Kenal UI #6: Fakta FIB UI, Surganya Acara Mahasiswa di UI

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI sering dianggap sebagai fakultas tersantai di UI. Kuliah pakai kaos dan sandal, mahasiswanya yang gaul-gaul, dan sering mengadakan acara mahasiswa setiap bulannya.

Selain itu, mahasiswa FIB sering mempunyai mahasiswa yang berasal dari luar negeri, loh! Kalau kamu mau cari gebetan bule atau oppa-oppa Korea, main-main aja ke FIB.

Di samping pandangan umum seperti itu, sebenarnya fakta unik apa sih yang ada di balik fakultas makara putih ini? Yuk, simak ulasan berikut ini.

Berawal dari Fakultas Sastra

fakta fib ui
FIB UI. Foto: arsip anakui.com

Pada awal pendirian tahun 1940, FIB semula bernama Fakultas Sastra UI (FSUI). Pada waktu itu, jurusan yang dibuka yaitu Jurusan Sastra Indonesia, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial, Jurusan Ilmu-Ilmu Sejarah, dan Jurusan Ilmu Bangsa-Bangsa. Sebelum di Depok, tempat belajarnya pun berada di Jakarta Pusat (1940-1960), kembali pindah ke Rawamangun, Jakarta Timur (1960-1987).

Dalam perkembangannya, muncul gagasan untuk mengubah nama Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Hal ini karena terjadi penyempitan makna pada kata ‘sastra’. Dalam bahasa Sansekerta, kata sastra berarti ‘budaya’ atau ‘ilmu’. Namun, makna tersebut menyempit menjadi ‘bidang seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya’, seperti prosa, puisi, dan drama.

Nama ‘Fakultas Sastra’ membuat orang beranggapan bahwa fakultas ini mencetak mahasiswanya menjadi sastrawan, padahal tidak. Ada jurusan lain yang bahkan tidak mempelajari sastra, seperti Arkeologi, Ilmu Sejarah, Ilmu Perpustakaan, dan Filsafat. Hingga akhirnya, pada tahun 2002, FSUI secara resmi berubah nama menjadi FIB UI.

BACA JUGA: 6 Stigma yang Melekat pada Mahasiswa FIB UI

Fakultas dengan Prodi S1 Terbanyak di UI

fakta fib ui
Potret mahasiswa FIB UI saat kuliah. Foto: dokumentasi pribadi

FIB merupakan fakultas dengan program studi (prodi) S1 terbanyak di UI. Total ada 15 prodi di fakultas makara putih ini.

Prodi-prodi tersebut antara lain Prodi Indonesia, Prodi Sastra Jawa, Prodi Cina, Prodi Jepang, Prodi Arab, Prodi Jerman, Prodi Belanda. Prodi Inggris, Prodi Prancis, Prodi Rusia, Prodi Arkeologi, Prodi Sejarah, Prodi Ilmu Filsafat, Prodi Ilmu Perpustakaan, dan Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea.

Prodi Belanda Satu-satunya di Asia

fakta fib ui
Ilustrasi Belanda. Gambar oleh Helena Jankovičová Kováčová dari Pixabay

Tahukah kamu, salah satu dari 15 prodi di FIB UI ada yang cuma satu-satunya di Asia Tenggara, loh! Prodi tersebut adalah Prodi Belanda. Prodi yang tahun ini berusia 51 tahun tersebut telah diakui secara internasional oleh Nederlandse Taalunie (Uni Bahasa Belanda) sebagai penyelenggara pendidikan jenjang sarjana studi Belanda.

Jika kamu menjadi mahasiswa Prodi Belanda, kamu tidak hanya akan belajar bahasanya, tetapi juga sastra dan kebudayaan Belanda. Selain itu, ilmu yang akan yang kamu dapatkan akan sangat bermanfaat jika kamu berminat untuk meneliti dan menguak peninggalan Belanda di Indonesia.

Memiliki Enam Seni Instalasi

fakta fib ui
Potret instalasi “Interkoneksi” bersama penciptanya. Foto: dokumentasi FIB UI

Namanya juga Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, pasti tidak jauh-jauh sama kebudayaan, termasuk karya seni. Di fakultas ini, kamu akan menemukan enam seni instalasi di tersebar di berbagai titik di FIB. Masing-masing karya seni tersebut memiliki ceritanya tersendiri. Enam seni instalasi tersebut yaitu sebagai berikut.

  1. Interkoneksi karya Entang Wiharso
  2. Monumen Luka karya Hanafi
  3. Merasa Bebas karya Putu Sutawijaya
  4. Menu Hari Ini karya Irantine Karnaya
  5. Never Ending karya Irantine Karnaya
  6. Mencari Peluang karya Irantine Karnaya

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Matkul Eksternal FIB UI yang Anti-Mainstream

Surganya Acara Mahasiswa

fakta fib ui
Festival Budaya (Fesbud) adalah salah satu acara di FIB UI. Foto: arsip anakui.com

Sebelumnya, sudah dijelaskan kalau fakultas makara putih ini merupakan fakultas dengan prodi S1 terbanyak di UI. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada kegiatan mahasiswanya. Fakultas ini pun dikenal sebagai surganya acara mahasiswa. Bagaimana tidak, setiap prodi memiliki acara besarnya masing-masing. Belum lagi acara dari BEM FIB UI dan lembaga atau organisasi mahasiswa yang lainnya.

Hampir setiap bulan, selalu ada bazar dan konser musik di fakultas ini. Beberapa acara yang terkenal dari FIB UI yaitu Festival Budaya UI yang diadakan oleh BEM FIB UI, Gelar Jepang UI yang diadakan oleh Prodi Jepang, dan Korean Cultural Day yang diadakan oleh Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea.

Nah, itu tadi lima fakta unik dari FIB UI. Menarik dan seru banget, kan? Kalau mau kenal lebih dekat, ditunggu kehadiranmu di FIB UI, ya!

Sampai jumpa di Seri Kenal UI berikutnya.

BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

5 Rekomendasi Matkul Eksternal FIB UI yang Anti-Mainstream

‘Setiap semester baru, salah satu hal yang terbesit di pikiran anak UI adalah mau mengambil mata kuliah (matkul) eksternal apa. Mengambil matkul eksternal memang menjadi pilihan untuk menambah jumlah SKS, nilai, dan pengetahuan baru yang mungkin asing bagi mahasiswa fakultas lain.

Salah satu satu fakultas yang jadi langganan matkul eksternal incaran banyak mahasiswa adalah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). FIB merupakan fakultas dengan jumlah jurusan terbanyak di UI, yaitu 15 jurusan. Tidak heran juga kalau pilihan matkul eksternalnya cukup bervariasi, mulai dari bahasa asing sampai kesejarahan.

siak war

Kali ini, anakui.com akan merekomendasikan lima matkul eksternal dari FIB yang anti-mainstrean. Sebagai disclaimer, artikel ini hanya mengulas matkulnya secara umum, ya. Jadi, jangan harap kamu akan mendapatkan bocoran tugas dan ujiannya dari artikel ini.

1. Sejarah Peradaban dan Kebudayaan Turki (3 SKS)

Sumber: pixabay.com/Engin_Akyurt

Buat kamu yang tertarik dan kepo sama dunia Timur Tengah, terutama Turki, matkul ini cocok banget buat kamu. Matkul yang dibuka oleh Sastra Arab ini akan memberimu pengetahuan mengenai konteks sejarah peradaban Turki dan sejarah dinasti-dinasti Turki sejak Dinasti Seljuk Raya sampai Dinasti Ottoman.

Sementara itu, ruang lingkup yang akan dibahas meliputi penelusuran kehidupan di stepa Asia Tengah, dinasti-dinasti Turki sebelum Islam, negara-negara Islam Turki pertama, Dinasti Seljuk Raya, Kesultanan Seljuk Rum, Dinasti Mamluk, Dinasti Ottoman, Sejarah Turki di luar Turki, dan suku bangsa Turki sebagai minoritas di luar negara Turki. Aspek yang dipelajari adalah mulai dari budaya, sosial, ekonomi, dan perkembangannya dari setiap periode.

2. Bahasa Inggris untuk Korespondensi Bisnis (3 SKS)

Sumber: pixabay.com/aymanejed

Kamu yang tertarik sama dunia bisnis dan mau belajar korespondensi bisnis, matkul ini cocok buat kamu. Di matkul yang dibuka oleh Sastra Inggris ini, kamu akan mempelajari berbagai macam surat korespondensi bisnis, mulai dari letters of adjustments, letters letters of advice, letters of announcements, letters of apologies, letters of appointments and interviews, letters of appreciations, letters of complaints, cover letters, follow-up letters, fundraising letters, undangan, letters of orders, surat referensi dan rekomendasi, letters of requests and proposals, sales letters, dan thank you letters.

Selain belajar membuat suratnya, kamu juga akan belajar menganalisis surat dengan sistem diskusi dan cooperative learning. Sesuai dengan namanya, bahasa pengantar matkul ini adalah bahasa Inggris.

BACA JUGA: Sudah Tahu Bedanya Tes TOEFL, IELTS, dan TOEIC?

3. Perkembangan Industri Perfilman Hollywood (3 SKS)

Sumber: pixabay.com/bissartig

Suka nonton film Hollywood? Daripada cuma nonton, kamu bisa mengambil matkul ini, nih. Matkul yang dibuka oleh Sastra Inggris ini akan memberimu pengetahuan tentang sejarah perkembangan perfilman Hollywood, mulai abad ke-20 hingga berkembang menjadi industri perfilman yang saat ini menguasi pangsa pasar perfilman dunia.

Materi yang diberikan disesuaikan dengan film yang sedang tren, baik pada saat ini maupun masa-masa tertentu. Topik-topik yang akan dikaji antara lain film Hollywood dalam sebuah medan budaya, memahami alasan suatu film komersial menjadi sukses atau gagal, dan melihat posisi film tersebut dalam konteks budaya masyarakat.

