Buat Kamu Anak FEB UI; Mesti Bangga Nih, FEB UI Terbaik di Indonesia!

Hai anak UI!

Cung tangannya yang ngaku anak FEB UI! Kabar gembira buat kalian, FEB UI baru saja diberi gelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis terbaik di Indonesia. Selamat ya!

FEB UI yang dulunya bernama FE UI ini mendapatkan peringkat nomor wahid sekolah bisnis terbaik di Indonesia dan ke 39 dari 150 sekolah bisnis terbaik di Asia. Pemeringkatan itu dilakukan dan dirilis The Eduniversal Best Business School Ranking. Fakultas yang juga sering dianggap “Ngitungin duit orang” itu juga dapet penghargaan 3 Palmes of Excellence dimana FEB UI masuk ke dalam klasifikasi Excellent Business School with Reinforcing Internal Influence. Wah makin top nih FEB UI!

Anyway, negara-negara yang diikutsertakan Eduniversal berjumlah 154 negara di sembilan zona geografis, yaitu Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, Asia Tengah, Asia Timur, Eropa Barat, Eropa Timur, Eurasia, dan Timur Tengah, serta Oseania. Di antara zona-zona itu, kampus makara masuk ke dalam zona Asia Timur yang terdiri dari 17 negara dengan 150 sekolah bisnis terbaik di dalamnya. Dan FEB UI jadi yang terbaik dari tujuh sekolah bisnis Indonesia yang ikut diseleksi! Awesome!

Dari berbagai kategori dan klasifikasi penilaian yang dilakukan Eduniversal, mulai dari pemilihan sekolah bisnis berdasarkan negara atas Kriteria Kuantitatif dan Kriteria Kualitatif, Kriteria Internasionalisasi, hingga Pemungutan Suara Dekan dari berbagai sekolah bisnis, kita pengen coba klasifikasi sendiri nih kenapa FEB UI bisa jadi yang terbaik!

 

Alumninya

Siapa sih yang nggak kenal sama Ibu yang satu ini? (via brilio)

Siapa yang nggak kenal Sri Mulyani? Itu lho Menteri Keuangan RI di dua rezim, SBY dan Jokowi, dan Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia! Wanita Indonesia pertama yang berhasil menembus Bank Dunia! Ini jugalah yang menjadi penyebab FEB UI terkenal seantero Indonesia.

Nggak cuma Sri Mulyani, kesuksesan film AADC 2 yang berhasil melepas rindu kepergian Rangga dalam film AADC di tahun 2016 juga bisa jadi biang keladi kenapa FEB UI jadi yang terbaik guys. Kalian pasti tau dong siapa yang berperan sebagai Cinta di film itu? Yap, Dian Sastro Wardoyo. Dia juga merupakan lulusan Magister FEB UI loh! Karena admin suka sama film AADC dan Dian Sastro, jadi klasifikasi ini sangat penting untuk menjadikan FEB UI jadi yang terbaik di Indonesia, hehehe.

Banyak juga alumni FEB UI lain yang berhasil membawa nama baik kampus perjuangan ke ranah nasional dan internasional. Ada Soemito Djojohadikoesoemo, Rhenald Kasali, Andrea Hirata, Fahri Hamzah, dan masih banyak lagi.

 

Passing Grade-nya

Gedung perkuliahan yang menjadi saksi akan passing grade aduhai (via depoknews)

Passing Grade merupakan standarisasi penilaian dan peluang seorang calon mahasiswa bisa masuk ke dalam suatu jurusan di universitas yang dipilih. Dari tahun ke tahun, analisa passing grade ini selalu hadir dan membuat galau calon mahasiswa nih. Sebab, dari passing grade itu mereka bakal bisa memprediksi tingkat kelulusan dan peluangnya masuk.

Di UI, passing grade FEB UI merupakan fakultas yang menyimpan passing grade tinggi, diantaranya Akuntansi 57%, Manajemen 51%, Ilmu Ekonomi 50%. Tuh kan, gede-gede kan passing grade-nya, makanya FEB UI ini dikenal juga mahasiswanya pinter-pinter, dan susah masuknya.

 

BACA JUGA: Fakta dan Tudingan yang Sering Dirasakan Anak FEB UI

 

JGTC UI

Kemeirahan Jazz to Campus 39 (via wagomu)

Ah kalo yang ini kalian tau dong, acara tahunan yang diadain FEB UI ini sudah meng-Indonesia banget. Buat para pecinta musik Jazz, JGTC atau Jazz Goes To Campus buatan anak FEB UI ini udah kaya pagelaran akbar yang terdaftar dalam agenda ‘HARUS NONTON’. Karena JGTC jugalah, FEB UI jadi banyak dikenal dengan mahasiswanya yang jago bikin event bertaraf SNI (Standar Nasional Indonesia). Bahkan, bintang-bintang musik Jazz internasional juga selalu dihadirkan untuk memeriahkan acara ini lho guys!

