56 Tahun FKGUI, “Bersatu Mengabdi Sehatkan Negeri”

Tepat 21 Desember 1960, Surat Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI Nomor 108049 dikeluarkan sebagai maklumat pendirian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, yang resmi menjadi rumpun ilmu pendidikan Kedokteran Gigi Negeri keempat di Indonesia. Usaha yang dilakukan Prof. Dr. Ouw Eng Liang (alm) bersama rekan-rekannya dari bagian Gigi dan Mulut FKUI sejak 1959 itu, akhirnya berdiri dengan Prof. Ouw Eng Liang sebagai Dekan pertama.

Setahun setelah berdiri, FKGUI praktis hanya memiliki dua staf pengajar tetap, 37 staf luar biasa, dibantu tujuh orang tenaga administrasi. Di tahun 1961, FKGUI membuka peluang pertama kali bagi para calon mahasiswa baru untuk mendaftar dan menjadi pencatat sejarah pertama perkuliahan FKGUI. Dulu, FKG nggak punya gedung dan fasilitas sendiri, alias masih numpang di ruang pinjaman yang diberikan Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo bagian Tata Usaha Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSCM.

Semakin banyaknya mahasiswa yang ingin mencatat sejarah emas sebagai mahasiswa kedokteran gigi kampus makara, membuat UI banyak menerima bantuan, guys. Eh jangan salah loh, itu juga berkat banyaknya partisipasi FKGUI dalam membangun masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan giginya. Seperti pada tahun 1976, FKGUI ikut berpartisipasi dalam Proyek Pedesaan UI melalui Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Serpong. Dua tahun setelahnya, UI dihibahkan gedung baru berlantai empat. Ini semua berkat kegigihan dan kontribusi FKGUI dalam melakukan pengabdian bidang kesehatan gigi dan mulut untuk masyarakat Indonesia!

 

BACA JUGA: Pendidikan Dokter Gigi dalam Jeruji Uang

 

Semua itu sejarah singkat FKGUI yang hingga kini masih dan akan terus mengukir sejarah untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat guys! Di tahun yang sudah berkepala lima ini, FKGUI terus menelurkan alumni-alumni yang berkualitas di bidang kesehatan gigi. Salah satunya adalah kumpulan alumni FKGUI yang mendirikan sebuah klinik spesialis gigi di Jakarta Selatan, yang menjadi salah satu klinik gigi terbaik seantero Jakarta. Palapa Dentist yang dikembangkan lebih maju oleh anak sang pendiri drg. Sholhah Busro, Dr. drg. Anggraeni Sp. KG (drg. Rani) itu menjadi profesional dentist clinic terkemuka di Jakarta.

drg. Rani merupakan salah satu alumnus terbaik Fakultas Kedokteran Gigi kampus makara. Palapa Dentist bahkan memiliki 16 dari 17 dokter gigi profesional yang berasal dari UI! Wah, ternyata klinik gigi terbaik di Jakarta itu berkembang atas tangan dingin dokter profesional yang belajar di UI!

Bentuk pengabdian FKGUI kepada masyarakat dalam Kersos 2016: Bersatu Mengabdi Sehatkan Negeri (via seputarkampus)

Itu masih beberapa di antara banyaknya alumni FKGUI yang sukses mengabdi di masyarakat. FKGUI juga sering banget ngadain event-event bakti sosial perawatan gigi tiap tahunnya. FKGUI juga menjadi salah satu dari tujuh Fakultas Kedokteran Gigi terbaik yang berakreditasi A di Indonesia. Nggak cuma itu, pada 2006, Fakultas Kedokteran Gigi UI tercatat menjadi penyelenggara pertemuan ilmiah Lembaga Kedokteran Gigi se-Asia Tenggara (South East Asia Association Dental for Education/SEAADE XVII) di Jakarta Covention Centre.

Dengan ulang tahun yang ke tujuh windu ini, FKGUI bakal tetap melakukan pengabdian dan berkontribusi secara nyata untuk masyarakat di Indonesia. Tema yang dijunjung juga sama persis dengan apa yang sudah mereka lakuin selama ini untuk kesehatan gigi masyarakat. Salah satu contoh pengabdian masyarakat yang telah dilakukan adalah melalui Kerja Sosial FKGUI, “Bersatu Mengabdi Sehatkan Negeri”, tema yang nggak cuma ditujukan khusus bagi FKGUI tapi juga fakultas Rumpun Ilmu Kesehatan lain yang ada di kampus berjuluk “The Yellow Jacket”.