4. Paradigma Feminis (3 SKS)

Sumber: pixabay.com/viarami

Akhir-akhir ini, isu-isu tentang feminisme sering dibicarakan di masyarakat. Biar kamu tidak salah dalam memahaminya, kamu bisa mengambil matkul Paradigma Feminis yang dibuka oleh jurusan Ilmu Filsafat.

Karena dari jurusan Ilmu Filsafat, pendekatan yang digunakan tentu saja mengarah ke filsafat. Kamu akan mempelajari epistemologi, etika atau nilai, self, dan filsafat politik feminis. Bahan-bahan yang digunakan merupakan karya filsuf feminis yang nantinya akan dikaitkan dengan isu ketidakadilan gender dan perbandingannya dengan filsuf laki-laki.

5. Sejarah Dunia (3 SKS)

Sumber: pixabay.com/Alexas_Fotos

Buat kamu yang suka belajar sejarah, kamu bisa banget mengambil matkul ini. Sesuai namanya, matkul yang dibuka oleh jurusan Ilmu Sejarah ini akan mempelajari sejarah perkembangan dunia dari berbagai aspek, mulai dari peradaban, dinamika perkembangan IPTEK, Perang Dunia, sampai perkembangan dunia di masa modern. Kamu akan diajari cara mengumpulkan sumber, memverifikasi, menginterpretasi, dan menulis sejarah dengan langkah-langkah metode sejarah.

Itulah tadi lima matkul eksternal anti-mainstream yang bisa kamu ambil dari FIB. Seru kan rekomendasinya? Kalau kamu kepo sama matkul eksternal lain dari FIB (selain bahasa dasar tentunya), tulis saja di kolom komentar dan anakui.com akan mengulasnya buat kamu.

BACA JUGA: Coba “Belanja” 3 Matkul dari Prodi Sastra Indonesia Ini, Yuk!

6 Stigma yang Melekat pada Mahasiswa FIB UI

Apa yang terbesit di benak kamu soal mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI? Gudangnya UI Cantik? Kumpulan anak gaul yang pintar berbahasa asing? Atau kumpulan mahasiswa santuy yang kuliah pakai sandal jepit?

FYI, FIB UI merupakan fakultas dengan jurusan terbanyak yang ada di UI. Totalnya ada 15 jurusan. Nggak hanya sastra, di fakultas ini juga ada jurusan yang mempelajari ilmu humaniora, seperti Filsafat, Ilmu Sejarah, dan Arkeologi. Dengan keanekaragaman jurusan itu, secara nggak langsung mahasiswa FIB pun terkenal juga dengan keberagaramannya. Hal tersebut secara tidak langsung membentuk berbagai macam stigma pada mahasiswa FIB.

Kali ini, anakui.com akan memberikan sedikit bocoran seperti apa sih anak FIB itu. Namun, tulisan ini cuma gambaran umunya saja, ya. Kalau kamu kepo, langsung aja gih cari temen atau gebetan di FIB, hehe.

1. Terkenal Gaul

Sumber: pixabay.com

Kalau kamu lihat cewek dengan rambut “badai” dan baju cakep, serta cowok yang rapi dan selalu pakai sneakers mahal, coba tanya jurusannya. Stigma seperti itu biasanya melekat pada mahasiswa jurusan sastra Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, dan Rusia.

Gaya mereka seakan sesuai dengan budaya dari negara yang mereka pelajari. Jadi, jangan heran kalau mereka cakep dan gaul, ya.

2. Suka Nongkrong Bergerombol

Sumber: pixabay.com/free-photos

Setiap jurusan di FIB punya tempat nongkrongnya masing-masing. Namun, ada beberapa jurusan yang tempat nongkrongnya ini mudah dikenali. Kenapa? Karena sejak maba—pas masih pakai name tag dan identitas jurusan—mereka sudah rajin ngumpul di sana bareng temen seangkatan. Alhasil, tempat itu pun jadi ciri khas dari jurusan tertentu.

Misalnya, anak Sastra Indonesia biasa nongkrong di depan Koperasi Mahasiswa (Kopma); anak Sastra Jawa nongkrongnya di belakang Gedung V; anak Sastra Jepang nongkrong di sekitaran Kantin Humaniora (Kanhum); dan anak Sastra Arab yang suka ngumpul di Musas (Musala Sastra). Uniknya, anak Sastra Arab sering dianggap alim karena ngumpul-nya di Musas.

Eits, walaupun begitu, bukan berarti anak jurusan lain nggak boleh duduk-duduk di sekitar situ, ya. Mereka santai-santai saja kalau ada anak dari jurusan lain. Justru anak dari jurusan lain itu yang mungkin bakal canggung kalau ada di situ, hehe.

BACA JUGA: FIB UI Tanpa Acara Mahasiswa Bagai Sayur Tanpa Garam, Kurang Lengkap!

3. Kuliah Pakai Sandal

Sumber: pixabay.com/girasol75

Jangan kaget kalau main ke FIB lihat mahasiswa yang cuma pakai sandal jepit pas ngampus, ya. Pemandangan tersebut sudah lumrah terjadi di FIB. Kebanyakan dosen juga nggak melarang mahasiswa pakai sandal di kelas. Jadi, mereka santai-santai aja kuliah pakai sandal jepit dan kaos oblong.

Stigma seperti itu biasanya melekat pada mahasiswa jurusan Arkeologi, Ilmu Sejarah, dan Filsafat. Eits, tapi jangan sepelein mereka. Walaupun gaya mereka santai, bukan berarti kuliahnya juga santai, ya.

4. Diam-Diam Menghanyutkan

Sumber: pixabay.com/sammy-williams

Di antara anak-anak gaul FIB, ada juga golongan yang jarang terekspos, loh. Biasanya, penyebabnya adalah jurusan mereka kurang populer atau justru sebaliknya, jurusan mereka dianggap susah sehingga mereka lebih sering kelihatan ngambis daripada nongkrong.

Salah satu jurusan yang (katanya) kurang populer yaitu Ilmu Perpustakaan. Anak-anaknya pun “kurang terlihat” di lingkungan pergaulan FIB. Sementara itu, salah satu jurusan yang anak-anak ambis karena tuntutan akademik yaitu Sastra Cina. Jurusan tersebut merupakan salah satu jurusan yang masuk dalam daftar “segitiga bermuda”-nya FIB, loh. Jadi, kalau nggak ambis, bisa-bisa mereka ketinggalan jauh, deh.

5. Suka Ngidol

Sumber: pixabay.com/free-photos

Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang awam sering menghubungkan jurusan Sastra Jepang dengan Wibu dan jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) dengan K-Pop. Dari luar mungkin kelihatannya memang begitu. Mereka yang masuk Sastra Jepang atau BKK mungkin awalnya punya alasan “ingin mempelajari bahasa atau budaya dari idolanya”.

Namun, seiring berjalannya perkuliahan, alasan tersebut pun bergeser. Mereka tidak hanya menjadikan artis atau anime favorit sebagai hiburan, tetapi juga sebagai objek penelitian. Itu namanya ngidol yang bermanfaat ya, hehe.

6. Barisan Biasa Aja

Sumber: pixabay.com/wokandapix

Stigma ini mungkin bukan stigma yang unik dan menarik. Dan dua jurusan di FIB ini boleh dibilang punya stigma itu. Mereka dianggap biasa saja dan cenderung diremehkan. Dua jurusan itu adalah Sastra Indonesia dan Sastra Jawa. Jarang sekali ada yang kepo dengan jurusan itu. Jadi, orang-orang hanya menganggap seperti, “Oh, anak sastra Indonesia, ya?” atau “Oh, anak Sastra Jawa, ya?”

Padahal, secara nggak langsung mereka membantu melestarikan karya sastra, mulai dari karya sastra daerah sampai karya sastra populer Indonesia, loh. Jadi, jangan meremehkan jurusan apapun sekalipun terlihat gampang, ya!

***

Selain enam stigma tersebut, ciri khas yang paling melekat di mahasiswa FIB adalah gemar “berpesta” dengan berbagai acara setiap bulannya dan suporternya yang selalu ramai ketika perhelatan Olimpiade UI. Pokoknya, nggak ada habisnya deh kalau ngomongin FIB, hehe

BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

FIB UI Tanpa Acara Mahasiswa Bagai Sayur Tanpa Garam, Kurang Lengkap!

Siapa di sini yang merupakan anak atau alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI? Ciri khas apa sih yang kamu nggak bisa lupain tentang FIB? Ada banyak ciri khas yang melekat di fakultas dengan 15 jurusan tersebut, seperti kantinnya yang unik dan makanannya yang murah, suasananya yang adem karena banyak tumbuhan, style anak-anaknya yang beraneka macam, dan kuliahnya yang sering dianggap santai. Di antara semua itu, hal yang paling unik dari fakultas makara putih ini adalah banyaknya acara mahasiswa. Bahkan, sering kali fakultas ini disebut sebagai “Fakultas Ilmu Berpesta”.