Buat kamu para pecinta musik Jazz, setuju banget dong pasti kalo FEB UI jadi fakultas bisnis terbaik di Indonesia! Buat fakultas lain yang nggak setuju, udah setuju aja, biar tahun depan JGTC UI artisnya makin banyak, dan guest star-nya ditambah! Ehehehe

 

Fakultas Terkaya

Parkiran FEB UI yang dipenuhi dengan mobil-mobil mewah (via feb.ui.ac.id)

FEB UI adalah fakultas yang paling deket dengan uang. Setiap hari para mahasiswanya selalu ngebahas ekonomi, dari uang sampai……. uang. Iya dong, walaupun ngebahas pembangunan, kan tetep kalo mau bangun sesuatu butuh uang. Karena setiap hari berurusan dengan pendanaan, keuangan, kebijakan keuangan, ekonomi keuangan pembangunan, maka FEB UI fix banget deh jadi fakultas yang paling kaya karena ngomonginnya uang mulu. Ehehehe.

Nggak cuma itu alasannya, mereka juga dikenal sebagai fakultas yang punya mahasiswa bergaya hidup glamor dan hedon guys! Nggak percaya? Cek aja area parkir FEB UI, kalian bakal nemuin berbagai kendaraan yang mewah dan mahal! Masih nggak percaya? Acara-acara yang mereka adain juga tarafnya luas bahkan nasional dengan tak jarang kurangnya sponsorship, tapi tetep jalan tuh acara!

 

Ceweknya Cakep-Cakep

Dian Sastro, alumni FEB UI (via selebupdate)

Karena admin cowok, jadilah kriteria klasifikasi kenapa FEB UI pantas menyandang gelar fakultas bisnis terbaik di Indonesia ini karena; CEWEKNYA CAKEP BROOOO. Nggak cuma cakep, cewek FEB UI rata-rata udah cakep, pinter, apalagi kalo ngomongin duit… Beuhhh pinternya nggak ketulungan! Apalagi kebanyakan cewek di FEB UI itu pola pikirnya lebih terbuka, dan bisa melihat sesuatu dengan pemikiran yang luas.

Karena kegemarannya berpikir luas dalam menyikapi sesuatu, ketika ada cowok yang naksir dia, cewek FEB UI bakal mencari tau dulu asal-usul itu cowok. Investigasi mandiri ala cewek FEB UI itu udah kayak kerjaannya yang kalo disuruh nyelesaiin kasus perusahaan yang mau bangkrut, mereka bakal nyari tau gimana cara itu cowok ngatur keuangan, memajemen waktu, diri, dan kepribadian, dan nggak kalah penting adalah prospek masa depan si cowok…..

 

BACA JUGA: Mengenang Ireng Maulana, JGTC UI 2016 Bertema “Jazz is the Moment”

 

Nah, itulah kenapa FEB UI bisa jadi fakultas bisnis nomor satu di Indonesia! Selain indikator penilaian Eduniversal, ya karena indikator yang dibuat admin juga berpengaruh *eh. Yuk bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian, biar orang-orang tau dan mau masuk ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI yang sudah dinobatkan menjadi yang terbaik di Indonesia!

Sri Mulyani Ajak Mahasiswa UI Sadar APBN dan Pentingnya Tax Amnesty

Di tengah gejolak ekonomi pasang surut di Indonesia, Departemen Ilmu Ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia menghadirkan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani untuk mengisi dua sesi kuliah umum bagi para mahasiswa pada Senin (28/11). Kuliah umum sesi pertama dikhususkan bagi para mahasiswa FEB UI tingkat satu, dan yang kedua kuliah umum diselenggarakan terbuka bagi seluruh mahasiswa FEB UI di Balairung kampus kuning.

Bagi kampus kuning, Sri Mulyani sudah sangat akrab di telinga, selain nama besarnya sebagai Menteri Keuangan RI saat ini, ia juga merupakan salah satu Alumni FEB UI yang lulus tahun 1986 serta pernah juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi UI (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Nggak cuma itu, Bu Menkeu kelahiran Tanjungkarang, Lampung 54 tahun lalu itu juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI pada rezim SBY jilid satu. Yang lebih membanggakan, sebagai bagian dari almamater The Yellow Jacket, Bu Menteri kita ini pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia periode 2010-2016.

Sri Mulyani sedang memberikan kuliah umum di FEB UI (via ekonomi.metrotvnews)
Sri Mulyani sedang memberikan kuliah umum di FEB UI (via ekonomi.metrotvnews)

Makin transparan suatu sistem, makin jujur manusianya

Dalam kuliah umum tersebut, di sesi pertama, Bu Menteri kita ini membawakan materi tentang transparansi sistem keuangan. Menurutnya, semakin transparan suatu sistem, maka manusianya juga akan semakin berkurang untuk berperilaku tidak jujur. Sebab, tambah Bu Sri, manusia seperti kita ini pada dasarnya lemah, makanya sistem diciptakan untuk menguatkan dan mengantisipasi kelemahan-kelemahan itu.

Seperti apakah sistem yang dikatakan Bu Menteri kita itu? Kata Bu Sri, salah satu sistem yang diusahakan adalah sistem keuangan online yang diberlakukan di Kementerian Keuangan dan Badan Pajak di seluruh Indonesia. Hal itu dikatakannya, sebab baru-baru Sri Mulyani mengatakan kecewa sama Dirut Pajak yang tersandung korupsi nih guys. Kenapa bisa gitu? Ya karena nggak adanya transparansi keuangan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya transaparansi APBN. Makanya kita jangan asal percaya aja sama semua yang berurusan dengan UANG!

Apa pentingnya transparansi, sih? Menurut wanita berkacamata ini, sistem online dan transparasi bisa meningkatkan pendapatan negara, khususnya dari pajak. Sri Mulyani mengkhususkan pajak karena sumber devisa utama Indonesia itu masih berasal dari UANG kita sendiri loh guys.

BACA JUGA: Tiga Rekomendasi Sri Mulyani bagi Pemuda Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Global

 

Rasio pendapatan pajak Indonesia masih rendah

Kita udah bayar pajak rajin, tapi kok masih nggak maju-maju, sih? Pasti banyak dari kita berfikir demikian. Selain dari banyaknya kasus korupsi, ternyata masih banyak juga yang nggak menunaikan kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Sebab, pada kuliah umum sesi kedua bertajuk “Perkembangan Ekonomi dan Fiskal Indonesia” Sri Mulyani memaparkan kalau tax ratio atau rasio pendapatan pajak orang Indonesia masih sangat rendah.

“Tax ratio kita saat ini hanya berkisar 13% dari total penduduk kita. Kenapa? Ini karena isu trust dan problem of enforcement yang rendah,” ujarnya di Balairung.

Padahal, pajak penting dalam membentuk APBN yang seimbang dan sehat, terutama dalam sektor pendapatan negara. Sehatnya APBN itu ibarat kita makan makanan empat sehat lima sempurna. Jadi, kalau mau ekonomi Indonesia kuat ya APBN mesti sehat. Sehatnya nggak cuma dalam tubuh, juga di luar tubuh. APBN yang sehat bakal bisa bertahan di tengah tekanan faktor-faktor eksternal yang terjadi di dalam maupun di luar negeri.

Amnesty Pajak demi APBN yang sehat dan kuat

Menurut Sri, cara agar APBN bisa sehat dan kuat, salah satunya dengan meningkatkan pendapatan dalam sektor pajak. Untuk itulah, program amnesti pajak digulirkan. Menurut data, saat ini dari Rp 3.516 triliun, deklarasi harta yang sudah dilakukan para wajib pajak, realisasi pembayaran sudah sampai Rp 97 triliun. Tapi, angka itu masih jauh dari target APBN 2017 yang ditargetkan mencapai Rp 1.750,3 triliun.

Bu Menteri kita ini menutup kuliah umum dengan harapan program tax amnesty bakal mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan memotivasi masyarakat untuk dapat kembali membayar pajak dengan baik dan benar.

 

BACA JUGA: Tax Amnesty: Wajib Pajak Patuh Hanya Diapresiasi, Wajib Pajak Nakal Kok Malah Diampuni?

 

Nah, gimana wejangan Bu Sri Mulyani? Sudah mau sadar sama APBN belum? Silahkan bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar semua orang baca betapa pentingnya untuk para wajib pajak bayar pajak! Biar apa? Supaya negara kita ini bisa maju nggak terus-terusan jadi negara berlabel berkembang!

Mengenang Ireng Maulana, JGTC UI 2016 Bertema “Jazz is the Moment”

JGTC? Pasti kalian semua sudah hafal dong akronim tersebut. Yap, Jazz Goes To Campus, acara yang setiap tahun diselenggarakan BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis kampus kita ini bakal merayakan tahun ke 39 perhelatan pada Minggu (27/11). Kali ini, para panitia JGTC UI menjunjung tema “Jazz is The Moment” sembari menyandang empat nilai utama perhelatan, yakni welcome, experience, educate, dan enjoy. Kalian tahu nggak sih kalau acara yang baru ada diadakan jaman bang Chandra Darusman dkk masih jadi bagian FEB UI tepatnya 1978 ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia lho!

JGTC ternyata nggak cuma bisa dinikmatin di kampus kuning aja, tapi sejak penyelenggaraan ke 32 tahun 2009, panitia mengadakan roadshow sebagai bagian rangkaian acara JGTC yang bertujuan melanjutkan visi “Bringing Jazz to Campus”. Jalan-jalannya JGTC juga sudah sampai di kota-kota luar Jabodetabek seperti Yogyakarta, Semarang, Bali, Bandung, Bandar Lampung, Malang, Palembang, dan Surabaya. Selama bertahun-tahun, JGTC telah berkembang menjadi salah satu festival kampus yang paling dinanti dengan jumlah pengunjung pada tahun 2006 dan hingga saat ini mencapai 15.000-22.000 orang.

Pengisi acara di JGTC 39 (via Official Line JGTC 39)
Pengisi acara di JGTC 39 (via Official Line JGTC 39)

Banyaknya pengunjung itu disebabkan hajatnya FEBUI ini selalu giat mendatangkan artis bertaraf nasional dan internasional. Beberapa yang pernah mengisi acara ini antara lain, Depapepe, Raisa, Olivia Ong, Sondre Lerche, Ray Harris, Bubi Chen, Bill Saragih, Benny Likumahuwa, Barry Likumahuwa, Ireng Maulana, Jack Lesmana, Indra Lesmana, Riza Arshad, Balawan, Tohpati, Syaharani, Elfa Secioria, Gilang Ramadhan, The Groove, Tulis, Maliq & D’Essentials, Gugun Blues Shelter, Bob James, Dave Koz, Ron Reeves, Coco York, Cabaleros, Claire Martin Quintet, Glenn Fredly, Tompi, Andien, dan Lenka.

Sementara untuk line up pembukaan JGTC UI 2016 ini akan diisi 30 musisi lokal dan tiga musisi internasional di antaranya, Mocca, Margie Segers, Barry Likumahuwa, Indra Lesmana, Adra Karim, Kahitna, Raisa, Tohpati, dan Rizki Febian dari Indonesia, sedangkan international artist yang akan turut serta yakni, Kgomotso Xolisa Mamaila, Samy Thiebault Quartet, dan Daniel Powter.

 

BACA JUGA: Lima Acara ini Wajib Banget Kamu Datengin Seengaknya Sekali Selama Menjadi Mahasiswa UI

 

 

Adanya proyek spesial

JGTC Opening and Press Conference yang bertempat di Institut Français d’Indonésie, Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2016. (via gigsplay)
JGTC Opening and Press Conference yang bertempat di Institut Français d’Indonésie, Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2016. (via gigsplay)

Pecinta musik jazz tahun ini juga bakal disuguhkan dua proyek khusus, salah satunya adalah JGTC All Stars. Proyek itu bertujuan untuk mengenang dan memberikan apresiasi terhadap karya-karya almarhum Ireng Maulana selama memajukan musik jazz di Indonesia. JGTC All Stars: Tribute to Ireng Maulana rencananya akan diisi para musisi jazz legendaris Indonesia di antaranya, Benny Mustapha, Benny Likumahuwa, Jeffrey Tahalele, Sam Panuwun, Hasan Alamudi, Arief Setiadi, Idham Noorsaid, yang akan berkolaborasi dengan anak Ireng, yakni Andrea Maulana untuk membawakan karya-karya Ireng terdahulu.

 

Mengenal Maestro Jazz Indonesia

Ireng Maulana yang sedang tampil saat perhelatan Java Jazz (via sindonews)
Ireng Maulana yang sedang tampil saat perhelatan Java Jazz (via sindonews)

Buat yang belum tahu, Ireng Maulana adalah legenda jazz Indonesia yang telah malang melintang di industri musik asal Amerika Serikat tersebut. Mantan gitaris Eka Sapta Band tersebut pernah diplot untuk mengisi acara Pojok Jazz di TVRI pada 1970an, ikut tampil di North Sea Jazz Festival, Belanda, serta pernah ikut melawat ke Amerika Serikat guna mengisi acara New York World Fair. Pada tahun 1978, Ia mendirikan Ireng Maulana All Stars yang berisikan Benny Likumahuwa (trombone), Hendra Wijaya (piano), Maryono (saksofon), Benny Mustapha (drum), Karis Tes (trompet), Roni (bass), dan ia sendiri sebagai gitaris.

Grup tersebut terus berkembang hingga terbentuknya Ireng Maulana Associates, sebuah organisasi tempat bergabungnya para musisi jazz di Jakarta, hingga menjadi lembaga yang menyelenggarakan pesta musik jazz internasional di Jakarta, yakni Jakarta Jazz Festival.

 

Antusiasme luar biasa di Singapura

Tak sampai disitu kiprah Ireng, pada 1983 dalam ajang Festival Jazz Internasional di Singapura, dengan membawa bendera Ireng Maulana All Stars, mereka disambut begitu meriah. Bahkan, setelah acara tersebut, keesokan harinya surat kabar The Sunday Times memunculkan berita berjudul “Standing Ovation for Jazz Group”. Hal itu disebabkan, lantaran penonton Singapura konon tidak semeriah itu saat menyaksikan jazz.

Perjalanan karir Ireng Maulana tersebut ternyata tak tumbuh dari kecil meski kedua orang tuanya adalah musisi, sebab hingga remaja Ireng tak memiliki minat dengan bidang musik. Ireng baru memetik gitar di usia 16 tahun, setelah melihat kesuksesan karir sang kakak, Kiboud Maulana. Niat menguangkan potensinya mulai tumbuh ketika tak diduga ia dan grup bandnya, Joes & His Band ikut serta dalam berbagai ajang festival musik, hingga grupnya menjadi juara dua dan ia didaulat sebagai gitaris terbaik.

 

BACA JUGA: Press Release The 36th Jazz Goes To Campus Festival

 

Karyanya tak akan pernah mati

Ireng Maulana terpilih menjadi pemenang nominasi AMI Legend Awards 2016 (via youtube)
Ireng Maulana terpilih menjadi pemenang nominasi AMI Legend Awards 2016 (via youtube)

Tercatat sejak 1974-2005, Ireng terus menelurkan karya-karyanya di bidang musik yang telah mencapai 17 album, serta terus menjadi inspirasi bagi para pemuda yang doyan bermain musik, salah satunya gitaris Gigi, Dewa Bujana yang pernah diajarkan dan dicarikan job untuk mengisi pagelaran Java Jazz Festival. Beberapa penghargaan pernah direngkuhnya, dan yang terbaru adalah AMI Legend Awards dan Jazz Gunung. Namun, pada sela-sela pagelaran Java Jazz Festival 4-6 Maret 2016, Ireng meninggal di usia 71 tahun karena serangan jantung pada 5 Maret 2016.

Mengingat pentingnya jasa yang telah dilakukan Ireng dalam industri musik asal Amerika Serikat tersebut, panitia mengapresiasi segala bentuk karya yang pria kelahiran Jakarta 5 Juni 1944 itu pernah lakukan ke dalam proyek khusus JGTC 2016. Panitia menyediakan 18 ribu tiket JGTC UI 2016 yang dapat diakses di https://kliring.co.id/jgtc seharga Rp 76 ribu, atau membeli di lokasi saat pagelaran seharga Rp 85 ribu.

cafe
Rundown dan Stage JGTC 39 besok (via Official Line JGTC 39)

Nah, buat kamu pecinta musik Jazz, silahkan datang dan ramaikan JGTC UI 2016 sekaligus mengapresiasi Maestro Jazz kita, Ireng Maulana! Jangan lupa bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar semua masyarakat tahu kalau BESOK JGTC bakal digelar! Jazz Do It!

Kebanggaannya Ultras Grey Absen di 4 Cabang Olimpiade UI? Ini Alasannya!

Olimpiade UI merupakan acara tahunan yang diselenggarakan untuk menjalin silaturhmi antar fakultas yang ada di Universitas Indonesia. Hajat terbesar bagi para atlet-atlet Universitas Indonesia tersebut sedianya dilaksanakan dengan suka cita oleh seluruh mahasiswa di kampus kuning. Namun, tahun ini terdapat sedikit noda yang mewarnai pesta akbar para olahragawan/wati di kampus perjuangan ini.

Panitia Olimpiade UI 2016 menyatakan, Kontingen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tidak lolos verifikasi berkas entry name pada empat cabang olahraga pada Selasa, (8/11). Empat cabang yang dinyatakan tak lolos verifikasi tersebut antara lain, sepak bola, voli, futsal, dan tenis meja.

kontingen
Kontingen Basket FEB UI vs FISIP UI, 5 November 2016 (via KontingenFEBUI)

Hal itu bermula dari miss interpretasi antar pihak yang terlibat, baik dari panitia maupun Kontingen FEB. Berkas entry name Kontingen FEB pada empat cabang tersebut, dikatakan panitia, dikumpulkan pada detik-detik pengumpulan terakhir, yakni pada Jumat, (21/10) pukul 17.00 WIB dengan keadaan foto tidak ditempel pada kolom yang tersedia. Awalnya keteledoran tersebut disikapi dengan permisif oleh panitia, namun pada pelaksanaan drawing cabor terkait, para perwakilan fakultas lain yang hadir menyatakan keberatannya atas kejadian tersebut.

 

BACA JUGA: Olimpiade UI Bakalan Tambah Asyik Kalo Ada Cabang Lomba Berikut ini!

 

Keberatan itu berujung pada pertemuan pada Senin, (31/10) antara pihak FEB dengan pihak Panitia Olimpiade UI 2016 beserta BEM UI 2016 di Gymnasium UI. Pihak panitia dan jajaran BEM UI mulai mempertimbangkan untuk membantu Kontingen FEB agar tetap bisa ikut serta di cabor terkait, melalui CEM (Chief Executive Meeting). CEM sendiri diikuti semua Depor (Departemen Olahraga) dan BEM dari seluruh fakultas di UI.

Dari hasil perjuangan pihak panitia dan BEM UI ditetapkanlah keputusan yang membuat gerah Kontingen FEB beserta supporter yang senantiasa membanggakannya atau lebih dikenal dengan istilah Ultras Grey. Kesimpulan dari pertemuan itu memaktubkan FEB tidak dapat ikut serta di keempat cabor yang dipermasalahkan. Hingga pada forum terakhir yang dinegosiasikan Kontingen FEB kepada jajaran Panitia Olimpiade UI 2016 di Selasar FEB pada Senin, (7/11) tetap tidak membuahkan hasil manis bagi Kontingen FEB.

“Kami sangat mempertanyakan keputusan panitia Olimpiade UI karena pada saat penyerahan berkas, Project Officer serta beberapa penanggung jawab cabor Olimpiade UI menyatakan secara langsung kepada kami bahwa verifikasi berkas FEB UI tidak bermasalah dan dapat diverifikasi,” ujar Irsyan, perwakilan Kontingen FEB, seperti dilansir dari Economica.id.

ultras
Suasana Olimpiade UI pada pertandingan Basket FEB vs FISIP, 5 November 2016 (via KontingenFEBUI)

Atas ketidak puasan tersebut, pihak panitia diminta perwakilan Kontingen FEB untuk menyetujui poin-poin tambahan agar meminta maaf kepada publik atas ketidak ikut sertaan FEB dalam empat cabor tersebut. Hal itu diminta, sebab keputusan panitia dapat membuat kecewa para pelatih Kontingen FEB yang telah meluangkan waktu untuk mengusahakan atletnya juara di masing-masing cabor.