 

BACA JUGA: FKG UI Raih 4 Prestasi Tingkat Internasional

 

Bagi kalian para penerus dokter gigi, mari tunjukkan kepedulian terhadap negeri dengan berpartisipasi dan berkontribusi langsung di lapangan! Tunjukkan kedewasaan FKGUI dengan kontribusi nyata dan terus mengabdi, bersatu untuk menyehatkan! Mari kita bagikan beramai-ramai artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar semua orang bisa ikut bergabung untuk bersatu mengabdi dalam kesehatan bangsa! Karena UI nggak sekedar Universitas Indonesia, tapi juga untuk Indonesia!

Peduli Aceh, BEM se-UI Galang Dana dan Turun Langsung Membantu Korban Gempa

Indonesia kembali berduka. Gempa tektonik yang menghajar wilayah pantai di Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam pada pukul 5.30 WIB, Selasa (7/12). Gempa berkekuatan 6,5 Skala Richter itu memporak-porandakan wilayah Pidie Jaya, Pidie, Bireun, Sigli, dan wilayah sekitarnya yang lain.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahkan menyebut kekuatan gempa Aceh Selasa lalu itu setara dengan kekuatan empat hingga enam kali bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang pada Agustus 1945. Pusat gempa yang berada di bibir pantai, tentu sangat membuat masyarakat Aceh trauma akan terjadi Tsunami seperti yang pernah dialami Aceh pada Desember 2004 lalu. Untungnya, gempa dahsyat itu tidak seperti apa yang masyarakat Aceh khawatirkan. Meski kekuatannya dianggap melebihi kekuatan bom atom Hiroshima, namun aktivitas sesar mendatar dalam laut tidak memicu Tsunami.

Kondisi di Aceh pasca gempa (via bintang.com)
Kondisi di Aceh pasca gempa (via bintang.com)

Kendati demikian, tetap saja kekuatan gempa tektonik dahsyat itu telah menghancurkan ratusan bangunan di tenggara Kota Banda Aceh. Korban-korban bergelimpangan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, korban meninggal dunia mencapai 102 orang, dan lebih dari 700 orang luka berat dan ringan. Banyaknya bangunan yang hancur juga menyebabkan 3.276 orang mengungsi. Upaya evakuasi korban masih dilakukan BNPB hingga saat ini.

Data terakhir (10/12/2016) menyatakan bahwa total korban mencapai 731 orang yang terdiri dari 617 mengalami luka ringan dan luka berat serta 114 orang meninggal dunia. Selain itu ratusan bangunan serta infrastruktur yang rusak ataupun roboh akibat gempa tersebut.

Hingga saat ini, bantuan bagi para korban gempa di Aceh Mulai dari bantuan makanan, medis, serta evakuasi terus berdatangan. Salah satunya adalah tim relawan dari Universitas Indonesia yang Sabtu ini (10/12/2016) berangkat menuju titik bencana untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana.

cafe
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)
cafe_0
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)

 

BACA JUGA: Seperti Apa Mahasiswa UI Hari Ini di Mata Masyarakat?

 

Pihak Universitas Indonesia melalui tim UI Peduli telah mengirim tim tenaga medis dan bantuan logistik. Tim UI Peduli yang akan berangkat pada Sabtu (10/12/2016) ini berjumlah 28 orang. Mereka di antaranya terdiri atas  Perwakilan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI, tim ILUNI UI, tim Direktorat Kemahasiswaan UI beserta mahasiswa UI yang tergabung dalam Departemen Sosial Masyarakat BEM UI, Sekolah Peduli Bencana UI, Tim Bantuan Medis FK UI, Mapala UI, dan Menwa UI.

cafe_1
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)

Sementara itu, banyak pengungsi dan korban luka-luka yang terevakuasi membutuhkan distribusi bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan berbagai bahan-bahan pokok penyokong kehidupan korban gempa. Untuk itulah, melalui Departemen Sosial Masyarakat/Pengabdian Masyarakat BEM Se-UI bersama Sekolah Peduli Bencana UI bekerja sama dengan Forum Nasional Sosial Masyarakat BEM Seluruh Indonesia, mengajak teman-teman untuk mengulurkan bantuan bagi saudara kita yang menjadi korban bencana tersebut.

Kamu juga bisa membantu saudara kita di Aceh dengan cara yang paling sederhana a.k.a donasi. Periode donasi yang dikawal BEM Se-UI dilakukan sampai tanggal 13 Desember 2016. Donasi dapat dikirimkan ke rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 324712502 atas nama Muhammad Hafiz Afianto. Setelah melakukan transaksi, silahkan mengirimkan konfirmasi dengan format Nama-tanggal transfer-nominal ke nomor 08568330522 atas nama Hafiz.

cafe_2

Saudara kita sangat membutuhkan uluran bantuan dari kita. Berapapun donasi yang diberikan, mampu membantu kebutuhan saudara kita di sana. So, jangan ragu lagi untuk mengulurkan bantuan! Jika bukan dari kita, siapa lagi?