Beberapa Acara Besar Mahasiswa di FIB UI

Salah satu mata acara FESBUD UI (sumber: fesbudui.wordpress.com) 

Ada berbagai acara besar mahasiswa yang diadakan di FIB, baik dari himpunan mahasiswa jurusan maupun BEM. Adapun acara-acara tersebut antara lain adalah:

1. Gelar Jepang UI, diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Japanologi (HIMAJA) UI

2. Festival Bulan Bahasa Indonesia (Falasido) UI, diadakan oleh Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI) UI

3. Russkij Festival UI, diadakan oleh Ikatan Kekerabatan Sastra Slavia (IKASSLAV) UI

4. FestiFrance UI, diadakan oleh Ikatan Keluarga Besar Studi Prancis (IKABSIS) UI

5. Sinofest UI, diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Sinologi (IMSI) UI

6. Kulturfest UI, diadakan oleh Ikatan Studi Jerman (ISJ) UI

7. Nederlands Festival UI, diadakan oleh Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Belanda (IKSEDA) UI

8. Pekan Budaya Jawa (PBJ) UI, diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ) UI

9. Middle East Festival (MEF) UI, diadakan oleh Ikatan Keluarga Asia Barat (IKABA) UI

10. Philosofair UI, diadakan oleh Komunitas Mahasiswa Filsafat (KOMAFIL) UI

11. UI Book Festival, diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan (IMASIP) UI

12. Histori Fair UI, diadakan oleh Studi Klub Sejarah (SKS) UI

13. Engcarnation UI, diadakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Inggris (IKMI) UI

14. Korean Culture Day (KCD) UI, diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Koreanologi (HWARANG) UI

14. Bakti Sosial IKM FIB UI, diadakan oleh BEM FIB UI

15. Olimpiade Budaya (OLIMBUD) FIB UI, diadakan oleh BEM FIB UI

16. Festival Budaya (FESBUD) UI, diadakan oleh BEM FIB UI

 

Banyak banget, kan? Itu belum semuanya, loh! Masih banyak acara lain yang diadakan oleh himpunan jurusan mahasiswa, BEM FIB, DPM FIB, dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di FIB. Acara-acara tersebut biasanya diadakan dalam format rangkaian acara yang dilakukan selama dua sampai empat minggu. Rangkaian acara tersebut biasanya ditutup dengan panggung musik yang diadakan pada malam hari.

For your information, dulu di FIB ada yang namanya Petang Kreatif. Acara tersebut merupakan pagelaran teater dari 15 jurusan yang dilaksanakan seharian penuh. Sayangnya, sejak tahun 2016 acara tersebut ditiadakan. Pada tahun 2019, BEM FIB sempat mencoba untuk mengadakan acara itu lagi. Namun, karena satu dan lain hal, acara tersebut tidak diikuti oleh semua jurusan, sehingga rasanya berbeda seperti Petang Kreatif pada tahun-tahun sebelumnya.

Selama pandemi, beberapa acara tetap diadakan dengan format yang disesuaikan, seperti mengadakan lomba via daring, pertunjukan daring, dan webinar. Ada pula yang terpaksa ditiadakan karena acaranya biasa diadakan di luar ruangan, sehingga tidak dimungkinkan untuk diadakan dalam kondisi seperti ini. Salah satu acara yang ditiadakan adalah FESBUD UI. Acara tersebut sering kali disebut sebagai hari rayanya FIB karena diadakan setelah semua acara dari himpunan jurusan selesai pada akhir tahun dan bersamaan dengan Dies Natalis FIB.

BACA JUGA: 4 Hal Ini Pasti Bakal Kamu Lihat Saat Berkunjung ke FIB UI Pada Malem Hari

Alasan Mengapa Ada Banyak Acara di FIB

Salah satu pagelaran teater di FIB UI (sumber: fib.ui.ac.id)

Banyaknya acara mahasiswa ini disebabkan oleh banyaknya jurusan yang ada di FIB. Setiap jurusan pasti mengadakan acara atau festival dengan ciri khasnya masing-masing. BEM FIB, DPM FIB, dan UKM FIB pun tidak ingin ketinggalan dalam mengadakan acara. Kebanyakan acara mahasiswa di FIB diadakan pada semester ganjil.

Semester ganjil dipilih karena biasanya pada semester sebelumnya, organisasi yang bersangkutan akan fokus pada pembentukan bonding karena pengurus barunya terbentuk pada awal tahun. Mereka juga akan mengadakan uji kelayakan untuk tim panitia penyelenggara acara. Setelah semuanya siap, eksekusinya dilakukan pada semester ganjil, tepatnya mulai pertengahan sampai akhir tahun. Agar waktunya tidak bertabrakan dengan acara lain, mereka harus berkoordinasi dengan BEM FIB untuk menyusun jadwalnya.

Selain untuk mencari profit bagi organisasi penyelenggara, acara tersebut juga dijadikan sebagai momen yang diharapkan dapat membuat maba menjadi lebih dekat dengan teman-teman seangkatan, senior, dan himpunan mahasiswanya. Biasanya mereka akan diwajibkan untuk menjadi staf di salah salah satu divisi dalam acara tersebut. Mereka juga diharuskan untuk ikut danus (dana usaha) dan membayar set-up cost (SUC). Feedback yang akan mereka dapatkan adalah (tentunya) pengalaman, kaos panitia, dan lain-lain sesuai acara tersebut.

Itulah sedikit cerita mengenai ramainya acara mahasiswa di FIB. FIB tanpa acara mahasiswa itu bagaikan sayur tanpa garam, kurang lengkap rasanya. Walaupun sedang pandemi, mereka pun tetap berupaya mengadakan acara secara daring demi menghidupkan vibes ala FIB. Jadi, jangan ngaku anak FIB deh kalau belum pernah merasakan serunya “berpesta” di FIB.

BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya

Sumber gambar header: Dokumentasi FESBUD UI 2017

[zombify_post]

Kamu Anak FIB yang Ingin Lancar Berbahasa Asing? Ini Triknya!

Memutuskan untuk mengambil studi di FIB bukanlah pilihan yang mudah. Namun, yang paling menantang adalah  menjalani hari-harimu setelah kamu jadi anak FIB. Emang apa susahnya sih jadi anak FIB?

Meski nama fakultasnya adalah Fakultas Ilmu Budaya, kemampuan berbahasa asingmu sangat diandalkan dalam kehidupan sehari-hari di FIB. Misal, jika kamu mengambil prodi Perancis di FIB, maka sudah dipastikan sebagian besar gurunya akan ngajar dengan bahasa Perancis atau bahkan mewajibkan kamu berbahasa Perancis dalam kegiatan sehari-hari.

Lalu gimana caranya supaya kita bisa nge-blend dengan bahasa asing dalam kegiatan sehari-hari di FIB?

Berikut beberapa tips menarik dari anakui.com supaya kamu makin lancar berbahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA: Jangan Kuper di Pergaulan Internasional, Ini Tips Belajar Bahasa Inggris Secara Otodidak

 

Expose Yourself

Lepaskan dirimu dari batasan dan aturan kebahasaan via ihbristol
Lepaskan dirimu dari batasan dan aturan kebahasaan via ihbristol

Mungkin kamu merasa kemampuan berbahasa asingmu cukup tingg. Namun, ketika tiba saatnya dalam percakapan sehari-hari kamu pun grogi dan bakal kaku dalam mengeluarkan kosakata dari kepalamu karena takut grammar-nya salah.

Well, go to hell grammar. Believe it or not, dalam percakapan sehari-hari gak semua orang bakal pay attention to details of your grammar mistake. Even native speakers do the same.

Salah satu cara supaya kamu bisa fasih dalam melontarkan kalimat berbahasa asing adalah dengan melepaskan dirimu dari batasan dan aturan kebahasaan dan membiasakan dirimu menjadi orang yang sudah terbiasa berbahasa asing. Berikan doktrinasi secara manual dengan menyetel TV atau tayangan-tayangan yang sesuai dengan bahasa pada jurusan studimu. Misal, tayangan serial berbahasa Perancis ternyata sedikit banyak dapat memengaruhi kemampuanmu dalam mengelola tata bahasa bahasa Perancis. Belum lagi kalau kamu juga sering membaca buku-buku Perancis dalam bahasa aslinya.

 

Berteman dengan Native

Berteman dengan native speaker yang bisa kamu temuin di lingkungan kampus via now.uiowa.edu
Berteman dengan native speaker yang bisa kamu temuin di lingkungan kampus via now.uiowa.edu

Udah bukan rahasia lagi kalau di kampus kuning, kita bisa ketemu native speaker hampir tiap bahasa di lingkungan perkuliahan.

Kenalan sama mereka, dan jadikan mereka teman pastinya akan memaksa dirimu untuk lama kelamaan berbicara dalam bahasa mereka. Dan bagi mereka pun akan merasa tersanjung meliihat usahamu ketika mencoba untuk ngeblend dan berusaha berbicara dengan bahasa mereka.

 

Berteman dengan ERASMUS atau Goethe

Kunjungi pusat-pusat kebudayaan untuk dapat menambah wawasan via  ethariesta
Kunjungi pusat-pusat kebudayaan untuk dapat menambah wawasan via ethariesta

Meski sudah seringkali mengadakan kegiatan bersama Universitas Indonesia, masih belum banyak mahasiswa yang menyadari bahwa mengunjungi pusat-pusat kebudayaan seperti ERASMUS HUIS atau Goethe Institute dapat menambah wawasan, jaringan, dan kepercayaan diri dalam berbahasa asing.

Apalagi di pusat-pusat kebudayaan tersebut kita bisa langsung memelajari sejarah dan perkembangan budaya mereka secara langsung. Kamu pun bisa menjadi member melalui situs mereka dan mengikuti agenda kegiatan mereka setiap bulannya.

 

Nonton YouTube

YouTube-an bisa  meningkatkan kemampuanmu dalam mengenal bahasa dan budaya via geeksla
YouTube-an bisa meningkatkan kemampuanmu dalam mengenal bahasa dan budaya via geeksla

Yup, siapa sangka YouTube-an ternyata bisa juga meningkatkan kemampuanmu dalam mengenal bahasa dan budaya.

Dengan mengikuti channel tertentu di YouTube yang relevan dengan studi budaya dan bahasa, tentunya akan mempermudah kamu dalam memahami dan catch up dengan segala sesuatu yang ter-update dari negara yang kamu pelajari.

Apalagi, jika kamu iseng-iseng gabung dengan komunitas translator dan mencoba-coba untuk menerjemahkan setiap tayangan mereka ke dalam bahasa Indonesia. Siapa tahu bisa jadi kerjaan sampingan, kan?

 

Volunteering or Work Abroad

Cari internship di negara yang kita pelajari via wikimedia
Cari internship di negara yang kita pelajari via wikimedia

Nah, ini yang paling cakeup. Biasanya tiap selesai satu semester ada libur panjang. Bisa banget nih kita manfaatkan untuk cari-cari internship atau program volunteering di negara yang kita pelajari.

