabrek wong ngelongso.” Petruk mengeluh. Ia juga teringat pada tulisan Om Rheinald Kasali di Harian Sindo (27/1/11) dengan judul “Dompet Kebohongan”. Dalam tulisan tersebut, Om Rheinald menegaskan bahwa peningaktan GDP, tidak menjamin peningkatan kebahagiaan masyarakat. Oleh karena itu, Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchhuk lebih gandrung dengan tolak ukur GNH, gross national happiness. “Jika Pak BeYe gawe GNH, yo langsung diprotes kurang lebih 30 juta rakyat miskin Indonesia! wkwkwkwkwk!” Tegas Petruk.

Akhirnya Petruk bersenandung dengan lirih dalam perjalanan kembali ke Suralaya. Di Suralaya, Bung Karno, Moh. Hatta, Gus Dur, M. Natsir, Jend. Sudirmanm, Bung Tomo, dan banyak tokoh Nusantara di Suralaya mendengar laporan Petruk. Mereka menggetarkan bibir dan terpaksa mengais sisa air mata di mata mereka. Kondisi tanah air yang diperjuangkannya dengan semua organ tubuh dan jiwanya, ya.. gitu-gitu aja…! Cita-cita mereka jauh mlengos dari realita ke-Indonesia-an sekarang ini. Petruk menundukkan kepala, kemudian meyakinkan mereka bahwa Indonesia akan segera menjadi negara sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan. Mereka semua lantas bersenandung.

“Hiduplah Tanahku, Hiduplah Negeriku

Bangsaku, Rakyatku Semuanya”

“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

Untuk Indonesia Raya”

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA