Untuk teman-teman yang sudah diterima di UI dan sedang menjalani semester pertama, sekali lagi, kami ucapkan selamat! Namun, bagi kamu yang baru bersiap mengikuti SNMPTN dan berkeinginan untuk kuliah di UI, ada baiknya kamu mengetahui fakta-fakta mendasar seputar prodi yang akan kamu ambil di Universitas Indonesia.

Seperti artikel sebelumnya tentang fakta menarik pada prodi Arsitektur, Teknik, dan lainnya. Kali ini, kami akan mengulas hal-hal seru yang akan memotivasi kamu agar membuatmu berpikir lebih matang tentang prodi yang akan kamu ambil jika kamu mencita-citakan Fakultas Kedokteran UI sebagai tujuan hidupmu berikutnya.

Universitas Indonesia (UI) memiliki banyak program studi yang dikelola oleh 13 fakultas dan 2 program khusus lanjutan dan terapan. Salah satu program studi yang banyak diincar calon mahasiswa adalah Program Studi Fakultas Kedokteran UI.

advertisement

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia atau dikenal sebagai FK UI merupakan salah satu sekolah kedokteran di Indonesia. FK UI memiliki dua kampus utama, yaitu Kampus Salemba dan Kampus Depok yang terletak di Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK). Fakultas Kedokteran UI merupakan bagian dari kelompok fakultas-fakultas rumpun ilmu kesehatan. Saat ini, FK UI dipimpin oleh Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M(K). FK UI menyelenggarakan pendidikan dokter pada tingkat Sarjana, Profesi Dokter, Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) (Sp-1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Bisa dibilang kalau FK UI merupakan fakultas kedokteran tertua di Indonesia.

Meski demikian, ketika kamu menjadi mahasiswa kedokteran di UI, siap-siap aja menghadapi hal-hal seperti berikut.

 

advertisement

Jadi Narasumber Dadakan

Jangan kaget kalau kamu tiba-tiba jadi narasumber untuk pertanyaan yang berkaitan sama penyakit atau obat via theglobejournal

Jangan kaget kalau kamu tiba-tiba jadi narasumber untuk pertanyaan yang berkaitan sama penyakit atau obat via theglobejournal

Di saat Lebaran, Natal, atau momen ultah sahabat terdekat kamu tiba, dan ketika mereka tau kini kamu jadi mahasiswa kedokteran UI, jangan kaget kalau kamu tiba-tiba jadi narasumber untuk setiap pertanyaan terkait hampir semua penyakit-obat-tatalaksana-komplikasi. Atau bahkan, bisa saja tiba-tiba saat sedang ada kumpul keluarga, nikahan, reuni angkatan, atau acara lainnya, gak jarang bakal ada sesi tanya-jawab dadakan seputar kesehatan. Bahkan bisa saja, adek kelasmu tiba-tiba nelfon kamu terus tanya, “Kak, kalau udah berhubungan sama pacar belum tentu bisa hamil, kan?”

 

Antara Cita-cita dan Isi Dompet

Tingkat kompetisi mahasiswa kedokteran sangat amat tinggi dan bikin biaya kuliah jadi mahal via lesprivatbpui

Tingkat kompetisi mahasiswa kedokteran sangat amat tinggi dan bikin biaya kuliah jadi mahal via lesprivatbpui

Masuk ke jenjang pendidikan yang memfokuskan pada bidang kedokteran aja biayanya udah bikin sesak napas, terus kamu masih pengin masuk FK UI? Well, go ahead if it’s your dream. But, 1 hal yang perlu kamu ingat, meski kamu masuk lewat jalur SNMPTN atau beasiswa tertentu, biaya bulanan kamu selama menjadi mahasiswa UI gak akan jauh beda dengan mereka yang masuk tanpa beasiswa.

advertisement

One thing we should all know, semakin maju suatu zaman, semakin tinggi kecanggihan teknologi yang dicapai, semakin tinggi pula tingkat kompetensi sumber daya manusianya, dan ya, tiap tahun tingkat kompetisi mahasiswa kedokteran sangat amat tinggi. Ini yang bikin biaya kuliah kedokteran menjadi mahal.

Dan ingat, begitu lulus pun, kamu belum tentu bisa langsung buka praktek sebagai dokter, loh! Perjalanan masih panjang, Kawan.

BACA JUGA: FKMUI: Fakultas Kesehatan Masyarakat Tertua di Indonesia

advertisement

 

Medical Student’s Disease

Kamu bakal ngerasain sama yang namanya Medical Student's Disease via commonhealth

Kamu bakal ngerasain sama yang namanya Medical Student’s Disease via commonhealth

Once kamu jadi mahasiswa kedokteran, bukan tidak mungkin kamu akan mengalami peristiwa-peristiwa yang sering dikenal dengan “Medical Student’s Disease” atau kadang juga dikenal dengan “sindrom anak magang”. Merupakan salah satu kondisi dimana kamu sebagai mahasiswa kedokteran terkadang merasakan simptom-simptom tertentu yang berhubungan dengan penyakit yang tengah kamu teliti. Misal, ketika kamu tengah meneliti tentang TBC, lalu tiba-tiba kamu merasa kurang fit, kamu pun akan sering berasumsi bahwa kamu mungkin tengah terkena TBC, padahal belum tentu.

Peristiwa ini biasanya sering dialami oleh mereka yang sudah melewati tahun ke-2 atau sedang menjalani internship/magang di suatu tempat praktek. Biasanya diawali dengan sikap parno dan pertanyaan “Eh, jangan-jangan gue juga kena!” Namun, jangan khawatir, ini hal yang sudah biasa ditemui. Untuk mengatasinya kamu cukup menenangkan pikiran, berlibur selama 2-3 hari, dan jika kekhawatiran masih berlanjut, hubungi dokter, seriusan.

Bukan hanya untuk memeriksa penyakit namun untuk membantu menenangkan dirimu sendiri, untuk menguatkan fakta bahwa sebenarnya kamu tidak sakit. Bahkan, sangat disarankan bagi kamu untuk men-share perasaan kamu pada dokter tersebut, siapa tau dia bisa bantu. Toh, dia pasti juga melewati masa-masa ini. So, get chill. 😉

 

Kuliahnya Gak Biasa

Setiap mata kuliah memiliki penugasan, praktikum, dan ujian yang berbeda-beda via bunchoffeeling

Setiap mata kuliah memiliki penugasan, praktikum, dan ujian yang berbeda-beda via bunchoffeeling

Kalau biasanya mahasiswa prodi lain bisa mengambil mata kuliah tertentu dan mengerjakan tugas yang mirip-mirip, misal mata kuliah X tugasnya bikin makalah, lalu mata kuliah z tugasnya juga bikin makalah yang formatnya kurang lebih mirip, tentu akan lebih mudah bagi kamu yang biasa bikin makalah serupa. Tapi, JANGAN HARAP hal itu bisa terjadi saat kamu menjadi mahasiswa FKUI, karena setiap mata kuliah memiliki penugasan, praktikum, dan ujian yang berbeda-beda! Apalagi kalau kamu ambil kuliah spesialis. Umm, ‘lezat’ banget itu kuliahnya!

Dan kalau kamu sempat berpikir “Ah itu kan cuma pas kuliahnya saja”, it’s a big NO! Percayalah, saat kamu masih berstatus mahasiswa kedokteran, ini semua hanya percikan masa lalu yang harus kamu biasakan hingga kamu lulus, hinggaaa kamu jadi dokter beneran! IYA!

Saat kamu udah jadi dokter pun kamu masih bisa aja lho bikin tugas presentasi dan praktikum ini-itu dan tanggung jawabnya lebih besar. Gak bisa main-main, praktikumnya kamu saat sudah menjadi dokter bisa jadi adalah pertaruhan nyawa seseorang. So, buat kamu yang benar-benar mau jadi dokter, beradaptasilah dengan SERIUS selagi kamu masih menjadi mahasiswa.

 

Skills Lab & PBL

Kamu seolah jadi dokter, ketemu pasien, dan dihadapkan dengan berbagai macam keluhan via pspdfkunlam

Kamu seolah jadi dokter, ketemu pasien, dan dihadapkan dengan berbagai macam keluhan via pspdfkunlam

Di FK, ada yang namanya sistem PBL dimana kamu akan terlibat dalam suatu kelompok dan dituntut untuk aktif. Bila kamu terlihat hanya mejeng muka dan lempar senyum, siap-siap aja nilai kamu dikasih minus sama pengawasnya. Selain PBL ada juga yang namanya ujian Skills Lab, dimana kamu akan diminta menjadi dokter-dokteran, yang meski dokter-dokteran, tapi kamu akan disimulasikan untuk bertemu dengan pasien (yang bisa saja beneran sakit) dan dihadapkan dengan berbagai macam keluhan dalam waktu yang amat sangat minim.