Cuma pastikan, kamu sudah memiliki paspor dan budget yang mencukupi untuk berangkat ke sana. Pun budgetnya tidak mencukupi, kamu pun masih bisa menghunting program-program internship atau volunteering yang memang sudah include dengan transport PP dan akomodasinya. Paling mentok, kamu mau gak mau cari sponsor deh buat berangkatin kamu ke sana selama libur semester.

Lumayan kan, pulang-pulang gak cuma bahasa dan budaya aja yang menambah wawasan kamu, namun juga etika bekerja dan attitude dalam kerja sama tim yang mungkin akan sangat jarang bisa kamu dapatkan di Indonesia.

So, udah gak sabar buat ningkatin kemampuan kamu dalam beradaptasi dengan dunia? Simak terus informasi menarik dari anakui.com dan ceritakan pengalamanmu melalui comment box di bawah ini! Yuk, bagikan informasi ini lewat Facebook, Twitter, dan LINE kamu sekarang!

5 Keseruan di Kelas Pengkajian Sinema UI yang Bakal Kamu Rasain

Pernahkah kamu merasakan serunya membahas film-film terpopuler seperti The Hunger Games atau Life is Beautiful di dalam kelas-kelas kuliah tertentu? Tahukah kamu apa saja manfaat dari pembahasan film-film tersebut?

Dari suatu film, pengamat pendidikan biasanya tidak hanya menilai manfaat suatu film hanya dari sisi seru atau tidak serunya suatu ceritera. Melainkan dari ragam sisi yang tak pernah bisa kita bayangkan sebelumnya.

Apa saja sih hal-hal yang dapat kita pelajari secara ilmiah dari sebuah karya film?

 

Emotional Learning

Mempelajari  tahapan emosional melalui akting seorang aktor via fpsi.usu.ac.id
Mempelajari tahapan emosional melalui akting seorang aktor via fpsi.usu.ac.id

Dengan membahas suatu film, kita dapat mempelajari bagaimana tahapan emosional seseorang melalui akting/peranan seorang aktor. Kita juga dapat mengetahui apa saja yang dapat memengaruhi sensitivitas emosi seorang manusia dalam kehidupan. Di sisi lain, kita pun dapat merefleksikan tahapan emosional kita saat menyaksikan dan menganalisa film tersebut.

 

Social Studies

Kamu jadi tahu hubungan antar sosial manusia seperti apa dalam sebuah film via mbu.edu
Kamu jadi tahu hubungan antar sosial manusia seperti apa dalam sebuah film via mbu.edu

Hubungan antar sosial manusia pun dapat terlihat lebih jelas dan tergambar dengan mudah melalui sebuah film. Bagaimana status sosial orang tertentu dapat mengubah kondisi sosial suatu masyarakat pun dapat menjadi bagian dari cultural studies.

 

Sains

Bahan diskusi menarik tentang mitos yang ada di film via jambimoviefreakers
Bahan diskusi menarik tentang mitos yang ada di film via jambimoviefreakers

Beberapa film seperti LUCY, Limitless, atau Flight of Wilderness juga mengangkat background story dari mitos sains terkait brain power—bagaimana otak manusia dapat mengubah keadaan jika digunakan dalam kapasitas maksimal. Film-film seperti ini dapat menjadi bahan diskusi menarik apakah mitos yang ditawarkan benar adanya atau belum memiliki temuan sains secara ilmiah.

 

Literatur

Bisa jadi bahan literatur via vivanews
Bisa jadi bahan literatur via vivanews

Yang sering luput di mata kita adalah bagaimana sebuah film dapat menjadi suatu studi literatur bahkan bagi bidang-bidang keilmuan di luar pengkajian ilmu perfilman itu sendiri.

Tak sedikit literatur-literatur klasik kini diangkat menjadi film layar lebar dan layak untuk diperbincangkan secara ilmiah di dalam kelas. Bahkan, mempertontonkan film sebelum membaca buku terkadang membantu sebagian mahasiswa dalam memahami bahasa-bahasa penulisan yang “challenging” dan monoton.

 

Membuka Wawasan Dunia

Membantu memahami wawasan dunia secara muda via reviewfilm
Membantu memahami wawasan dunia secara muda via reviewfilm

Mengenal ragam budaya dan habbit setiap masyarakat di negara tertentu membantu kita memahami wawasan dunia secara mudah. Bahkan, tak jarang kemampuan kita berbahasa asing pun ikut terasah baik secara sadar maupun tanpa sadar sewaktu menganalisa suatu film.

Bagi kamu, mahasiswa FIB UI yang udah masuk tahun kedua, kamu akan sangat merasa beruntung jika mendapatkan dosen yang sering membahas film tertentu untuk dibahas dari sisi budaya, semiotika, atau bahkan dari sisi politik, sosial, dan ekonomi. Yup, film adalah produk budaya dan akan selalu menjadi objek pembelajaran budaya yang tak kan pernah tuntas untuk terus dibahas dari masa ke masa.

Semua rasa penasaran kamu tentang apa saja latar belakang budaya yang mewarnai sebuah film dapat kamu pelajari pada kelas pengkajian sinema di FIB UI. Bentuknya seperti kelas biasa, namun setiap kali kamu disuguhkan sebuah film, kamu akan diberikan penugasan untuk menganalisanya dengan referensi yang menurut kamu relevan. Bahkan, di prodi Prancis FIB UI, kelas Pengkajian Sinema menjadi salah satu mata kuliah wajib dan menantang.

Penasaran? Yuk mampir-mampir ke FIB UI dan temukan bidang-bidang keilmuan yang dapat puaskan rasa penasaranmu! Yuk, bagikan tulisan ini lewat Facebook, Twitter dan LINE kamu sekarang! Simak terus informasi terkini mengenai setiap kegiatan civitas akademika Universitas Indonesia hanya di anakui.com.

32 Mahasiswa Prodi Arab FIB UI Terancam Tidak Bisa Lulus

Seharusnya, tanggal 18 Januari 2016 menjadi tanggal terbaik dan membuat hati semua mahasiswa yang akan diwisuda senang. Tanggal tersebut dijadikan penentuan status kelulusan bagi seluruh mahaiswa UI yang sudah menempuh perjalanan panjang, kuliah—nugas—penelitian—pengamatan—bla bla bla—skripsi—lulus. Ya, itu seharusnya! Tetapi nasib berbeda dialami oleh 32 mahasiswa Program Studi (Prodi) Arab angkatan 2012 ini. Mahasiswa Prodi Arab, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI angkatan 2012 terancam tidak bisa ikut wisuda tahun ini. Padahal seluruh mahasiswa sudah menyelesaikan semua kewajiban baik akademik maupun non-akademik.

Pemasalahan ini disebabkan oleh adanya miskomunikasi dan mismanajemen antara pihak akademik Fakultas dengan mahasiswa Prodi Arab angkatan 2012, mengenai mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa sebagai prasyarat kelulusan. Pada Jumat, 15 Januari 2016, jajaran pimpinan Prodi Arab menganggap 32 mahasiswa tersebut tidak bisa diluluskan karena belum menyelesaikan satu mata kuliah wajib Prodi, yaitu Perkembangan Sastra Arab yang seharusnya diselesaikan pada semester tiga.

Tetapi, pada kenyataannya pihak Prodi tidak membuka mata kuliah yang dimaksud ketika mereka menjalankan semester ketiga. Dan semester selanjutnya dan seterusnya, mereka tidak pernah diintruksikan untuk mengambil mata kuliah tersebut. Sampailah pada tanggal 15 Januari 2016, pihak Prodi mengumumkan jumlah SKS (Sistem Kredit Semester) yang diambil oleh 32 mahasiswa tersebut hanya 130 SKS sedangkan prasyarat kelulusan menuntut mereka untuk lulus 133 SKS. 3 SKS yang tersisa adalah mata kuliah Perkembangan Sastra Arab.

Kesalahan tersebut bermula pada awal tahun 2013 ketika bagian akademik Prodi Arab melakukan perombakan pada sistem pengambilan mata kuliah wajib dan sebagainya. Bisa dibilang tahun tersebut dianggap sebagai transisi kurikulum. Mahasiswa memiliki Buku Pedoman Sarjana yang berfungsi sebagai petunjuk mengenai beberapa mata kuliah yang wajib diambil pada semester berikutnya. Tetapi pada praktiknya, buku tersebut tidak dipergunakan karena ada perbedaan informasi antara buku dan kurikulum baru. Sehingga mahasiswa perlu bertanya terlebih dahulu kepada pihak Prodi untuk mengetahui mata kuliah wajib dan pihak Prodi tidak menyatakan bahwa mereka perlu mengambil mata kuliah tersebut.

Hingga H-1 pengumuman kelulusan, mahasiswa Prodi Arab mengetahui kesalahan tersebut. Diskusi yang dilakukan antara pihak mahasiswa dan Prodi tidak menemukan titik terang. Pernyataan pihak Prodi Arab dengan tegas menyatakan mereka tidak bisa diluluskan tahun ini dan harus mengambil mata kuliah tersebut pada semester depan.

Ini sungguh membakar hati para mahasiswa. Pasalnya, mereka menganggap bahwa hal ini adalah kesalahan Prodi dan sepenuhnya harus dipertanggung jawabkan oleh Prodi. Mahasiswa menganggap, mata kuliah wajib tersebut tidak disosialisasikan dengan baik. Kemudian, pihak Prodi tidak membuka mata kuliah tersebut pada semester II untuk angkatan 2012. Pihak Prodi membuka mata kuliah tersebut untuk angkatan 2013—ketika mereka sedang menjalankan semester IV dan tidak mengarahkan untuk mengambil mata kuliah tersebut. Dan kesalahan yang fatal adalah, pihak Prodi memberi tahu hal ini saat H-1 penetapan kelulusan.

