Hey Ladies, Pernah nggak Mahamin Perasaan Kaum Adam seperti Kami?

Pada suatu percakapan syahdu dengan seseorang alumni mantan Wakabem FISIP  yang penulis lupa di mana terjadinya, entah kenapa di situ muncul sebuah pertanyaan yang cukup menarique, ‘’Fakultas apa sih yang paling tinggi rasa solidaritasnya di UI?’’. Tanpa basa-basi, doi langsung menjawab, ‘’TEKNIK!’’ (padahal doi anak FISIP (Fakultas Sip dah Pokoknya). Dengan jawaban yang sama, penulis menanyakan hal yang serupa kepada para mahasiswa dari yang semester awal, tengah, sampai yang nggak tau dah udah semester berapa saking banyaknya. Mungkin, jika ditanya kenapa? Ya jawabannya simpel karena Teknik adalah fakultas dengan sarang laki-laki terbanyak. Akan tetapi, nggak semuanya pria selalu berkutat dengan hal-hal yang berbau eksakta. Dia yang suka dengan kata-kata dan seni menjadikan FIB sebagai rumah keduanya atau dia yang paham banget mengenai kepribadian manusia menjadikan F.Psi sebagai taman surgawinya untuk menuntut ilmu dan begitu pun dengan pria-pria lainnya yang bertebaran di 14 fakultas di UI.

Lalu, persoalannya ialah para kaum adam itu harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa. Bukan bermaksud mempersoalkan gender, tetapi berbagai dilema-dilema kehidupan harus dijalani oleh para kaum adam (yang sebenarnya sih nggak seharusnya dirasain). Uniknya, meskipun tiap-tiap fakultas punya culture yang berbeda-beda, dilema-dilema yang mereka rasakan hampir sama! Sebagai pria yang hidup di zaman gorengan udah dua ribu cuman dapet satu kalau jajan di kantin MUI, nggak bisa dipungkiri lagi, penulis merasa semakin ke sini kayaknya emang cuman Fakultas Teknik aja yang cowonya paling banyak. Itu artinya, makin sedikit fakultas yang dihuni oleh mereka ‘Si calon kepala rumah tangga’. Lalu, emangnya dilema-dilema apa aja sih yang katanya hampir semua dirasain oleh mereka yang harus ngampus di tengah banyaknya ladies?

 

Bakal Duduk di Mana Nih Gua?

“Bakal duduk dimana nih gua?”

Buat yang ngampus di fakultas dengan mayoritas pria, mungkin hal ini ga kepikiran di kepala atau lebih singkatnya, ini masalah sangat sepele. Masalah tar lo duduk di mana, sepele banget nggak sih? Well, inilah yang mereka rasain. Saat si cowok masuk ke dalam kelas yang dipenuhi wewangian parfum dari A-Z, mendadak penyakit KUPER pun menyerang (apalagi hari pertama). Kalau datang telat, nggak ada pilihan lain buat duduk di area terdepan deket komuk si dosen. Seketika rasa paranoid menyelubungi kepala, rasa paranoid yang berisi ketakutan bakal ditanya-tanya dengan pertanyaan yang mencekam, ‘’Eh kamu yang cowo sendirian di depan, sudah sampai mana pelajaran kita minggu lalu?

Duaarr…

Makanya, mereka akan sekuat tenaga biar datang nggak telat-telat amat. Cuman buat satu tujuan, apalagi kalau bukan ke kantin terlebih dahulu buat nyari temen biar bisa masuk berjamaaah untuk nyari spot buat  tidur belajar di kelas yang paling belakang dekat AC. Dengan begini, mereka akan sama-sama saling bergantung satu sama lain.

Tapi, tetap aja…

‘’Eh itu cowok-cowok yang di belakang! Sudah sampai mana pelajaran kita minngu lalu?’’

Seenggaknya, mereka akan lebih kalem sebab bakal nengok satu sama lain dengan komuk pucet kayak nahan B.A.B.

‘’Eh bro, udah ampe mana bro?’’

‘’Lah, Minggu lalu gue kan nggak kelas bro.’’

Duaaarr….

Mungkin karena memang kalah jumlah, entah kenapa  di mata dosen, mereka kayak diamond yang pualing bersinar di antara diamond-diamond lain (padahal diamond-diamond lain lebih syahdu buat ngejawab). Hanya si dosen dan Tuhanlah yang tahu kenapa kaum minoritas adam selalu jadi sasaran empuk buat dilempari pertanyaan-pertanyaan. Penulis sih cuman bisa berkata, ‘’Yah, saya juga prihatin’’.