Dari keterangan resmi yang diterima redaksi anakUI.com melalui press release panitia Olimpiade UI di link berikut, pihak panitia mengambil keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan poin pada Peraturan Umum Olimpiade UI 2016, yakni:

Peraturan nomor 9. “Jika ada peraturan cabang yang bertumpang tindih dengan peraturan umum, maka akan digunakan peraturan cabang. Tetapi, jika ada peraturan yang tidak tertera pada peraturan cabang, maka akan mengacu pada peraturan umum.”

Peraturan nomor 2.4. “Peserta yang akan mengikuti Olimpiade UI 2016 wajib mendaftar dengan mengisi formulir yang akan diserahkan oleh Panitia Olimpiade UI 2016 kepada ketua kontingen masing-masing peserta dan diserahkan kembali kepada PJ cabang olahraga terkait pada waktu yang telah ditentukan oleh Panitia Olimpiade UI 2016.”

Dengan demikian, arus informasi yang mengalir deras dari hulu ke hilir menyalahkan salah satu pihak diharapkan dapat diterima dengan bijaksana antar kedua belah pihak. Semoga ke depannya BEM UI semakin cepat dan tegas dalam menindaklanjuti suatu masalah sehingga tidak lagi menyebabkan kekecewaan berbagai pihak.

 

BACA JUGA: Perhatikan Hal-hal Ini Sebelum Kamu Turun Jadi Supporter di Olimpiade UI

 

Nah, buat kamu yang ngaku UI banget dan juga ingin membantu memberi informasi serta alasan temen-temen kamu di FEB yang nggak bisa ikut serta di beberapa cabor, yuk bagikan artikel ini di Facebook, Twitter, dan Line kalian! Mari menjunjung tinggi sportifitas dalam berkompetisi!

Bukan cuma Komputer aja yang Bisa Multitasking, Mahasiswa juga Bisa!

Dewasa ini bukan lagi sebuah hal yang tak lazim untuk memiliki dua peran dalam satu waktu, yakni menjadi mahasiswa sekaligus pekerja. Lalu, bagaimanakah kehidupan individu yang mengenyam dua peran itu? Pada postingan kali ini saya akan coba menggambarkan kehidupan mereka.

Menjadi mahasiswa ekstensi yang berkuliah di waktu malam hari membuat para mahasiswa memiliki waktu yang sangat senggang di pagi hari. Banyak dari mereka yang memiliki aktivitas di pagi harinya dengan cara bekerja. Namun, ada juga yang memilih untuk fokus menjalani perkuliahan saja. Well, semua itu pilihan yang memiliki plus dan minus tentunya.

Terdapat ragam profesi di lini akuntansi pada Program Ekstensi Akuntansi FEB UI. Mulai dari senior auditor di sebuah KAP Big 10, pengusaha muda dengan start up business nya, staff akuntansi perusahaan, hingga asistensi dosen untuk vokasi akuntansi UI.

 

Kuliah + Kerja = ?

Kuliah sambil kerja, siapa takut? via mexperience

Saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa semester satu program ekstensi FEB UI 2016 dengan jurusan akuntansi, sekaligus menjadi seorang karyawan divisi akuntansi di sebuah instansi BUMN. Bagaimana rasanya? Hm, tidak bisa hanya dengan dibayangkan, oleh karena itu saya menjalaninya dengan sebaik mungkin. Kaget? Ya, tentu mulai dari perubahan pola tidur dan aktivitas yang harus mengalami penyesuaian. Jam kerja yang dimulai pukul 07.00 s.d 16.00 dan perkuliahan pukul 19.00 s.d 21.30 membuat fisik saya “kaget”. Waktu tidur yang terkadang hanya lima jam, karena pukul 05.15 saya sudah harus berangkat ke kantor dan pukul 22.30 baru kembali di rumah. Pula pernah saya baru keluar dari kantor pukul 17.30 dan mengejar kelas di pukul 19.00.

 

Bagaimana dengan “Me Time”?

Kuliah sambil kerja bukan berarti ga bisa me time, via runtastis

Weekend merupakan “me time” yang sangat berharga. Namun, tak lupa untuk setiap Sabtu pagi diadakan asistensi dosen untuk para mahasiswa ekstensi. Usai asistensi, terkadang saya masih berada di kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh dosen.

Kesal “me time” terganggu karena weekend ke kampus? Bagi saya, “me time” saya adalah ketika saya merasa nyaman dengan rutinitas yang saya miliki dan dengan ditemani oleh teman-teman terdekat saya. Sabtu sore saya maksimalkan untuk hang out dengan teman-teman, hari Minggu saya gunakan untuk merapikan catatan dan mencicil belajar. Senior saya pernah berpesan untuk belajar H-1 bulan ujian agar tidak keteteran, karena sistem SKS itu sebenarnya memang tidak baik dan jangan ditiru ya!