Jelas saja masalah ini mengundang perhatian dari banyak mahasiswa. Kepelikan masalah tersebut, membuat seluruh mahasiswa Prodi Arab mengajak mahasiswa lain untuk menuntut keadilan. Mereka setuju untuk mengutarakan kekecewaan kepada pihak Prodi. Aksi tersebut dilaksanakan pada 19 Januari 2016 di depan Plasa Gedung IX FIB UI, tetapi belum disosialisakan kembali mengenai apa dan bagaimana keputusan Prodi. Mengambil satu mata kuliah dan menunda kelulusan tentu bukan keputusan yang menyenangkan bagi mahasiswa. Sehingga, mereka menuntuk pihak Prodi untuk berlaku adil. Karena keputusan tersebut sangatlah merugikan mahasiswa, selain kelulusan yang tertunda, uang semester pun harus dibayarkan hanya untuk satu mata kuliah.

Perjuangan mahasiswa selanjutnya, mereka akan membicarakan permasalahan ini dengan Rektor UI, Muhammad Anis pada 25 Januari 2016. Dalam sebuah wawancara dengan media masa, Pak Rektor memaparkan mereka berhak lulus dan wisuda.

Permasalahan ini pastinya harus segera diselesaikan. Mahasiswa yang terancama gagal lulus saat ini nasibnya masih digantung oleh keputusan lulus atau tidak. Ditambah lagi, batas pendaftaran wisuda semakin mendekat. Kelulusan mereka harus segera di tangan demi mencapai masa depannya!

 

Poster aksi mendukung mereka
Poster aksi mendukung mereka

4 Hal Ini Pasti Bakal Kamu Lihat Saat Berkunjung ke FIB UI Pada Malem Hari

Sering banget FIB UI diplesetkan dari yang artinya Fakultas Ilmu Budaya jadi Fakultas Ilmu Bazar atau Fakultas Ilmu Bersenang-senang. Sebetulnya gak masalah, sih, karena pada kenyataannya FIB UI memang tipe fakultas yang cukup sering mengadakan bazar dan acara-acara untuk kesenangan. Entah dari kapan dan kenapa bisa begitu, hanya Tuhan yang tahu.

Kalau diperkirakan, dalam sebulan sedikitnya ada satu acara band yang manggung sampai larut malam, tiga acara yang membuka bazar, dan hampir setiap hari jam malam di FIB tidak berlaku. Oleh karena itu, FIB bisa dibilang fakultas yang gak pernah ada matinya. Pagi, siang, sore, dan malam, penghuninya akan selalu berkeliaran.

Berbeda dengan Fakultas lain seperti Psikologi, pukul 6 sore saja penghuninya sudah pulang, ya, maklum, sih kebanyakan cewek. Nah, kalau kamu sedang di kampus dan mau menghabiskan waktumu di FIB UI, akan ada banyak banget wahana yang bisa kamu nikmati, bisa bareng pacar, teman sepermainan, atau sendiri juga asyik, kok!

BACA JUGA5 Pandangan Orang tentang Anak Sastra (Ini Curhat Kami Anak FIB)

Bazar

Di mana ada acara di FIBUI, di situ ada bazar via kopmafibui
Di mana ada acara di FIBUI, di situ ada bazar via kopmafibui

Sudah dibilang bahwa FIB UI sering banget menggelar kegiatan yang isinya bazar. Meskipun acara formal seperti seminar beasiswa, gak afdol kalau gak pakai bazar. Ya, pokoknya bazar number uno banget. Bazar ini biasanya digelar sampai agak malam, ada yang jual makanan tradisional seperti kerak telor, makanan western seperti pizza, makanan Asia seperti takoyaki, sushi, dan teman-temannya. Lalu ada banyak minuman juga, kalau mau chatime, di bazaar FIB ada, kok!

Satu yang paling unik adalah emperan buku bekas. Abang penjual buku bekas ini selalu nongkrong di selasar belakang gedung 9 FIB, di situ dia akan menjajakan bukunya yang banyak banget, dari mulai ensiklopedia sampai buku menggambar.

 

Festival Bahasa

Acara-acara di FIB UI biasanya diadain sampai malam via fib.ui.ac.id
Acara-acara di FIB UI biasanya diadain sampai malam via fib.ui.ac.id

Jurusan di FIB jumlahnya ada 15, dan itu termasuk banyak loh, Guys! Setiap jurusan punya acara masing-masing, seperti FestiFrance, Falasido, dan banyak banget yang pastinya berbau bahasa dan kesenian. Ya, sedikitnya per jurusan akan meluncurkan dua kegiatan per tahunnya. Info pentingnya, setiap ada acara, FIB akan meriah sampai malam hari, apalagi untuk acara penutupan, wah bisa sampai tengah malam, deh!

 

Penampilan Band

Gak peduli hari apa, kamu bisa nemuin yang nyanyi bahkan di Kantin Sastra
Gak peduli hari apa, kamu bisa nemuin yang nyanyi bahkan di Kantin Sastra

Bukan hanya acara festival bahasa yang bikin seru karena selain acara dari jurusan pun, FIB punya banyak acara yang ujung-ujungnya ngundang band. Meskipun band-band yang tampil seringnya dari kalangan FIB, tapi ramenya itu, loh yang gak perlu diraguin lagi. Penampilan band seringnya diadakan di Kansas alias kantin sastra, gak peduli malam Jumat atau malam apa, kalau udah disuguhin band, mahasiswa akan merapat dan nyanyi bareng. Nah, konser kecil-kecilan ini dibuka untuk umum. Jadi kalau kamu mau hiburan gratis, hitung-hitung menghilangkan penat, langsung saja nonton konser ini. Terbuka untuk umum, kok!

 

Makan malam di FIB

Malem hari, kamu bisa nemuin mie ayam yang ciamik via limoengroen
Malem hari, kamu bisa nemuin mie ayam yang ciamik via limoengroen

Setiap malam di depan FIB hadir hidangan enak banget, penuh sensasi, dan cukup fenomenal. Apakah itu? Ya, mie ayam dan gorengan. Namanya mie ayam sengketa, setiap sehabis Magrib kalau laper banget dan pengen makanan yang enak, murah, dan suasana yang indah, cobain deh!

Tempatnya di depan gerbang FIB atau di samping parkiran FISIP UI. Nah, kalau makan di situ, kamu bisa merasakan rasanya dinner bersama alam. Pertama karena tempat makannya di lahan parkir, kedua bisa sambil lihat rasi bintang (kalau gak hujan), dan ketiga harganya cuma Rp7.000,00 per porsi. Mantap, deh!

Selain ada tukang mie ayam, ada juga tukang gorengan yang selalu setia menemani tukang mie ayam. Gorengan malam ini pakai gerobak mini dan bertahan sampai larut malam. Menu gorengannya standar, sih, yang membedakan adalah rasa dan sensasinya. Terbukti, kok! Kalau kamu samperin abang gorengannya, pasti abang itu lagi goreng-goreng, soalnya habisnya sangat-sangat cepat. Satu lagi, anak dari fakultas lain sering banget ikutan nongkrong, loh!

Itulah empat wahana yang sensasional banget di FIB ketika malam tiba. Rasain sekali saja, maka kamu akan ketagihan, gak percaya? Silahkan dicoba, guys!

 

Beberapa Ekspresi Bahasa yang Kini Mulai Melenceng Penggunaannya

 

Mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat dalam era globalisasi yang indah dan memabukkan ini (heading the wrong way)… ah sudahlah. Intinya, mahasiswa itu bagian dari masyarakat dan keduanya saling memengaruhi satu sama lain, terutama dalam penggunaan expression sehari-hari. Awalnya memang lucu dan cukup seru untuk diamati, tapi lama kelamaan kelihatan ada yang janggal dan ternyata bener; beberapa ekspresi bahasa ini mulai melenceng.

BACA JUGA: Jurus Rahasia Anak Sastra UI: 5 Cara Praktis Menguasai Bahasa Asing

Kamu yang sering denger atau sering pake ekspresi bahasa ini pasti ngerti apa yang akan dibahas sekarang ini, dan mungkin bakal ngangguk-ngangguk dan akan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari penggunaannya. Berikut beberapa ekspresi bahasa yang kini mulai melenceng penggunaannya.

“Rezeki anak soleh”

Iya! Sampe ada lagunya! via almufthi
Iya! Sampe ada lagunya! via almufthi

Ini ekspresi entah dari mana asal mulanya. Mungkin dari persepsi atau mitos bahwa anak soleh pasti dapat rezeki yang gak dia duga, dikarenakan hal baik atau usaha yang dia lakuin. Ehm… bukannya semua yang berusaha dan melakukan hal baik pasti juga mendapat balasannya, ya? Gak cuma yang soleh doang.

Awalnya lucu dan terdengar catchy, tapi lama-lama kepikiran juga bahwa kini ekspresi ini mulai melenceng penggunaannya. Misalnya aja, ada seorang mahasiswa/i yang ngepost fotonya bareng dua lawan jenis, masing-masing dalam rangkulan, di sebuah klub malam dengan botol minuman keras (red: batu) di atas meja. Dia nulisnya: “Rejeki anak soleh mah gak kemana, weekdays kuliah berat, weekend nyantai berat.”

BACA JUGA: Iblis “terpaksa” bertemu dengan Rosul

Woy! Lau sokap berasa anak soleh? Kalo lu percaya Tuhan, ya kali rezeki yang dikasih ke lu berupa jalan menuju maksiat? Ngaco lu. Mungkin itu ekspresi harus diganti jadi “rejeki anak yang ga soleh-soleh amat” atau sesuatu gitu.

 

“Cukup tau aja gue mah”

Ya.... begitulah katanya. Cukup tau aja! via galauunited
Ya. begitulah katanya. Cukup tau aja! via galauunited

Ini dialog yang lumayan sering kamu denger kalau udah terlibat sama sebuah geng atau sekumpulan temen yang suka tusuk dari belakang (berkhianat maksudnya).