 

BACA JUGA: Kamu Cowok Teknik? Berbahagialah karena Kamu Istimewa Di Mata Kami

 

Dilema Focus Group

Hayo gimana (via pt.linkedin)

Temenan bagi anak cowok merupakan salah satu hal yang paling simpel. Tinggal say Hei!, nongkrong di kantin, ngobrolin hal-hal dari hasil pengamatan yang nggak penting sampe ngomongin dosen, salah satu ada yang nraktir Ind*eskrim, Jebret! Langsung deh, channel pertemanan kamu bertambah. Kalau mau  naik level ke tingkat sohib? Gampang! Nginep di kostannya dan mulailah transaksi hutang-piutang. Yep, bener sesimpel itu! Tapi, gimana kalau kasusnya harus ngebaur di kelas yang tingkat minimum frekuensi cowonya ekstrem, contoh di FIK atau di FIB (antara 2—4 cowo dari kisaran 35 mahasiswa perkelas!) Pasti! Pada saat itu juga langsung deh nyebur ke lagunya Raisa—”Serba Salah”.

Saat mereka sudah mulai masuk ke dalam dunia perkuliahan yang diisi dengan laporan bacaan, beserta presentasi yang dipadu dengan focus group dan colaborative learning, tanpa disadari bumbu-bumbu cipika-cipiki selama diskusi pun lahir. Biasanya, kalau disuruh bikin kelompok, mereka si kaum mayoritas akan berkoloni dengan sejenisnya. Kebalikannya, mereka si kaum minoritas cuman bisa pasrah ditempatkan di mana saja. Apalagi, kebanyakan selera si dosen yang harus banget minimal ada satu cowok dalam setiap kelompok. Jadinya, yang tadinya udah klop banget sekolompok cowok semua, mau nggak mau disebar kayak bar-bar. Well, seperti yang sudah dibilangin barusan, diskusi aja rasanya kurang syahdu kalau nggak dilengkapin cipika cipiki. Biasanya, waktu yang diberikan diskusi tuh lama banget dan kayaknya lebih banyak waktu buat cipika-cipiki daripada ngebahas tema diskusi. Kalau udah gini, si cewek akan ngomong dengan teman-teman sampingnya. Ngomongin hal-hal dari yang penting sampai yang penting banget.

‘’Eh lihat berita di Line Today pagi ini nggak?’’

‘’Wah, apatuh?’’

‘’Itu lho, si Syahnaz adeknya  Raffi Ahmad!’’

‘’Oh iya? Kenapa kenapa, dia hamil?’’

‘’Hush, bukan itu!’’

‘’Doi sekarang udah bisa masak TELOR MATA SAPI!’’

Hingga pada detik ini, si cowok cuman bisa tersenyum maksa sambil bertopang dagu untuk ngerespon (itupun juga kalau diajak) atau kegiatan lainnya ngebuka HP buat chatting sama Sim-Simi menunggu hingga tibanya suara, ‘’Baik, kita lanjutkan kuliah Minggu Depan’’

‘’Minggu depan kan tanggal merah Pak’’.

‘’Oke, kalau begitu kelas pengganti.’’

Dan, seketika hening.

 

Suka Terseret Arus Ombak Drama

Bener nggak sih cewek-cewek suka drama? (via arynews.tv)

Well, dari judulnya aja kamu udah bisa nebak bakal ngebahas apa bagian yang satu ini. Bukan bermaksud langsung memvonis ataupun bersubjektif, melainkan me-review atas realita yang ada. Ngampus bukan sekadar menuntut nilai akademis aja, ada hal penting lain apalagi kalau bukan sosialisasi. Nyaur di kantin, ikut kepanitian, gabung BEM, semua hal ini yang serunya nggak bakal keulang dua kali. Akan tetapi, bersosialisasi bagi kaum minoritas adam di tengah banyaknya perempuan sepertinya nggak semudah ngebalikin Krabby Patty.  Banyaknya hal-hal seputar drama mulai dari asmara sampai ngomongin sesama ngebuat para kaum adam agak minder dan kurang nyaman. Kalau ngomongin soal asmara, apabila nggak ekstra hati-hati, bisa-bisa si cowok dijadiin kambing hitam pemutus hubungan orang. Lalu, kalau udah terjerumus dalam ngegossip ala si kaum hawa, bisa-bisa nanti kamu keseruan dan bikin kamu nggak kaya pria pada umumnya lagi So, kalau kamu ngelihat temen cowomu yang temen-temnnya di fakultas bisa diitung pake jari, jangan kaget. Mungkin ini udah jadi jalan ninjanya.

 

Tantangan Seberat-Beratnya Adalah Tantangan Menjadi Ketua

Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2017 (via bem.ui.ac.id)

Akan menjadi pertanyan buat kamu kalau salah satu fakultas di UI meskipun udah banyak banget ceweknya, tetapi kalau udah urusan memilih pemimpin, masih aja rata-rata cowok yang megang, Bukan bermaksud mau ngomongin tentang emansipasi, tetapi usut punya usut kenapa hal ini terjadi, ternyata fakta lapangan menyebutkan bahwa cowoklah yang paling sanggup bersifat netral dan nggak berpihak pada kader kepentingan partai manapun (waduh, jadi serius gini).

Yap, sebenarya bagian ini punya kaitanya banget dengan bagian sebelumnya tentang kaum hawa yang selalu identik dengan hal-hal berbau drama. Menjadi penengah atas suatu kasus masalah dan menjadi penenang saat konflik bergejolak merupakan salah satu tugas berat ngelebihin tugas bapak-bapak dewan terhornat yang ada di Senayan.

Katakanlah Si Baharuddin, ketua Himpunan Mahasiwa sastra Italia yang punya mimpi buat jadi aktor B*skuat. Doi sadar kalau keheterogenan di prodinya ngebuat dia harus pandai bersikap netral dan sesuai dengan lawan-lawan bicaranya. Sekarang, dia lagi mimpin rapat untuk nentuin kostum apa yang harus dipakai oleh MABA prodi Italia 2017 pas ospek jurusan yang satu semester lamanya. Kubu A yang diisi oleh para perempuan-perempuan gahoel, kubu B yang diisi oleh para perempuan yang hobinya baca jurnal ilmiah, dan kubu C lelaki sisaan yang isinya paling cuman empat orang. Kubu A pengen kostum dengan motif polkadot ala Gal Gadot, Kubu B pengen kostum yang ada tulisan ‘’Jauhi Rokok’’, dan terakhir kubu C yang ga ada ide apa-apa dan pada akhirnya nurut aja apa kata hasil.

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang hingga ada yang left group Line sampe-sampe dibujuk buat masuk lagi, Baharuddin yang udah kucing tujuh keliling berusaha sabar menahan emosi menetapkan hasil dengan melakukan sintesa atas ide dari kedua kubu itu. Alhasil, untuk kostum maba sastra Italia 2017 yang bakalan dipake satu semester penuh adalah kostum dengan tulisan ‘’Jauhi Rokok’’ bermotif polkadot hitam putih ala Gal Gadot. Seketika ucapan terima kasih ngalir deras bukan melalui grup Line, melainkan lewat personal contact, ‘’Makasih Udin panutanqu’’.

Dan,dalam hati Baharuddin cuman bisa bilang, ‘’Huft…’’ .

 

 

Saat Serius Malah Jadi Bahan Candaan

Aku tuh mau serius, tapi kenapa… (via themodernape)

Well, fakta untuk bagian yang terakhir ini, penulis dapatkan nggak sengaja dari suara-suara curhatan empat mahasiswa sastra Jerman yang tidak diketahui namanya saat penulis lagi berduaan sama Lepy di payung FIB. Sebagai mahasiswa yang notabene udah ngerasain bahwa ilmu harus dicari sendiri dan nggak lagi disuapin, pertanyaan-pertanyaan saat proses belajar bersama dosen berlangsung di kelas udah jadi salah satu sarana saling bertukar ilmu. Pertanyaan-pertanyaan yang serius apabila dijawab dengan jawaban yang bagus seketika sanggup buat bikin moodbooster si dosen. Malang, kayanya hal itu nggak berlaku bagi empat sejoli mahasiswa sastra Jerman itu. Yah, gimana nggak, entah kenapa setiap mereka ngelontarin pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya serius eh malah jadi bahan candaan untuk ngidupin susana yang tadi krik… krik… Mungkin berbeda jika pertanyaannya sama tapi yang nanya perempuan. Oleh karena, kalau udah kaya begini, mereka akan jadi minder buat nanya langsung ke dosen padahal mereka pengen banget nanya karena memang nggak tahu dan rada ketinggalan sama temen-temen perempuan lain yang udah pada pinter banget. Alhasil, kaum adam seperti ini akan hanya jadi tim hore di kelas dan merubah ekspektasi yang tadinya, ‘’Yaelah minimal A nih gua matkul ini’’ jadi, ‘’Ah bodo amat dah, yang penting lulus’’.

 

BACA JUGA: Ini Dia 3 Dilema Cowok yang Berkuliah di Psikologi UI

 

Sampai pada akhirnya tulisan ini di-publish, sebenarnya masih banyak curhatan-curhatan lain yang sekali lagi penulis ingetin bukan bersifat prediktif bin fiktif namun ini dari curcolan saat ngobrol-ngobrol di kampus. Sebagian cowok mungkin bakalan seneng karena ngerasa uneg-unegnya udah dikeluarin lewat tulisan ini dan sebagian lagi mungkin bakal ngerasa B-aja. Apapun itu, actually, dari sisi kacamata positif, bagi kaum adam yang harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa bisa menjadikan ini semua sebagai sarana softskills dalam bersosialisasi sebelum masuk ke dalam dunia kerja nanti. Semakin heterogen kampusnya, semakin gokil buat jadi  mahasiswa yang asyik buat nongkrong di mana aja. Terlebih, buat kamu wahai para calon kepala rumah tangga yang masih merasa kuper, mulailah mencoba melebur ke dalam lingkungan fakultasmu itu. Banyak hal-hal unik yang bisa kamu dapatin dan ngebuat duniamu semakin berwarna because some people are meant to be with other people and you are no exception 😉

Kalau Helikopter Dikomersilkan, Kira-Kira Apa ya yang Bakal Terjadi?

Setelah maraknya taksi dan ojek online di Jakarta dan sekitarnya ternyata ada transportasi yang lebih baru lagi nih! Yups, dengar-dengar sih Uber dan Grab akan menyediakan moda transportasi terbaru dengan menggunakan helikopter.

Layanan ini sempat mengudara di Indonesia loh. Pada bulan November tahun 2015 lalu Uber pernah menjalankannya namun baru berupa promosi saja, dan pada bulan Juni tahun 2017 ini Grab juga mengoperasikannya namun hanya untuk pelanggan Grab terpilih saja. Pengoperasiannya belum secara permanen dilakukan untuk kendaraan sehari-hari.

Uber menggunakan nama Uber Chopper untuk layanannya ini, sedangkan Grab, memberi nama Grabheli untuk layanannya. Hmmm, kira-kira kalau go-ride menyediakan layanan ini juga, apa ya nama yang akan digunakannya? Go – hel, Go – heli, Go – lik, Go – ter, atau apa ya?

Ya udahlah ya itu nanti terserah mereka aja mau kasih nama apa.

Btw, kira-kira apa yang bakal terjadi ya kalau beneran ada helikopter online? Coba liat beberapa hal yang diprediksi akan terjadi yuk!

 

Feeds instagram kekinian

Feeds instagram dengan helikopter (via internationalflyerz)

‘Cekrek-cekrek upload‘

Kalau nanti helikopter benar-benar dikomersilkan layaknya taksi online sekarang ini, pasti banyak banget deh yang kepingin buat nyoba. Ya siapa coba yang nggak mau ngerasain keliling Jakarta dan sekitarnya tanpa ngerasain macet, sambil melihat gedung-gedung dan keindahan Jakarta dan sekitarnya ini. Asik banget nggak tuh?

Dan yups, pasti feeds instagram tentang Jakarta dan sekitarnya from up above bakal jadi booming deh, atau nggak foto candid dalam helikopter sambil ngeliatin pemandangan Jakarta dan sekitarnya dari atas bakal jadi trend terbaru, sis. Jadi bukan cuma Syahrini aja yang bisa nge-share foto seperti itu, tapi kalian juga bisa kok!

 

BACA JUGA: Bete Berangkat ke Kampus Macet dan Ribet? Naik Helikopter Aja!

 

Youtube trend

Vlogging bareng heli, keren ga tuh? (via ytimg)

‘Hello, welcome back to my channel’

‘Oke, sekarang kita udah terbang nih, hmmm yup kalian bisa liat di sana itu Citos, kalau ke sanaan lagi itu Detos, wah indah juga ya Jakarta dan Depok’

‘Hihi liat deh di bawah sana orang lagi macet-macetan‘

Kemungkinan youtube bakal dipenuhi sama vlog-vlog macam ini. Pasti orang-orang kepingin nge-share pengalaman mereka ketika naik helikopter. Secara kan nggak gampang dan nggak murah buat bisa mengaksesnya, jadi bisa dibilang eksklusif lah ya. Selain itu pengalaman yang nggak bisa terbayarkan dan tergantikan ini pasti perlu didokumentasikan dong buat kenang-kenangan?

Hmmm, jadi jangan kaget ya kalau video macam ini bakal viral, hehe.

 

Solusi mudik

Waktunya berkata, “Bye teman-teman miskinku…” (via edition.cnn)

Selama ini kalian suka capek kena macet kalau mudik? Atau pengen ngerasain sensasi yang berbeda ketika mudik?

Yups, helikopter bisa jadi solusinya! Cobain aja sekali-kali mudik naik helikopter, biar keliatan keren aja gitu pas balik ke kampung halaman.

‘Ma, halaman depan rumah kosongin dulu ya, buat landing heli pas aku pulang besok‘

 

Transportasi ngampus

Nggak usah khawatir macet, sekarang ngampus bisa pake helikopter! (via merdeka)

Kamu telat bangun? Padahal hari ini ujian atau jatah bolos kamu udah abis, tapi nggak memungkinkan kalau naik kereta, apalagi mobil dan motor, kalian bisa nih buat coba naik helikopter. Tenang, kalian bisa mendarat di rotunda kok. Atau mungkin kalian bisa cari referensi lainnya, takut kalau rotunda juga penuh sama temen-temen kalian yang naik helikopter juga gitu.

 

Trend surprise terbaru

Dijamin klepek-klepek! (via abcnews.go)

Mungkin nantinya cara ngasih surprise atau propose doi dengan ngajak dia ke suatu tempat yang udah didekor se-indah mungkin + ada temen-temennya akan tergantikan ke-hits-annya sama orang yang tiba-tiba ngelepas banner dari helikopter kali ya, hehe. Mungkin nantinya kita nggak bakal asing lagi kalau ngeliat banner-banner bergantungan di langit dengan desain super lucu untuk orang-orang tertentu kali ya.

 

BACA JUGA: Gak Cuma Jago Ngomong, Ini 5 Bukti Anak UI Juga Bikin Perubahan Nyata Lewat Online

 

Jadi kapan ya kira-kira helikopter ini akan benar-benar dikomersilkan? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Okay segitu dulu ya yang bisa admin share kali ini, ssemua hanya prediksi dan perkiraan semata aja kok, jadi belum tentu beneran bakal terjadi ya. Kita lihat aja apa yang bakal beneran terjadi nanti.

TemanJalan, Saat Sebuah Aplikasi Buatan Mahasiswa UI Menjadi ‘’Penyambung Nyawa’’

Hai Para Mahasisa doyan nyambi! Udah tahu dong aplikasi buatan Mahasiswa UI yang lagi on fire satu ini. Yap, apalagi kalau bukan TemanJalan! Hah, masih belum tahu juga?! Really?! Aplikasi yang buat kamu serasa jadi fans Liverpool lho! ‘’You’ll Never Walk Alone!’’ Iya, bener banget! Apalagi buat kamu yang selalu ke kampus cuman ditemenin sama bayanganmu sendiri plus dua malaikat penjaga kiri dan kanan, aplikasi ini PAS BANGET BUAT KAMU COBA!

Selain buat kamu move on dari kesendirian, TemanJalan juga ngebantu kamu untuk ngebanyakin channel pertemanan! Buat yang berstatus pengendara, pasti kamu pernah ngerasain saat-saat kamu semangat banget buat jalan ke kampus sampe-sampe kamu pengen berbuat kebaikan dengan nebengin orang yang satu arah sama kamu, tetapi sayangnya, impian itu harus sirna sebab kamu nggak tahu nih mana yang lagi butuh tumpangan dan mana yang nggak. Pasti itu ngebetein banget, apalagi kalau pada akhirnya kamu maksain buat nebengin orang, dan… eh, malah jatuhnya SKSD. Huft, langsung deh, angin-angin berhembus kencang menerpa pipi tembem kamu yang buat kamu saat itu juga jadi cemberut.

Terus gimana dong?

Nah, tenang tenang… Semua itu bakal solved oleh TemanJalan!

Terus, ada keseruan apa aja sih di TemanJalan sampe-sampe disebut oleh artikel ini bak aplikasi ‘’Penyambung Nyawa’’ Mahasiswa ? Kuy simak ulasannya!

 

BACA JUGA: TemanJalan, Temukan Teman Hidupmu di Jalan!

 

Hanya Bermodalkan ID Line

Masa sih aplikasi sejuta umat ini belum ada di ponsel kamu?

Setelah mendapat pendanaan dari Golden Gate Ventures dan seorang angel investor asal Indonesia yang tidak mau disebutkan namanya, TemanJalan langsung ngeluncurin sebuah aplikasi mobile yang secara gratis bisa kamu unduh di Playstore sejak 2 Agusutus 2016 lalu. Pada mulanya, nggak hanya mahasiswa yang jadi sasarannya, tetapi juga buat para pekerja yang kebetulan satu arah dalam perjalanan.  Akan tetapi, karena masih asing banget di telinga mahasiswa, jadinya beberapa di antara mereka masih sulit banget buat dapetin tebengan. Nggak cuman itu aja sih, sistem pembayaran yang menggunakan koin virtual dimana pengendara ataupun penumpang itu sendiri yang mengaturnya terkesan agak rempong. Sama rempongnya seperti halnya kamu ngampus ke UI pake pesawat Hercules, padahal kostan kamu di Kutek.

Hingga pada akhirnya awal semester ganjil lalu TemanJalan melakukan terobosan dengan menggandeng aplikasi sejuta umat, apalagi kalau bukan Line untuk mempermudah penggunanya agar dapet nikamatin aplikasi yang didirikan oleh Fauzan Helmi Sudaryanto, seorang pria FASILKOM 2011.

Nah, setelah muncul di Line inilah TemanJalan mulai mendapat tempat di hati para mahasiswa. Kalau kata Utada Hikaru sih, ‘’I hope that I have a place in your heart too’’. Nah, boleh dibilang TemanJalan udah bisa mewujudkan harapannya Utada Hikaru tuh guys! Hehehe…

Bisa pake Line loh! Kurang simpel apalagi? (via hongkiat)

Melalui OA dan Chatbot Line, TemanJalan sangat mempermudah penggunanya. Dengan hanya perlu pergi ke website TemanJalan, kamu akan diarahin dengan penuh perhatian sampe akhirnya nanti kamu disuruh daftar melalui Line dan selanjutnya jangan lupa verifikasi lewat akun kampus atau KTM.

Yap bener banget, TemanJalan yang sekarang ini lebih berfokus pada sesama mahasiswa aja. Jadi, jangan takut terjadi hal-hal yang tidak kamu inginkan mengenai pengguna yang ga jelas sebab Aku di sini yang akan merhatiin kamu dan nungguin kamu agar kamu membalas cintaku meskipun aku tunggu sampe Ninja Hattori berhasil jadi Hokage di Bekasi.

 

Aplikasi Penyambung Nyawa Part I

Hadiah-hadiah menanti.

’Jadi Mahasiswa Itu Enak, Bebas Seperti Burung, tapi Susah Dijalanin!’’

‘’Hidup di Kampus Itu Keras Deh!’’

Dua pepatah-pepitih itu kayanya pas banget buat ngegambarin kehidupan mahasiswa pada umumnya. Kalau di pikiran kamu tentang kata ‘’keras’’ itu ngebayangin sekampus sama Mad Dog? Bukan, bukan itu…

Keras di sini yang dimaksud apalagi kalau bukan tentang ‘’survive’’ sampe gelar sarjana menjemput. Ngomong-ngomong tentang survive, bohong namanya kalau kamu bisa survive di dunia kampus tanpa yang namanya doku a.k.a ‘duit’. Yah emang sih uang nggak bisa membeli kebahagian, tetapi galau mikirin laprak sambil ngopi di Warkop Cumlaude kayanya lebih enak deh daripada galau ngedekem di kosan mangap-mangap nahan laper sambil nunggu pertolongan BNPB datang. Hmm… Menarique!

Bagi kamu yang si super sibuk sama kegiatan perkuliahan, kepanitaan dan organisasi sana-sini, pasti ngerasain banget susahnya dapet waktu luang agar bisa nyambi. Nyambi sebenarnya bisa apa aja, tetapi rata-rata harus ke luar kampus, seperti ngajar misalnya. Padahal, kamu butuh banget supply tambahan buat sekadar makan, nge-laundry baju, ataupun beli pulsa buat ngisi kuota biar bisa main MOBA Games. Pokoknya ketiga itu bagai penyambung nyawa banget deh buat kamu.

’Lalu, apa dong yang bisa buat gue dapet ketiga itu tanpa ganggu aktivitas kampus? Gue ada motor nih! Tapi ga mungkin ngojek … Gue ada mobil nih meskipun punya Opung gue!…Tapi ga mungkin nge-G*ab..Sumpah ga ada waktu! Tuhan tolooong!’’

Lumayan nebengin orang jadi miliarder (via gazettereview)

Seketika, dari langit turunlah TemanJalan dengan Guest Star-nya, Adera.

’Dan kau hadir.. merubah segalanya, menjadi lebih indah…’

‘’Nah, kata kamu kan tadi kamu punya motor, punya mobil juga, kan? Meskipun mobil kesayangannya Opung, bolehlah dipinjem cuman buat ngampus doang. Ikutan TemanJalan aja! Nanti setiap trip yang selesai, Aku kasih kamu poin. Dan poin itu bisa buat isi ulang pulsa, voucher makan di Cumlaude, voucher Laundry, voucher tema/stiker Line, daaan masih banyak yang lainnya. Aku tahu kamu udah lama ga makan di KF*, tenang, ada juga kok voucher-nya. Apalagi, kalau kamu bisa dapet predikat pengendara terajin tiap bulannya, kamu bisa dapet uang yang luamyan bisa memperbaiki gizi kamu’’

Dan terjawablah sudah doa mahasiswa semester 12 itu.

 

Aplikasi Penyambung Nyawa Part II

Mereka aja udah nggak sendirian, masa kamu masih?

Weitz, udah kayak “Harry Potter and The Deathly Hollows’’ aja nih pake part II hehehe…

Yup, kalau tadi buat si pengendara kalau ini khusus bagi si penumpang.

Di atas tadi udah dibahas mengenai ‘’survive’’ bagi para mahasiswa pada umumnya. Lebih lanjut, ada salah satu softskiils yang harus kamu punya terkait survive itu sendiri. Ada yang udah bisa nebak? Exactly! Ngatur duit!

Kalau ada maba 2017 yang lagi baca tulisan ini, beruntung banget kamu! Yap, salah satu tantangan terbesar pas kamu udah bukan lagi anak SMA, yaitu mengatur uang. Segudang keperluan yang harus ditumbalkan dengan uang bisa jadi masalah buat kamu. Kamu harus bisa seirit mungkin ngatur uang hingga terbit lagi tanggal muda. Salah satu segudang keperluan itu apalagi kalau bukan tentang transportasi kamu ke kampus. Okey-lah kalo kamu anak kosan yang hanya perlu jalan setempongan buat jalan ke kampus atau kamu yang dah terbiasa naik aplikasi berbasis on-demand. Akan tetapi, jika dibandingin dengan aplikasi on-demand, biaya nebeng pake TemanJalan jauh lebih murah bingiiiits.