Mari bagikan artikel ini di Akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar pengumpulan dana bantuan korban gempa di Aceh dapat segera terkumpul lebih banyak dari yang diharapkan. Semoga Aceh diberi ketabahan dan kesabaran!

 

BACA JUGA: Karena Bencana Bisa Datang Kapan Saja…

Mental Illness, Salah Satu Penyebab Hidup menjadi Kelabu yang Masih Dianggap Tabu

Sobat anakui.com pernah ngerasa depresi atau gak berminat ngapa-ngapain karena kepikiran terus mengenai suatu hal tertentu? Misalkan depresi gara-gara dihujani tugas yang bertubi-tubi, kerjaan kepanitiaan yang bikin males buat menghadapi kenyataan, atau bahkan masalah keluarga yang gak selesai-selesai dan kamu bingung gimana cara mengatasinya.

Ketika lagi depresi, kamu langsung males sama dunia sekitar, menganggap gak ada yang peduli, dunia itu kejam, dan pengin aja gitu rasanya ngilang buat sementara biar lupa sama masalah-masalah yang ada. Alhasil, yang kamu lakukan cuma diam, berpikir panjang, dan ujung-ujungnya hanya tidur agar menghindari kenyataan barang sejenak.

Normal kok kayak gitu, setiap orang pasti punya masa dalam hidupnya di mana dia males ngapa-ngapain dan penginnya menghilang sejenak aja; lari dari kenyataan. Tau gak sih, perilaku depresi kayak gini termasuk salah satu mental illness atau gangguan jiwa? Sebenernya banyak sih jenis-jenis mental illness, seperti bipolar disorder, drapetomania, ADHD, fobioa, psikopat, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, pada tulisan kali ini anakui.com mengambil contoh depresi karena paling banyak ditemukan apalagi di kalangan mahasiswa kayak kita.

BACA JUGA: Tugas Numpuk Bikin Stress, Ini Dia Trik Gak Gampang Stress Saat Menjalani Hidup Sebagai Mahasiswa

mental illness

 

 

Yang masih disayangkan, masih banyak banget orang yang menganggap mental illness adalah hal yang tabu sehingga yang tergambar dalam pikiran kita adalah sosok menakutkan berkelakuan aneh dan bicara sendiri.  Gak jarang loh, mindset yang salah itu akhirnya menciptakan kata kata seperti “gila, miring, atau sarap” yang pada akhirnya melahirkan stigma di khalayak umum. Pada kasus-kasus gangguan jiwa, tindakan ini pada akhirnya membangun prejudice tanpa dasar yang mengarah pada usaha-usaha mendiskriminasikan penderita gangguan jiwa dalam banyak hal.

Hal ini tentu saja memperburuk keadaan karena para penderita gangguan jiwa semakin menarik diri—tidak mau terbuka karena takut dihakimi dan disudutkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika bayangan ketakutan akan dihakimi dan ditertawakan membuat penderita tidak mau mencari pertolongan ketika gejala-gejala gangguan jiwa mulai dirasakan, sehingga kebanyakan penderita berusaha membohongi diri sendiri dan menganggap gejala psikotik adalah hal yang biasa saja. Padahal, orang depresi itu hanya butuh didukung dan diyakinkan kalau mereka gak sendiri, bahwa mereka itu berharga bagi dirinya dan hal-hal di sekelilingnya.

Yup, they, or even we, just need somebody to hold on.

Ujung-ujungnya, masalah ini akan menjadi semakin kompleks di kalangan pemberi layanan jiwa itu sendiri. Hal ini terutama tampak pada pelabelan penyakit penyakit jiwa yang oleh masyarakat umum diartikan berbeda. Tindakan dan perlakuan seperti memberi julukan penyakit jiwa terhadap para penderita udah biasa diterima masyarakat dan jadi hal yang wajar.  Pada akhirnya, masyarakat menjadikan hal tersebut sebagai acuan bahwa penyakit jiwa memang sangat mengerikan.

Di satu sisi, pelabelan yang diberikan masyarakat kepada para penderita gangguan jiwa juga berakibat pada pribadi penderita itu sendiri. Bukannya membantu, justru malah memperburuk kondisi kejiwaan para penderita. Coba deh kamu kalo lagi depresi, dikatain temen kamu sakit jiwa, rasanya gimana? Yaaa emang bener sih lagi sakit jiwa, tapi pasti maksud temen kamu itu sedang meledek. Alhasil, kamu malah semakin down dan menganggap dirimu sendiri gak berharga, gak guna, ansos, rendah diri, dan malah makin lama recovery-nya.