Either kamu yang jadi pendengar atau kamu yang jadi korban, atau malah kamu yang mengatakan dialog itu, sebenernya ini dialog sangat-sangat munafik. Dengan keluarnya ini dialog dari mulut kamu aja, itu kamu udah munafik. Katanya cukup tau, kok masih diomongin? Kok masih pengen bahas? Katanya cukup tau? Kok argumennya nambah?

Hayoloh. Udahlah, cukup tau aja gue mah. Get it together, human.

 

“Orang sabar disayang Tuhan”

Yang sabar, ya. Sabar disayang Tuhan via dramakoreasia
Yang sabar, ya. Sabar disayang Tuhan via dramakoreasia

Iya sih ada benernya, tapi bukannya Tuhan itu Maha pengasih dan mengasihi siapa pun, termasuk yang gak sabaran Ekspresi yang satu ini ada dua versi, dibagi berdasarkan penerimanya. Kalau kamu bilang ini ke diri sendiri, artinya kamu lagi berusaha untuk sabar sementara kamu bener-bener mau meledak dan ngatain orang sampai digebukin warga.

BACA JUGA: Percayalah, Kamu Tidak Akan Mau Satu Tugas Kelompok Sama 5 Jenis Orang Ini!

Kalau kamu bilang ini ke orang lain, ngeselinnya minta ampun. Ayolah, kalo terus-terusan sabar, mana ada yang kelar? Sekarang, terserah Tuhan mau sayang sama siapa, just do your job.

 

“Baper deh…”

Mana bisa gak baper kalau sama kamu?! via anakui
Mana bisa gak baper kalau sama kamu?! via anakui

Mana bisa gak baper kalau sama kamu?! #eaaaaa

 

“Kepo aja apa kepo banget?”

Kepo aja apa kepo banget? via limaratusperak
Kepo aja apa kepo banget? via limaratusperak

Lebih ngeselin dari ekspresi sebelumnya. Oke, situ demen banget pake istilah kepo, meskipun sendirinya adalah kepoper, yang demen banget kalo udah menyangkut sesuatu yang dia belum tau.

Mari dibahas. Satu, kepo aja sama kepo banget, apaan bedanya? Gak ada sih. Intinya ya kepo. Lunya aja lebay sok-sok mau mengklasifikasi tingkat ke-kepo-an seseorang.

BACA JUGA: 10 Cewek UI yang Harus Kamu Kepoin Lebih Lanjut

Dua: tolong, please, bedakan antara kepo dan peduli. Jangan sampe orang dengan niatan peduli, mau bantu, malah dikatain kepo; sedangkan yang kamu anggap peduli, aslinya cuma kepo biang gosip. Kesel-kesel, bilang aja ‘I don’t care, I’m just curious.’ Kamu kepo, tapi gak peduli jadi gak dikasih tau juga gak masalah.

Lain kali, sebaiknya hati-hati menggunakan ekspresi bahasa seperti di atas. Share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau si dia ngerti kenapa kamu sering baper.

 

Apa Jadinya Ya Kalau Kelas-kelas Ini Dibuka di SIAK-NG?

Ada beragam kelas yang dibuka untuk mahasiswa di UI ini, mulai dari kelas bioteknologi, kelas bahasa Ibrani, kelas sejarah Indonesia, kimia dasar, sampai ke anatomi. Ada juga kelas-kelas ‘penghibur’ macam MPKO basket-voli-tenis-futsal dan MPKS vokal-teater-komik-karawitan yang cuma 1 sks itu.

Tapi tentunya gak semua kelas ada, dan adalah hal yang wajar kalau ada mahasiswa yang menghayal sedikit mata kuliah yang seharusnya bisa diadakan, baik itu memang dengan alasan akademis atau memang buat seru-seruan aja.

 

Advanced fiction writing

Apa jadinya kalau ada kelas bersama Sapardi Djoko Damono, misalnya? via detik
Apa jadinya kalau ada kelas bersama Sapardi Djoko Damono, misalnya? via detik

Kalau suka nulis, pasti doyan banget sama kelas ini. Mungkin bisa diajar langsung sama SDD atau Bapak Sapardi Djoko Damono. Mengajar Alih Wahana aja udah keren banget, gimana kalau sampai diajarin nulis fiksi? Bisa-bisa pada kepengin nulis novel kaya novelnya SDD yang Trilogi Soekram.

BACA JUGA: UI Sudah Melahirkan Penulis-penulis Besar Ini! Siapa Saja?

Sebentar, kenapa Advanced? Iyalah. Kalau basic palingan gak jauh dari belajar majas-majas, hiperbola, ironi, atau mungkin analogi. Siapa tau kalau advanced bisa diskusi trik-trik narasi ala penulis-penulis kondang, belajar tentang fokalisasi dan nulis alur berintrik yang bikin pusing. Sepele? Jangan salah, serial televisi macam Flash, film kaya Pulp Fiction bahkan sampai ke Game of Thrones itu fiksi loh. Dan itu keren.

 

Kelas retorika

Biar ngomongnya juga lancar pas presentasi via metrotv
Biar ngomongnya juga lancar pas presentasi via metrotvnews

Di antara kamu pasti ada mahasiswa yang kalau lagi di kantin bareng temen-temen ngomongnya lancar banget, aktif, dan komunikatif. Tapi ketika ke depan kelas, atau naik ke podium, langsung ciut dan terbata-bata. Akuin aja, yang namanya retorika itu gak semua orang bisa. Ada banyak mahasiswa cerdas yang gak ahli dalam hal presentasi atau beretorika, boro-boro debat, lagi presentasi aja masih “ehm ehm uhhh apa namanya?”.

BACA JUGA: Ada Tips Nih Supaya Gak Sering Bilang Umm…Saat Presentasi

Gak terstruktur dan gugup. Alangkah indahnya kalau misalnya kelas retorika ini dibuka, supaya mereka yang punya banyak ide cemerlang gak mendem bingung mau ngomong apa, tapi beneran tahu dan berhasil mempersuasi lainnya untuk melaksanakan ide itu. Sensasional.

 

Kelas lawak

kelas lawak? Seru juga! via bet
kelas lawak? Seru juga! via bet

Ini memang kesannya bener-bener buat lucu-lucuan dan seru-seruan aja. Padahal sebenernya… ya emang buat seru-seruan. Iya, dong? Ayolah, gak semua orang itu bisa ngelawak. Ngelawak itu bukan hal yang gampang.

Oke, kamu punya talent, apa yang kamu omongin itu sering memancing tawa, minimal senyum-senyum agak nista. Tapi bukannya lebih seru lagi kalau itu jadi kemampuan yang terasah? Kalau mau bicara teknis, liat aja stand-up comedian yang beberapa waktu lalu sempet menjamur. Oke, mereka ada talent, tapi theoretically speaking, mereka paling ngelawak naik ke atas panggung maksimal sepuluh menitan.

BACA JUGA: Hidup Tuh Kudu Bahagia, Cuy!!

Coba liat stand-up comedian macam Kevin Hart atau yang legendaris macam Chris Rock, mereka sekali naik itu bisa satu jam monolog, kontennya punya flow yang apik dan rapi, lucunya gak ketulungan. Tau kenapa? Karena mereka gak cuma berbakat; mereka punya sistem dalam bikin konten dan punya sistem latihan bahkan sampai ke research tipe lawakan yang paling ampuh, mau itu punchline ataupun pake ekspresi.

 

Kelas pengkajian film

Mata kuliah pengkajian film via sociozine
Mata kuliah pengkajian film via sociozine

Eits, kata siapa gak ada? Ini ada banget, loh. Di Prodi Prancis FIB UI, Pengkajian Sinema Prancis jadi salah satu mata kuliah wajib dan bisa dibilang ‘berbahaya’ karena memang pengkajian ini hanya dikhususkan pada film-film Prancis yang notabene sering dibilang ‘absurd’ atau ‘aneh’, sulit ditangkap sama orang awam.

BACA JUGA: Cara Jago Belajar Bahasa Inggris Lewat Nonton Film

Bakal keren kalau misalnya ada mata kuliah pengkajian film secara umum dong? Iyalah. Beberapa film ‘berat’ macam Shutter Island yang melibatkan mantan polisi pengidap PTSD atau Black Swan yang bisa dibabat pake psikoanalisis, memang pantas untuk dikaji. Penggemar film pasti setuju.

Apa kamu punya ide lain untuk matkul keren? Masak, mungkin? Wood working?  Balet? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter atau Line, siapa tau bisa menginspirasi yang lainnya.

 

Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

 

Beberapa waktu lalu ada tulisan tentang FH dan keunikannya. Nah, sekarang, akan dibahas keunikan-keunikan dari fakultas lainnya, yaitu FIB! Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang FIB. Apa aja tuh?

Wisata Kuliner

Selain buat makan, kantin juga biasa buat acara via majalahouch
Selain buat makan, kantin juga biasa buat acara via majalahouch

FIB itu udah kaya surganya wisata kuliner. Kamu bisa menemukan makanan hampir di seluruh penjuru tempat. Gak percaya? Oke, gini. Ada berapa kantin di fakultas kamu? Di FIB ada tiga kantin, yaitu KP atau kantin pegawai, lalu ada Kantin Budaya, dan yang paling terkenal sejagad surga nongkrong anak FIB, Kansas alias Kantin Sastra. Setelah direnovasi, namanya adalah Kancut atau Kantin Kerucut, karena atapnya kerucut. Tapi semua tetep setia memanggilnya Kansas.

