Catat! Ini Perubahan Kalender Akademik UI Semester Genap 2020/2021

Pada 20 November lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim mengumumkan kebijakan untuk memperbolehkan sekolah tatap muka mulai Januari 2021 mendatang. Kebijakan tersebut berlaku juga bagi perguruan tinggi. Namun, kebijakan tersebut tidak bersifat wajib. Perlu beberapa hal yang perlu dipertimbangkan juga untuk mengadakan pembelajaran tatap muka tersebut.

Sebagai respon dari kebijakan tersebut, rektor UI Ari Kuncoro mengeluarkan surat keputusan tentang perubahan kedua atas keputusan rektor UI nomor 186/SK/R/UI/2020 tentang kalender akademik UI tahun akademik 2020/2021. Surat keputusan dengan nomor 1981/SK/R/UI/2020 tersebut memuat perubahan kalender akademik semester genap 2020/2021. Selain itu, keputusan yang ditetapkan pada 27 November tersebut juga menimbang perkembangan keadaan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Berikut ini empat poin penting terkait perubahan kalender akademik semester genap 2020/2021.

1. Semester Antara Ditiadakan

Semester antara atau biasa disebut semester pendek yang umumnya dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki akademik, akan ditiadakan pada semester genap 2020/2021 nanti. Hal ini sama seperti tahun akademik 2019/2020 lalu yang juga meniadakan semester antara. Semester ini biasanya diadakan saat libur semester genap, yaitu bulan Juni sampai Agustus.

2. Perubahan Jadwal Registrasi Administrasi dan Akademik

siak war

Jadwal registrasi administrasi mahasiswa lama yang berkaitan dengan pengajuan cuti dan pembayaran Biaya Operasional Pendidikan (BOP) berubah. Batas akhir pengajuan cuti yang semula ditetapkan pada tanggal 29 Januari 2021 diubah menjadi tanggal 30 Januari 2021. Sementara itu, jadwal pembayaran BOP yang semula ditetapkan tanggal 30 Januari sampai 22 Februari 2021 diubah menjadi 30 Januari sampai 28 Februari 2021.

Selain registrasi administrasi, jadwal registrasi akademik atau pengisian Isian Rancangan Studi (IRS) pun berubah. Pengisian IRS internal yang semula dijadwalkan tanggal 18—29 Januari 2021 mundur menjadi tanggal 1—12 Februari 2021. Sementara itu, pengisian IRS eksternal yang semula dijadwalkan tanggal 25—29 Januari 2021 mundur menjadi tanggal 8—12 Februari 2021.

3. Perubahan Jadwal Kegiatan Akademik

Sumber: tefl-planet.com

Kegiatan akademik yang semula dijadwalkan pada tanggal 8 Februari sampai 18 Juni 2021 mundur menjadi tanggal 22 Februari sampai 2 Juli 2021. Perubahan ini juga berpengaruh pada batas akhir penyerahan karya ilmiah, batas akhir ujian sidang karya ilmiah/promosi, batas akhir penetapan kelulusan, dan batas akhir pengunggahan karya ilmiah, baik tahap I maupun tahap II.

Untuk pelaksanaannya, dalam surat keputusan tersebut tidak dijelaskan apakah akan dilaksanakan secara daring atau tatap muka. Namun, karena kondisi yang belum menentu, kemungkinan besar kegiatan pembelajaran di UI pada semester depan akan dilaksanakan secara daring atau pun campuran. Hal ini mengingat juga bahwa Rumah Sakit UI yang menjadi rumah sakit rujukan Covid-19, sehingga pencegahan penularan perlu diperhatikan.

4. Jadwal Wisuda

Wisuda pada semester genap 2020/2021 mendatang akan tetap dilaksanakan secara virtual seperti pada wisuda semester genap lalu. Pendaftarannya akan dibuka pada tanggal 21 Juli sampai 21 Agustus 2021. Untuk pelaksanaannya, program sarjana dan vokasi akan diadakan pada tanggal 17 September 2021, sedangkan program pascasarjana akan dilaksanakan pada tanggal 18 September 2021.