Biar pas nyampe kampus bisa jingkrak-jingkrak kayak gini (via collegechoice)

Bayangin! Dengan cuman berbekal 20 ribu rupiah, kamu bakal dikasih jatah trip 6 kali! Apalagi, kalau kamu rajin nebeng bisa dapetin bonus trip gratis! Dan lagi, emang nggak capek berada di dunia sendiri, cemberut setiap datang ke kampus karena nggak ada yang nyemangatin atau karena kekurangan komunikasi sekadar berbagi kelucuan hidup yang kamu dapetin setiap harinya. Dengan ikutannya kamu ke TemanJalan, kamu bisa nebeng dan berbagi cerita di sepanjang perjalanan. Bahkan, di beberapa keseruan cerita pengguna TemanJalan, ada yang awalnya nebeng iseng-iseng sampe jadi partner tebengan gitu dan udah 23 kali nebeng bareng! Nggak cuman itu, beberapa cerita lain yaitu saat pengendara dari FIB UI dipertemukan dengan penumpang yang sesama fanfiction Supernatural! Dan sejak itu, mereka sibuk di kampus ngebahas kelanjutan dari kisah ‘’The Winchester Brothers’’.

Iya, ini kisah nyata penulis.

Walaupun ‘’Penyambung Nyawa’’ mungkin selalu dikaitkan dengan materi, tetapi maksud ‘’Penyambung Nyawa’’ pada part II di sini ialah rasa semangat kamu untuk selalu membuka hari dengan nggak sendirian lagi, terlebih lagi sanggup buat ngebuka channel pertemanan kamu yang tadinya pasif di satu fakultas aja bisa sampe ke seluruh fakultas!

 

BACA JUGA: Ini Dia Cara Untuk Menghemat Pengeluaran Kalian, Wahai Anak Kos!

 

Saat ini udah cuman bukan UI aja yang bisa gunain TemanJalan. Beberapa kampus lain juga udah digandeng seperti halnya PNJ, USU, UNJ, dan UNDIP. Meskipun ada beberapa pengendara yang ngambis banget buat jadi pengendara terbaik, tetapi tetep yaaa jangan sampai ganggu waktu kuliah kamu dan juga yang paling penting ialah balik lagi ke hashtag TemanJalan itu sendiri, #NgampusBareng yang salah satunya dapet diartiin ‘’Udah cukup ngampus sendiriannya, yuk saatnya #NgampusBareng’’

Everyone deserves to be happy and you are no exception 😉

Bete Berangkat ke Kampus Macet dan Ribet? Naik Helikopter Aja!

Berangkat ke kampus naik apa nih guys? Sepeda, motor, mobil, kereta, bus, atau jalan kaki dari rumah ke kampus? Pokoknya, apapun kendaraannya tetap harus ngampus ya!

Buat kamu yang nggak punya kendaraan pribadi, jangan bersedih hati, soalnya kamu masih bisa bersehat-sehat ria di jalanan meskipun sampai kampus harus berasem-asem ria karena keringetan. Solusinya, kalian bawa baju ganti aja! Lho, ribet amat! Ya iya lah, kalau nggak mau ribet, terus kalian nggak punya kendaraan pribadi, nggak punya temen dan kenalan yang punya kendaraan, ditambah kalian nggak punya ongkos naik ojek, taksi, atau kendaraan umum lainnya dan cuma punya sepatu buat ke kampus… ya harus mau ribet! Tapi, tenang, tetep sehat kok.

Hari gini kamu nggak punya temen? Apalagi anak UI terkenal dengan kebiasaan bersosialisasinya yang cerdas… Nggak mungkin kan? So, banyak kok program-program nebeng bareng temen buat ke kampus kaya yang lagi gencar-gencarnya dilakuin anak UI akhir-akhir ini. Nah, jadi kalau emang kalian nggak mau ribet, yaudah nebeng aja, yang penting tetap harus ngampus ya!

Buat kamu yang anak kereta banget, tetap hati-hati di jalan ya, soalnya akhir-akhir ini banyak banget kejadian yang nggak diinginkan, apalagi buat para kaum hawa, kejadian pelecehan di kereta itu bukan cuma mitos, tapi sudah sering banget ditemuin ketika situasi di dalam kereta padet banget, udah kaya pepes. Dalam situasi begitu, para pelaku tindak kriminal pasti sudah mempersiapkan targetnya buat ditempel terus, bisa ditargetkan buat dicopet atau dilecehkan. So, be careful ya fren!

 

BACA JUGA: Kuliah Tetep Aman dan Tepat Waktu Saat Musim Hujan dengan 6 Cara Ini

 

Nah, buat kalian yang ngerasa punya beberapa kendaraan buat digunakan seperti mobil, motor, atau bahkan helikopter untuk ngampus, UI punya tempat-tempatnya buat parkir lho.

Wait, what? Helikopter?

IYA, HELIKOPTER.

Seriusan? Iya, ini serius. Masa kalian nggak tahu?

Sebenarnya, informasi ini sudah hadir sejak 2010 lalu kok. Universitas Indonesia, melalui sosial media resmi miliknya sudah mengklarifikasi dan memamerkan fasilitas parkir helikopter ini, atau yang lebih dikenal dengan nama helipad. Kampus mahasiswa berjaket kuning ini membuat gebrakan baru untuk mahasiswanya yang nggak mau kena macet. Hehe.