Ada banyak jenis-jenis mental illness via time
Ada banyak jenis-jenis mental illness via time

 

 

Selain dari stigma masyarakat, media turut memperparah stigma yang diterima para pengidap gangguan jiwa. Kita semua tahu kalau peran media adalah sebagai penyampai informasi, khususnya media televisi yang sering mempertontonkan penderita gangguan jiwa sebagai sosok yang berbahaya. Misalnya ada pemeran sinetron atau film yang menggambarkan kalau orang penderita gangguan jiwa sebagai sosok yang menakutkan, sadis, berbahaya, dan sering mengamuk tanpa alasan yang jelas. Nah, di sini media justru semakin membangun penghakiman tanpa dasar yang semakin memperparah kondisi kejiwaan penderita gangguan jiwa.

Padahal ya, penderita penyakit jiwa itu ada banyak banget, bahkan di sekeliling kita dan bisa dialami siapa saja.  Umumnya, para ahli mendefinisikan penyakit jiwa sebagai suatu kondisi serius yang mengganggu pikiran, pengalaman, dan emosi.  Hal ini bisa memicu berkurangnya fungsi sebagai manusia utuh, disebabkan oleh terjadinya kesulitan dalam membina hubungan interpesonal, kesulitan dalam melakukan pekerjaan, dan bahkan bisa merusak diri sendiri. Sayangnya, masyarakat masih menganggap tabu hal ini sebagai sesuatu yang menakutkan dan harus dijauhi penderitanya.

Bagi temen-temen yang sedang depresi berat, ingin curhat tapi gak tau mau ditumpahkan ke siapa, bisa banget nih ke Klinik Terpadu Psikologi yang terletak di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Gratis bagi Mahasiswa UI! Kapan lagi kan konsultasi bebas biaya dengan orang yang udah ahli dalam bidangnya? Di sana kamu bisa cerita keluh kesah kamu dan segala hal yang mengganjal dalam benak dan pikiran kamu. Inget ya, ke pskiater itu bukan berarti orang gila. Dengan kita menyadari bahwa diri sendiri butuh konsultasi ke pskiater, itu menunjukkan bahwa kita telah sadar dan peduli terhadap diri sendiri akan penyakit kejiwaan.

Nah, sekarang bagi pembaca baik itu keluarga, temen, maupun penderita gangguan jiwa itu sendiri, mari menerima penyakit itu sebagai bagian dari diri sendiri.  Mulailah untuk jujur pada diri sendiri walaupun prosesnya rumit.  Emang sih, gak gampang berdamai dengan penyakit yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat, tapi jangan sampai gangguan jiwa yang hanya terjadi pada saat momen-momen tertentu jadi menghambat keseluruhan hidupmu serta segala potensi dan prestasi yang ada. Percaya deh, kamu itu berharga dan mampu untuk berkarya serta berprestasi. Kamu itu berarti bagi diri kamu dan orang-orang di sekeliling kamu.

PKM (Bukan!) untuk PIMNAS!

Awalnya tulisan ini ingin diberi judul “PKM (Bukan Sekedar) untuk PIMNAS”, namun mengingat sudah terlalu jauhnya sebagian besar kita tersesat dalam paradigma yang berkembang saat ini, sehingganya perlu penegasan lebih ekstra bahwa PKM seharusnya bukan … Baca Selengkapnya

Masih Merakyatkah Kampus UI?

Banyak orang mengatakan bahwa Universitas Indonesia adalah universitas yang memiliki sifat kerakyatan. Sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai sekarang, UI terus berjuang untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, UI sering … Baca Selengkapnya

Akankah Jakarta Tenggelam?

Foto Banjir di Penjaringan, Jakut

Merupakan suatu judul diskusi di salah satu televisi swasta di Indonesia yang tadi malam diadakan dan turut mengundang Pak Amri (Guru Besar Meteorologi ITB) serta Pak Joko (Menteri Pekerjaan Umum). Diskusi yang membahas mengenai nasib Jakarta beberapa tahun mendatang ini, mengarah kepada pertanyaan apakah lebih dari 50 % kota Jakarta akan kebanjiran, yang artinya kota metropolitan di Indonesia ini tenggelam? Kita telah ketahui bersama, 2 minggu terakhir Jakarta yang dipimpin Gubernur yang baru terpilih Bapak Fauzi Bowo seakan menangis, tak kuat menahan desakan air dari selatan dan utara. Air pasang atau yang lebih dikenal dengan ROB menghamtam kota jakarta sehingga tanggul yang ada di Muara Baru, Penjaringan, Jakut jebol, yang membuat jalanan di daerah sekitarnya tenggelam hingga 1 meter selama beberapa hari. Hal tersebut tentunya mengingatkan kita kembali ke kenangan pahit awal tahun 2007 silam, tepatnya bulan Februari 2007 dimana jakarta tenggelam, di utara karena ROB, di selatan karena “banjir kiriman”, dan di tengah karena curah hujan yang tinggi.

Baca Selengkapnya