Surat keputusan tersebut merupakan surat keputusan tingkat universitas yang mungkin saja dapat berubah sesuai situasi dan kondisi kampus. Sebagai implementasinya, setiap fakultas akan mengeluarkan surat resmi yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di fakultas tersebut pada semester genap 2020/2021 mendatang.

Bosen Sama Yang Itu-Itu Aja? Yuk Cek 5 Aplikasi Online Yang Bikin PJJ dan WFH Lebih Berwarna

Halo pembaca setia anakUI.com! Apa kabar? Semoga kalian sampai detik ini sehat selalu, ya. Oh iya, pastinya banyak nih di antara kalian yang masih harus belajar atau bekerja di rumah. Bosen, ya? Sama, penulis juga. Udah kangen banget sama suasana kampus dan ke-hectic-an dinamikan perkuliahan offline. Tapi gimana dong? Masa kita mau maksain diri? Iya gak?

Nah, buat kalian nih yang masih melakukan aktivitas belajar dan bekerja secara remote, udah pada nyoba pake aplikasi apa aja? Terus, menurut kalian, hambatan apa yang paling sering muncul? Kalau dari penulis sih, salah satu hambatan yang paling menonjol dalam bekerja dan belajar secara online ini adalahnya kurangnya interaksi antara host atau pemberi materi, dengan peserta. Sebagai contoh nih guys, pasti sering banget kan ada sesi tanya jawab. Biasanya, sesi tanya jawab ini dilakukan untuk memperoleh feedback atau opini dari peserta mengenai topik yang dibahas. Permasalahan yang sering banget muncul tuh pasti gak ada yang jawab. Hening. Pokoknya suasanya awkward banget. Apalagi kalau lagi pada on camera. Kasian deh

Sebenernya, banyak alasan kenapa peserta malas menjawab. Terutama saat rapat atau pembelajaran disampaikan lewat online. Bisa jadi karena mereka tidak memerhatikan materi yang disampaikan sebelumnya. Adanya batasan-batasan untuk berlaku aktif dari aplikasi yang digunakan, misalnya kamera dan speaker yang tidak berfungsi dengan baik. Dan masihhhh banyak lagi.. Oleh karena itu, kali ini anakUI.com akan menghadirkan artikel mengenai aplikasi online menarik (yang gak itu-itu aja) yang bisa kamu gunakan selama masa PJJ dan WFH ini. Mau tahu apa aja? Yuk disimak!

1. Zoom

Sumber: Zoom

Pastinya banyak dari kalian yang mikir “lah, apa istimewanya? Semua juga pada tahu kali dan make zoom” Eitts.. Tunggu dulu. Mungkin selama ini kamu udah menggunakan zoom untuk meeting dan presentasi. Tapi kamu tahu gak, ada fitur-fitur lain yang bisa kamu gunakan untuk menambah keefektifan dari diskusi peserta? beberapa fitur yang banyak orang tidak tahu diantaranya:

a. annotation

dengan fitur ini, kamu bisa menulis, mengetik, menggambar di screen yang sedang dishare oleh orang lain. Umpamanya google docs, kamu dan teman-temanmu bisa menuliskan hasil diskusimu dan apa yang kalian tulis di screen tersebut dapat dilihat oleh semua peserta. Keren kan? Fitur ini bisa kamu gunakan dengan cara meng-klik opsi view option yang ada di bagian atas.

b. breakout meetings

Kamu ingin membagi kelompok menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melakukan diskusi terpisah? Bisa banget. Caranya adalah dengan memilih opsi Account Management kemudian Account Settings. Di opsi ini, kamu akan menemukan pilihan Breakout Rooms yang bisa kamu pilih. Tinggal tentukan deh siapa aja anggotanya! Gampang kan?

2. Mentimeter

Ingin melakukan presentasi sambil survey dan langsung tahu hasilnya apa aja? Bisa banget pake Mentimeter. Wah, apaan tuh? Jadi guys, mentimeter ini adalah suatu aplikasi online yang bisa kamu gunakan untuk melakukan presentasi dan di waktu yang bersamaan, sambil melakukan survey. Sebagai contoh, kamu sedang melakukan presentasi mengenai topik A. Kamu ingin mengetahui pendapat peserta atau mungkin hal-hal yang peserta ingin ketahui lebih dalam dari topik tersebut. Kamu tinggal membuka sesi tanya jawab dan nanti, peserta tinggal memasukan kode yang sudah disediakan oleh pihak mentimeter untuk menjawab atau mengirimkan pertanyaan. Jawaban atau pertanyaan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari wordcloud, diagram, dan masih banyak lagi. Tertarik mencoba?