Setiap mahasiswa juga dituntut untuk harus beraksi entah cek tekanan darah pasiennya atau mungkin harus ada yang dicek dengan cara diinspeksi (lihat), palpasi (sentuh), perkusi (ketuk), auskultasi (dengar), hingga memberikan resep obat kepada pasien (yang bisa saja pada akhirnya dicari beneran sama si pasien). Di Skills Lab ini jugalah keterampilan khusus kedokteran seperti sirkumsisi dan antropometri benar-benar diuji.

 

Tahapan yang Panjang

Ada tahapan panjang sebelum kamu bener-bener jadi dokter via bunchoffeeling

Ada tahapan panjang sebelum kamu bener-bener jadi dokter via bunchoffeeling

Jika kamu pada akhirnya memutuskan untuk mengambil prodi kedokteran di UI, JANGAN sekali-kali kamu berpikir bahwa setelah menjadi lulus kuliah kamu bisa langsung menjadi dokter! Kenyatannya, setelah kamu kuliah 3,5 tahun, kamu bahkan belum diperbolehkan untuk menyentuh pasien! Karena setelah lulus kuliah, kamu hanya akan menyandang gelar S.Ked alias Sarjana Kedokteran, bukan gelar dokter.

Untuk memperoleh gelar dokter kamu masih harus menempuh yang namanya Pendidikan Profesi Dokter Umum alias menjadi Koass. Dan kamu harus menjalaninya selama minimal 2 tahun, itu pun jika kamu beruntung (memiliki otak encer dan etika yang mutlak bagus dan tidak dipertanyakan). Saat menjadi Koass inilah kamu baru diperkenankan untuk menerapkan ilmu-ilmu yang kamu peroleh selama menempuh S.Ked pada pasien yang sesungguhnya. Nah, kebayangkan kalau selama kuliah S.Ked kamu awut-awutan, maka masa-masa Koass kamu akan jadi nightmare yang seperti apa?

Setelah lulus dari proses Koass, kamu pun MASIH harus berjuang mengikuti Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Masih ingat UN? Well, it’s a similar thing, only a bigger one, and more challenging. Saat UKDI kamu akan dihadapkan pada 200 soal, dengan seluruh bidang yang pernah diajarkan di bangku kedokteran. Ditambah lagi, setiap soal itu merupakan soal analisa kasus, yang sangat kompleks, yang tidak akan bisa kamu jawab HANYA dengan kemampuan menghapal. Pengalaman kamu saat menjalani S.Ked dan Koass-lah yang akan menentukan apakah kamu lulus UKDI atau tidak. Gak jarang lho banyak orang yang sudah lulus FK tapi gagal melewati UKDI. Dan itu terjadi TIDAK HANYA bagi mahasiswa dan alumni FK UI.

Setelah UKDI ada lagi? Ada. Banyak. Kamu masih harus menjalani sumpah dokter, menjalani internship, hingga akhirnya kamu, bisa menjalani program pendidikan dokter spesialis. It’s a very very very long way to go through.

Jadi, kalau kamu beneran mau jadi dokter dan punya niat dan tekad kuat untuk jadi  mahasiswa di FK UI? We will gladly welcome you as a warrior. Tapi ingatlah, bahwa perjalananmu untuk menjadi soerang dokter, tidak berhenti di sini. Good things always follow people who fought for it. Kata-kata pepatah yang bermakna bahwa di setiap hasil dari perjuangan akan berbuah hal yang manis akan benar-benar terwujud jika kamu benar-benar memperjuangkannya dengan serius. Ngejar mantan aja kuat, masa ngejar cita-cita gak kuat? Ups :p

Yuk, bagikan informasi ini lewat Facebook, Twitter, dan LINE kamu! Agar semakin banyak teman-temanmu yang termotivasi untuk menjadi mahasiswa kedokteran!