 

Kebersamaan

Kalo ga ada dosen, belajar bareng aja! via ntriwhy

Tak hanya saya yang mengemban dua peran ini, banyak teman-teman yang sama dengan saya. Puji syukur saya memiliki dua teman yang bersama saya (Satu Kelas dan Satu Kantor, Bahkan Satu Divisi) sehingga kami saling mendukung apabila salah satu dari kami mengalami kelelahan ataupun demotivasi.

Pernah suatu ketika kami melihat informasi perkuliahan batal secara tiba-tiba di SIAK NG, sedangkan kami sudah berada di jalan usai bekerja, maka kami memanfaatkan waktu luang tersebut untuk belajar bersama. Kami mempelajari materi yang kami masih belum mengerti. Pula pernah di waktu istirahat makan siang kami belajar karena akan dilaksanakan kuis di malam hari.

Bagi saya memiliki dua peran menjadi mahasiswa dan pekerja merupakan tantangan dimana dituntut untuk memiliki manajemen waktu yang baik, sehingga kata “balance” bukan hanya pada ilmu akuntansi semata, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi.

 

Saran

Teruntuk kalian yang ingin menjalani peran selain mahasiswa dengan cara bekerja, saran saya adalah pertimbangkan lokasi tempat kalian bekerja untuk mobilitas yang efisien. Bekerja sambil berkuliah tidak harus terikat dengan kantor namun bisa juga dengan cara bekerja sistem freelance, seperti dengan cara menjadi guru les privat 🙂

 

 

Salam semangat, untuk para mahasiswa sekaligus pekerja!
Bright Future Awaits, InshaAllah.

 

Naufal Afif
Program Ekstensi Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia

Stereotype Fakultas yang Sering Kita Denger di UI – Bagian 1

Beberapa hari yang lalu anakui.com lewat official account sempat menanyakan pendapat temen-temen mengenai stereotype apa aja sih yang terbentuk di mahasiswa-mahasiswanya mengenai fakultas-fakultas yang ada di UI? Nah, kali ini anakui.com akan mengelaborasi mengenai hal tersebut, memadukannya menjadi satu, biar stereotype tersebut makin melekat di masyarakat. Gak deng, biar stereotype tersebut kalo baik ya semoga tambah berfaedah, kalo buruk ya semoga pergi jauh-jauh. Hehehehe.

Yuk, langsung aja dibaca!

FIB

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari
“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari

Nah, dari sekian banyak pesan yang masuk, yang curhat mengenai FIB ini paling banyak. Kenapa, ya? Mungkin paling banyak terkena stereotype masyarakat kali, ya? Atau karena gak ada kerjaan saking santainya makanya nge-chat mulu? Entahlah. Katanya, anak FIB itu tukang pesta, rokok di mana-mana, gak ada dua anak yang rambutnya sama (lol, mungkin semuanya warna-warni rambutnya), dan selalu ada baazar! Bener sih, beberapa kali dalam sebulan kalo kamu lewat FIB pasti nemuin aja tuh tenda tenda makanan bertebaran.

Dan yang paling sering dibilang orang-orang adalah…

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang!

“BASI!”

Tau gak sih, belajar sastra dan budaya itu gak semudah apa yang kalian bayangin loh!

 BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

FISIP

Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id
Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini melekat dengan mahasiswanya yang keren-keren, nyentrik, super kritis akan masalah sospol di sekeliling kita, tapi sayangnya… males-males. Ah masa iya semuanya males sih? Bener gak tuh? Tapi ya kalo diliat-liat, anak FISIP tuh kayanya paling menikmati masa-masa kuliah di kampus deh, anak muda banget lah pokoknya.

 

FKM

Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum
Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum

Sering dipelesetin jadi Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas. Yak, katanya sih emang kebanyakan ukhti-ukhti di sini. Eh tapi gak juga kok, banyak juga yang gak kerudungan baik cewek maupun cowok (yaiyalah!) Ada juga yang bilang kalo sekarang FKM dibenci perokok wkwkw. Iya, mungkin gara-gara usulan harga rokok yang menjadi Rp50 ribu per bungkus itu merupakan kajian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini kali, ya.

 

FEB

Katanya orang-orangnya ambisius via rri
Katanya orang-orangnya ambisius via rri

Anaknya sih kata orang-orang pada ambisius semua. Hmm, iya juga sih kalo kita lihat secara sekilas, gak tau kalo kebenarannya gimana. Menurut gue sendiri sih, FEB merupakan salah satu fakultas yang selalu totalitas dalam menyelenggarakan suatu acara; JGTC, contohnya. Bayangin aja, meski bukan merupakan proker BEM UI, di masyarakat udah terbentuk mindset dan stigma bahwa JGTC ini merupakan acara yang khas UI banget, saking megah dan berkelasnya!

Nah empat dulu aja ya, gimana? Biar penasaran dan pada nungguin gitu, hehehehehe. Kalo kamu punya masukan mengenai stereotype fakultas kamu, boleh banget chat di Official Line anakui.com (@tkg4665m). Ditunggu ya!