3. Google Jamboard

Kerja dan belajar pnline jadi super terbatas karena gak ada papan tulis untuk nyoret-nyoret dan nempelin sticky notes? Mau coba make Microsoft Surface Hub, tapi gak mampu?? Tenang aja, kalian masih bisa melakukan hal tersebut dengan menggunakan Google Jamboard. Memiliki konsep yang sama dengan zoom annotations, kamu bisa bekerja secara kolaboratif dengan peserta lainnya. Yang membedakan dengan annotation dari zoom adalah, Google Jamboard bisa menyimpan slides yang tadi didiskusikan dan dibagikan ke peserta lainnya.

4. Sevima Edlink

Paket serba komplet mulai dari absen, video conference, penyusunan jadwal yang teratur dan notifikasi yang siap mengingatkan sesuai jadwal, evaluasi belajar dan meeting yang lebih interaktif, efektif, dan menyenangkan, fitur sharing materi, diskusi, dan kuis secara online, pengumpulan tugas dan rekap kegiatan untuk penilaian dapat dilakukan dalam satu aplikasi dan satu gadget? Bisa kamu temukan dalam Sevima Edlink. Lebih ringkas dan praktis, kan?

5. Kahoot

Capek meeting dan kuliah online terus pengen seru-seruan? Bisa banget! Kahoot adalah suatu aplikasi pembelajaran online berupa game interaktif yang bisa digunakan secara gratis oleh pengguna. Tampilan game dari Kahoot sendiri berupa pilihan ganda, yang nanti bisa dipilih oleh masing-masing peserta game.

Cara bermainnya sederhana, semua peserta terhubung menggunakan PIN permainan yang disediakan, dan menggunakan perangkat untuk menjawab pertanyaan yang dibuat oleh guru, pemimpin bisnis, atau orang lain. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat diubah menjadi poin penghargaan. Pembuat dapat memilih, apakah pemain bisa mendapatkan 0 poin, hingga 1000 atau 2000. Poin yang didapat peserta dihitung hingga berapa banyak yang bisa didapat peserta dan berapa lama yang dibutuhkan peserta untuk menjawab. Semakin cepat peserta menjawab, semakin banyak poin yang mereka dapatkan jika peserta menjawab dengan benar. Poin kemudian muncul di papan peringkat setelah menyelesaikan setiap pertanyaan.  Bisa asik-asikan sembari mereview materi meeting atau kuliah beberapa menit yang lalu? Kenapa enggak!

Sekian lima aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk menghilangkan rasa jenuh setelah menjalankan kegiatan di rumah dalam waktu terakhir. Jika kamu punya saran dan rekomendasi dari aplikasi-aplikasi lainnya, bisa banget tulis komentar di bawah! Selamat mencoba!

BREAKING NEWS – UI Sepakat Tetap Kuliah Online Pada Semester Ganjil Besok!

Hadapi Semester Ganjil, UI Tetap Kuliah Online. Berdasarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 yang dikeluarkan atas dasar keputusan bersama empat kementerian RI, diputuskan bahwa metode pembelajaran pendidikan tinggi tahun ajaran 2020/2021 dilakukan secara daring. Sejalan dengan hal tersebut, Universitas Indonesia pun akan menerapkan kegiatan belajar mengajar secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Meskipun Surat Keputusan (SK) terkait keputusan tersebut belum dikeluarkan, penerapan PJJ pada semester mendatang telah dikonfirmasi oleh Wakil Dekan bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FEB UI Teguh Dartanto, seperti dilansir dari Badan Otonom Economica FEB UI.

Sumber: emas.ui.ac.id

Walau begitu, UI juga mempertimbangkan beberapa opsi dan akan terus mengamati perkembangan kondisi pandemi. Bila memungkinkan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan metode blended learning akan diterapkan. Berikut rangkuman yang telah AnakUI buat, dilansir dari laman Badan Otonom Economica FEB UI!