Tiga kantin itu ditemani oleh dua buah koperasi, yaitu koperasi mahasiswa dan koperasi pegawai, yang juga jual berbagai jenis makanan. Lalu, ada Coffe Toffe juga dan ada kantin PSJ (Kantin Pusat Studi Jepang) yang juga masih masuk dalam teritori FIB. Ada restoran Jepang tersembunyi di dekat PSJ, lalu ada juga tukang Mie Ayam di dekat tempat parkir dosen FIB. Oh! Belum diitung kalau ada bazaar di FIB loh, ya. Setidaknya ada 8 tempat makan berbeda di FIB sendiri. Gak heran kalau kamu dateng ke FIB dan kebingungan mau makan apa. Oh ya, soal kantin sendiri di AnakUI.com sudah mengulas beberapa tulisan juga, seperti: Kios Paling Enak di Kantek, Kantin Fasilkom, dan Review Kantin Se-UI.

 

Dulunya FS

Dulu namanya bukan FIB, tapi FS via panoramio
Dulu namanya bukan FIB, tapi FS via panoramio

Dulunya adalah Fakultas Sastra,  lalu kemudian jadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Meski ganti nama, kamu tetap bisa merasakan sastra di sini. Ada berbagai komunitas sastra, lalu jurusan sastranya ada banyak. Dari Prancis sampai Jerman, Rusia sampai Jepang, Arab sampai Indonesia, Korea dan Belanda, dan masih banyak lagi. Kamu bisa belajar banyak bahasa di sini, gak bakal kehabisan pilihan, kayak bahasa Italia, Portugis, Ibrani, Turki, Jawa, Latin sampai ke bahasa isyarat! Kalau mau belajar bahasa kalbu juga bisa, somehow.

 

Banyak Jurusan

Banyak jurusannya via harakichida
Banyak jurusannya via harakichida

Jurusan di FIB ada 15! Belum lagi ada wacana kalau akan ada jurusan Sastra Italia. Sensasional! Selain banyak jurusan, FIB ini adalah fakultas yang nyeni abis. Meskipun UI gak punya jurusan khusus seni, bukan berarti UI gak ngerti seni. FIB secara annual menyelenggarakan berbagai lomba seni tingkat fakultas, dan itu ada 15 jurusan loh yang bertanding. Mural, teater, vokal, band, poster, cerpen, dan lain sebagainya.

 

Surganya Cewek Cantik

Surganya Cewek Cantik via myrottenside

Surganya Cewek Cantik via myrottenside

Gak bohong. Salah satu alasan kenapa jembatan Teksas dibuat pada awalnya adalah agar memberi jalan bagi anak teknik untuk bermain ke telaga surga yang isinya bidadari-bidadari  FIB UI. Masa sih sebanyak itu yang cantik? Beneran, meskipun Dian Sastro udah lulus dari kapan tau, masih banyak yang cantik di FIB. Gak percaya? Itung-itungan deh.

Let’s be generous and say, ada 5 cewek cantik di tiap angkatan dari tiap jurusan. Itu generous loh, karena jurusan-jurusan macam Prancis, Cina, Jerman dan Belanda itu minimal ada 10 orang yang cantik tiap angkatannya, tapi ya kita be generous aja. Lima  cewek cantik tiap angkatan, which means dengan 4 angkatan aktif, satu jurusan punya 20 cewek cantik. Jurusan di FIB ada 15. Sedikitnya ada 300 cewek cantik di FIB, dan itu belum menghitung dosen. Udah liat artikel dosen cantik? Ada banyak dosen cantik di FIB. Ngapain masih diem di situ? Sana ke FIB!

 

Kampus Budaya

FIB sering banget bikin festival budaya via tommyvotograph
FIB sering banget bikin festival budaya via tommyvotograph

Ketika mereka bilang FIB Kampus Budaya, mereka gak lagi bercanda. Secara annual, FIB mengadakan Olimpiade Budaya dan Festival Budaya. Berbagai lomba olahraga dan seni digelar, belum lagi FIB rumahnya berbagai macam grup teater (Tesas, Agora), grup vokal, band dan juga tari. Tau kenapa kalau kamu ambil matkul MPK Seni tempatnya di FIB? Atau matkul Karawitan tempatnya di FIB?

Karena FIB itu Kampus Budaya. Perhatian mereka ke budaya itu luar biasa, dan kalau kamu gak percaya, dateng aja nonton Petang Kreatif Festival Budaya tiap awal Desember. Itu pun kalo kamu bisa masuk auditorium Gd. IX FIB UI karena gak bisa nampung seluruh mahasiswa dan dosen-dosen dari 15 jurusan, apalagi ditambah dari luar fakultas. Iya, sekeren itu.

Gimana? Keren kan FIB? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line supaya semua tahu betapa keren dan uniknya FIB!

Ternyata memang fakultas di Universitas Indonesia itu unik-unik loh! Ini tulisan di AnakUI.com yang sempet jadi pembicaraan hangat seantero Universitas Indonesia:

  1. Beginilah Rasanya Kalau Kamu Kuliah di Jurusan Sastra
  2. Ya Begini Nasib Jadi Anak Fasilkom UI
  3. Fakta Unik Seputar FHUI
  4. 5 Tontonan Favorit Anak Mac Room di Perpustakaan Pusat UI
  5. Inilah Hal-hal Yang Bikin Kamu Gak Pernah Menyesal Jadi Anak Teater di UI Sob

 

Yakin deh, Rasa Males Kuliah Kamu Bakal Hilang Kalau Diajar Sama Ibu Dosen yang Kaya Gini!

Ibu Dosen UI ini siap ngajarin kamu, masih mau males kuliah?

Kuliah itu sederhananya adalah interaksi dosen dan mahasiswa. Biasanya, yang diomongin adalah kalau nggak dosen killer, dosen baik, mahasiswa pinter, mahasiswa ganteng, atau mahasiswi yang bisa kamu kepoin lagi. Perbincangan yang jauh lebih menarik adalah ketika ngomongin interaksi mahasiswa dengan dosen, yang, ehm baik, asik, & menarik. Pasti ada dong, dan beruntunglah kamu kalau ada banyak di kampus kamu, dan lebih beruntung lagi kalau kamu diajar sama dosen-dosen seperti itu. Berikut ini ada 5 ibu dosen yang baik, asik, dan menarik se-UI pilihan anakUI.com.

 

Theodora Yuni Shah Putri, S.H., M.H.

Theodora Yuni Shah Putri
Theodora Yuni Shah Putri

Dosen yang satu ini adalah pengajar di FH, salah satu mata kuliah yang diajar adalah Asas Hukum Pidana. Cantik, jelas. Liat aja fotonya meskipun lebih cantik aslinya. Beberapa mahasiswa sepakat bahwa Ibu Theodora ini cantik dan murah senyum. Selain cantik, pengajar dengan gelar Magister Hukum ini juga lucu dan kocak. Ketika mengajar mata kuliah Asas Hukum Pidana yang notabene sering pakai contoh kasus, Ibu Theodora ini sering memberikan contoh kasus yang kocak-kocak dan lucu, padahal kasus pidana.

 

Dita Arifa Nurani, S.Si., M.Si., M.Sc.

New Picture (1)
Dita Arifa Nurani

Dosen yang satu ini adalah pengajar di FMIPA, tepatnya pengajar Jurusan Kimia. Dosen yang sudah menikah ini merupakan lulusan S2 yang mengajar Kimia Analisis dan juga Kimia Dasar. Beberapa anak Kimia ketika ditanya mengenai Ibu Dita, punya ciri khas tersendiri, yaitu cantik dan bawaannya damai kalau diajar sama beliau. Selain cantik, beliau juga baik dan obyektif ketika mengajar. Di luar kelas, selalu akrab sama mahasiswa, dibuktikan dari beberapa mahasiswa yang punya id Line dari Ibu Dita. Seru kan kalau bisa chatting soal Kimia Analisis via Line. Tungguin Line produksi sticker kimia deh.

 

Inaya Rakhmani, S.Sos., M.A., Ph.D.

Inaya Rakhmani
Inaya Rakhmani

Beralih ke FISIP, siapa yang tidak kenal dengan dosen yang satu ini? Bukan sekadar dosen, Ibu Inaya ini juga merupakan senior associate sekaligus ketua Pusat Kajian Komunikasi periode 2014-2017. Papernya yang berjudul Redifining Cultural & National Identity Through Popular Culture sudah terkenal dan dibaca banyak orang. Baca judulnya aja bisa bikin kamu merasa pintar. Mbak Inaya yang cantik ini juga merupakan blogger aktif (inayarakhmani.blogspot.com). Selain cantik, mbak Inaya juga baik dan merupakan salah satu dosen muda teladan di FISIP.

 

Katarina Mellyna, M.A.

Katarina Mellyna
Katarina Mellyna

Meskipun baru saja mengawali karier sebagai pengajar, dosen cantik yang satu ini udah famous sejak masih kuliah. Nggak main-main, dosen yang lebih akrab disapa Kak Melly yang sekarang jadi salah satu tenaga pengajar bidang linguistik di Prodi Prancis FIB UI ini dulunya adalah mahasiswi Prancis angkatan 2007 dan merupakan Mapres FIB UI tahun 2010. Kak Melly juga ikut program double degree dan kemudian langsung diterima melanjutkan pendidikan S2 di INALCO Paris.

Kakak pengajar yang cantik, murah senyum, modis, baik, cerdas, dan punya selera musik yang keren ini juga bisa nyanyi dan main drum, loh. Wajar kalau langsung jadi dosen kesayangan mahasiswa dan bahkan beberapa mahasiswa sudah meniatkan diri untuk ambil kelas yang diajar sama Kak Melly semester depan, bahkan sebelum nilai di SIAK keluar. Ketika dia masuk kelas, one lazy morning langsung berubah karena tetiba kamu denger lagu Something Good Can Work-nya Two Door Cinema Club, dan kamu suddenly in the mood untuk belajar. Mau belajar linguistik?

 

Saraswati

Saraswati
Saraswati

Kamu punya temen yang cantik, itu biasa. Kamu diajar sama dosen yang cantik, enak sih, tapi ya itu juga biasa. Tapi ketika dosen kamu adalah Dr. Luh Gede Saraswati Putri, M.Hum, itu lain cerita. Kenapa?