Selain Cuma Iseng, Inilah 5 Alasan Kenapa Mahasiswa Sering Main ke Fakultas Lain

Ada yang pernah bilang bahwa kalau emang seorang mahasiswa itu gaul as in punya banyak koneksi, dia gak akan berkeliaran cuma di fakultasnya sendiri. Pasti dari waktu ke waktu dia visit temennya di fakultas sebelah, entah anak FMIPA iseng main ke Psikologi atau anak FT nyebrang teksas buat mendatangi Kansas. Tapi visit temen kan biasa banget, dan bukan alasan yang bikin dia regularly main ke fakultas yang dituju. Nah, BMKG mewawancara beberapa orang dan berhasil setidaknya merumuskan lima alasan mahasiswa main lintas fakultas selain karena iseng doang. Simak, yuk.

 

Bosen Sama Kantin Fakultas

Bosen Sama Kantin Fakultas via komporui
Bosen Sama Kantin Fakultas via komporui

Ya, ini salah satu alasan yang cukup popular di kalangan mahasiswa loh. Setidaknya setelah si mahasiswa ini sudah berhasil mencicipi satu demi satu makanan yang ada di kantin fakultasnya. Memang, mahasiswa bisa aja main keluar kampus dan makan di restoran, tapi untuk mahasiswa yang ingin berhemat atau berusaha punya bakat untuk berhemat, ya main lintas fakultas udah paling bener.

Kadang mereka bisa sekali dua kali main ke fakultas sebelah hanya untuk refreshing lidah aja biar gak makan itu itu aja. Macam playlist musik aja deh, emang bagus kalo punya regular tapi kadang emang harus keluar dan cobain sesuatu yang di luar playlist supaya gak jenuh.

 

Cari Jodoh

Cari Jodoh via @Mapala_UI
Cari Jodoh via @Mapala_UI

Em… ini gak perlu dijelasin panjang-panjang. Sure, a lot can relate. Entah emang beneran cari atau sekadar cuci mata.

 

Sekalian Ketemu Temen

Sekalian Ketemu Temen via uajy
Sekalian Ketemu Temen via uajy

Ya, kadang ada persahabatan yang dipisahkan oleh fakultas, dan mereka at least main sebulan sekali buat catch up atau kopi darat gitu deh, kalau misalnya situasi kosan mereka juga jauh. Kadang kan ada yang kuliah di FH ngekos di Margonda atau di apartemen dan sahabatnya kuliah di Vokasi dan ngekos di Kukel. Jadi mereka ketemuan di kantin fakultas. Bisa juga sekalian cari jodoh sih, ngertilah maksudnya. Buat kamu yang punya temen yang suka visit dari fakultas lain dan mulai terlalu sering, mungkin yang bersangkutan bukan mau keluar dari fakultasnya sendiri; dia cuma mau keluar dari friendzone.

BACA JUGA: Tipe-tipe Teman Seperti Inilah yang Bakal Jadi Superhero Kamu

 

 

Dulu Pernah Kuliah Situ

Dulu pernah kuliah di situ, terus kangen via divitri
Dulu pernah kuliah di situ, terus kangen via divitri

Ini alasan yang sejujurnya jarang tapi lumayan lucu. Gimana sih kalau kamu, anak UI nih, berhasil masuk UI tapi bukan di jurusan yang kamu mau. Udah umum banget, seumum toilet umum dan wifi di café-café, kalau ketika penerimaan mahasiswa UI tahun depan, dia ngikut tes, entah via SIMAK atau SBM sesuatu itu yang tiap taun suka ganti nama macam penjahat buron.

Nah, ketika dia kemudian diterima, maka pindahlah itu mahasiswa. Tapi ada kalanya dia kangen temen di fakultas lamanya. Misalnya aja ada mahasiswa yang nyasar ke FIB karena gagal tembus FEB atau daftar FT tapi nyasar ke FMIPA. Bisa juga dia sempet di-DO dan pindah fakultas. Ketika udah dapet jurusan yang dipengin, kan bisa aja kangen temen fakultas yang lama. Maka, mainlah mereka lintas fakultas.

 

Dulu Pernah Daftar di Situ

Mungkin karena pernah Dulu pernah daftar di situ, tapi gak masuk via maheraku
Mungkin karena pernah Dulu pernah daftar di situ, tapi gak masuk via maheraku

Ini sama jarangnya sama alasan di atas, tapi somehow lebih sedih. Percaya gak percaya, ada satu dari dua puluh mahasiswa (kira-kira aja sih) yang dari masih maba sampe mentorin maba menghabiskan waktunya berusaha untuk pindah fakultas. Tapi, gagal maning. Jadinya dia punya suatu harapan terpendam yang bersemayam di hati kecil yang paling dalam; maka dari waktu ke waktu, dia main lintas fakultas ke fakultas impian dia minimal buat ngerasain rasanya mondar-mandir di fakultas itu. Itu jadi guilty pleasure-nya yang entah kenapa berubah jadi kebiasaan yang ga bisa diilangin. Mudah-mudahan gak banyak yang sesedih ini.

Nah, apa alasan kamu yang suka main lintas fakultas? Ada alasan lain kah? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line! Siapa tau ada juga yang senasib sama kamu.

error: This content is protected by the DMCA