1. Penerapan Metode Reported Learning

Sumber: 9to5Google

Saat ini Universitas Indonesia sedang melakukan penyusunan materi dan penyesuaian terhadap metode kegiatan belajar mengajar. Pada semester mendatang, pembelajaran akan dilaksanakan secara synchronized (melalui Google Meets atau Microsoft Teams) dan unsynchronized (Reported Learning). Melalui metode Reported Learning, dosen akan menjelaskan materi melalui rekaman dan membagikannya kepada mahasiswa. Mahasiswa akan diberikan waktu untuk bertanya. Hal ini bertujuan untuk menjangkau mahasiswa yang berdomisili di daerah agar lebih fleksibel dalam mengakses video. Selain itu, metode ini diharapkan mampu meringankan beban mahasiswa sehingga tidak perlu mengeluarkan kuota besar.

2. Pelonggaran Absensi

Sumber: kompasmadura.com

Tak hanya perubahan dalam metode pengajaran, nantinya akan ada pelonggaran absensi pada metode pembelajaran jarak jauh ini. Normalnya, absensi mahasiswa hanya dibatasi sebanyak tiga kali saja. Jika lebih dari tiga kali, mahasiswa dilarang mengikuti ujian. Namun, pada metode ini, Mahasiswa diperkenankan untuk absen lebih dari tiga kali dengan catatan harus menyertakan laporan dan bukti yang jelas.

3. Waktu Tambahan Saat Ujian

Sumber: pharexmedics.com

Saat ujian berlangsung, mahasiswa diberikan tambahan waktu maksimal 30 menit untuk mengirimkan jawaban. Apabila terdapat hambatan pada pelaksanaan ujian  (seperti akses internet terbatas), dosen akan memberikan ujian susulan asal ada bukti yang jelas. Mahasiswa diharapkan untuk melaporkan segala hambatan yang dialami selama KBM dan ujian berlangsung kepada kepala program studi (kaprodi), para wakil dekan, biro pendidikan, atau helpdesk UI.

4. Perubahan Soal Ujian

Sumber: tefl-planet.com

Terdapat perubahan pada soal ujian. Pada sistem Open book, bentuk soal yang keluar berupa model analitikal dan kontekstual sehingga mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan analitis.

5. Penambahan Semester bagi Mahasiswa Tingkat Akhir

Sumber: kompas.com

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, pihak kampus akan memberikan kelonggaran dengan penambahan satu semester. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa pascasarjana.

6. Kebijakan Khusus bagi Mahasiswa KKI

Sumber: Dok. Humas Fasilkom UI

Terdapat kebijakan spesial bagi mahasiswa kelas khusus internasional (KKI). UI tidak memperbolehkan mahasiswa KKI untuk exchange. Sebagai gantinya, mahasiswa KKI didorong untuk mengikuti online course di universitas luar, sehingga dapat merasakan sistem kurikulum luar negeri. Bila ada universitas luar negeri membuka kuliah luring, UI akan mendiskusikan dan mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut (dengan catatan pemerinta Indonesia telah mengizinkan pelajar untuk melakukan exchange di negara tersebut). Jika mahasiswa kukuh untuk melakukan exchange, Universitas Indonesia menyediakan dua opsi yakni mengambil cuti atau pindah ke program single degree.

7. Acara Kepanitiaan Masih Dipertimbangkan 

Sumber: Draco a.k.a Destri

Untuk kegiatan di luar akademis yang bersifat occasional dan menimbulkan kerumunan besar, saat ini belum ada keputusan dari pihak kampus. Sebab, kebijakan ini dipengaruhi oleh pemerintah dua wilayah (Depok dan Jakarta) sehingga perlu pertimbangan lebih jauh.

Referensi Lebih Lanjut: https://www.economica.id/2020/06/21/ui-sepakat-menerapkan-pjj-pada-semester-ganjil-2020/amp/?__twitter_impression=true

Referensi Gambar Header: Pexels

Seberapa Tersiksa Sih Mahasiswa Ketika Masa PJJ?

Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 benar-benar mengguncangkan dunia dari berbagai aspek, tak terkecuali pendidikan khususnya kegiatan belajar mengajar. Semua institusi pendidikan pun tak luput dari meliburkan para pelajarnya demi mengurangi dampak negatif dari pandemi ini. Tanggal 18 Maret 2020 kemarin, kegiatan belajar mengajar di UI resmi diubah menyesuaikan dengan anjuran dilaksanakannya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Awalnya, seperti tidak ada masalah berarti yang akan melanda. Bahkan, sebagian mahasiswa merasa PJJ akan mendatangkan hype yang lebih tinggi untuk belajar karena belajar bisa dari rumah. Tapi apa itu benar?

Ketika awal-awal menjalani masa PJJ, semua seperti tidak ada hambatan, termasuk kuota internet yang sepertinya masih mencukupi. Namun selang satu, dua, atau tiga minggu, sepertinya hal ini mulai sering dibicarakan oleh banyak mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mulai mengeluhkan tersedotnya kuota secara cukup masif hanya dalam waktu hitungan hari, karena harus mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti kelas, asistensi, kegiatan organisasi, dan masih banyak lagi.

Terlebih, Universitas Indonesia adalah universitas yang heterogen terkait kemampuan finansial mahasiswanya, dengan kata lain sebagian kalangan mahasiswa di UI kurang mampu secara finansial. Yang mampu secara finansial aja mengeluh juga, apalagi yang kurang mampu bukan? Wajar saja mengeluh, biaya yang perlu ditanggung memang bikin menyiksa. Mari kita hitung-hitungan secara kasar.

Secara Matematis, Berapa sih Biaya yang Harus ditanggung Mahasiswa per bulan ?

Berdasarkan mini riset yang dilakukan penulis, banyak mahasiswa UI yang menggunakan Telkomsel sebagai kartu mereka. Alasan kenapa perusahaan dengan kode emiten TLKM tersebut ramai digunakan oleh mahasiswa karena dianggap punya sinyal dan koneksi paling stabil dibanding yang lain. Ini faktor yang memang sangat penting mengingat kelancaran proses belajar mengajar sangat butuh koneksi yang baik.

Tidak semua punya wifi dirumahnya sehingga harus menggunakan paket data. Biaya paket untuk Telkomsel sendiri memang cukup menyeramkan. Biaya sekitar seratus ribu rupiah hanya akan mendapatkan kuota sebesar kurang lebih 12 GB. Berdasarkan pengakuan rekan dan pengalaman pribadi, setiap satu jam akan menyedot 1 GB (bahkan lebih!), dan itu jumlah yang sangat banyak.

Mari kita berasumsi, satu orang mahasiswa dalam seminggu akan menghadiri kelas kurang lebih 6 kali, ditambah asistensi atau kelas tambahan sebanyak 2 kali sehingga dalam seminggu mereka harus muncul sebanyak 8 kali. Satu sesi kelas ambil rata-rata 2 jam, sehingga dalam seminggu mereka akan habiskan 16 jam. Dengan rate asumsi tadi, berarti seminggu akan menyedot kuota minimal 16 GB.

Secara biaya mereka harus menyiapkan dana 100-150 ribu rupiah, per minggu. Dalam sebulan mereka harus menyediakan 400-600 ribu rupiah! Tentu bukan jumlah yang main-main. Dan perlu diingat itu masih belum mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti, pembulatan ke bawah asumsi kuota yang tersedot (menjadi hanya 1 GB/jam), total kelas yang hanya 8 dan masing-masing 2 jam (kenyataannya, banyak yang dalam seminggu yang harus menjalankan lebih dari 8 sesi, dan ada pula sesi yang lebih dari 2 jam), dan kegiatan pendukung akademis lainnya (tugas kelompok, belajar bersama, les). Sangat mungkin jumlah yang harus dihabiskan oleh mahasiswa dalam sebulan melebihi jumlah estimasi diatas! (dan mungkin saja jumlah nya juga di bawah angka tersebut karena faktor lain semisal provider yang murah, jumlah kelas yang memang sedikit, dll)

BACA JUGA: Begini Cara Login Wifi Gratis di Stasiun UI!

