Kalian Merasa Salah Jurusan? Lakukan 6 Hal Ini!

Duh, kok jurusan yang gue pilih ternyata begini? Kayaknya gue salah jurusan, deh!

Pernah gak sih, berpikiran seperti itu? Jangankan yang memilih jurusan asal-asalan atau yang tidak diterima di jurusan pilihan pertama, mahasiswa yang masuk ke jurusan pilihan pertamanya sendiri bahkan mungkin pernah merasakan hal ini. Banyak hal yang bisa bikin kita merasa salah jurusan, bisa dari mata kuliah yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, tugas-tugas yang berbeda dari yang dibayangkan, hingga prospek kerja yang sama sekali gak pas dengan yang kita inginkan.

Nah, kalau sudah seperti itu, pasti kita bingung harus apa. Harus lanjut, kah? Atau haruskah mencoba untuk pindah jurusan? Tapi gimana cara pindah jurusannya, gimana cara menyeimbangkan belajar buat ujian dan belajar buat kuliah? Nah, berikut ada hal-hal yang perlu kalian lakukan kalau kalian merasa diri kalian salah jurusan dan ingin pindah jurusan.

1. Pikirkan matang-matang, beneran salah jurusan, nggak?

Pikirkan matang-matang dan jangan asal ambil tindakan. Sumber gambar: Jody Michael Associates

Coba kalian pikirin lagi, guys. Menurutmu, apa kalian beneran salah jurusan? Apakah kalian se-nggak suka itu dengan jurusanmu, se-nggak minat itu hingga kalian mau keluar dan pindah ke jurusan lain? Atau itu hanya perasaan sesaat atau demotivasi sesaat aja? Coba dipikirkan dan renungkan baik-baik seperti matakuliah, prospek kerja, serta lingkungan dari jurusanmu sekarang. Bisa jadi, kalian merasa salah jurusan karena belum menyadari akan hal-hal tersebut.

Selain itu, pikirkan juga mengenai “memang kalau bukan di jurusan ini, aku seharusnya ada di jurusan apa?”. Siapa tahu, kalian merasa salah jurusan karena kalian belum mengetahui apa sebenarnya keinginanmu dan tujuanmu. Ingat, jangan asal ambil tindakan. Pikir baik-baik dulu sebelum memutuskan suatu hal!

2. Pikirkan matang-matang plus minus

Setelah kalian terbayang sedikit tentang keinginanmu, jangan lupa untuk memikirkan juga apa saja plus dan minus dari tindakanmu yang ingin pindah jurusan. Coba pikirin lagi, apakah kalian siap meninggalkan satu tahun atau dua tahun dalam kehidupan perkuliahanmu dan mengulang kembali di jurusan yang baru? Siap nggak, kehilangan teman-teman yang telah bersama denganmu selama itu? Pikirkan juga biaya yang sudah dikeluarkan dan akan dikeluarkan lagi ketika kalian memutuskan untuk pindah jurusan.

Jangan lupa untuk memikirkan hal ini juga dengan orang tua atau wali yang akan membiayai kuliahmu. Coba tanya juga pendapat dan pandangan mereka mengenai pindah jurusan, jurusanmu yang sekarang dan jurusan tujuanmu nantinya. Kalian juga bisa konsultasi ke konselor yang ada di BKM UI atau orang yang kalian percaya lainnya. Di saat seperti ini, mendapatkan pandangan dari banyak sudut pandang itu penting loh, guys.

BACA JUGA: 10 Hal Ini Cuma Dirasakan Mahasiswa Yang Menjadi Asisten Dosen atau Asisten Penelitian

3. Pikirkan matang-matang persiapan

Buat rencana belajarmu untuk memaksimalkan tercapainya tujuanmu. Sumber gambar: Shepherds Friendly

Pikirkan juga persiapan-persiapan yang harus dilakukan. Apa saja materi yang perlu disiapkan untuk ujian ulang? Untuk memaksimalkan kemungkinan diterima, apakah akan memutuskan mengambil cuti atau mengikuti kelas persiapan, atau kalian akan belajar sendiri sembari melaksanakan kuliah? Ingat juga untuk mempertimbangkan hal-hal lain seperti perkuliahan yang sedang dijalani saat ini, organisasi yang sedang dikerjakan dan sebagainya. Jangan sampai, kalian gegabah dan akhirnya malah kehilangan dua hal sekaligus.

4. Cicil materi

Nah, kalau sudah mendapatkan titik terang, kalian yang keputusannya sudah bulat untuk pindah jurusan kini memiliki dua tanggung jawab, yaitu belajar dengan baik di jurusan yang sekarang (supaya kalau ternyata gagal ikut seleksi, kalian masih bisa melanjutkan perkuliahan) dan belajar materi untuk SBMPTN (UTBK) dan ujian lainnya.

Nah, kalian bisa mulai dengan menyusun rencana perminggu menuju tanggal tes UTBK. Cari tahu semua materi-materi yang diujikan lalu susun target yang ingin kalian capai per minggunya. Cari tahu juga mata mata ujian yang sudah cukup kalian kuasai dan mana yang belum, supaya rencana belajar kalian bisa lebih efektif.

Kalian juga perlu latihan dengan mengikuti try out-try out yang disediakan oleh banyak lembaga dan platform. Saat ini, banyak platform di internet yang menyelenggarakan try out online secara gratis, loh. Jangan lupa juga untuk mencari informasi terkait ujian tulis yang akan kalian ikuti.

BACA JUGA: Sebuah Kisah Tentang Mimpi, Belajar, dan Perjuangan

5. Cari teman seperjuangan

Cari teman seperjuangan bisa memberimu insight baru, Sumber gambar: Brainscape

Yakin deh, pasti bukan hanya kamu seorang saja yang merasa salah jurusan dan berniat untuk pindah jurusan, baik di jurusanmu atau di kampusmu. Cobalah cari teman atau komunitas mahasiswa yang berniat untuk pindah jurusan. Dengan bertemu dengan komunitas semacam itu, kalian bisa mendapat insight baru mengenai metode belajar yang mereka lakukan dengan mengimbangi perkuliahan. Kalian juga bisa belajar dan berbagi beban yang sama bersama. Hal ini bisa membuat kalian less stressed dan gak merasa sendirian salah jurusan.

6. Jangan hanya denial dan mengandalkan pindah jurusan!

Coba pikirkan hal lainnya yang bisa kamu lakukan. Sumber gambar: Wikiwand

Ingat, gak semua hal dapat berjalan sesuai dengan yang kita mau. Masih ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang gak sesuai dengan yang kita inginkan, misalnya gak dapat restu orang tua, gak diterima di SBMPTN yang kedua, dan sebagainya. Nah, karena adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut, kalian perlu memiliki backup plan atau rencana cadangan kalau-kalau kalian harus bertahan di jurusan yang bukan minat kalian tersebut. Explore lebih dalam lagi mengenai jurusan kalian, tentang matakuliah dan prospek kerjanya. Kalian juga bisa cari kegiatan lain di jurusan, fakultas, kampus, atau bahkan luar kampus.

***

Nah, biarpun kalian sudah mengentahui hal-hal tadi, semua harus kembali lagi ke poin pertama: Apa betul kalian salah jurusan, dan apa kalian yakin buat pindah jurusan? Mungkin banyak orang yang punya pendapatnya masing-masing, termasuk teman-teman dan keluarga kalian. Namun, balik lagi bahwa memutuskan untuk tetap lanjut berkuliah atau tes ulang semuanya ada di tangan kalian sendiri. Apapun keputusan yang akan kalian ambil, semoga kalian bisa mempertimbangkannya dengan baik dan menjadi keputusan yang tepat, ya. Semangat!

BACA JUGA: Layanan Dari Fakultas-Fakultas UI Yang Bisa Memenuhi Kebutuhan Masyarakat Umum

BREAKING NEWS – UI Sepakat Tetap Kuliah Online Pada Semester Ganjil Besok!

Hadapi Semester Ganjil, UI Tetap Kuliah Online. Berdasarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 yang dikeluarkan atas dasar keputusan bersama empat kementerian RI, diputuskan bahwa metode pembelajaran pendidikan tinggi tahun ajaran 2020/2021 dilakukan secara daring. Sejalan dengan hal tersebut, Universitas Indonesia pun akan menerapkan kegiatan belajar mengajar secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Meskipun Surat Keputusan (SK) terkait keputusan tersebut belum dikeluarkan, penerapan PJJ pada semester mendatang telah dikonfirmasi oleh Wakil Dekan bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FEB UI Teguh Dartanto, seperti dilansir dari Badan Otonom Economica FEB UI.

Sumber: emas.ui.ac.id

Walau begitu, UI juga mempertimbangkan beberapa opsi dan akan terus mengamati perkembangan kondisi pandemi. Bila memungkinkan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan metode blended learning akan diterapkan. Berikut rangkuman yang telah AnakUI buat, dilansir dari laman Badan Otonom Economica FEB UI!

1. Penerapan Metode Reported Learning

Sumber: 9to5Google

Saat ini Universitas Indonesia sedang melakukan penyusunan materi dan penyesuaian terhadap metode kegiatan belajar mengajar. Pada semester mendatang, pembelajaran akan dilaksanakan secara synchronized (melalui Google Meets atau Microsoft Teams) dan unsynchronized (Reported Learning). Melalui metode Reported Learning, dosen akan menjelaskan materi melalui rekaman dan membagikannya kepada mahasiswa. Mahasiswa akan diberikan waktu untuk bertanya. Hal ini bertujuan untuk menjangkau mahasiswa yang berdomisili di daerah agar lebih fleksibel dalam mengakses video. Selain itu, metode ini diharapkan mampu meringankan beban mahasiswa sehingga tidak perlu mengeluarkan kuota besar.

2. Pelonggaran Absensi

Sumber: kompasmadura.com

Tak hanya perubahan dalam metode pengajaran, nantinya akan ada pelonggaran absensi pada metode pembelajaran jarak jauh ini. Normalnya, absensi mahasiswa hanya dibatasi sebanyak tiga kali saja. Jika lebih dari tiga kali, mahasiswa dilarang mengikuti ujian. Namun, pada metode ini, Mahasiswa diperkenankan untuk absen lebih dari tiga kali dengan catatan harus menyertakan laporan dan bukti yang jelas.

3. Waktu Tambahan Saat Ujian

Sumber: pharexmedics.com

Saat ujian berlangsung, mahasiswa diberikan tambahan waktu maksimal 30 menit untuk mengirimkan jawaban. Apabila terdapat hambatan pada pelaksanaan ujian  (seperti akses internet terbatas), dosen akan memberikan ujian susulan asal ada bukti yang jelas. Mahasiswa diharapkan untuk melaporkan segala hambatan yang dialami selama KBM dan ujian berlangsung kepada kepala program studi (kaprodi), para wakil dekan, biro pendidikan, atau helpdesk UI.

4. Perubahan Soal Ujian

Sumber: tefl-planet.com

Terdapat perubahan pada soal ujian. Pada sistem Open book, bentuk soal yang keluar berupa model analitikal dan kontekstual sehingga mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan analitis.

5. Penambahan Semester bagi Mahasiswa Tingkat Akhir

Sumber: kompas.com

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, pihak kampus akan memberikan kelonggaran dengan penambahan satu semester. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa pascasarjana.

6. Kebijakan Khusus bagi Mahasiswa KKI

Sumber: Dok. Humas Fasilkom UI

Terdapat kebijakan spesial bagi mahasiswa kelas khusus internasional (KKI). UI tidak memperbolehkan mahasiswa KKI untuk exchange. Sebagai gantinya, mahasiswa KKI didorong untuk mengikuti online course di universitas luar, sehingga dapat merasakan sistem kurikulum luar negeri. Bila ada universitas luar negeri membuka kuliah luring, UI akan mendiskusikan dan mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut (dengan catatan pemerinta Indonesia telah mengizinkan pelajar untuk melakukan exchange di negara tersebut). Jika mahasiswa kukuh untuk melakukan exchange, Universitas Indonesia menyediakan dua opsi yakni mengambil cuti atau pindah ke program single degree.

7. Acara Kepanitiaan Masih Dipertimbangkan 

Sumber: Draco a.k.a Destri

Untuk kegiatan di luar akademis yang bersifat occasional dan menimbulkan kerumunan besar, saat ini belum ada keputusan dari pihak kampus. Sebab, kebijakan ini dipengaruhi oleh pemerintah dua wilayah (Depok dan Jakarta) sehingga perlu pertimbangan lebih jauh.

Referensi Lebih Lanjut: https://www.economica.id/2020/06/21/ui-sepakat-menerapkan-pjj-pada-semester-ganjil-2020/amp/?__twitter_impression=true

Referensi Gambar Header: Pexels

5 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Cari Uang Sambil Kuliah

Hayo, siapa yang merasa pengeluaran saat kuliah semakin lama dirasa semakin banyak? Gak heran, sih. Karena, untuk kegiatan akademis sendiri, kita butuh modal yang cukup besar seperti membeli buku-buku kuliah dan printilan-printilan lainnya seperti alat kesehatan, alat lab, peralatan gambar, dan sebagainya. Belum lagi, kalau kita mendaftarkan diri untuk mengikuti suatu organisasi atau kepanitiaan. Bukan hanya set up cost yang perlu dibayarkan di awal kepanitiaan, namun danusan kepanitiaan yang tak terjual pun harus digantikan dengan uang saku kita!

Jangan lupa, pengeluaran untuk kebutuhan akademis dan organisasi kampus tersebut juga belum ditambah dengan kebutuhan pribadi kita loh, guys. Kebutuhan makan sehari-hari, service laptop dan handphone, skincare, sampai modal untuk refreshing sama temen segeng jumlahnya juga gak sedikit, loh. Untuk itu, gak ada salahnya kita mencari pundi-pundi uang sendiri supaya setidaknya kita masih bisa makan dengan layak di tanggal tua.

Tapi, kuliah sambil cari uang? Emang bisa, ya?

Tentu bisa, dong! Jangan salah, banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa untuk dapat uang. Ya, meskipun nggak seberapa, seenggaknya hal ini bisa membantu finansialmu ketika masa-masa kritis, loh. Yuk, simak hal-hal yang bisa kalian lakukan untuk mendapatkan tambahan uang saku!

1. Kerja Sambilan

Jadi barista di kafe bisa jadi salah satu pilihan! (sumber: qerja.com)

Yang ini tentu menjadi hal pertama yang terlintas ketika kita sedang membutuhkan uang saku tambahan. Kerja sambilan atau part time merupakan salah satu pekerjaan yang bisa kamu lakukan untuk menghasilkan uang, guys. Kalian bisa memulai dengan mencari lowongan pekerjaan di sekitar kampus seperti lowongan menjadi barista atau kasir di kafe-kafe sekitar kampus, atau bakan menjadi guru les privat atau bimbel. Kalian bisa juga loh, cari sendiri lowongan part time di internet, misalnya di instagram @parttimeindonesia atau @magang_id yang sering membagikan informasi lowongan part time dan magang.

Selain itu, kerja sambilan di kampus sendiri juga lumayan loh, guys. Misalnya, menjadi asisten dosen atau magang di kantor fakultas atau universitas. Selain mendapatkan uang tambahan, jadi asisten dosen juga bisa mempertajam ilmu kalian terhadap bidang yang kalian pilih, loh. Kalian bisa mengikuti prosedur lowongan di jurusan kalian masing-masing atau mencari informasi dari kakak tingkat atau bahkan dosen kalian sendiri untuk melamar menjadi asisten dosen. Untuk dapat magang di kantor universitas, kalian bisa pantau situs web universitas (misalnya di UI, ada Wiradha UI). Kalian juga bisa pantau situs web atau kanal informasi fakultas, atau mencari informasi sendiri di kampus untuk mengetahui informasi magang di fakultas. Selain menambah uang saku, magang dan part time ini juga bisa membantumu menghiasi CV, kan?

2. Kerja Lepas

Enaknya jadi freelancer adalah kalian jadi boss untuk diri kalian sendiri! (sumber: caraguna.com)

Kalian juga bisa mencoba mencari pekerjaan lepas atau freelance untuk mendapatkan uang tambahan loh, guys! Pekerjaan ini cocok untuk kalian yang sibuk serta tidak mau terlalu terikat terhadap suatu pekerjaan. Kalian bisa cari lowongan dari orang-orang yang mencari freelancer melalui akun instagram @freelancekerja atau website-website seperti freelancer.com. Bisa juga loh guys, mencari klien kalian di aplikasi khusus seperti panggilin, dimana kalian bisa mencari pekerjaan atau menawarkan diri sebagai freelancer.

Kalian juga bisa loh, mempromosikan diri sendiri melalui media sosial untuk mencari seseorang yang mau merekrut kalian! Menjadi freelancer cocok untuk kalian yang bergerak di bidang seni misalnya desainer grafis, pelukis atau illustrator (melakukan open commision misalnya), content writer, programmer, atau penerjemah. Apalagi sekarang ada yang namanya the power of twitter, karena suatu tweet bisa saja menjadi viral dengan cepat karena Twitter.

BACA JUGA: Di Mana Saja Kita Bisa Mencari Info Lowongan Magang?

3. Jadi Eksis dan Unjuk Bakat

Coba jadi MC di acara fakultas dulu, siapa tau suatu saat bisa jadi MC di acara internasional! (sumber: news.ddtc.co.id)

Kalau poin yang ini cocok banget untuk kalian yang memang punya jiwa-jiwa influencer dan penguasa panggung, guys. Tau kan, kalau mahasiswa-mahasiswa di organisasi atau kepanitiaan sering mengadakan berbagai macam jenis acara-acara baik acara jurusan, fakultas, atau bahkan universitas. Nah, kalian bisa manfaatkan jiwa panggung kalian dengan menjadi eksis dan unjuk bakat kalian. Ikut audisi jadi MC di acara kampus, audisi jadi pengisi acara dan sebagainya. Gak ada salahnya juga loh, melakukan networking sebanyak-banyaknya supaya semakin banyak yang mengetahui potensi kalian dan mengajak kalian bekerjasama.

Untuk yang senang eksis juga, kalian bisa mencari pundi-pundi uang dengan menjadi influencer dan melakukan endorse atau ikut berbagai campaign seru, loh! Salah satu aplikasi yang bisa kalian manfaatkan untuk mengikuti campaign yang menghasilkan uang adalah partipost. Selain itu, gak ada salahnya untuk memulai sesuatu yang baru misalnya membuka akun youtube atau menulis blog. Dengan adsense, konten kalian di internet bisa berubah menjadi uang loh.

4. Bikin Usaha Online

Kalau mau diseriusin, harus direncanakan secara matang ya, supaya menghindari merugi! (sumber: forbes.com)

Siapa yang disini suka berbisnis? Mungkin menjadi penjual online shop bisa menjadi satu pilihan kalian untuk mendapatkan uang untuk bertahan hidup di tanggal tua. Kalian bisa mulai dari menentukan mau menjual apa dan dimana mau menjualnya. Barang dengan target pasar kaum muda tentu akan lebih menjual jika menggunakan platform penjualan yang sudah tidak asing di mata kaum muda juga. Kalian bisa membuka bisnis di media sosial seperti instagram, facebook dan twitter, atau membuka toko di e-commerce seperti Shopee, Tokopedia dan Bukalapak.

Bingung mau menjual apa? Tenang, kalian bisa juga loh menjadi reseller atau dropshipper dengan menjual barang yang telah disediakan oleh supplier. Namun tentunya, usaha kalian tidak bisa memiliki nilai “wah” dibandingkan dengan usaha lainnya. Merancang produk sendiri, biarpun agak pe-er namun bisa semakin menarik perhatian pembeli, loh! Kalian bisa mencoba merancang produk mulai dari pakaian sampai dengan makanan atau minuman. Gak menutup kemungkinan bahwa usaha kalian bisa berkembang menjadi usaha yang besar loh, guys!

BACA JUGA: Inilah 20 Usaha Waralaba Bermodal Kecil untuk Mahasiswa

5. Danusan!

Untungnya memang gak seberapa, jadinya coba masukin plan B dulu aja lah… (sumber: kaskus.co.id)

Untuk para budak proker, pasti gak asing dengan yang satu ini. Ya, danusan! Mungkin kalian agak muak ya karena danusan itu melelahkan, dan kalau gak laku kita bisa merugi dengan harus nalangin kekurangannya untuk kebutuhan acara kalian. Namun, jika dilakukan dengan rajin (dan semangat pantang menyerah), danusan juga bisa menghasilkan uang yang bisa kalian tabung untuk keperluan mendesak juga, loh! Kalian bisa coba dengan menghubungi kontak para penjual danusan secara mandiri dan menjualnya sendiri pula. Atau, kalau kalian takut danusannya gak laku, kalian bisa coba danusan snack-snack bungkus yang bisa bertahan lama, misalnya coklat atau chiki. Asal pantang lelah dan mau menabung, tanpa sadar uang danusan tersebut akan bertambah banyak dan setidaknya bisa membantu kalian untuk survive di perkuliahan tanggal tua!

***

Nah, itulah hal-hal yang bisa kalian lakukan untuk mencari uang sambil kuliah. Jika kalian pernah melakukan salah satu hal diatas, gimana nih hasilnya? Apakah kalian berhasil menghidupi diri atau sebaliknya malah makin boros karena punya uang lebih? Yang terpenting, jangan lupa untuk selalu menggunakan uang dengan bijak dan jangan sampai kehidupan pencarian uang kalian mengganggu kehidupan perkuliahan kalian, ya. Selamat berusaha!

BACA JUGA: 10 Ide Bisnis Untuk Mahasiswa, Menarik untuk Dieksplorasi!

10 Pelajaran Hidup Yang Bisa Kalian Dapatkan Dari Bangku Kuliah

Pelajaran Hidup Kuliah di UI

Siapa disini yang kangen kuliah? Ayo ngacung!

Bagi kalian para alumni kampus, selamat mengenang dan mengingat momen-momen seru kalian selama kuliah mumpung lagi #dirumahaja. Bagi kalian para mahasiswa, semangat belajar online dari rumahnya, jangan terlalu banyak rebahannya. Bagi kalian para pelajar SMA baik yang belum lulus atau baru lulus, ditunggu kehadiran dan kontribusi kalian di universitas-universitas yang ada di Indonesia, persiapkan dengan matang dan jangan sampai menyesal. Bagi kalian yang baca tulisan ini, semoga bisa menghibur dan menginspirasi.

Sumber: erabaru.net

Tidak bisa dipungkiri masa-masa kuliah mengukir kenangan bagi manusia-manusia yang telah melewatinya. Banyak hal manis dan pahit yang terjadi selama kuliah. Bukan hanya semata-mata tempat menuntut ilmu, kuliah menjadi sarana mendapatkan pelajaran hidup. Bisa dibilang kuliah merupakan masa transisi dari remaja menuju dewasa. Mahasiswa sudah dianggap mandiri untuk bisa menentukan pilihannya sendiri. Pilihan-pilihan tersebutlah yang memberikan pelajaran hidup bagi mahasiswa selama berkuliah, entah itu baik ataupun buruk. Berikut ini 10 pelajaran hidup yang bisa kalian dapatkan dari bangku kuliah versi AnakUI.

1. Berani Untuk Berkata “Tidak”

Sumber: godiscover.co.id

Selama kuliah mahasiswa selalu dihadapi dengan berbagai macam pilihan mulai dari pilihan yang berkaitan dengan akademis, organisasi, kepanitiaan, hingga kegiatan sehari-hari. Terkadang pilihan tersebut dapat menentukan keberlangsungan kuliah hingga satu semester mendatang. Hal ini dikarenakan akan muncul kesibukan dan prioritas terhadap pilihan yang telah dibuat tersebut.

Nah bagi kalian yang merasa telah melewati momen memilih ini selamat kalian telah belajar satu pelajaran hidup selama kuliah. Emang apa sih pelajaran hidup yang dapat diambil dari momen memilih tersebut? Tidak lain dan tidak bukan yaitu proses untuk menjawab tidak. Kok begitu? Ya karena tidak semua pilihan yang kalian dapatkan selama kuliah harus dijawab dengan iya atau saya bersedia  atau jawaban apapun yang menunjukkan kalau kalian menerima pilihan tersebut.

Banyak momen selama kuliah yang membuat mahasiswa dihadapkan dengan berbagai pilihan dan kalian harus berani berkata tidak. Jawaban tidak tersebut akan membuat kehidupan kuliah kalian lebih tenang. Ada momen-momen dimana kalian dihadapkan oleh pilihan yang sulit sehingga bisa mengorbankan hal lain. Tentu saja itu merugikan, sehingga dengan menjawab tidak akan membuat keputusan yang tepat. Menjawab tidak bukan berarti kalian sombong, tidak mampu, atau tidak baik hati. Akan tetapi, terkadang kalian harus tau kapasitas diri kalian sendiri. Sehingga proses pelajaran hidup bisa kalian dapatkan dengan menjawab tidak.

BACA JUGA: Berani Punya Cita-cita?

2. Sendiri Kita Lemah, Bersama Kita Kuat

Sumber: dictio.id

Ini merupakan salah satu pelajaran hidup yang mungkin mahasiswa rasakan hingga lulus kuliah. Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial sehingga membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Begitu juga kuliah, mahasiswa tidak akan bisa survive apabila tidak ada kehadiran orang lain di sampingnya.

Teman, sahabat, dosen, hingga pacar menjadi salah satu faktor penting selama kuliah yang dibutuhkan mahasiswa

Sendiri kalian lemah, tapi bersama kalian kuat. Mungkin rima yang tepat untuk menggambarkan kehidupan kuliah. Banyak tugas yang harus dikerjakan berkelompok, banyak kegiatan yang dilakukan bersama-sama, bahkan nongkrong pun kalian butuh teman untuk sekadar menemani untuk menyeruput kopi (beda hal kalo nongkrong di kamar mandi yak, itu mah harus sendiri).

Bersama-sama dalam menjalani aktivitas kuliah akan membuat kalian tampak lebih senang, bahagia, dan seru. Mulai dari nugas bareng, belajar bareng, hingga cabut kelas bareng. Selama hal tersebut dilakukan bersama-sama teman maka akan menjadi pelajaran hidup yang cukup berharga.

Nah bagi kalian yang belum menemukan momen kebersamaan kalian. Tolong segeralah cari. Minimal satu orang untuk menjadi teman kalian berbagi, bekerja, dan tertawa bersama-sama.

BACA JUGA: Minder Melulu? Jangan-Jangan Kamu Inferiority Complex!

3. Semuanya Tergantung Diri Kita Sendiri

Sumber: thoughtcatalog.com

Kebalikan dari poin nomor 2, terkadang ada momen dimana kalian harus bergantung sama diri kalian sendiri. Ya momen ini bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga buat kalian karena akan menempa diri kalian untuk menjadi manusia yang lebih kuat, mandiri, dan berwibawa. Hal ini karena sebanyak apapun teman kalian, serame apapun tongkrongan kalian, ada kondisi dimana semua tergantung pada diri kalian sendiri.

Mengerjakan ujian, ikut kepanitiaan atau organisasi, skripsian, praktikum, dan beberapa hal lain harus kalian lakukan sendiri. Kalian tidak bisa selalu bergantung sama teman, sahabat, dosen, orang tua, atau pacar sekalipun. Karena suatu saat mereka semua tidak bisa membantu kalian bukan karena tidak mau tetapi karena tidak bisa. Jadinya kalian harus selalu siap dengan kondisi tersebut.

Kalian harus membiasakan mandiri dan bisa bergerak sendiri tanpa tergantung orang lain. Apalagi kalian sudah kuliah dan dianggap sudah bisa menentukan pilihan hidup kalian. Jadi jangan pernah malas untuk mencoba sendiri dan berkegiatan sendiri. Karena itu merupakan proses pelajaran hidup. Hal ini juga bisa membuat kalian lebih cinta terhadap diri kalian dan mengetahui potensi yang ada dalam diri kalian.

Tidak menyedihkan juga kok melakukan sesuatu sendiri. Terkadang malah lebih enak karena tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, ya karena ini untuk perasaan kalian sendiri.

BACA JUGA: Hati-hati Berjalan Sendirian di UI!

4. Hidup Itu Pilihan, Maka Tentukan Saat Ini Juga

Sumber: intisari.grid.id

Berkaitan dengan poin nomor 3 yang mengharuskan kalian bergantung pada diri kalian sendiri. Ada beberapa keputusan besar dalam hidup yang harus kalian pilih dan tentukan sendiri. Teman, sahabat, orang tua, bahkan pacar hanya bisa memberi opsi/pilihan dalam keputusan besar di hidup kalian. Sisanya kalian lah yang menentukan langkah besar untuk setiap keputusan kalian sendiri.

Proses pengambilan keputusan adalah proses dimana kalian menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Proses ini bisa kalian dapatkan selama kuliah. Tidak boleh takut atau ragu dalam membuat keputusan besar. Karena yang namanya hidup adalah proses dimana hasilnya sukses dan gagal.

Jikalau sukses yang menghampiri maka selamat dan pertahankan. Tapi jikalau gagal yang menghampiri maka terus berjuang hingga gagal tersebut lelah menghampiri kalian dan sukses lah yang datang. Semuanya tergantung diri kalian sendiri. Hidup itu pilihan mulai dari lahir hingga nanti meninggal.

Kalian ingin menjadi Presiden, wujudkan. Kalian ingin membuat suatu perusahaan, niatkan. Kalian ingin studi S2 hingga S3, belajarlah. Apapun pilihan kalian di masa yang akan datang tentukan saat ini juga. Kehidupan kalian 1 tahun ke depan, 2 tahun depan, 5 tahun ke depan, 10 tahun depan, hingga 20 tahun ke depan tentukan saat ini juga.

“Tentukan dan putuskan tanpa ragu”

Jika ragu menghampiri maka coba dekatkan diri dengan yang maha kuasa. Itu akan membuat kalian lebih tenang dalam memilih dan memutuskan. Mulailah tentukan pilihan kalian dari bangku kuliah agar kalian bisa mendapat lebih banyak pelajaran hidup.

BACA JUGA: Beberapa Hal yang Perlu Dipikirkan Lagi Sebelum Kamu Memutuskan untuk Naik Gunung

5. Habiskan Jatah Gagal Selagi Masih Kuliah

Sumber: koinworks.com

Banyak yang bilang gagal merupakan kesuksesan yang tertunda. Hal itu bisa dibenarkan. Untuk mencapai sebuah kesuksesan tidak bisa langsung dan instan. Perlu namanya perjuangan, kerja keras, hingga doa. Dalam tiap proses mencapai kesuksesan tersebut manusia menjadi lebih dewasa dan lebih hidup.

Kegagalan demi kegagalan membuat kalian lebih dewasa dan lebih hidup. Kegagalan dapat terjadi dalam fase manapun di kehidupan manusia. Bahkan kehidupan kuliah pun tidak lepas dari yang namanya kegagalan. Gagal mendapat nilai bagus, gagal lulus suatu mata kuliah, gagal jadi ketua himpunan, gagal praktikum, gagal menang lomba, hingga kegagalan-kegagalan lain yang mungkin sudah kalian rasakan selama kuliah. Bagus. Gagal selagi masih kuliah bagus dan hal itu wajar kok. Pesan saya kalau bisa:

“Habiskan jatah gagal kalian selagi masih kuliah”

Kok gitu? Ya karena memang kuliah tempatnya belajar, mahasiswa tempatnya salah, dan ini dinamakan proses kehidupan. Jika kalian gagal selama kuliah ganjaran yang didapatkan masih terbilang ringan, misalnya gagal ujian maka nilainya jelek, gagal lulus suatu mata kuliah maka mengulang semester depan, gagal menang lomba maka bisa dicoba lagi, dan gagal-gagal lainnya pun masih bisa ditolerir selama kalian masih kuliah serta masih menyandang nama mahasiswa.

Tapi jangan juga mendapati kegagalan yang bisa merugikan orang lain saat kuliah, coba dikurangi kegagalan jenis ini. Sedangkan di dunia profesional nanti, kegagalan akan berakibat fatal pada keberlangsungan hidup orang banyak. Gagal lah sebanyak-banyaknya saat kuliah, hingga pada fase kehidupan setelah kuliah nanti jatah gagal kalian sudah habis dan sukses yang akan datang menghampiri.

Kegagalan membuat kalian belajar dan tambah kuat. Sedangkan kesuksesan seharusnya membuat kalian lebih rendah hati dan berdamai pada hidup.

BACA JUGA: Pernah Gagal Keterima di UI? Jangan Putus Asa, Coba Deh Tempuh Jalur Khusus Ini

6. Pilihan Antara Akademis, Sosial, dan Istirahat

Sumber: Twitter @MUHprasetyo

Poin nomor 6 ini sangat sering dialami oleh sebagian mahasiswa yang ada di bumi ini. Dihadapkan pada suatu kondisi pilihan antara akademis, sosial, dan istirahat. Mari ditinjau untuk masing-masing aspek untuk menentukan mana yang lebih penting atau lebih prioritas.

  • Akademis merupakan kewajiban utama mahasiswa, sehingga ini menjadi suatu aspek yang penting dalam kehidupan kuliah.
  • Sosial merupakan sarana untuk menjalin komunikasi dan kerja sama. Telah disebutkan di poin nomor 2 bahwa manusia makhluk sosial sehingga butuh kehadiran orang lain dalam hidupnya. Begitu pun dengan dunia perkuliahan, butuh adanya orang lain dalam menjalani setiap aktivitas atau kegiatan kuliah. Jadi sosial pun penting.
  • Terakhir yaitu istirahat. Istirahat yang bisa diidentikkan dengan tidur yang merupakan suatu kebutuhan tubuh manusia. Tidur merupakan proses alami yang harus dijalankan manusia. Tidur merupakan proses pengistirahatan badan setelah beraktivitas seharian. Otomatis tidur juga merupakan aspek penting.

Dari ketiga aspek di atas dapat dikatakan bahwa semuanya penting. Tidak boleh ada yang hilang dari ketiga aspek tersebut selama berkuliah bagi kalian para mahasiswa. Tapi ada yang bilang mahasiswa hanya bisa memilih dua aspek dari ketiga aspek tersebut. Ya jawabannya kalo bisa diseimbangkan ketiganya kenapa enggak? Kedengarannya naif memang tapi banyak kok di luar sana mahasiswa yang bisa menyeimbangkan ketiga aspek tersebut. Tinggal bagaimana cara kalian membagi dan memprioritaskan ketiga aspek tersebut.

Kalian punya waktu 24 yang sama. Coba renungkan sudah dipakai apa saja 24 jam kalian selama ini?

BACA JUGA: [Diskusi] Apa Pendapatmu tentang Mahasiswa yang Hanya Fokus di Akademis?

7. Lebih Baik Begadang Semalaman, Daripada Mengulang Tahun Depan

Sumber: hipwee.com

Berkaitan dengan poin nomor 6 mungkin bisa dibilang ini berlawanan. Karena poin ini merupakan pelajaran hidup yang biasanya sebagian mahasiswa alami di akhir-akhir semester. Pelajaran hidup ini banyak menerpa mahasiswa kategori deadliner.

Kenapa begitu?

Karena mungkin jika mahasiswa telah menyeimbangkan dan memprioritaskan ketiga aspek seperti nomor 6, tidak akan muncul mahasiswa kategori deadliner tersebut. Tapi ya namanya mahasiswa, suka sekali dengan tantangan dan masih mempercayai adanya suatu kekuatan ketika menjadi deadliner. Kekuatan itu dinamakan “the power of kepepet”. Kondisi yang menyebabkan mahasiswa deadliner mungkin bukan hanya berasal dari diri mereka sendiri yang menunda-nunda. Bisa jadi memang kondisi tugasnya yang menyebabkan mahasiswa menjadi deadliner. Ya bagaimanapun kondisinya, menjadi mahasiswa deadliner perlu dikurangi dan dihindari kawan hehe.

Nah untuk kalian para mahasiswa deadliner mungkin pelajaran hidup yang satu ini sangat membekas di diri kalian. Lebih baik begadang semalaman mengerjakan tugas dan belajar, daripada harus mengulang tahun depan. Pernyataan ini merupakan niat yang sangat kuat bagi para mahasiswa deadliner. Niat ini lah yang memicu adrenalin sehingga mengeluarkan “the power of kepepet” sehingga tugas yang seharusnya dikerjakan dalam kurun waktu satu bulan bisa selesai hanya dengan waktu satu malam.

Belajar yang membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan dapat selesai hanya dalam waktu satu malam dengan “the power of kepepet” dan sistem kebut semalam. Tapi tentunya kondisi ini pasti memiliki banyak efek samping. Misalnya saja setelah begadang dan sistem kebut semalam esok hari setelah ujian akan tidur 24 jam, bahkan bisa lebih parah yaitu sakit bagi yang tidak biasa begadang. Walaupun begitu, pelajaran hidup ini setidaknya harus bisa dirasakan oleh mahasiswa setidaknya sekali dalam hidup.

Karena pelajaran hidup akan mengajarkan bahwa menunda-nunda pekerjaan adalah kerugian dan begadang itu tidak baik. Seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama “Begadang jangan begadang… Kalau tiada artinya… Begadang boleh saja… Kalau ada perlunya…” (lah malah dangdutan).

BACA JUGA: Siapa Bilang UAS Cuma Bikin Stress Doang? Nih, Hikmah Tersembunyi di Balik UAS!

8. Dosen Selalu Benar

Sumber: restualpiansah.wordpress.com

Poin pelajaran hidup yang kedelapan ini mungkin cukup merepotkan bagi para mahasiswa. Ya apalagi kalau bukan sebuah aturan yang dibuat-buat mahasiswa tentang dosen. Aturan tersebut berbunyi:

“1. Dosen tidak pernah salah.

2. Jika dosen salah kembali ke nomor 1.”

Yang dimana intinya dosen selalu benar dan mahasiswa yang salah. Mungkin sebagian dari kalian berpikir kan dosen juga manusia, yang namanya manusia tak luput dari kesalahan dong. Itu bener sih. Cuma dosen tuh manusia spesial, karena mereka lah yang menentukan kehidupan akademis kalian selama di kampus.

Jikapun dosen salah, tetap saja harus mahasiswa yang mencoba mengerti tentang kesalahan tersebut. Mengalah dan menerima lebih baik daripada harus mengulang tahun depan. Benar kan? Coba lebih memahami dan mengerti sifat dosen. Itu akan membuat kelancaran dalam akademis kalian nantinya selama kuliah.

Mungkin memang bisa dibilang dosen bisa saja salah. Tapi perlu digaris bawahi bahwa dosen lebih berpengalaman dari para mahasiswanya. Bisa dibilang mereka telah khatam dengan segala dinamika perkuliahan sehingga perlu dipahami kalian sebagai mahasiswa masih bau kencur alias awam. Intinya sih ambil sisi positif dan baik dari para dosen kalian. Ambil setiap ilmu dan pembelajaran dari mereka. Jikalau memang ada salah yang dilakukan dosen, coba ingatkan baik-baik tanpa menyinggung perasaan mereka. Perasaan dosen lebih sensitif dibandingkan pacar.

BACA JUGA: Mahasiswa Naksir Dosen, Salah Gak Sih?

9. IPK Itu Penting

Sumber: yusufstudi.com

Berkaitan dengan poin nomor 8 bahwa dosen menjadi salah satu kunci utama dalam keberhasilan akademis para mahasiswa. Dosen berkontribusi terhadap nilai IPK yang tertera di laporan akademis kalian entah itu bagus ataupun jelek. Bagaimanapun hasilnya kalian harus mensyukuri nilai IPK yang kalian dapat.

Trus bagaimana nasib IPK mu semester ini? Udah keluar? Udah bisa memprediksi? Bakal naik-naik ke puncak gunung atau terjun bebas?

Ya apapun hasilnya nanti hadapi dengan senyuman yak. Karena senyum kalian indah di tengah pandemi ini. Kembali kepada masalah IPK. Pelajaran hidup selanjutnya adalah kalian harus mengingat bahwa IPK itu penting. Benar, IPK itu penting.

Tapi kan banyak yang bilang IPK hanya kumpulan angka dan tidak bisa menentukan kesuksesan seseorang. Lebih penting kerja keras, attitude, kejujuran, dan segala hal baik lainnya. Di sini bisa dibilang pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya juga salah. IPK benar kok hanya kumpulan angka yang menjadi saksi bisu perjuangan kalian selama kuliah. Namun IPK menjadi syarat administratif untuk bisa masuk ke fase kehidupan selanjutnya entah itu mencari kerja ataupun melamar studi.

Kerja keras, attitude, kejujuran itu penting dan pasti dibutuhkan. Tapi apa daya jikalau syarat administratif yaitu IPK tidak bisa menggambarkan itu semua. Boro-boro dipanggil, mungkin dilirik saja sudah susah kalau kalian menganggap IPK itu tidak penting. Jadi, setidaknya capai dan pertahankan IPK kalian di atas 3. Karena itu bisa menjadi modal awal kalian menghadapi fase kehidupan setelah kuliah.

BACA JUGA: Arti Dibalik Nilai A B C D E yang Kamu Dapat Semasa Kuliah

10. Lulus Kuliah Merupakan Gerbang Kehidupan Baru

Sumber: ui.ac.id

Nah, pelajaran hidup yang terakhir ini merupakan rangkuman dari kesembilan pelajaran hidup sebelumnya. Kuliah merupakan fase kehidupan transisi dari remaja ke dewasa. Lulus kuliah merupakan gerbang kehidupan baru bagi kalian.

Bagi kalian yang belum menginjakkan kaki untuk kuliah tetap berjuang untuk menggapai kampus impian kalian yak. Bagi kalian yang mau menginjakkan kaki untuk kuliah bersiaplah banyak pelajaran yang akan kalian dapatkan. Bagi kalian yang sedang menjalani fase kuliah tetaplah bertahan dan jalankan apa yang ada, karena perjuangan kalian tidak akan sia-sia. Bagi kalian yang sudah lulus kuliah maka selamat, satu fase penting di hidup kalian sudah kalian lalui. Sekarang saatnya untuk kalian memasuki fase penting lainnya di hidup kalian dan bersinarlah, karena kalian hebat telah sampai pada fase baru ini.

Semua hal yang terjadi selama kuliah akan menjadi bekal untuk kalian menghadapi kehidupan baru setelah kuliah. Kegagalan yang kalian alami akan membuat kalian belajar dan tambah kuat sehingga mampu menghadapi rintangan pada gerbang kehidupan baru kalian nantinya. Jika kalian merasa belum siap, bekal kalian belum cukup, atau ini terlalu cepat maka hadapilah.

Percayalah bahwa kalian sudah seharusnya memasuki fase kehidupan ini. Percayalah bahwa kalian merupakan manusia yang lebih baik lagi setelah lulus kuliah.

Jangan ada penyesalan yang tersisa, sekarang tataplah masa depan yang ada setelah lulus kuliah. Apa yang terjadi di masa depan ditentukan oleh pilihan kalian hari ini. Gerbang kehidupan baru kalian setelah lulus telah dibuka. Jalani dengan senyuman maka hal itu akan membuat hidup kalian indah.

BACA JUGA: Mumpung Masih Ada Waktu, Pikir Ulang Mengenai 5 Hal Ini Sebelum Lulus Nanti!

***

Pelajaran hidup selama kuliah akan membuat manusia menjadi lebih dewasa dan lebih baik lagi pastinya. Namanya juga pelajaran hidup ya pastinya mengajarkan untuk bisa tetap lebih hidup. Senang, tertawa, suka, duka, sedih, dan tangis mungkin mengiringi setiap pelajaran hidup yang kalian alami selama kuliah. Itulah proses hidup, itulah proses dimana kalian menjadi manusia yang lebih baik lagi. Terakhir, tetaplah hidup selagi masih bisa karena pelajaran hidup tidak akan pernah mati.

Kenapa Ngajak Rapat Di Atas Jam Tujuh Malam Itu Nggak Wajar

Sebagian besar mahasiswa memiliki kegiatan diluar kegiatan akademis di kampus. Beberapa memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai organisasi, sebagian lagi bekerja paruh waktu atau magang di instansi tertentu.

Apapun itu kesibukan yang kita miliki, satu hal yang perlu kita semua setujui; setelah pukul enam sore dan akhir pekan adalah waktu kita untuk diri sendiri, yang sepatutnya tidak diganggu oleh kepentingan apapun.

Saya rasa pemahaman ini masih belum dapat dimengerti oleh banyak orang. Hal ini terbukti dari banyaknya telepon, pesan singkat, dan panggilan rapat yang masih diterima oleh banyak mahasiswa terlepas dari waktu yang sudah terlalu larut atau tanggal yang menunjukkan bahwa hari itu adalah hari Sabtu.

(sumber: creativemarket.com)

Saya mengerti, pandemi yang kita hadapi sekarang memaksa seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah kebiasaannya dalam melakukan segala aktivitas secara luring menjadi daring, dan oleh karenanya batasan antara jam kerja dengan jam santai menjadi sedikit abu-abu.

Sebelumnya, kita dapat mengerti bahwa selama kita masih berada di kampus, menjadi tanggung jawab kita untuk menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan baik akademik maupun non-akademik seperti urusan organisasi, kepanitiaan, dan lain sebagainya. Namun, ketika kita sudah beranjak pulang baik ke rumah maupun kost, segala percakapan yang berhubungan dengan tugas dan pekerjaan harus segera dihentikan. Terdapat pembeda yang cukup jelas antara waktu bekerja dan waktu bersantai, secara fisik kita bergerak dari wilayah kampus (tempat pekerjaan dan tugas itu dilakukan) ke rumah atau kost (tempat beristirahat).

Saat ini, keadaannya tentu sama sekali berbeda. Kita tidak harus lagi secara fisik berangkat ke kampus. Pelajaran disampaikan melalui aplikasi, tugas diberikan lewat pranala, segala percakapan direkam lewat layar laptop dan ponsel pintar. Kamar tidur menjadi kelas dan rumah kita menjadi kampusnya. Hal ini memberi persepsi bahwa nggak apa apa dong kita dihubungi pada jam-jam yang tidak wajar, toh selama ini kita di rumah dan tidak melakukan aktivitas sebanyak di kampus.

Saya di sini untuk meluruskan bahwa sungguh persepsi itu harus dihancurkan untuk sekarang dan selamanya. Hanya karena kelas dilakukan secara daring, bukan berarti tugas yang diberikan dosen berhenti datang begitu saja, kan? Sebagian besar mahasiswa bahkan menerima tugas yang dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Hal ini lagi lagi didasari oleh pemikiran yang sama, dosen beranggapan karena sekarang kita semua di rumah, maka artinya waktu yang kita miliki untuk mengerjakan tugas pasti lebih lapang.

Perlu untuk diingat, tidak ada yang bersantai di rumah. Semua orang bekerja, belajar, dan melakukan segala aktivitas yang sebelumnya mereka lakukan dari rumah. Yang artinya, level stress dan kecemasan yang kita semua hadapi sama besarnya. Atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.

Pemberian tugas secara berlebihan, tuntutan untuk tetap menjalankan program kerja yang direncakan, jam-jam rapat yang diatur secara tidak masuk akal, serta bentuk kewajiban lain akan perlahan-lahan mengikis kesehatan mental kita ditengah situasi yang telah begitu acakadut ini. Menjadi sulit sekali bagi banyak mahasiswa untuk membagi waktu untuk keluarga, orang-orang yang mereka kasihi, dan terlebih lagi diri sendiri. Padahal waktu-waktu tersebut sangat krusial peranannya dalam menjaga kita untuk tetap waras di saat-saat seperti sekarang.

Oleh karena itu saya ingin membuat suatu permintaan,


Bagi setiap petinggi organisasi di kampus, dosen, dan pemegang jabatan lainnya;
jika tidak bisa mengurangi jumlah tugas yang diberikan,
maka setidaknya hargailah waktu istirahat seseorang


Mari sama-sama mengerti bahwa pukul delapan pagi sampai dengan jam lima adalah waktu kerja, maka silahkan beri pekerjaan pada jam-jam tersebut. Namun selebihnya, dan terutama pada akhir pekan, mari sama-sama kesampingkan segala tugas yang harus kita emban. Mari beri waktu bagi satu sama lain untuk bernafas, dan bersenang-senang tanpa gangguan.

BACA JUGA: Psst, Ini yang Terjadi Kalau Dosen Lagi Rapat Pleno

Referensi gambar header arloji: lemonadventures.com

Arti Dibalik Nilai A B C D E yang Kamu Dapat Semasa Kuliah

Kuliah. Masa-masa yang cukup indah untuk dikenang dan diingat. Banyak sekali kisah yang telah dirajut oleh mahasiswa selama mereka berkuliah. Berbicara tentang kuliah, maka menuntut ilmu menjadi tujuan utama atau kewajiban utama mahasiswa/mahasiswi yang berkuliah. Kegiatan menuntut ilmu identik dengan kehidupan akademis. Seperti yang diketahui bahwa kehidupan akademis mahasiswa tidak selalu indah dan bahagia. Ada salah satu faktor yang membuat kehidupan akademis kuliah terasa begitu indah atau sebaliknya begitu menyeramkan yaitu nilai.

Nilai menggambarkan evaluasi ilmu mata kuliah yang telah didapat dalam satu semester. Biasanya nilai akhir menjadi momok bagi sebagian mahasiswa karena menentukan lulus atau tidaknya dalam suatu mata kuliah. Hal ini lah yang membuat kehidupan akademis terasa manis dan pahit. Manis jikalau mahasiswa mendapat nilai bagus dan lulus, akan tetapi pahit jikalau mendapat nilai jelek dan harus mengulang suatu mata kuliah karena tidak lulus.

Biasanya sistem nilai perkuliahan yang digunakan untuk evaluasi akhir semester menggunakan huruf yaitu A, B, C, D, dan E. Setiap huruf memiliki nilai angka tersendiri dari yang terbesar yaitu A hingga yang terkecil itu E. Proses pengubahan nilai huruf menjadi nilai angka ini memudahkan dalam proses perhitungan IP (Indeks Prestasi) mahasiswa. Tapi, apakah kalian tau bahwa sebenarnya nilai-nilai A B C D E tersebut memiliki arti? Arti tersebut sangat berkaitan dengan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam suatu mata kuliah. Dengan mengetahui arti nilai-nilai tersebut, maka mahasiswa dapat mengetahui evaluasi akhir semester mereka. Yuk simak arti dibalik nilai A B C D E yang kamu dapat semasa kuliah.

A..aahhh gue mah hoki ini alias beruntung

(A)aalalalala yihaa (sumber: kompasiana.com)

Merupakan respon beberapa mahasiswa yang mendapatkan nilai A pada suatu mata kuliah. Ciri mahasiswa tersebut sangat identik dikarenakan sifat yang merendahnya tetapi menyimpan kebanggaan. Bangga dengan nilai A yang didapat, akan tetapi mencoba untuk tetap rendah hati. Padahal, justru respon seperti ini yang terkadang menimbulkan perang saudara. Misalnya saja ada seorang mahasiswa bernama Asep dan Budi.

Asep bertanya sama Budi, “Bud, dapet nilai apa lu di matkul Y?”.

Budi menjawab, “Aaahhh gue mah hoki ini alias beruntung lulus matkul Y”.

Asep penasaran, “Emang apa?”.

Budi tersenyum sambil bilang, “A (hehehe)”.

Asep merasa ingin melempar Budi dari lantai teratas Monumen Nasional. Pada kondisi lain, nilai A juga bisa menjadi perekat pertemanan. Karena mahasiswa yang mendapat nilai A memiliki daya tarik untuk diajak belajar dan mengerjakan tugas bareng. Meskipun banyak polemik yang dihasilkan dari nilai A tersebut, nilai A masih menjadi nilai primadona bagi setiap mahasiswa. Mahasiswa di seluruh bumi sangat berharap kemunculan nilai A di laporan hasil akhir semester mereka.

BACA JUGA: Tujuh Macam Grafik IPK di SIAK-NG

B..agus lumayan dan yang penting lulus

(B)uahahah okelah (sumber: liputan6.com)

Mahasiswa yang mendapatkan nilai B biasanya lebih dewasa. Hal ini terbukti dengan respon yang diberikan ketika ditanya dapat nilai apa matkul ini. Mahasiswa nilai B biasanya menjawab “B nih. Baguslah lumayan dan yang penting lulus”. Tingkat kedewasaan mahasiswa nilai B juga ditunjukkan dengan tidak keponya mereka pada nilai teman-temannya. Mereka lebih memilih diam dan memperbanyak bersyukur karena telah diberikan nilai B. Mereka merasa telah diberikan kemudahan dan kelancaran selama berkuliah satu semester.

Sifat mahasiswa nilai B sangat berkebalikan dengan sifat mahasiswa nilai A. Belum sempet disinggung sebelumnya, bahwa mahasiswa nilai A akan cenderung bertanya pada teman-temannya terkait nilai mereka. Ini dilakukan agar temannya bertanya kembali kepada mahasiswa nilai A tentang nilai yang dia dapat. Kemudian dengan cara menjawab rendah hati disertai kebanggaan si mahasiswa A akan bilang mendapat nilai A dan tersenyum. Mahasiswa nilai B cenderung diam dan akan menjawab jika ditanya terkait nilai yang dia dapat.

C..ukup lah main-mainnya semester ini, semester depan harus lebih baik

(C)ielah yang penting lulus (sumber: prelo.co.id)

Sebuah pernyataan dusta yang diucapkan oleh sebagian mahasiswa yang mendapatkan nilai C. Respon pertama mahasiswa apabila muncul nilai C di laporan akademis mereka adalah menyesal. Mahasiswa nilai C cenderung menyesal setelah melewati 1 semester dengan sia-sia. Kemudian mereka akan niat dan bertekad dalam hati serta jiwa raga bahwa akan memperbaiki semester berikutnya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Sayangnya, hal itu hanyalah bualan atau dusta belaka. Karena namanya juga mahasiswa, niat dahulu rebahan kemudian. Kondisi ini merupakan sebuah siklus semesteran  yang dialami oleh mahasiswa nilai C. Mereka akan menyesal di akhir semester karena nilai C yang didapat, kemudian bertekad untuk memperbaiki diri semester depan agar mendapat nilai lebih baik, lalu kuliah seperti biasa (dengan porsi rebahan lebih banyak), dan akhirnya tetap mendapat nilai C di akhir semester. Nampak tidak ada perubahan yang dilakukan selama 1 semester berikutnya dan pola ini seperti siklus. Hingga akhirnya, mahasiswa nilai C berada di akhir semester mereka kuliah. Walaupun begitu, tidak semua mahasiswa nilai C bersikap seperti itu. Sebagian lainnya ada yang biasa saja mendapat nilai C tersebut (mungkin karena udah terlalu sering dan paham kerasnya kuliah), ada yang menyesal dan berniat berubah semester berikutnya (dibarengi dengan realisasi pastinya), dan ada juga yang tidak peduli karena intinya yang penting lolos sehingga tidak perlu mengulang semester depan.

D..apat hidayahnya kok semester ini buat pembelajaran aja

(D)uhh nasibb (sumber: id.wikihow.com)

Mahasiswa nilai D memiliki sifat kedewasaan yang hampir sama dengan mahasiswa nilai B. Berbeda dengan mahasiswa nilai C yang menyesal, mahasiswa nilai D justru terkesan kalem dan menerima apa yang telah mereka dapatkan. Mereka melihat nilai yang didapat dari segi positifnya. Mereka lebih menerima dan menyadari kekurangan mereka selama 1 semester sehingga mendapatkan nilai D tersebut. Biasanya mahasiswa nilai D akan bergumam “Ya dapat hidayahnya kok semester ini, bisa buat pelajaran semester depan”. Mereka lebih mensyukuri nilai D yang didapat daripada menghujat keadaan. Meskipun mahasiswa nilai D harus mengalami kenyataan pahit mengulang matkul bernilai D tersebut semester/tahun depan. Selebihnya, mahasiswa nilai D yang mendapat hidayah akan lebih giat belajarnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kebalikan dengan mahasiswa nilai C, mahasiswa nilai D akan lebih bersungguh-sungguh dan giat untuk belajar karena adanya dorongan mengulang semester hingga menunda wisuda. Hasil yang baik pun bisa didapatkan di semester berikutnya sehingga ucapan mahasiswa nilai D tentang hidayah nyata adanya.

E..eehhh nilai apaan ini, kok gini, eh eh eh (pingsan)

(E)alahh anjir (sumber: faisalriza.com)

Nilai E merupakan nilai yang paling banyak dihindari oleh mahasiswa. Bukan hanya karena nilainya berwarna merah di laporan akademis, tetapi juga tekanan moral yang didapat lebih besar daripada nilai D. Biasanya mahasiswa nilai E ini akan mendapat tekanan batin apabila ditanya oleh teman-temannya. Perasaan tidak bisa menyampaikan nilai tersebut hingga perasaan tidak tega dari teman-temannya turut menyelimuti. Nilai E seperti tanda bahwa selama 1 semester tidak ada hal yang dilakukan dan terkesan sia-sia. Kebiasaan tidur di kelas, tidak mengerjakan tugas, hingga bermasalah dengan dosen bisa menjadi salah satu faktor yang membuat mahasiswa mendapat nilai E. selain itu, faktor keberuntungan juga terkadang mempengaruhi. Bagi mahasiswa nilai E, kewajiban harus mengulang mata kuliah yang mendapat nilai E juga turut membebani. Tiap akhir semester jika terdapat mahasiswa yang sedikit kaget sambil berbicara “Eeehhh nilai apaan ini? Kok gini sih? Padahal kayaknya gue bisa deh? Hmmm ehh ehh ehh…” maka bisa diasumsikan mahasiswa tersebut mendapat nilai E. Bisa jadi setelah kalimat itu selesai mahasiswa yang bersangkutan tergeletak di lantai karena terlalu kaget. Ya walaupun tidak semua mahasiswa pingsan ketika melihat nilai merah E di laporan akademis mereka, tapi mungkin rasa kaget pasti dirasakan.

 

Kehidupan akademis mahasiswa memang tidak selalu manis atau pahit. Banyak lika-liku yang dialami mulai dari mendapat nilai A hingga nilai E seperti yang telah disebutkan di atas. Ada yang bilang kuliah gak afdol kalo gak ada matkul yang ngulang. Hmm mungkin untuk sebagian mahasiswa bisa membenarkan pernyataan tersebut, tapi mungkin sebagian mahasiswa lain ada yang berjuang untuk menjaga laporan akademis mereka mulus alias tidak ada matkul yang mengulang. Apapun pilihannya, selalu belajar dan bersyukur harus diutamakan agar kehidupan mahasiswa kalian lebih indah. Biarlah nilai menjadi kumpulan angka dan huruf sebagai saksi bisu perjuangan kalian selama berkuliah. Di luar nilai banyak hal yang lebih penting untuk mencapai sebuah keberhasilan. Misalnya seperti sebuah kalimat, “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil”.

BACA JUGA: 4 Jurus Rahasia Buat Naikin IPK Kamu

Daripada Liburan Gitu-Gitu Aja, Yuk Kita Iseng-Iseng Ikutan Magang!

Magang? Apaan tuh? Macaroni panggang? Masalah pinggang? Atau apa?

BUKAN!

Magang merupakan sebuah kegiatan pelatihan kerja yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas calon pegawai. Dalam Undang – Undang No. 13 tahun 2003 disebutkan bahwa Pemagangan (bukan Pemanggangan) adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Selain itu pada pasal 21 sampai 30 juga dibahas lebih lanjut loh tentang magang.

Wah, berarti magang ini jadi salah satu point yang diperhatikan oleh Pemerintah juga ya.

 

Okay, jadi kenapa kita harus magang?

Belajar merasakan susahnya kerja dengan magang (via metrobali)

Yup, sebenernya magang ini penting loh! Karena dengan magang kalian bisa tau bagaimana caranya untuk mengaplikasikan ilmu yang udah kalian dapatkan di bangku kuliah dan bagaimana kehidupan para pekerja. Nggak cuma calon pegawai aja yang melakukan magang, tapi kalian sebagai mahasiswa juga bisa!

Sering nggak sih kalian denger kating-kating yang udah lebih dulu kerja bilang “kerja tuh beda banget sama kuliah” kadang malah ada yang bilang pas kerja mereka merasa kalau mereka masih benar-benar buta banget sama ilmu yang dia punya, padahal pas masa-masa kuliah, nilainya dia bagus-bagus aja tuh bahkan cumlaude! Yup, kalian pasti jadi mikir “dia aja yang cumlaude masih ngerasa kosong, gimana aing yang udah lulus aja sukur?” Nah, melalui magang ini kalian bisa latihan sebelum benar-benar terjun pada dunia tersebut nantinya.

 

Selain itu, kalian sering nggak sih menemukan lowongan pekerjaan yang mengharuskan pelamarnya itu udah punya pengalaman sebelumnya?

Ya.. sebagai fresh graduate emang rada gamungkin ya bisa dapetin pengalaman kerja tiga tahun sedangkan dia juga baru lulus setahun. Tapi, setidaknya kalau kalian magang, kalian akan dapet point plus dibandingkan fresh graduate lainnya, karena kalian udah lebih berpengalaman di bidang tersebut. Tapi tenang, kalau kalian memang sesuai dengan kriteria yang mereka cari namun pengalaman kalian masih dikit, nggak menutup kemungkinan kok! bisa aja kalian dilirik. Berdoa aja.

 

BACA JUGA: Raja Salman Ke Indonesia, Anak UI Bisa Magang Di Arab Saudi!

 

Tentu aja magang juga bisa memberikan nilai lebih lainnya bagi kalian. Kenapa?

Lumayan banget kan kalo kamu dapet sertifikat magang (via iacsp)

Yup, kalau ikut organisasi kayaknya udah umum banget nggak sih di kampus? Kecuali kalau kalian jadi ketua organisasi tersebut, gitu. Nilai plus dibanding teman-teman kalian ini bisa didapatkan kalau kalian ikut lomba atau olim dan juga magang.

Nah, tapi untuk menang jadi juara gitu emang rada sulit, kan. Pasti kadang banyak yang sering males juga buat ikutan lomba, kecuali kalau kalian memang punya passion dalam hal tersebut dan memang punya jiwa kompetitif. Tapi, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kok! Bisa lah menang, coba aja dulu… percaya deh hehe.

Kalau kalian nggak terlalu tertarik sama lomba-lomba gitu, salah satu jalan yang bisa kalian tempuh yaitu dengan mengikuti program magang ini.

 

“Hmm, gimana caranya dapetin lowongan magang?”

Kalian bisa buka web cdc.ui.ac.id ataupun international.ui.ac.id untuk magang di luar negeri. Selain itu kalian juga bisa cari lewat jobstreet, urban hire, bukapintu, dan sebagainya. Tapi, nggak semua perusahaan menginfokannya secara langsung. Meskipun begitu, bukan berarti nggak ada peluang magang di perusahaan tersebut loh, kalian bisa coba telepon ke perusahaannya atau tanya teman dan kerabat kalian yang kerja di perusahan tersebut.

Terkadang ada perusahaan yang memang membuat program semacam internship yang disisipi pembekalan leadership juga seperti yang diselenggarakan oleh Unilever maupun Schlumberger yang bisa kalian lihat infonya melalui website terkait.

 

“Duh kan gue belum bisa apa-apa, nanti malah kenapa-kenapa lagi kalo gue magang?”

Wajar sih kalo nggak bisa apa-apa dan banyak salah, namanya juga lagi belajar. (via massmep)

Tenang aja, nantinya kalian juga akan dipantau dan diberikan arahan sama pekerja yang lebih berpengalaman kok. Justru lewat magang ini kalian bisa lebih banyak belajar melalui yang udah profesional, dan kalau memang melakukan kesalahan minor mungkin masih bisa lah untuk diberikan toleransi, mereka juga paham kalau kalian masih belajar, dan umumnya kalian nggak dilimpahkan pekerjaan yang terlampau sulit kok.

Selain itu, dengan magang kalian bisa paham bagaimana susahnya cari uang, jadi kalian bisa mikir-mikir lagi kalau mau nongki-nongki cantik atau shopping barang-barang yang nggak terlalu kalian butuhkan.

Coba liat para pekerja, pagi-pagi udah jadi pepes di KRL, keluar KRL ngantri lagi buat keluar stasiun, abis itu ganti naik metro mini atau ojek dan sebagainya serta kena asap kendaraan bermotor, belum lagi pas udah sampai di kantor banyak kerjaan yang menumpuk dan ditambah kalau kena omelan bos, client, customer, dan sebagainya, begitu juga pas pulang harus berjuang juga. Wah, capek banget nggak sih pastinya?

 

BACA JUGA: 4 Pertanyaan yang Biasa Ditanyakan di Wawancara Magang

 

Well, segitu dulu bahasan tentang magang kali ini. Bagaimana? Tertarik nggak buat coba magang di liburan ini?

Hal-Hal ‘Horor’ yang Dialami Mahasiswa Rumpun Sains

Kita tahu pasti setiap fakultas di UI ini punya cerita mistisnya masing-masing, mau itu di fakultas rumpun teknologi, sosial humaniora ataupun kesehatan, ya kan? Nah, kali ini ceritanya datang dari rumpun sains, tepatnya FMIPA. FMIPA? Pesantrennya UI? Fakultas dengan mahasiswa terbanyak di UI? Emang iya? Pasti banyak banget julukan-julukannya, ya kan? Selain itu, konon katanya FMIPA ini adalah fakultas pertama di UI yang pindah ke Depok lho, benarkah? Hayo, hayo, hayo, pada tahu nggak nih?

Nah Sobat Anak UI sekalian, kalian kalau udah denger kata horor pasti langsung mikir makhluk gaib; Kuntilanak? Tuyul? Pocong? Eits, meskipun memang di FMIPA ini juga ada banyak makhluk horornya, tapi  ada juga lho hal-hal yang berbau horor. Jadi, kata horor disini bukan diartikan sebagai makhluk-makhluk mistis. Kata ‘horor’ disini lebih kepada kegiatan yang dianggap ekstrim (horor) oleh mahasiswa FMIPA. Apa aja itu, yuk diintip!

 

BACA JUGA: (Horor) Ternyata Dosen Baru yang Ngajar di FHUI Tengah Malam Itu Adalah…

 

Dosen

Ya ya ya (via sidicka)

Di UI ini terutama di fakultas kamu-kamu semua, dosen pasti bermacam-macam jenisnya dari mulai yang ‘killer’ sampai yang lembut selembut sutera hatinya. Nah, kalau dosen FMIPA pun sama sampe-sampe bikin pusing kepala. Berikut adalah keunikan dosen-dosen tersebut; berkata ‘nilai A untuk Tuhan, nilai A- untuk saya, dan sisanya kalian’

Namun percayalah tidak semua dosen seperti ini, memiliki aturan main ketika masuk kelas dan aturannya adalah seperti ini loh;

“Mahasiswa yang datang setelah saya masuk harus keluar walaupun jam kuliah belum dimulai. Ketika saya sudah ada di kelas, tidak boleh lagi ada mahasiswa yang masuk meskipun dia tidak terlambat.” Cukup unik memang. Satu kata buat kamu yang dapet dosen kayak begini: Sabar. Ini ujian.

 

Pre-Test dan Post-Test

Hadeeeeh (via gogetatip)

Apaan nih? Ujian harian?

Yup, bener banget. Pasti kalian udah  tahu kan, pre-test dan post-test ini biasanya juga rangkap bareng Jurnal Praktikum dan Laprak. Jadi, selain harus ngelaprak dan ngejurnal, kalian juga harus belajar buat menghadapi pre-test atau post-test ini untuk praktikum.  Eits, pre-test dan post-test ini bukan cuma buat praktikum kimia aja, tapi juga untuk jenis praktikum lain. Nah, kalian tahukan bedanya pre-test dan post-test? Ya, dalam waktu pelaksanaannya. Kalau pre-test itu dilakukan sebelum praktikum, sedangkan post-test sesudah praktikum. Kebanyakan mahasiswa lebih merasa enak di post-test. Kenapa? Karena bakalan ada pemaparan materi terlebih dulu.

Umumnya, pre-test dan post-test ini diperuntukkan bagi program studi yang ada unsur praktikumnya seperti Kimia, Biologi, dan mungkin Fisika atau Geografi. Kalau di FMIPA sendiri,  pre-test dan post-test sering dilakukan sebanyak 2-3 kali selama seminggu atau bahkan ada saja yang lebih dari itu. Kalau kalian punya 3 mata kuliah berbasis praktikum dalam seminggu, maka kalian akan ujian harian (pre-test/post-test) sebanyak tiga kali selama seminggu itu. Jadi, kalian bisa ujian harian sebanyak belasan kali selama sebulan. Itu sih kalau mata kuliah praktikumnya cuma 3, kalau 4, bisa sampai 20 kali.

Disamping itu, pre-test dan post-test punya kelebihan masing-masing, lho. Pre-test membuat kamu berlatih sebelum masuk kuliah, agar ketika perkuliahan berlangsung dapat menyamakan perspektif dan menggali lebih banyak materi dengan bertanya, sedangkan post-test dapat menuntut kamu untuk mengikuti seluruh jalannya perkuliahan. Gimana, pilih post-test atau pre-test?

Jawabannya pasti nggak dua-duanya sih. Hehe.

 

Cenat Cenut Tutup

Eh sumpah Cenat Cenut tutup!!! Eh gimana dong…?

Apa itu Cenat Cenut? Cenat Cenut adalah tempat serbaguna untuk mahasiswa FMIPA yang didirikan oleh babang-babang perkasa. Kalau di fakultas kamu ada foto-kopian, tempat nge-print, tempat cetak foto, bahkan koperasi yang nyediain alat tulis dan barang-barang keperluan mahasiswa, maka Cenat Cenut adalah gabungan dari itu semua. Cenat Cenut adalah tempat terlaris, teramai dan tersibuk di FMIPA.

Kenapa namanya Cenat Cenut?

Sumpah, dari dulu nggak ada yang pernah tahu makna terselubung dari nama ini dan nggak berani juga nanya ke babang-babang perkasa yang ada di sana. Mungkin karena Cenat Cenut adalah tempat yang selalu on time setia dari pagi sampai sore, makanya dinamain Cenat Cenut (kayak jantung yang berdetak terus, jadi ber-Cenat Cenut). Kalau si Cenat Cenut ini tutup, percayalah mahasiswa FMIPA bakal gentayangan nggak jelas untuk nyari tempat macam Cenat Cenut. Tutupnya Cenat Cenut adalah bencana besar buat mereka-mereka yang deadliner dan para ambiser.

 

BACA JUGA: Geosains: Program Studi Junior di FMIPA yang Mirip-Mirip Ilmu Perminyakan dan Pertambangan

 

Laprak Belum

Perjuangan membuat laprak. (via kampusholic)

Laprak? Makanan? Itu Ketoprak! Laprak? Laprak aja, biar kapok! Itu sih Labrak.

Laprak itu adalah kependekan dari Laporan Praktikum, ya pasti semua manusia tau lah ya. Laprak bukan hanya ada di FMIPA tapi juga ada di fakultas-fakultas Rumpun Ilmu Kesehatan contohnya FKM. Nah, hampir semua jurusan di FMIPA ini memuat matkul yang ada lapraknya. Konon katanya, anak-anak Kimia sering banget nggak tidur gara-gara nge-labrak, eh, nge-laprak maksudnya. Jelas, Kimia basisnya praktikum banget, Sob.

Nah, gimana kalau ada yang belum nge-Laprak?

SKS (sistem kebut sedetik)

Nih ciri orang yang belum ng-laprak; diem-dieman tapi dalam hati panik, bergaya santai tapi tangannya gerak cepat, kena tremor secara tiba-tiba, pas jam praktikum belum dimulai masih muka-muka biasa, pas temen bilang “masuk, ada dosen” baru bilang “eh laprak gue belum kelar” baru deh rasa panik meningkat signifikan. Jangan tiru adegan itu ya, karena Laprak dapat sangat berpengaruh pada rekap nilai kita nanti.

Buat kalian yang belum tahu, Laprak ini muatannya terdiri dari data pengamatan, pembahasan yang bisa sampe berlembar-lembar , perhitungan, lembar dokumentasi praktikum dan MSDS (Material Safety Data Sheet) yang berisi informasi tentang zat-zat yang ada di praktikum. Dan, semua muatan di atas itu dari mulai data pengamatan, pembahasan, perhitungan sampai MSDS wajib ditulis tangan tanpa terkecuali.

Terkesan ribet memang, tapi bobotnya lumayan. Selain itu tahu nggak sih, kalau untuk praktikum Kimia, si Laprak ini selalu barengnya sama Jurnal Praktikum yang kira-kira 3-4 lembar. Pokoknya, Laprak sama Jurnal Praktikum ini kayak Romeo dan Julietnya semua tugas-tugas, mereka takkan bisa terpisah oleh ruang dan waktu deh.

 

Ujian Teng-Tengan

Hah? Ayu Ting-ting? Ada Ayu Ting-ting di FMIPA?!

Parah. Bukan Ayu Ting-Ting ya, Sobat. Tapi Ujian Teng-tengan. Adanya dimana tuh? Fisika? Kimia? Matematika? Geosains? Geografi? Biologi? Yup, jawaban yang terakhir saaaangaat tepat. Apa sih ujian teng-tengan? Ujian yang paling dipertanyakan dan ditakutkan maba-maba Biologi.

Berbeda dengan jenis ujian lain, dalam ujian teng-tengan ini kamu bakal dikasih 50 soal isian tepat bisa beranak pinak macam ayam, setiap soal berada di meja yang berbeda dan dikasih nomor soalnya, lalu setiap satu menit sekali ketika lonceng dipukul berbunyi “Teng” maka Sobat harus berpindah ke soal berikutnya. Kenapa harus pindah? Karena teman di samping kita akan bergeser ke tempat kita untuk mengisi soal tadi. Pergeseran akan terus berganti sampai semua mahasiswa mencicipi 50 soal tersebut.

Tidak boleh ada yang lirik kanan lirik kiri lho. Ya kali mau nyebrang. Kalau ada yang ketahuan lirik kanan lirik kiri, percayalah semua yang ikut ujian itu akan terkena imbasnya. Kok bisa? Karena semua Asisten Lab berdiri di setiap sudut, Sobat. Dan saat satu orang ketahuan sedikit saja melirik, lonceng akan berbunyi sangat cepat meskipun belum tepat satu menit. Jadi, semua mahasiswa bakal berpindah terus-terusan tanpa mengisi soal. Jangankan mengisi, ngeliatpun nggak bakal sempat karena kalau sudah dipinta “geser” wajib “geser”.

Nah, yang ditakutkan dari ujian ini adalah kalau ada lebih dari 5 orang yang lirik kanan lirik kiri di waktu yang berbeda, bakal ada banyak soal yang nggak keisi. Kalau udah kayak gini, suhu ruangan akan meningkat, udara menipis, keringat bercucuran, tubuh panas dingin, dan jantung akan berkontraksi lebih cepat dari biasanya!

Jadi jangan berani lirik-lirik saat ujian ini, ya. Mau kalian bertanya atau tidak, mencontek atau tidak, saat ujian ini semua harus menunduk. Karena di sini bukan lagi ‘lirikan matamu menarik hati’, tapi ‘lirikan matamu membuat rugi’.

 

BACA JUGA: Tujuh Tipe Maba di Universitas Indonesia, Kamu Termasuk Tipe yang Mana?

 

Nah, itulah beberapa hal ‘horor’ yang sering banget dilalui mahasiswa FMIPA. Dari yang awalnya simple-simple saja sampai yang bikin tubuh panas dingin luar biasa. Nggak kerasa sudah selesai perjumpaan kita, Sobat AnakUI.com. Gimana? Gimana apanya? Ya, gimana habis bacanya, seru atau serem atau kaget atau sedih? Pasti perasaan kalian beragam, ya kan? Iya aja lah, mumpung perasaan kalian masih anget-anget, Yuk share biar semua pada tahu dan biar semua pada ingat dengan nge-Labrak, eh, nge-Laprak maksudnya.

Busy vs Productive: Cek di Sini untuk Melihat Apakah Sibukmu Berfaedah!

“Duh ntar ya, gue lagi sibuk banget”

“Eh jangan sekarang dong! Gue minggu ini hectic banget, nggak ngerti lagi”

Seberapa banyak dari kalian yang sering banget denger kata itu keluar dari mulut temen lo atau bahkan lo sendiri yang berkata-kata demikian? Kalau sering nih, pasti orang tersebut atau mungkin lo sendiri adalah aktivis di dunia perkampusan ini ya. Well, enaknya jadi mahasiswa memang nggak terulang dua kali, jadi pasti kita berlomba-lomba untuk disibukkan dengan berbagai hal yang sesuai dengan minat kita. Tapi nih tapi… sebenarnya kita itu sibuknya berfaedah alias produktif nggak sih?

Nah, sebelum mengecek kefaedahan kegiatan kita yang seabreg itu, kita harus tahu nih perbedaan antara sibuk dengan produktif. Sibuk berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai keadaan yang penuh dengan kegiatan serta banyak yang dikerjakan. Sementara menurut KBBI juga, produktif adalah bersifat atau memiliki kemampuan untuk menghasilkan dan mendatangkan manfaat dalam jumlah yang besar serta berjalan terus menerus.

Yuk, sekarang kita cek termasuk sibuk atau produktif-kah diri kita?

 

BACA JUGA: Bercita-Cita jadi Mahasiswa Seimbang? Yuk Ikuti Tips Berikut ini!

 

1. Punya Banyak Goals VS Punya Prioritas

Atur prioritas kamu! (via www.pexels.com)

Orang sibuk selalu ingin melakukan hal ini dan itu. Pokoknya dia nggak boleh diam dan selalu ingin bergerak. Memiliki goals yang banyak atau over ini justru menunjukkan bahwa dia tidak mengerti apa sesungguhnya tujuan hakiki yang ingin dia raih. Sementara, orang produktif memiliki prioritas-prioritas tertentu. Dimana ia akan menomor satukan tujuan utamanya diantara segala kesempatan-kesempatan lain yang mungkin sangat bisa untuk dia ambil. Hanya saja, kesempatan baik itu mungkin tidak sesuai dengan prioritasnya, jadi ia mengesampingkannya dan tidak menambahkannya sebagai goals baru.

 

2. Cepat Memberi Jawaban VS Berpikir Secara Berhati-hati.

Mikir, bro. (via www.pexels.com)

Diajak ikut kepanitian ini, YUK.

Ada oprec itu, TANCAP.

Open tender nih, GAS.

Organisasi ini lagi cari staff loh, CUS!

Orang sibuk akan langsung mengiyakan segala hal dan kesempatan baik yang ditawarkan kepadanya. Tentunya tanpa berpikir terlebih dulu apakah itu bermanfaat dan sesuai dengan tujuannya atau tidak. “Yang penting gue do something. Daripada gabut kan”, begitulah kira-kira yang terjadi. Bedanya, orang produktif akan berpikir dengan sedemikian rupa apakah itu bermanfaat, sesuai dengan tujuannya atau tidak. Makanya, jangan heran apabila ada orang yang berkualitas baik namun seringkali menolak kesempatan-kesempatan keren yang sangat capable dengan dirinya. Bisa jadi itu karena dia tahu benar untuk apa dan apa yang sedang ia lakukan.

 

3. Complains That They are Busy VS Lets The Result Speak for Themselves

Let the result speaks (via pinterest)

Sering dengar keluh kesah orang seberapa hectic dan sibuknya mereka? Nah bisa jadi itu fix banget mereka adalah orang-orang sibuk. Karena, hanya orang-orang sibuk yang mengambil segala kegiatan yang ada lalu mengeluhkannya terus menerus. Sebab, kebanyakan tidak mengerti dengan pasti untuk apa semua kegiatan ini dilakukan sehingga itu membuat kita berkeluh kesah. Kalau orang produktif? Orang produktif bisa jadi juga akan melakukan hal sebanyak si orang sibuk tersebut. Namun, akan kecil kemungkinannya ia sering berkeluh kesah akan “kesibukannya” itu. Karena, ia mengerti apa tujuan ia melakukan semua hal itu. Lagi biasanya, hasil dari produktifitasnya itulah yang akan make the noise tentang kesibukan dirinya.

 

4. Mengeluh Tidak Punya Waktu VS Mendedikasikan Waktunya untuk Hal-Hal Penting

Bagi waktu untuk hal-hal penting (via www.pexels.com)

Sama seperti sebelumnya, orang sibuk akan mengeluh waktu 24/7 tidak akan cukup buatnya melakukan setiap hal yang ditanggung. Itu karena ia tidak memikirkan matang-matang saat memutuskan apa-apa saja yang akan dia lakukan dan bagaimana melakukan semuanya itu. Orang produktif sejak awal akan berpikir tentang waktunya, bagaimana ia dapat mengelola waktu 24/7 itu untuk hal-hal yang berfaedah dan menghasilkan sesuatu.

5. Menanyakan Pendapat Orang VS Bertindak

Just do it! (via www.pexels.com)

Menanyakan pendapat orang itu tidak salah sama sekali. Malahan seringkali akan membantu kita untuk dapat berpikir lebih bijak. Namun sayangnya yang sering dilakukan adalah terlalu banyak atau terlalu lama untuk bertanya opini orang sehingga kita jadi lupa untuk bertindak. Padahal dengan bertindak, kita sedang memulai untuk menghasilkan sesuatu secara lebih konkrit.

BACA JUGA: Alasan yang Bisa Kamu Pake ketika Udah Males Nerima Tawaran Organisasi/Kepanitiaan

Nah, itu tadi 5 kunci untuk melihat apakah kamu orang sibuk atau orang produktif. Nggak salah kok untuk memiliki kesibukan tersendiri, asal kita tahu apa tujuan kita melakukan tersebut dan kita dapat menghasilkan berbagai hal melaluinya. Jangan sampai waktu asyik kita jadi mahasiswa yang nggak akan terulang dua kali itu akan tersia-siakan oleh kegiatan yang mungkin positif, namun kurang berfaedah untuk kita. Jadi, hati-hati ya! Semangat menjadi produktif!

Siapa Bilang UAS Cuma Bikin Stress Doang? Nih, Hikmah Tersembunyi di Balik UAS!

Yay, liburan bakal segera datang!

Akhirnya bisa tidur tanpa harus nyetel alarm, bisa puasa makan indomie, dan hidup tanpa beban.

Eits tunggu dulu, masih ada pekan UAS yang sudah semakin dekat, nih! Semua mahasiswa udah mulai kelimpungan belajar persiapan UAS. Ada yang mulai bolak-balik perpus buat cari materi, ada yang mulai rajin ke fotokopian buat dapetin soal tahun lalu, ada juga yang masih santai dan bingung harus ngapain. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan akan adanya UAS, apalagi kalau bobotnya sekitar 40-50%, dan ditambah lagi kalau dalam sehari ada 2-3 mata kuliah yang diujikan. Hmmm, bikin stress banget nggak, sih? Satu matkul sehari aja udah kelabakan kalau bobotnya besar, apalagi dua? Mau nggak mau harus belajar ekstra ya… dan berusaha mengesampingkan hal-hal yang nggak jadi prioritas.

Kalau dia sering banget ngilang pas masa-masa kayak gitu, berarti kamu emang bukan prioritasnya.

Hehe ngga deh, malah itu jadi sisi positif, berarti dia fokus menyusun masa depannya.

Buat anak Generasi 90’an, Masih inget nggak sama lagunya Milka yang Hikmah?

Yup, di liriknya tertulis “Aku percaya tiada yang sia-sia, semua ‘kan ada hikmahnya…”

Admin juga percaya kok, kalau semua ada hikmahnya… hehe.

Berikut ini admin udah nge-list hikmah-hikmah yang bisa kalian ambil dari adanya UAS ini. Yuk langsung aja intip list-nya!

 

BACA JUGA: Untuk Kamu yang Selalu Khawatir Sama Teman yang Keluar Duluan Saat Ujian Semester

 

Mendekatkan diri kepada Ilahi

Mari mendekatkan diri kepada ilahi agar ujian ga nangis sendiri (via mtqmn14)

Bukan rahasia umum lagi kalau mendekati UAS akan banyak sosok religius yang mulai muncul di permukaan. Semua orang mendadak jadi lebih sering ibadah. Yang biasanya jarang sholat, kini jadi sering keliatan di mushola, begitu juga dengan pemeluk keyakinan lainnya.

Alasannya beragam sih, ada yang berdoa agar dilancarkan ujiannya, ada yang ingin meningkatkan iman biar ujiannya berkah, dan ada juga yang udah bingung mau ngapain dan gangerti apa yang dipelajarin. Jadi, yaudah… berdoa aja, siapa tau dapet wangsit pas ujian nanti, gitu.

 

Dipaksa belajar

Harus jadi manusia super dulu biar bisa belajar (via memesuper)

“Eh, tadi dosennya ngomong apaan, deh?”

“Ha? Apaan? tadi gue ga perhatiin”

“Eh, lo tau nggak tadi maksud dosennya tuh ini apa ya?

“Baru bangun tidur gue, bro!”

Kalian sering nggak sih nemuin mahasiswa yang di kelas kerjaannya tidur, main game, dan ngerjain tugas lain? Boro-boro ngerti penjelasan dosen, tau apa yang lagi dijelasin aja udah sukur. Nah dengan adanya UAS ini, mau nggak mau kita harus belajar dan tau apa yang jadi pokok pembelajarannya. Setidaknya hal ini mendidik kita buat jadi manusia super. Iya, ngulang pelajaran satu semester dalam satu malam, hehe.

 

Bisa jadi lebih dekat sama gebetan

Ea. (via okezone)

Hmm, yang ini sih sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, ya. Alasan belajar bareng buat UAS bisa dijadiin andalan buat kalian yang lagi PDKT! Siapa tau setelah UAS kalian akan menemukan titik terang akan hubungan yang sedang dijalani, gitu.

 

Bagi-bagi rezeki

Makan banyak adalah koentji (via herkampus)

Sadar nggak sih kalau menjelang pekan UAS, biasanya kalian jadi lebih boros? Mulai dari ngeprint bahan kuliah, fotokopi tentir, beli jajanan buat nemenin begadang, atau mungkin untuk refreshing kalau emang udah mumet banget.

Biasanya sih langsung nyesel gitu setelah selesai UAS akan keborosan yang terjadi saat itu, apalagi selanjutnya bakal ketemu liburan plus bulan puasa, kan? Hmmm pastinya undangan bukber bakal bertebaran di mana-mana! Mulai dari temen SD, temen SMP, temen SMA, temen OSIS, temen Year Book, temen Kuliah, temen kepanitian A-Z, temennya doi, temennya temen, temennya dari temennya temen, temennya sepupu, temen hidup, dan sebagainya.

Ya… nggak papa sih boros dikit, anggap aja kalian lagi bagi-bagi rezeki.

Kalo nggak, yakinin aja kalau kalian lagi ikut membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Aih, mancay!

 

Bahan pembicaraan

Mending ditanya ujian apa ditanya wisuda? (via nitariway)

Yup, setelah UAS biasanya kita akan memasuki fase liburan! Biasanya saat masa-masa liburan ini, kita bakal ketemu sama keluarga besar kayak om, tante, pakde, bude, ncang, ncing, kakek, nenek, eyang, oma, opa, opung, uyut, popo, dan sebagainya. Lumayan kan, topik pembicaraan bisa berubah dari yang biasanya “Gimana? Kok pacarnya nggak pernah dikenalin sama uyut?” berubah jadi “Gimana? Ujiannya bisa nggak kemarin?” Hehe, jadi kalian nggak perlu pusing mikirin alasannya, kan?

 

BACA JUGA: Ini Dia Tipe-tipe Mahasiswa Saat Menghadapi UAS, Kamu Termasuk yang Mana?

 

Yup, segitu aja sih hikmah yang bisa admin ambil. Mungkin masih banyak sih hikmah-hikmah dibalik UAS lainnya yang belum berhasil admin petik.

Sampai ketemu lagi di post selanjutnya, ya!

Hal-Hal Murah yang Bisa Kamu Lakukan Saat Malas Kuliah Menyerang

Rasa malas yang datang saat kuliah berjalan memang seperti akun UI Cantik. Bikin khilaf, tapi susah dilepaskan. Tapi akun UI Cantik masih mending, seenggaknya masih bisa di-stalk dan bisa dijadiin referensi jodoh. Lah rasa males? Udah bikin khilaf, nggak bisa di-stalk, nggak berfaedah buat jodoh pula, bah!

Memang benar kalau ada yang bilang bahwa rasa malas itu adalah hakikat kehidupan: Ia pasti ada dalam episode kehidupan manusia. Tanpa rasa malas, manusia bakal ngelakuin semuanya sendirian tanpa bekerjasama dengan orang lain karena saking semangatnya. Tanpa rasa malas, banyak inovasi zaman modern ini yang mungkin nggak akan hadir dan menemani, kayak kamu. Tanpa rasa malas, nggak bakal ada lift di jagad UI, nggak bakal ada bikun yang menemani, dan mungkin belanja online, harbolnas, dan nego cincay juga nggak akan ada, yang kesemuanya itu adalah berkah kehidupan.

Walaupun rasa malas adalah hakikat kehidupan, bukan berarti rasa malas harus dipiara dan ditumbuhkembangkan dan menjadi panutan remaja di seluruh SMP se-kecamatan. Rasa malas itu harus disikapi secara tepat karena apabila dibiarkan, maka rasa malas itu akan berbahaya bagi kehidupan dan mahasiswa UI nggak bisa lagi mengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia. Apabila keadaannya begitu, maka hanya ada satu kata: LAWAN!

Eit, tapi tunggu dulu! Sebagaimana YangLeks Al-Zimbabwewiyah memberikan nasihat bijaknya “Tapi masih batas wajar”, maka ngelawan rasa males di sini juga harus dalam batas wajar. Terus juga harus ekonomis, biar bisa nabung beli dinamo kilikan. Yang kesemuanya itu bakal dibocorin di sini. Nah, kuy nggak nih? Kuy lah…

 

1. Cek Absen

Siapa di sini yang nggak pernah titip absen? Kamu hebat! (via wartawantanpabayaran)

Hal pertama dan yang paling utama saat kamu merasa malas saat kuliah adalah dengan mengecek absen kamu. Selain itu, kamu juga harus perhatiin kesepakatan dengan dosen dalam mata kuliah yang kamu ambil mengenai kehadiran. Kalau kesepakatan dengan dosen kamu membolehkan untuk tidak seratus persen hadir dalam suatu mata kuliah dalam satu semester, maka kamu beruntung. Dengan demikian, kamu bisa memanfaatkan satu (benar-benar “satu” secara harfiah) pertemuan mata kuliah untuk hal lain yang dapat menumbuhkan semangat kuliahmu kembali. Yang “hal lain” itu akan dijelaskan pada poin-poin berikutnya.

 

2. Naik KRL

Bersyukurlah, kita nggak harus kayak gini setiap hari (via nyoozee)

Hal berikutnya ini bisa kamu lakukan kalau kamu sudah memenuhi langkah pertama. Kalau kamu nggak memenuhi, mendingan cari hari lain yang nggak ada kelas, hari Minggu misalnya. Buang jauh-jauh pikiran untuk titip absen walaupun kamu bisa karena di kuliah ini integritasmu sedang diuji. Juga buang jauh-jauh pikiran untuk cabut kelas, apalagi kalo kamu belum paham materi dan belum siap UAS.

Nah, kalo kamu udah memenuhi, bisa lanjut…

Langkah kedua ini memang cukup memakan banyak waktu. Pertama, kamu harus beli tiket KRL, kalo bisa sih tiket KMT, biar lebih leluasa, tapi kalo nggak ada bisa pake tiket yang lain, atau pinjem ke temen. Abis itu, kamu naik kereta pagi di weekdays yang ke arah Cikini/Sudirman/Gondangdia. Dari situ, kamu harus merhatiin orang-orang kerja yang berdesakan di sepanjang gerbong KRL. Lihat, perhatikan, hayati, resapi, dan insafi. Pikirkanlah bahwa kondisi kamu sebagai mahasiswa sesungguhnya tidaklah lebih berat dari beban mereka yang setiap harinya harus ngejar kereta-ngejar waktu buat masuk kerja. Berdesak-desakan pula. Semoga, dari situ kamu bisa mulai mensyukuri apa yang ada sama kamu dan mulai melakukan hal-hal terbaik dalam status “mahasiswa”-mu.

 

BACA JUGA: Gelang Multitrip Commuter Line pasti Keren Banget Kalo Bisa Ngelakuin Hal-Hal Ini

 

3. Makan di Warteg Depan Kosan

Coba deh sekali-kali nggak usah bawa uang ke warteg! (via firdoloto)

Langkah yang ini juga nggak kalah penting. Syaratnya, kamu harus makan di wartegnya (kalo kamu anak PP, kamu bisa makan di warteg depan kosan temen kamu). Jangan dibungkus. Bawa uang yang kurang dari harga makanan yang kamu makan. Kalo bisa setengahnya, atau kalo mau lebih mantap lagi nggak bawa uang sama sekali.

Teknisnya, kamu dateng ke warteg (oiya, ini harus warteg banget, ya. Jangan kafe. Jangan kantin fakultas. Jangan juga rumah makan, walaupun judulnya “sederhana”), abis itu makan, terus pas bayar dengan mengeluarkan semua uang (yang sengaja dibawa kurang) dengan wajah tanpa dosa. Begitu si ibu wartegnya bilang “Wah, kurang, Dek”, kamu jawab “Wah kurang ya Bu? Tapi sekarang saya cuma ada segitu, Bu. Boleh bayar nanti nggak bu?”.

Kalo kamu udah sampe tahap itu, selamat. Tapi jangan dulu lepas wajah tanpa dosanya. Kamu harus mastiin dulu si Ibu meng-iya-kan permintaan kamu. Udah gitu, baru deh pas pulangnya kamu mulai melakukan refleksi atas kejadian tadi. Bahwa sesungguhnya kuliah tidaklah sama dengan makan di warteg yang bisa bayar nanti-nanti kalo udah sukses. Juga, kuliah itu nggak murah. Maka dari itu, jangan buang-buang kesempatan berharga ini dengan bermalas-malasan.
Oh iya, jangan lupa lunasin utang di wartegnya ya! Kasian si Ibunya : (

 

4. Buka Grup WA Keluarga

Kalau di grup WA keluargamu nggak ada yang kayak gini, bersyukurlah.

Berikutnya, untuk membuat usaha melawan rasa malasmu semakin mantabsoul, kamu harus coba langkah sederhana (secara teknis dan secara finansial) ini. Caranya gampang banget. Kamu bisa make paket data, Wi-Fi kampus, Wi-Fi kosan, atau minta tethering temen untuk bisa connect internet. Berikutnya, kamu buka grup WA Keluarga kamu yang selama ini hanya penuh oleh broadcast Ayah dan Ibu kamu. Tapi jangan dulu baca broadcastnya. Buka album, liat foto-foto keluarga kamu satu-satu. Insafi bahwa kamu tidak hidup sendirian di dunia yang kejam ini. Kamu masih punya tanggung jawab terhadap orangtua kamu, adik kamu, dan kakak kamu. Kamu memikul harapan yang dihaturkan oleh keluarga kamu. Jangan sia-siakan harapan mereka.

 

5. Liat Akte Kelahiran

Sudah berapa lama kamu tinggal di dunia ini? (via jogja.tribunnews)

Kalo keempat langkah di atas belom juga berhasil ngilangin atau ngurangin rasa malasmu, ini langkah mutakhir yang mungkin bisa kamu lakukan. Ultimate. Caranya, kamu perlu ngubek-ngubek dokumen-dokumen penting kamu. Cari dan temukan akte kelahiranmu. Liat tanggal lahirnya dan itung udah berapa tahun, berapa bulan, dan berapa hari kamu hidup. Sadari bahwa sesungguhnya kita sudah hidup di dunia cukup lama dan kamu punya banyak target yang belum tercapai. Dari situ, kamu akan terpelatuk untuk sesegera mungkin tidak membuka toleransi terhadap rasa malas dan melanjutkan kehidupan dengan lebih semangat dan lebih berfaedah.

 

BACA JUGA: Kamu Suka Malas Belajar? Hilangkan Kebiasaan Buruk Tersebut dengan Trik Ini

 

Nah, itu dia lima langkah yang bisa kamu lakukan untuk melawan rasa malasmu. Apabila kamu lakukan dengan baik dan benar, maka kamu nggak cuma akan menjalani dunia perkuliahan dengan baik, melainkan juga kamu bisa menjadi pengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia yang paten. Lebih lagi, kalo kamu udah bisa menjalani kuliah dengan baik dan menjadi pengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia, kamu bisa mengurusi hal lain yang juga nggak kalah substantif. Bikin konspirasi dalam pemilu Kazakhstan, misalnya.

Ini Dia Cara Untuk Menghemat Pengeluaran Kalian, Wahai Anak Kos!

Hidup ngekos itu banyak suka dukanya. Sukanya, kalian bisa hidup mandiri, banyak kenalan, bisa aktif organisasi tanpa repot pulang cepet, dan bisa makan mie instan sepuasnya. Dukanya, kalian harus ekstra mengatur berbagai hal, mulai dari rindu yang membara kepada orang tua, masak sendiri, nyuci sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, dan tidur pun sendiri. Tapi, nilai tambah buat kalian anak kos adalah kalian dididik untuk menjadi manajer terbaik untuk keberlangsungan hidup kalian guys!

Namun, sering kali anak kos mengeluhkan keuangannya yang dirasa nggak cukup buat kebutuhan kuliah dan sehari-hari. Sebenarnya sih bukan nggak cukup, tapi emang kalian aja yang belum bisa mengatur keuangan kalian dengan baik. Mengatur keuangan untuk kebutuhan kita selama jauh dari orang tua itu penting dan harus benar-benar tau triknya, jadi nggak repot lagi telepon mama papa tiap hari cuma buat ngasih tau kalau kalian butuh uang.

 

Masak Sendiri

Buat kebanyakan anak kos, nilai tambah mereka setelah menikah adalah jago masak. Yap, masak air sampai panci gosong, mie instan, dan masak nasi. Ya setidaknya punya keahlian masak lah ya. Nah, dengan metode masak sendiri, kalian bisa berhemat puluhan ribu bahkan ratusan ribu per bulannya. Coba aja kalau nggak percaya. Kalian masak nasi bisa buat tiga kali makan, pakai tempe goreng, pakai telor goreng, atau sambel-sambelan, kalau dihitung dari kuantitasnya bisa buat tiga kali makan. Tapi kalau beli? Cuma sekali makan tapi dengan biaya yang sama.

 

Beli Pakaian Cowok

Kalau tips ini dikhususkan buat kaum hawa. Kaum hawa ini termasuk kaum yang sangat memperhatikan penampilan, jadi ada macem-macem bajunya dengan berbagai tipe, dari mulai baju buat kuliah, baju buat main, baju buat masak, baju buat mandi, dan baju buat tidur. Bayangkan, mereka sehari bisa pakai empat jenis baju. Sementara cowok? Kuliah, main, sampai tidur bajunya cuma itu aja yang dipakai. Baju-baju cewek umumnya mahal-mahal, sementara cowok? Kaos oblong 15 ribuan pun jadi. Nah, buat kalian kaum hawa, beli baju cowok aja buat menghemat anggaran beli baju baru, soalnya selain nyaman, juga nggak perlu ribet ikat sana ikat sini, cuma tinggal dipakai dan bisa melenggang kemanapun kalian mau.

 

Makan Sebelum Belanja

Ini juga salah satu kebiasaan para wanita: Belanja! Cewek kalau udah masuk mall, matanya udah jelalatan, nggak tahan beli ini itu, padahal mereka juga butuh beli kebutuhan primer lain. Nggak cuma cewek, sekarang cowok jadi tertular kebiasaan para kaum hawa. Cowok juga mulai banyak yang tukang belanja; dari belanja celana dalem, baju, kaos, kemeja, sepatu, sepatu futsal, sepatu berkuda, sepatu kayu, sepatu boots, minyak rambut, minyak kumis, minyak jenggot, dan lainnya. Perlu kalian ingat, sebelum belanja, usahakan uangnya disisihkan buat kebutuhan lain dulu: makan! Percuma kan kalau kalian belanja buat ganteng-gantengan tapi perut kelaperan dan minta makan sama temen, jadinya ganteng-ganteng tukang minta dong!

 

BACA JUGA: Nikmatnya Ngekos, Bahagianya PP, Enak Mana?

 

Minum Banyak Air

Buat kalian yang biasanya melaksanakan puasa sunah buat menghemat, bahkan sampai puasa setiap hari satu semester penuh, coba sekarang pakai metode lain buat menghemat. Puasa memang biasa dilakukan mahasiswa ngekos buat menekan biaya makan. Nah, sekarang coba deh ganti cara, kalian banyakin minum air putih aja buat menekan rasa lapar. Kalau yang biasanya cuma dua liter aja sehari, sekarang jadiin lima-delapan liter sehari. Pastikan perut kalian sudah terisi penuh dan jadi manusia gelonggongan. Yakin deh, kalian nggak bakal laper, paling kembung.

 

Biasakan Jalan Kaki

Duh, anak ngekos kalau ngekosnya berjarak berkilometer dari kampus, mendingan nggak usah ngekos deh. Buat apa kalian ngekos tapi jarak ke kampus sama aja kaya naik angkot tiga kali? Coba cari kosan yang deket sama kampus, jadi kalau kuliah tinggal jalan kaki aja ke halte bikun terdekat atau naik spekun yang tersedia. Biasakan jalan kaki, selain menghemat pengeluaran transport, bisa juga buat olahraga gratis!

 

Beli Buku Bekas

Ini biasanya yang dijadikan alasan para mahasiswa ngekos buat minta uang tambahan: beli buku buat kuliah. Sering kali memang dosen menyuruh kita untuk membeli buku-buku yang menjadi acuan belajar kita di kelas. Mending kalau itu bukunya tipis dan murah, kalau tebel kan pasti mahal. Untuk itu, cobalah untuk membeli buku-buku itu di toko buku bekas, entah itu tangan kedua, ketiga, keempat atau kesepuluh, asalkan masih layak dan masih bisa dibaca, beli aja! Pasti lebih murah 2-3 kali lipat dari harga barunya.

 

Cari Diskon untuk Pelajar

Kalau bosan makan masakan sendiri yang rasanya asin semua itu, coba deh keluar tapi cari yang menyediakan diskon untuk mahasiswa yang beli. Kalian juga bisa jalan-jalan atau naik angkutan umum yang memiliki kebijakan diskon buat mahasiswa. Dijamin kalian bakal lebih bahagia, apalagi kalau cewek, diskon serasa surga. Kamu cewek dan mahasiswa? Beuh, udah pasti dijamin serasa orang paling bahagia di dunia.

 

BACA JUGA: Kosan Kamu Terus Berantakan? Ini Langkah Bersih-bersih yang Harus Kamu Lakuin

 

Nah, itu dia beberapa hal yang bisa kamu lakuin untuk menghemat keuangan kamu ketika jauh dari orang tua semasa kuliah. Bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kamu biar anak-anak kos lainnya bisa menerapkan tips-tips tadi agar bisa survive selama ngekos!

Bukan cuma Komputer aja yang Bisa Multitasking, Mahasiswa juga Bisa!

Dewasa ini bukan lagi sebuah hal yang tak lazim untuk memiliki dua peran dalam satu waktu, yakni menjadi mahasiswa sekaligus pekerja. Lalu, bagaimanakah kehidupan individu yang mengenyam dua peran itu? Pada postingan kali ini saya akan coba menggambarkan kehidupan mereka.

Menjadi mahasiswa ekstensi yang berkuliah di waktu malam hari membuat para mahasiswa memiliki waktu yang sangat senggang di pagi hari. Banyak dari mereka yang memiliki aktivitas di pagi harinya dengan cara bekerja. Namun, ada juga yang memilih untuk fokus menjalani perkuliahan saja. Well, semua itu pilihan yang memiliki plus dan minus tentunya.

Terdapat ragam profesi di lini akuntansi pada Program Ekstensi Akuntansi FEB UI. Mulai dari senior auditor di sebuah KAP Big 10, pengusaha muda dengan start up business nya, staff akuntansi perusahaan, hingga asistensi dosen untuk vokasi akuntansi UI.

 

Kuliah + Kerja = ?

Kuliah sambil kerja, siapa takut? via mexperience

Saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa semester satu program ekstensi FEB UI 2016 dengan jurusan akuntansi, sekaligus menjadi seorang karyawan divisi akuntansi di sebuah instansi BUMN. Bagaimana rasanya? Hm, tidak bisa hanya dengan dibayangkan, oleh karena itu saya menjalaninya dengan sebaik mungkin. Kaget? Ya, tentu mulai dari perubahan pola tidur dan aktivitas yang harus mengalami penyesuaian. Jam kerja yang dimulai pukul 07.00 s.d 16.00 dan perkuliahan pukul 19.00 s.d 21.30 membuat fisik saya “kaget”. Waktu tidur yang terkadang hanya lima jam, karena pukul 05.15 saya sudah harus berangkat ke kantor dan pukul 22.30 baru kembali di rumah. Pula pernah saya baru keluar dari kantor pukul 17.30 dan mengejar kelas di pukul 19.00.

 

Bagaimana dengan “Me Time”?

Kuliah sambil kerja bukan berarti ga bisa me time, via runtastis

Weekend merupakan “me time” yang sangat berharga. Namun, tak lupa untuk setiap Sabtu pagi diadakan asistensi dosen untuk para mahasiswa ekstensi. Usai asistensi, terkadang saya masih berada di kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh dosen.

Kesal “me time” terganggu karena weekend ke kampus? Bagi saya, “me time” saya adalah ketika saya merasa nyaman dengan rutinitas yang saya miliki dan dengan ditemani oleh teman-teman terdekat saya. Sabtu sore saya maksimalkan untuk hang out dengan teman-teman, hari Minggu saya gunakan untuk merapikan catatan dan mencicil belajar. Senior saya pernah berpesan untuk belajar H-1 bulan ujian agar tidak keteteran, karena sistem SKS itu sebenarnya memang tidak baik dan jangan ditiru ya!

 

Kebersamaan

Kalo ga ada dosen, belajar bareng aja! via ntriwhy

Tak hanya saya yang mengemban dua peran ini, banyak teman-teman yang sama dengan saya. Puji syukur saya memiliki dua teman yang bersama saya (Satu Kelas dan Satu Kantor, Bahkan Satu Divisi) sehingga kami saling mendukung apabila salah satu dari kami mengalami kelelahan ataupun demotivasi.

Pernah suatu ketika kami melihat informasi perkuliahan batal secara tiba-tiba di SIAK NG, sedangkan kami sudah berada di jalan usai bekerja, maka kami memanfaatkan waktu luang tersebut untuk belajar bersama. Kami mempelajari materi yang kami masih belum mengerti. Pula pernah di waktu istirahat makan siang kami belajar karena akan dilaksanakan kuis di malam hari.

Bagi saya memiliki dua peran menjadi mahasiswa dan pekerja merupakan tantangan dimana dituntut untuk memiliki manajemen waktu yang baik, sehingga kata “balance” bukan hanya pada ilmu akuntansi semata, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi.