Sederhananya gini: Apakah dosen kamu punya nama panggung? Mbak Yayas punya nama panggung Sarasdewi sebagai penyanyi. Yang lebih keren lagi, kamu pasti pernah cari artis idola kamu di Google dan ketemu halaman wiki-nya.

Yap, Mbak Yayas, dosen Filsafat FIB UI ini ada wiki page-nya. Istri Coki, gitaris Netral ini cantiknya nggak ketulungan. Beliau juga baik dan langganan jadi juri Mapres FIB. Mbak Yayas juga sering mengajak mahasiswa untuk belajar outdoor. Lahir di Denpasar pada 16 September 1983, Mbak Yayas juga pandai menari loh. Jadi, ketika dosen kamu cantik, seorang penyanyi, baik, pintar, dan punya halaman di Wikipedia, itu luar biasa bikin iri.

Kamu punya dosen yang kamu rasa bisa masuk daftar top 5 ini? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line untuk berbagi pendapat sama temen-temen kamu dari lintas fakultas untuk bisa dapet info, dosen baik, asik, dan menarik yang mana lagi yang harus mahasiswa UI ketahui.

 

5 Pandangan Orang tentang Anak Sastra (Ini Curhat Kami Anak FIB)

Januari 2015.

Dear Diary.

Di lembar baru ini, aku ingin mencurahkan semuanya kepadamu, betapa merananya hati ini. Mentari pun seakan enggan menghapus pilu yang mendalam, begitu mendengar untaian kata kosong yang menyayat dada, meski tak niat untuk kudengar. Merasuk memaksa masuk ke dalam sukma batin, mengoyaknya lebar-lebar, dan meninggalkannya menjadi lara tak terbendung. Bagaimana tidak? Tawa yang terselubung makian di antara mereka, membuatku semakin kecil. Mengecil…. dan mengecil….

Duh, bohong banget kalo gue ngaku mengecil. Kalo duduk, kursi satu aja masih berasa kurang.


 

Nah, kalau tebak cuplikan di atas, pasti mayoritas orang akan menerka bahwa tokoh “penulis” merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya.

 

YUP BENAR!

*tebar confetti*

*dan kemudian hening, hanya ditemani kumpulan jangkrik*

 

Tapi sekarang gue tanya, kenapa kalian nebaknya begitu? Karena FIB itu… identik dengan sastra… yang kalo berkomunikasi semua serba puitis – saking puitisnya sampe bingung sendiri karena nggak ngerti intinya apa – gitu? Unik juga, ya. Ternyata cukup banyak “pandangan umum” tentang anak FIB, sampai-sampai ada beberapa yang “sedikit” menjadi perhatian. Yuk mariiii kita coba lihat beberapa diantaranya.

1. Udah buang-buang waktu, terus nanti jadi apa?

Gw ga bakal bingung nanti kerja apa. Anak FIB fleksibel cuy!
Gw ga bakal bingung nanti kerja apa. Anak FIB fleksibel cuy! (Rev. Xanatos Satanicos Bombasticos (ClintJCL) via Compfight cc)

Nah ini nih, ini. Ini pernyataan mainstream yang sering orang ucapkan.

Eh sebelumnya dulu nih, FIB terdiri dari 15 program studi, yang terbagi menjadi dua bidang: bidang sastra yang terdiri atas 11 prodi, dan 4 prodi lainnya adalah non sastra (Ilmu Perpustakaan, Arkeolog, Sejarah, dan Filsafat). Kalau masuk di bidang sastra, pasti orang bakal bilang, “Yahelah lo tinggal kursus aja juga kelar, kan?”. Sedangkan kalau menjadi bagian dari mahasiswa di bidang non-sastra… orang bakal bilang, “Lo mau jadi orang gila tanpa arah? Atau lo mau, gitu, masa depan lo cuma berakhir jadi abang-abang tukang jagain buku?”

Padahal tidak sesepele dan separah itu. Gue merasa bahwa pekerjaan atau profesi tidak ditentukan oleh di fakultas mana ia dulu pernah menimba ilmu. Jaman sekarang, justru banyak orang yang kuliah di prodi X misalnya, eh kerjanya malah melenceng jauh dari apa yang sudah ia pelajari selama 4-6 tahun. Mungkin karena faktor jumlah penduduk yang semakin membludak tetapi tidak seiring dengan meluasnya lapangan pekerjaan. Tapi, itu justru salah satu keuntungan jadi anak FIB yang menurut gue cukup fleksibel dalam mencari pekerjaan. Ke mana aja bisa kok, asalkan bisa mencari peluang dengan cerdas dan memanfaatkan peluang dengan optimal dan benar.

 

2. Masa sih lo sibuk? Kan lo anak FIB…

Kansas yang baru
Kansas yang baru. Tetep selalu penuh! (Twitter @FaldoMaldini)

Hasemeleh banget dah ah. Emang sih, Kansas (Kantin Sastra) selalu rame. Nggak pernah sepi. Bahkan, untuk beberapa kalangan, Kansas sering disebut dengan “Kompor-nya FIB”: panas pengap parah kalo udah masuk situ, saking banyaknya orang.

Tapi bukan berarti jadwal kuliah kita longgar. Bukan berarti kita nggak pernah ngalamin tugas setumpuk. Mulai dari ngurusin Subjek-Predikat-Objek sampai cara melafalkan huruf konsonan dan huruf vokal dengan baik dan benar aja pun kita pelajarin sampai direla-relain bergadang demi itu. Atau kalau belajar Manajemen Rekod yang ampun-ampunan, atau baca-baca materi Metodologi Penelitian Epigrafi…

Ada kamera nggak ya, buat minta nyawa tambahan?

 

3. Lo milih FIB UI karena.. *dan kemudian memasang tampang penuh selidik*

Yang penting pake jakun?
Yang penting pake jakun? (got-blogger.com)

Nape lo? Nape? Karena ngincer nama “UI”-nya aja, gitu? Memang sih, gue pernah melihat sebuah kasus yang “menarik” di Facebook dua tahun silam. Ada seorang siswa kelas 3 SMA, cowok, bertanya di sebuah page pendidikan yang spontan saja, mengundang “perhatian” hingga dikomen sebanyak seratus lebih. Dia bertanya,

“Kak, passing grade paling rendah di UI tuh, apa ya? Soalnya saya pengen banget nih kak, masuk UI”.

Yaa tak dipungkiri, passing grade terendah dipegang oleh salah satu prodi di FIB. Tetapi, bukan berarti kita masuk FIB demi UI-nya aja. Kita masuk FIB karena tekad yang kuat dan kesadaran penuh atas minat-bakat dan keinginan ke depannya mau jadi apa. Ada juga sih memang, orang-orang yang menjadikan FIB sebagai “tempat terpaksa”-nya. Tapi kan itu semua ada “balesannya”. Percaya dong, kalo semua itu berawal dari niat?

 

4. Hai sayang~ gombali aku dong

Gombalin aku dong..
Gombalin aku dong.. (mhonpoo via Compfight cc)

 

Duh! Gue aja paling nggak bisa kalo udah urusan puisi, ngegombal, berpantun ria… Nggak semua anak FIB jago ngegombal! Dan itu tandanya, nggak semua anak FIB punya pacar *langsung showeran*.

Di FIB, nggak cuma mempelajari bagaimana caranya menguntai kata-kata demi menarik lawan jenis. Ada kalanya anak FIB pun mau nggak mau mempelajari itung-itungan layaknya anak eksak, meskipun dengan konteks yang tak sama.

Anak FIB bukan pula berarti seorang mahasiswa yang demen ngelamun di pinggir danau, menikmati semilir angin dan berlarian sendiri di tengah imajinasinya. Ada kalanya anak FIB meneliti. Masalahnya, objek penelitian anak FIB itu “bergerak”, tidak “diam” seperti ranah eksaskta. Justru kita sebagai peneliti yang “diam”, karena kalau kita “gerak”, penelitian kita bisa-bisa nggak objektif. Nahlo!

 

5. Lo cowok? Masuk FIB? Gak salah tuh?

Bondan Prakoso adalah alumni FIB UI
Kak Bondan Prakoso tuh alumni FIB UI loh. D3 Sastra Belanda (gustav4rt.blogspot.com)

Duuuh salah nih, ngebiarin cowok-cowok berkeliaran di tengah wilayah kami? Lumayan kan, buat seger-seger mata? Sama seperti yang udah ditulis di nomor 3, gue yakin mereka – kaum pria yang berani membuat keputusan – memilih FIB karena mereka tahu kedepannya mau jadi apa dan mau ngapain, sehingga untuk mencapai itu semua, salah satu step-nya adalah menjadi bagian dari mahasiswa FIB. Lagian bagus, kan, cowok kayak gitu? Untuk dirinya sendiri aja bisa bertahan dan berani ambil risiko tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan, apalagi untuk ngeperjuangin kita buat jadi pendamping hidupnya? #savecowokcowokFIB :’)

 

Naaaah gimana? Gimana gimana gimana? Intinya sih, fakultas itu hanya perkara pilihan, suara hati. Bukan tempat pembeda ini-itu, apalagi tempat pelarian. Nggak salah dong, kalau seandainya nanti nggak sengaja ketemu anak FIB yang ngomongin statistik dengan semangat ’45, atau nemuin anak FMIPA yang lagi berpantun-pantun ria di pinggir danau.

Karena “fakultas” hanyalah “sebuah tempat” untuk kita belajar dan berkreasi di dalamnya 🙂

Gimana menurut lo?

 

Header image by Azhari Fauzan

Pameran Negatif Kaca

  Pameran Negatif Kaca merupakan travelling exhibition yang sudah pernah diselenggarakan sebelumnya oleh Erasmus Huis. Dalam rangka Dies Natalis FIB  UI ke-73, kelas Arkeologi Publik dari Program Studi Arkeologi Indonesia akan menyelenggarakan Pameran Negatif Kaca … Baca Selengkapnya

error: This content is protected by the DMCA