Tuntutan Mahasiswa terhadap Pihak Rektorat

Dengan asumsi tersebut, tentu akan sangat menyiksa mahasiswa, terutama yang tidak mampu secara finansial. Bagaimana mereka bisa turut berpartisipasi apabila terhalang keadaan ekonomi ? oleh karena itu, pada Rabu (15/4) BEM UI melalui Departemen Aksi dan Propaganda atau Akprop menyerukan kepada pihak UI untuk meringankan beban PJJ Mahasiswa UI.

Bentuk keringanan yang paling umum disebut dalam bentuk subsidi kuota. Untuk memvalidasi tuntutan ini, sebelumnya BEM UI lewat Departemen Adkesma telah melakukan penjaringan aspirasi Mahasiswa UI. Ada total hampir 600 responden, dan lebih dari setengah berpendapat bahwa keberatan untuk membiayai kuota internet yang dikeluarkan. Hampir 40% berpendapat pula biaya kuota internet melebihi anggaran yang mereka punya.

Tidak main-main, sebagai bentuk keseriusannya Departemen Akprop BEM UI mengeluarkan petisi yang meminta pihak rektorat UI mensubsidi kuota selama periode PJJ ini. Petisi ini disampaikan lewat platform change.org dengan tautan change.org/DesakUIBerikanSubsidiKuota. Menurut Departemen Akprop BEM sendiri banyaknya massa yang tanda tangani petisi tersebut menunjukkan bahwa isu yang diangkat mengenai pentingnya subsidi kuota dan atau pulsa bukanlah main-main.

Sumber: change.org

 

Tapi sayangnya, belum ada kabar lebih lanjut mengenai kelanjutan dari petisi tersebut. Namun ada beberapa rencana lanjutan apabila tuntutan petisi tersebut tidak terpenuhi. BEM UI akan meminta secara khusus mahasiswa bidikmisi dan mahasiswa lain yang lebih membutuhkan untuk diberikan subsidi, seperti kekhawatiran yang sudah disampaikan beberapa anak UI perihal salah target.

Rencana lain, BEM UI meminta agar pihak  rektorat dapat bekerja sama dengan platform-platform yang biasa digunakan selama periode PJJ, semisal Microsoft Teams, Google Meet, Zoom, dan lain-lain. BEM UI menuntut agar dengan adanya kerjasama tersebut, kelas atau tugas online via platform tersebut dapat diakses secara gratis karena pada umumnya platform tersebut menghabiskan kuota yang cukup banyak.

BACA JUGA: Kisah Misteri Legenda Kampus UI, Cewek di Depan Rektorat 

Siksaan’ Selain Kuota

Ternyata, cobaan yang dihadapi mahasiswa tidak datang hanya dari tersedotnya kuota secara masif, namun juga pemberian tugas yang ternyata tidak main-main. Berdasarkan mini riset penulis, sangat banyak mahasiswa yang mengeluhkan tugas selama PJJ ini meningkat secara pesat. Bahkan lucunya, beberapa mahasiswa sempat menyeletuk “mendingan kuliah offline aja kalo kaya gini” “lebih enak sebelum PJJ ya, tugasnya masih wajar ga kaya sekarang”

Pengakuan lain dari seorang rekan, ia harus membawakan total 4 kali presentasi hanya dalam sehari, jumlah yang tidak cukup wajar mengingat rata-rata maksimal presentasi hanya sekitar 2 kali. ‘Kejamnya’ tugas yang diberikan juga kembali dapat meningkatkan penggunaan kuota, seperti akses internet untuk mengerjakan presentasi bersama, ataupun membuka situs-situs e-learning untuk materi/bahan dan pengumpulan tugasnya.

BACA JUGA: Kuliah Lo Masih Konvensional? Udah Gak Zaman Bro

***

Dengan begini, periode PJJ bagi mahasiswa tentu menjadi periode yang sangat berat. Selain finansial terkuras, secara tenaga juga terkuras dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Efek terburuknya dapat mempengaruhi psikologis mahasiswa yang dapat berakibat stress ataupun resah. Ditambah dengan pembatasan kebutuhan sosial manusia untuk bertemu satu sama lain, rasanya semua mahasiswa ingin periode PJJ berakhir secepatnya.

Header image reference: edly.io