 

Saran

Teruntuk kalian yang ingin menjalani peran selain mahasiswa dengan cara bekerja, saran saya adalah pertimbangkan lokasi tempat kalian bekerja untuk mobilitas yang efisien. Bekerja sambil berkuliah tidak harus terikat dengan kantor namun bisa juga dengan cara bekerja sistem freelance, seperti dengan cara menjadi guru les privat 🙂

 

 

Salam semangat, untuk para mahasiswa sekaligus pekerja!
Bright Future Awaits, InshaAllah.

 

Naufal Afif
Program Ekstensi Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia

Tujuh Tipe Maba di Universitas Indonesia, Kamu Termasuk Tipe yang Mana?

Tidak terasa tahun ajaran baru 2016/2017 sudah beberapa minggu terlewati. Ada yang pergi a.k.a wisuda, ada pula yang datang a.k.a maba. Semuanya seperti siklus yang berulang dan muter-muter di situ juga. Berbicara soal maba, semua pasti udah paham betul maba itu ada banyak macamnya dan beraneka ragam jenis rupanya. Berhubung status mereka sebagai maba masih anget-anget dan ada juga yang masih melaksanakan kegiatan adaptasi kampus, yuk kita bahas kira-kira ada tipe maba apa aja sih di Universitas Indonesia? Berikut ulasannya!

BACA JUGA: Hal-Hal yang Harus Kamu Lakukan Ketika Diterima Jadi Maba UI

 

Maba Males

Maba males via komporui
Maba males via komporui

Maba ini merupakan mereka yang mager banget ke mana-mana, ikut kegiatan ini itu, apalagi kuliah. Maba tipe ini senengnya cuma main dan berkumpul bersama teman-teman, nongkrong, pokoknya seneng-seneng dah.

 

Maba Rajin

Maba rajin via 1080.plus
Maba rajin via 1080.plus

Kalo kamu yang termasuk tipe ini, berbahagialah karena kamu akan memiliki banyak teman; pada saat-saat tertentu doang. Gak deng, maba yang rajin itu selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu, ambisiuslah pokoknya. Tugas OSPEK, tugas kuliah, tugas apa pun pokoknya dia ngerjain duluan dan paling maksimal hasilnya.

 

Maba Introvert

Maba Introvert via imssui
Maba Introvert via imssui

Malu-malu pas awal ketemu, lebih banyak diam sebelum diajak bicara, dan cenderung memperhatikan merupakan salah satu maba yang introvert. Entah emang dia beneran introvert, entah dia emang jaim di awal doang dan ke sininya malah rada-rada.

 

Maba Ya Udahlah Ngikut Aja

Maba Ya Udahlah Ngikut Aja via imssui
Maba Ya Udahlah Ngikut Aja via imssui

Gak bisa dibilang males, gak bisa dibilang rajin. Maba jenis satu ini super duper ya udahlah ketika mengikuti suatu acara. Diajak ayo, gak diajak mah aing kabur.

 

Maba SKSD Plus Caper ke Senior

Maba SKSD Plus Caper ke Senior via bem.cs.ui.ac.id
Maba SKSD Plus Caper ke Senior via bem.cs.ui.ac.id

Belawanan dengan maba introvert di atas, maba yang SKSD ini gampang banget membaur dengan orang baru, saking gampangnya, mereka sok kenal sok deket sama semua orang. Gak apa sih, justru ada bagusnya juga ingin membaur dan kenal sama banyak orang. Akan tetapi, ada juga yang saking SKSD-nya kelewatan, senior pun juga kena. yah, gak dipungkiri bahwa dikehidupan kuliah kita juga butuh yang namanya senior karena mereka tentu lebih ngerti seluk beluk dunia perkuliahan. Yang bikin keselnya, saking mereka butuh sama senior, jadi terkesan caper dan cari muka ke mereka. Halah lagu lama.

 

Maba Danusan

Maba danusan via roninnf16
Maba danusan via roninnf16

Masa-masa mahasiswa baru merupakan masa di mana terjadi gejolak perdanusan dan pencarian uang entah untuk makrab, acara jurusan, dan sebagainya. Dengan muka polos dan bikin-super-iba-nya itu dia dengan lugunya meminta; “Kak, beli dong kak…”

 

Maba Gagal Move On

Maba Gagal Move On via dizamirza
Maba Gagal Move On via dizamirza

Kamu pernah depresi berkepanjangan gara-gara sulit beradaptasi di dunia kuliah? Ya, mungkin kamu termasuk salah satu dari maba yang pengin banget buat balik ke SMA lagi. Atau kalau pun kamu bisa move on dari kehidupan SMA, kasusnya beda lagi: kamu belum move on dari jurusan yang kamu impi-impikan sejak dulu tapi malah gak dapet. Daripada meratap dan mengeluh mulu, mending bersyukur dan maksimalkan masa-masa perkuliahan yang sekarang ini, Nak. You are not alone.

Kira-kira gitu aja sih pengamatan anakui.com seputar maba. Termasuk jenis maba yang mana kamu dulu maupun sekarang, semoga senantiasa dilancarkan kuliahnya dan menorehkan prestasi. Kepal jari-jari tinju. Ya. Gitu aja.

Stereotype Fakultas yang Sering Kita Denger di UI – Bagian 1

Beberapa hari yang lalu anakui.com lewat official account sempat menanyakan pendapat temen-temen mengenai stereotype apa aja sih yang terbentuk di mahasiswa-mahasiswanya mengenai fakultas-fakultas yang ada di UI? Nah, kali ini anakui.com akan mengelaborasi mengenai hal tersebut, memadukannya menjadi satu, biar stereotype tersebut makin melekat di masyarakat. Gak deng, biar stereotype tersebut kalo baik ya semoga tambah berfaedah, kalo buruk ya semoga pergi jauh-jauh. Hehehehe.

Yuk, langsung aja dibaca!

FIB

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari
“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari

Nah, dari sekian banyak pesan yang masuk, yang curhat mengenai FIB ini paling banyak. Kenapa, ya? Mungkin paling banyak terkena stereotype masyarakat kali, ya? Atau karena gak ada kerjaan saking santainya makanya nge-chat mulu? Entahlah. Katanya, anak FIB itu tukang pesta, rokok di mana-mana, gak ada dua anak yang rambutnya sama (lol, mungkin semuanya warna-warni rambutnya), dan selalu ada baazar! Bener sih, beberapa kali dalam sebulan kalo kamu lewat FIB pasti nemuin aja tuh tenda tenda makanan bertebaran.

Dan yang paling sering dibilang orang-orang adalah…

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang!

“BASI!”

Tau gak sih, belajar sastra dan budaya itu gak semudah apa yang kalian bayangin loh!

 BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

FISIP

Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id
Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini melekat dengan mahasiswanya yang keren-keren, nyentrik, super kritis akan masalah sospol di sekeliling kita, tapi sayangnya… males-males. Ah masa iya semuanya males sih? Bener gak tuh? Tapi ya kalo diliat-liat, anak FISIP tuh kayanya paling menikmati masa-masa kuliah di kampus deh, anak muda banget lah pokoknya.

 

FKM

Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum
Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum

Sering dipelesetin jadi Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas. Yak, katanya sih emang kebanyakan ukhti-ukhti di sini. Eh tapi gak juga kok, banyak juga yang gak kerudungan baik cewek maupun cowok (yaiyalah!) Ada juga yang bilang kalo sekarang FKM dibenci perokok wkwkw. Iya, mungkin gara-gara usulan harga rokok yang menjadi Rp50 ribu per bungkus itu merupakan kajian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini kali, ya.

 

FEB

Katanya orang-orangnya ambisius via rri
Katanya orang-orangnya ambisius via rri

Anaknya sih kata orang-orang pada ambisius semua. Hmm, iya juga sih kalo kita lihat secara sekilas, gak tau kalo kebenarannya gimana. Menurut gue sendiri sih, FEB merupakan salah satu fakultas yang selalu totalitas dalam menyelenggarakan suatu acara; JGTC, contohnya. Bayangin aja, meski bukan merupakan proker BEM UI, di masyarakat udah terbentuk mindset dan stigma bahwa JGTC ini merupakan acara yang khas UI banget, saking megah dan berkelasnya!

Nah empat dulu aja ya, gimana? Biar penasaran dan pada nungguin gitu, hehehehehe. Kalo kamu punya masukan mengenai stereotype fakultas kamu, boleh banget chat di Official Line anakui.com (@tkg4665m). Ditunggu ya!

Beberapa Poin yang Harus Kamu Perhatiin Sebelum Mengikuti OBM

Selamat datang di kampus makara, putera puteri terbaik bangsa!

Siapa yang gak merinding dan super haru coba baru masuk aja udah disambut sedemikian rupa? Eits, jangan seneng berlebihan dulu, kamu masih harus mengikuti orientasi untuk menjalankan kehidupan di kampus, baik akademis maupun non akademis. Tapi tenang aja, orientasi yang ini beda banget sama orientasi yang itu, kok.

Yak, Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM) ini merupakan orientasi yang bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru mengenai dunia akademis kampus Universitas Indonesia. OBM ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa sebelum mengikuti masa perkuliahan.

Sebelum mengikuti OBM, biar kamu ngejalaninnya ada persiapan terlebih dahulu dan agar maksimal, yuk coba perhatiin beberapa poin di bawah ini dalam pelaksanaan OBM biar makin seru dan meminimalisir hal-hal yang gak diinginkan!

BACA JU&GA: Ini Hal-hal yang Mahasiswa Baru Rasakan: Balada Semester Perdana

 

Siapa sih yang gak suka orang yang rapi?

Ciptakan first impression dengan berpakaian yang rapi via storyofvianindya
Ciptakan first impression dengan berpakaian yang rapi via storyofvianindya

Berhubung OBM merupakan wadah pertama kamu untuk mengenal dunia kampus, jadi ciptakan first impression kepada dirimu sendiri maupun orang lain dengan berpakaian yang rapi selayaknya mahasiswa. Kemeja flannel, jeans, dan sneakers juga udah cukup kok buat kamu baik mahasiswa maupun mahasiswi Universitas Indonesia! Ditambah dengan tas ransel yang bikin kesan “mahasiswa”nya tuh kerasa banget. Tapi bebas sih, silakan berpakaian serapi dan senormal mungkin yang bikin kamu nyaman, tapi ya gak pake jas dan blouse aja, dong…

 

SKSD aja, nothing to lose kok

OBM jadi wadah untuk kenalan dengan banyak orang via bestmistakeofbella
OBM jadi wadah untuk kenalan dengan banyak orang via bestmistakeofbella

OBM juga merupakan wadah buat kamu kenalan sebanyak-banyaknya dengan berbagai jenis manusia di muka kampus. Mulai dari yang nerdy, super asyik, sampe yang ngeselin juga banyak. Ngobrol asyikin aja, tambahin networking a.k.a jaringan pertemanan kamu. Gak ada salahnya kan nambah kenalan dan banyak teman? Kapan lagi hayo sekelas seminggu full bareng temen-temen dari berbagai fakultas.

 

Tingkatkan ketelitianmu, cek ulang jadwal dan lokasi sebelum berangkat

cek ulang jadwal dan lokasi sebelum berangkat via petrabarus
cek ulang jadwal dan lokasi sebelum berangkat via petrabarus

Kalo kamu gak punya temen sejati yang sekelas dari awal sampe akhir OBM, sudah tentu menjadi tanggung jawab penuh bagi dirimu sendiri untuk meningkatkan ketelitian dan keakuratan dalam pembacaan jadwal serta lokasi OBM. Jangan sampe salah loh ya, nanti kamu malu sendiri hehehehe. Emang sih harus banyak temen dan kenal banyak orang, tapi kalo dikenalnya dengan cara salah ruangan maupun jadwal kan gak enak juga.

 

Gak usah takut, ini bukan OSPEK

Gak usah takut, ini bukan OSPEK via hanifafarah
Gak usah takut, ini bukan OSPEK via hanifafarah

Selama OBM kamu dituntut untuk berkontribusi aktif dalam mengikuti segala apa yang disampaikan pembimbing. Santai aja Bro, Sis, gak usah takut, ini bukan OSPEK kok. Malah keren banget kalo kamu bisa terus berpendapat dalam setiap kelas yang kamu ikuti, karena itu memang tujuan OBM; Orientasi Belajar Mahasiswa, mengubah kebiasaan pasif di kelas saat SMA menjadi aktif saat memasuki dunia perkuliahan. Explore sebanyak-banyaknya yang kamu ingin ketahui, ya!

 

Ikutin aja, banyak banget manfaatnya

 kamu harus mengikuti semua kegiatan OBM karena banyak banget manfaatnya via marzetrezitadina
kamu harus mengikuti semua kegiatan OBM karena banyak banget manfaatnya via marzetrezitadina

Sumpah deh, kamu harus mengikuti semua kegiatan OBM karena banyak banget manfaatnya, super informatif, dan membantu kamu banget nanti untuk survive di dunia perkuliahan. Ada, bahkan banyak, hal-hal yang akan jauh lebih mudah untuk kamu kerjakan jika mengikuti serangkaian kegiatan OBM ini. Makanya, jangan disia-siain ya, gak bayar kok! Selain itu, OBM ini juga merupakan prasyarat untuk mengikuti mata kuliah MPKT A dan MPKT B loh, jadi ya mau gak mau, mager gak mager, kamu harus tetep ikut.

Sama siapa, kapan, dan di mana pun kamu mengikuti OBM ini, nikmatin dan jalanin aja, gak ada yang sia-sia kok. Pasti akan banyak pengalaman yang kamu dapetin serta grup di Line atau WhatsApp akan nambah satu. Meski setelah OBM selesai mayoritas ngumpul lagi hanya akan menjadi sebuah wacana yang hakiki, tapi jokes dan cerita selama OBM gak akan pernah jadi wacana buat dibahas kembali, kok.

Endless Question: Mendingan Kuliah 4 apa 3,5 Tahun Ya?

Memasuki masa-masa sidang skripsi dan wisuda Agustus nanti di UI, pasti banyak mahasiswa yang udah mulai bertanya-tanya dalam dirinya sendiri.

“Nanti gue lulus 3.5 apa 4 tahun ya enaknya?”

Yak, pertanyaan ini sangat sulit untuk dihindari dan pasti akan selalu ada sepanjang masa, mengingat lamanya kamu belajar di kampus ya ditentukan oleh diri kamu sendiri. Kalo SD 6 tahun, SMP dan SMA 3 tahun, di kuliah ini kamu bisa menentukan lamanya masa akademikmu sendiri, mulai dari 3 sampai paling lama ya 6 tahun.

Daripada kamu pusing mikirin ini tapi gak nemu-nemu solusinya, lebih baik anakui.com kasih pertimbangan nih biar bisa kamu pikir sendiri; mendingan kuliah 4 apa 3.5 tahun ya?

BACA JUGA: Jangan Anggap Enteng! Ngulang Matkul Wajib Ternyata Banyak Efeknya

 

Mau memanfaatkan kesempatan yang ada selagi jadi mahasiswa, atau mau cepet-cepet terjun langsung ke dunia kerja

Kampus itu wadah untuk mengembangkan diri sebebas-bebasnya dalam hal yang positif via okkmabimfikui2015
Kampus itu wadah untuk mengembangkan diri sebebas-bebasnya dalam hal yang positif via okkmabimfikui2015

Udah gak usah ditanya lagi kalo kampus itu wadah untuk mengembangkan diri kamu sebebas-bebasnya dalam hal yang positif, mulai dari organisasi, kepanitiaan, komunitas, semuanya yang menurut kamu asik dan menarik bisa kamu ikutin. Di situ kamu bisa mendapatkan softskill yang kamu inginkan untuk improve diri kamu sendiri sebagai bekal persiapan di dunia kerja nanti.

Lain lagi kalo kamu udah merasa cukup dengan kegiatan kampus atau bahkan udah punya kegiatan positif lain di luar kampus yang perlu diurus, kamu malah ingin cepet-cepet meninggalkan dunia kampus dan terjun langsung ke dunia sana. Sama sekali gak ada salahnya, kok. Akan tetapi, setelah lulus, sudah menjadi tanggung jawab bagi diri kamu sendiri untuk survive di dunia kerja nanti. Banyak juga kan yang lulus 3,5 tahun tapi setelahnya luntang lantung bingung mau kerja di mana, kalo kamu udah memantapkan masa depan sih ya silakan. Hidup itu kan pilihan.

 

Udah capek sama kehidupan kampus, atau masih pengin ikut ini itu sampe lulus

Udah capek sama kehidupan kampus, atau masih pengin ikut ini itu sampe lulus via isahkambali
Udah capek sama kehidupan kampus, atau masih pengin ikut ini itu sampe lulus via isahkambali

“Aku gak kuat sama tugas dan kuliah, nikahin adek aja, Bang!”

Yha. Banyak banget yang mengeluh seperti ini karena tugas dan segala hal terkait perkuliahan yang menyiksa. Gak salah juga sih ngeluh asal jangan kebanyakan hehe, kan daya tahan manusia terhadap sebuah beban itu berbeda-beda. Tapi nih ya, gak sedikit juga mereka yang bener-bener udah gak tahan karena aktivitas perkuliahan, dijalanin lebih lanjut tambah gak bisa, dan akhirnya mereka pengin cepet-cepet lulus. Masih mending sih cepet-cepet lulus daripada mengundurkan diri, kan sayang. Kepalang tanggung, istilahnya.

Ada juga yang mengeluh kayak gitu tapi setelahnya masih sanggup bertahan, malah semakin berapi-api. Mereka menjadikan keluhan itu sebagai semangat untuk bangkit lagi. Jadinya pengen ikut ini itu untuk meningkatkan kualitas dan menambah pengalaman dalam kehidupan kampusnya biar makin berwarna dan menjadi manusia yang siap bersaing.

 

Beneran udah maksimalin SKS semua apa cuma gak sabar nyabet gelar sarjana

Beneran udah maksimalin SKS semua apa cuma gak sabar nyabet gelar sarjana via isj.fib.ui.ac.id
Beneran udah maksimalin SKS semua apa cuma gak sabar nyabet gelar sarjana via isj.fib.ui.ac.id

Bagi sebagian orang, memaksimalkan 144 SKS dengan alfabet A atau paling kecil B+ merupakan suatu hal yang mudah. Sebagian besar lainnya menganggap B aja udah anugerah. Bagi mereka yang selau-selau aja untuk memperindah 144 SKS mereka, bisa dengan santainya nambah SKS lagi sesuai apa yang mereka inginkan atau yaudah, lulus deh 3,5 tahun. Tapi inget; maksimalin dulu aja 144 SKS-nya, jangan mentang-mentang ngejar 144 secara singkat tapi nilainya pas-pasan, kan gak asik juga nanti.