Anyway, landasan itu ditempatkan di Taman Bundaran depan Gedung Rektorat UI. Dalam akun Facebook-nya, UI menulis, “Kamu ke kampus naik apa? Motor? Mobil? Kereta? Atau helikopter? Semuanya bisa kok!”.

Pada 2010 lalu, isu UI membangun landasan helikopter memang santer terdengar. Beberapa media nasional menyebut, hal itu dilakukan UI untuk menyambut kedatangan Mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama untuk mengunjungi Universitas Indonesia saat berkunjung di Indonesia. Hingga pada akhirnya, pada 2012, Jusuf Kalla yang di tahun itu menjadi Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI menghadiri sosialisasi anggota MWA baru tentang UI, tiba di kampus makara menggunakan helikopter Palang Merah Indonesia.

 

BACA JUGA: Dibalik Kedatangan Obama ke UI

 

Nah, buat kamu yang selama ini menganggap Taman Bundaran itu hanya sekadar taman, sekarang sudah tahu dong itu digunakan untuk apa? Yuk sebarkan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar semua orang tahu, kalau akses ke UI itu bisa ditempuh mengendarai berbagai jenis kendaraan!

Stereotype Fakultas yang Sering Kita Denger di UI – Bagian 1

Beberapa hari yang lalu anakui.com lewat official account sempat menanyakan pendapat temen-temen mengenai stereotype apa aja sih yang terbentuk di mahasiswa-mahasiswanya mengenai fakultas-fakultas yang ada di UI? Nah, kali ini anakui.com akan mengelaborasi mengenai hal tersebut, memadukannya menjadi satu, biar stereotype tersebut makin melekat di masyarakat. Gak deng, biar stereotype tersebut kalo baik ya semoga tambah berfaedah, kalo buruk ya semoga pergi jauh-jauh. Hehehehe.

Yuk, langsung aja dibaca!

FIB

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari
“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari

Nah, dari sekian banyak pesan yang masuk, yang curhat mengenai FIB ini paling banyak. Kenapa, ya? Mungkin paling banyak terkena stereotype masyarakat kali, ya? Atau karena gak ada kerjaan saking santainya makanya nge-chat mulu? Entahlah. Katanya, anak FIB itu tukang pesta, rokok di mana-mana, gak ada dua anak yang rambutnya sama (lol, mungkin semuanya warna-warni rambutnya), dan selalu ada baazar! Bener sih, beberapa kali dalam sebulan kalo kamu lewat FIB pasti nemuin aja tuh tenda tenda makanan bertebaran.

Dan yang paling sering dibilang orang-orang adalah…

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang!

“BASI!”

Tau gak sih, belajar sastra dan budaya itu gak semudah apa yang kalian bayangin loh!

 BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

FISIP

Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id
Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini melekat dengan mahasiswanya yang keren-keren, nyentrik, super kritis akan masalah sospol di sekeliling kita, tapi sayangnya… males-males. Ah masa iya semuanya males sih? Bener gak tuh? Tapi ya kalo diliat-liat, anak FISIP tuh kayanya paling menikmati masa-masa kuliah di kampus deh, anak muda banget lah pokoknya.

 

FKM

Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum
Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum

Sering dipelesetin jadi Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas. Yak, katanya sih emang kebanyakan ukhti-ukhti di sini. Eh tapi gak juga kok, banyak juga yang gak kerudungan baik cewek maupun cowok (yaiyalah!) Ada juga yang bilang kalo sekarang FKM dibenci perokok wkwkw. Iya, mungkin gara-gara usulan harga rokok yang menjadi Rp50 ribu per bungkus itu merupakan kajian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini kali, ya.

 

FEB

Katanya orang-orangnya ambisius via rri
Katanya orang-orangnya ambisius via rri

Anaknya sih kata orang-orang pada ambisius semua. Hmm, iya juga sih kalo kita lihat secara sekilas, gak tau kalo kebenarannya gimana. Menurut gue sendiri sih, FEB merupakan salah satu fakultas yang selalu totalitas dalam menyelenggarakan suatu acara; JGTC, contohnya. Bayangin aja, meski bukan merupakan proker BEM UI, di masyarakat udah terbentuk mindset dan stigma bahwa JGTC ini merupakan acara yang khas UI banget, saking megah dan berkelasnya!

Nah empat dulu aja ya, gimana? Biar penasaran dan pada nungguin gitu, hehehehehe. Kalo kamu punya masukan mengenai stereotype fakultas kamu, boleh banget chat di Official Line anakui.com (@tkg4665m). Ditunggu ya!

Ngampus Episode 3 “Orasi dan Sampah”

Yo ini dia kami cleansound studio kembali menyuarakan hati galau dan bimbang para anak kuliahan. kali ini kita lagi pengen serius.. jadi lucunya dikit… jadi bukan semoga terhibur tapi terinspirasi.. 😀 Subscribe: youtube.com/thecleansound Like: fb.com/cleansoundstudio … Baca Selengkapnya

error: This content is protected by the DMCA