Ada lagi orang yang emang ngejar 3,5 tahun biar cepet-cepet dapet gelar sarjana dan foto pake toga di depan Rektorat. Aduh, yang kayak gini sebenernya juga gak salah sih sebagai motivasi, asalkan IP kamu memuaskan diri kamu sendiri dan orang-orang tercinta.

Intinya, lamanya perkuliahan ini kamu sendiri yang menentukan, jangan pernah ngikut-ngikutin orang deh pastinya. Emang sih, denger temen yang udah ambisius pengen lulus 3,5 tahun kita jadi minder duluan. Akan tetapi tenang saja bosku, gak semua temen sejurusan dan seangkatan kamu langsung abis gitu aja setelah 3,5 tahun kok! Pasti akan ada yang namanya “temen seperjuangan” yang merasakan getir pahitnya berjuang untuk lulus bersamamu.

Mantapkan pilihan dan maksimalkan kehidupan di kampus dulu aja deh; kalo merasa udah cukup 3,5 tahun dan SKS telah terpenuhi ya sok monggo sabet gelarnya, kalo belum ya jangan bersedih, yang penting usaha! See ya!

Yang Akan Kamu Kangenin di Bulan Ramadhan Waktu Kamu Kecil

Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu bagi umat muslim di mana pun berada, karena akan banyak hal-hal yang gak kita dapetin di bulan-bulan biasa dan pahala yang melimpah ruah. Perbedaan itu juga semakin terasa dan amat sangat dirindukan ketika Ramadhan pergi meninggalkan kita setiap tahunnya.

Akan tetapi temen-temen sadar gak sih, setelah belasan atau bahkan puluhan tahun bertemu bulan suci Ramadhan, ada pula perbedaan yang kita rasain ketika menjalani bulan Ramdhan dengan berstatus mahasiswa dibanding Ramadhan waktu kita kecil? Kira-kira apa aja sih perbedaannya yang bikin kangen itu? Berikut rangkuman anakui.com.

BACA JUGA: Hal-Hal Berikut Ini Hanya Dapat Kamu Temukan Saat Bulan Ramadhan Tiba

 

Nungguin Buka Puasa di Depan TV

Nungguin Buka Puasa di Depan TV via DoanmariO Hutajulu
Nungguin Buka Puasa di Depan TV via DoanmariO Hutajulu

Kalo dulu kamu sering banget mantengin tv demi menanti-nanti adzan Magrib, sekarang kamu malah secara gak kerasa bertemu dengan adzan Magrib. Mungkin bener kali ya kata orang, semakin kita terbiasa menunggu maka semakin gak terasa, jadi yaudahlah sibukin diri aja dengan berbagai kegiatan positif, nanti juga tau-tau adzan Magrib. Asik kan tuh.

 

Tarawih Bareng Temen-Temen

Sekarang teman Tarawih juga berkurang via hulukelang
Sekarang teman Tarawih juga berkurang via hulukelang

Perang sarung, petasan, jajan sepulang teraweh, kayanya udah menjadi checklist khusus bagi anak-anak yang Tarawih bareng temen-temennya. Meski tujuan utama Tarawih anak kecil pasti melenceng sedikit, seengganya itu jadi trigger buat pergi ke masjid dan jadi ada yang dikenang sampe sekarang. Dibandingin sama saat ini, yang Tarawih sendiri ke masjid. Meski masih ada temen kecil yang bisa diajak Tarawih bareng lagi, itupun kalo dia lagi gak sibuk. Time flies ya.

 

Ngisi Buku Harian Ramadhan

Inget ttd palsu di buku Ramadhan? via abiummi
Inget ttd palsu di buku Ramadhan? via abiummi

Jujur, siapa yang pernah malsuin tanda tangan ustadz hayo? Hahahaha kecil kecil udah bandel, ya. Buku harian Ramadhan merupakan buku sakti yang wajib diisi saat temen-temen menginjak bangku SD, SMP, bahkan SMA pun masih ada yang disuruh ngerangkum ceramah dan ngumpulin ttd ustadz di masjid.  Hikmahnya sih ya jadi selalu mantengin tv maupun ceramah yang disampaikan meski sedikit-sedikit. Yang penting berisi!

  

“Nangis Batal loh, Marah Batal juga loh!”

Rumor-rumor nangis batal itu kental banget di pergaulan anak-anak via abiummi
Rumor-rumor nangis batal itu kental banget di pergaulan anak-anak via abiummi

Dulu, rumor-rumor nangis batal itu kental banget di pergaulan anak-anak, sampe-sampe tiap ada yang ngisengin pasti menyangkal dan membela dirinya dengan kalimat “Nangis batal loh, marah juga batal!” Padahal mah yang ngegodain buat menggoyahkan emosi temennya juga gak baik kan, hahaha. Sekarang, kita menjadi jauh lebih dewasa dan cenderung bisa menstabilkan emosi sehingga bisa lebih tahan terhadap emosi-emosi yang gak baik. Bukan membatalkan puasa; gak afdol, lebih tepatnya.

 

Gak Ada Deg-Degan Buka SIAK

Bayang-bayang SIAK NG terus menghantui selama Ramadhan via psaf2013fkmui
Bayang-bayang SIAK NG terus menghantui selama Ramadhan via psaf2013fkmui

Salah satu keindahan Ramadhan masa kanak-kanak adalah tidak mengenal SIAK. Sekarang, di sela-sela Ramadhan aja kita masih terbayang-bayang akan kejutan yang hendak diberikan oleh situs generasi penerus ini. Meski gak menyita waktu terlalu banyak tapi ya lumayan bayang-bayangnya itu yang menghantui setiap detik Ramadhan kita. Ini berlebihan sih.

Semoga, sedikit atau banyaknya perbedaan yang kamu temukan selama bulan Ramadhan antara dulu dan sekarang, kamu bisa tetep dapet hikmahnya di bulan Ramadhan, bersama IP baru, tentunya. Selamat!

Hal-Hal yang Akan Ngebedain Kamu di Kehidupan Kuliah dan SMA

Wah, gak kerasa ya ternyata sebentar lagi UI dan beberapa kampus lainnya udah kedatangan dede-dede gemes lagi. Dan seperti biasa, banyak timbul pertanyaan dalam benak mereka, baik dari yang khawatir, penasaran, sampe pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik gak usah dijawab, ngerasain sendiri lebih asik deh pokoknya. Biasanya, pertanyaan yang muncul adalah “Apa sih bedanya kuliah sama SMA?”

Dosennya? Tempatnya? Waktu belajarnya?

Ah, itu mah kita udah tau. Kali ini, anakui.com secara spesifik akan ngasih tau ke kamu-kamu semua kira-kira hal-hal apa aja sih yang akan ngebedain kehidupan kamu di kuliah dan di SMA? Yuk, baca aja biar gak penasaran!

BACA JUGA: Adik-adik SMA, Pahami Hal Ini Sebelum Masuk Dunia Perkuliahan

 

Muka Kamu: Tambah Tua

Saking pusingnya sama matkul, muka lama-lama jadi tua via reyocaesar
Saking pusingnya sama matkul, muka lama-lama jadi tua via reyocaesar

Kata orang, menjadi tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan. Gue tambahin: muka bertambah tua, ya pasti sekali. Iya, di kuliah ini kamu akan dihadapkan pada berbagai macam permasalahan real yang belum kamu dapati sebelumnya. Permasalahan-permasalahan inilah yang membuat kamu berpikir secara terus-menerus sehingga kamu menjadi tua sedikit demi sedikit dan lama-lama capek sendiri.

Gak deng gak juga. Kalo kamu rajin ngerawat diri dan gak stress gitu aja, ketika dihadapkan pada berbagai permasalahan juga nanti muka kamu biasa-biasa aja. Muka mah gak ngaruh, yang penting sikap dan isi otak. Eaaa.

 

Status: Kemungkinan Kecil Berubah

Status: Kemungkinan Kecil Berubah via bacaanmenarik
Status: Kemungkinan Kecil Berubah via bacaanmenarik

Pertama, buat kamu yang jomblo dari dulu, silakan aja berharap di kehidupan kuliah ini status kamu akan berubah karena akan banyak juga ketemu orang baru, tapi admin gak janji banyak ya hehe soalnya ya gitu deh. Berharap sih boleh tapi jangan sedih kalo cuma bertepuk sebelah tangan.

Yang kedua, buat kamu yang lagi in relationship, jangan khawatir, justru kesibukan kesibukan di dunia kampus ini menjadi ajang pembuktian dan pembelajaran seberapa kuat rasa cinta kamu ke doi. Jarak dan waktu bukan penghalang, tapi justru pupuk sebagai rindu yang kelak menjadikannya tambah subur. Ea asik ga tuh?

 

Kerajinan: Mengurang Sedikit

Kerajinan masuk kuliah lama-lama berkurang karena fokus organisasi via ktfuiradhasarisha
Kerajinan masuk kuliah lama-lama berkurang karena fokus organisasi via ktfuiradhasarisha

Kalo dulu kamu di SMA kerjanya belajar, main, dan organisasi sesekali, di kuliah kamu akan dihadapkan pada berbagai macam kegiatan yang menggiurkan banget deh pokoknya, yang pastinya bikin kamu penasaran dan pengen ikut terus. Makanya, hal ini yang menyebabkan prioritas kamu yang katanya pertama a.k.a belajar agak berkurang sedikit demi sedikit sehingga yaaa “Males ah nanti aja nugasnya, nanti aja belajarmya, ah temen gue juga paling udah ngerjain, gue tinggal liat aja deh!”

Gak ya kamu gak boleh gitu. Harus tetep ngimbangin akademik dan non-akademik biar jadi mahasiswa berprestasi hehe.

BACA JUGA: Ini Kata Mereka yang Suka Aktif di Organisasi

 

Pola Tidur: Tak Teratur

Pola Tidur: Tak Teratur via thicorakmeni
Pola Tidur: Tak Teratur via thicorakmeni

Jikalau saat di SMA kamu mempunyai jadwal yang tetap sehingga biasanya pukul 9 malam udah bisa tidur cantik, lain halnya dengan di dunia perkuliahan ini. Di dunia kuliah kamu akan terbiasa dengan pola tidur yang amburadul; tak teratur. Pokoknya bisa kamu tidur pukul 2 karena begadang ngerjain tugas, main-main doang, bahkan gak tidur sekalipun.

Karena ya kuliah gak kuliah sama aja kayak libur, kamu cuma belajar di bangku kuliah paling lama 6 jam, itu pun gak berurutan. Kalo sekolah kan bisa sampe 9 jam, belum lagi di tambah les sana sini. Di waktu-waktu luang perantara kuliah satu dengan yang lainnya itu kamu bisa main-main sampe puas.

Kalo yang kuliahnya regular; dateng pagi, pulang siang, abis itu langsung nongkrong. Itu kuliah apa anak teka? Yang paralel bangun siang, berangkat kuliah, pulang sorean dikit. Lha, itu kuliah apa bimbel?

 

Isi Dompet: Mepet-Mepet

Ya, makan satu lauk hal yang biasa via dedyalimmuzawwir
Ya, makan satu lauk hal yang biasa via dedyalimmuzawwir

Sebagai penyandang status-bukan-siswa-lagi, kamu juga pasti dituntut secara tidak langsung untuk mengatur keuangan kamu sendiri; mulai dari makan, jalan, ongkos, bensin, nongkrong, dan lain sebagainya. Banyak pengeluaran tak terduga yang akan mengacaukan neraca rencana kamu. Tinggal gimana kamu strict sama diri sendiri dan nempatin prioritas pengeluaran aja sih sebenernya, kan tiap orang beda-beda. Manjain diri itu perlu sesekali, asal jangan sampe nyiksa dompet aja. Ingat! Mahasiswa tetaplah mahasiswa. Gratisan adalah vitamin terbaik bagi dompet kamu.

Gimana? Udah tau dong sekarang selain tempat, seragam, dosen, SKS, jadwal kuliah, manajemen waktu, ternyata banyak juga hal-hal yang membedakan kuliah dengan SMA? Ya nikmatin aja, semua pasti ada masa-masa pahit dan manisnya kok. Karena serunya jadi mahasiswa itu tidak terulang dua kali!

Dunia Kampus Tapi Masih Rasa SMA?

 

Sebentar, maksudnya apa ya, kampus rasa SMA? Apakah ini mau ngomongin mahasiswa-mahasiswa yang punya wajah babyface dan bentuk fisik mirip anak SMA–ehm SMP–ehm SD atau TK, sehingga kuliahnya berasa SMA?

Enggak. Kita ngomongin yang lain. Tapi ide bagus tuh, mungkin lain kali diomongin. Kali ini, kita bakal omongin skenario-skenario apa aja di kampus yang bisa bikin kamu teringat atau berasa kembali ke SMA.

Dosen gak masuk

Suasana dosen atau guru gak masuk, ya gak beda jauh via phpologist
Suasana dosen atau guru gak masuk, ya gak beda jauh via phpologist

Ya, dosen atau pengajar yang gak masuk itu tipikal SMA banget ya. Beliau gak masuk dan kalau kalian beruntung gak ada pengganti, kalian bisa punya free time. Bedanya cuma kalian bisa tetep isi daftar presensi, kalian bisa langsung pulang tanpa ada masalah kalau gak ada kelas lagi, dan kalaupun ada, kalian bisa main ke kantin.

BACA JUGA: Momen-momen “Surga” yang Dirindukan Oleh Mahasiswa

Terus, emang berasa SMA? Bisa aja, cobain habiskan waktu di kelas bareng temen-temen sampai jam kuliah bersangkutan selesai. Lihat gimana kerusuhan di kelas yang progressif. Mirip-miriplah kaya waktu SMA.

 

Tugas enteng

Ngeliat temen ngerjain tugas rumah ikut-ikutan nyalin via nencimarselina
Ngeliat temen ngerjain tugas rumah ikut-ikutan nyalin via nencimarselina

Mari semua sejenak bersyukur dan mengakui bahwa meskipun tugas kuliah itu kebanyakan berat dan menyengsarakan, pasti ada aja yang sebenernya gampang dan saking gampangnya ampe kelupaan.

Dan tugas-tugas enteng sederhana gak penting itulah yang bikin ngampus rasa zaman sekolah, ketika kamu dateng ke kelas, liat temen-temen semua pada sibuk ngerjain atau nyalin tugas sepele itu, dan kamu panik lalu ikutan nyalin.

BACA JUGA: Percayalah, Kamu Tidak Akan Mau Satu Tugas Kelompok Sama 5 Jenis Orang Ini!

Iya, pekerjaan rumah yang dikerjakan di sekolah itu kadang terulang lagi di kampus, tanpa kamu sadari, itu bagian dari skenario kampus rasa SMA.

 

Si dia di kantin

Si dia di kantin via dikidot
Si dia di kantin via dikidot

Inget gak waktu zaman SMA kamu naksir anak kelas sebelah? Atau malah junior atau malah senior? Dan satu-satunya tempat bagi kamu untuk ‘bertemu’ dia adalah di kantin. Bedanya, di kampus lebih susah lagi. Jadwal di SMA mah enak, istirahat barengan. Lah, di kampus?

BACA JUGA: Ketika Mantan Masuk UI Juga, Aku Harus Apa?

Istirahat barengan satu kampus, kamu gak dapet tempat duduk di kantin. Nah, skenario masa SMA terulang ketika kebetulan kamu ada satu hari–iya, satu hari aja–jadwalnya barengan sama si dia. Kadang papasan di koridor, kadang bangkunya gak jauh-jauhan di kantin jadi bisa curi-curi pandang sebelum kenalan. SMA banget.

 

Pulang bareng

Pulang bareng via depoknews
Pulang bareng via depoknews

Skenarionya sama kaya jadwal bareng di kantin, kamu gak selalu dapet jadwal pulang bareng sama dia. Kadang kamu udah merdeka raya jumawa luar biasa karena kelas selesai pukul 10 pagi, tapi si dia baru beres kelas pukul empat sore. Gak bisa pulang bareng.

BACA JUGA: Hati-hati Modus Pencurian Barang Dalam Mobil! (Kejadian di Daerah Tanjung Barat)

Kamu gak secinta itu sampe mau nungguin dari pukul 10 sampe pukul 4 di kantin. Nah, skenario rasa SMA adalah ketika meskipun beda jurusan dan angkatan tapi kamu bisa pulang bareng dia karena jadwalnya barengan. SMA banget.

 

Berisik di kelas

ingetkan gimana berisiknya pas gak ada guru via phpologist
Ingetkan gimana berisiknya pas gak ada guru via phpologist

Ini nih, yang menurut banyak orang yang telah diwawancara BMKG, adalah skenario kampus paling berasa kaya SMA. Inget gak dulu, waktu kamu masih putih abu-abu, guru gak dateng karena entah bolos entah sakit entah kenapa, dan kelas kamu ramenya rusuh banget ngalahin dangdutannya orang kawinan?

BACA JUGA: Malu Dong, Ngaku Mahasiswa tapi Masih Aja Lakuin Hal Ini

Akhirnya guru kelas sebelah yang gak fokus akbiat bunyi bising yang membahana dari kelas kamu memutuskan untuk memunculkan diri dan marah-marah gak keruan karena kamu sekelas berisik. Yap, di kuliah juga kerap terjadi skenario demikian.

Dosen kelas sebelah keganggu sama bunyi bising binal membahana, dateng dan marah-marah gak keruan, padahal kamu sekalian gak ada yang kenal doi dosen jurusan mana, si dosen pun have no idea whatsoever kalian mahasiswa jurusan mana, yang penting marah-marah. SMA banget.

Nah, ayo, share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau ada yang kangen-kangen nista sama masa SMA, dan bisa nostalgia pake skenario-skenario di atas.