Tax Amnesty: Wajib Pajak Patuh Hanya Diapresiasi, Wajib Pajak Nakal Kok Malah Diampuni?

Mahasiswa UI yang kritis-kritis pasti udah tau dong kalo pemerintah baru aja menetapkan kebijakan baru yang dikenal dengan Tax Amnesty. Bagi yang belum tau, kali ini anakui.com akan membahas tentang hal tersebut secara sederhana, sebelum keburu basi!

BACA JUGA: Ini Dia Alasannya Kenapa Kamu Harus Baca Berita yang Benar

Tax Amnesty terdiri dari dua kata; tax yang artinya pajak dan amnesty yang artinya pengampunan. Jadi, bisa kalo digabung dan dirangkai, tax amnesty bisa diartikan sebagai “pengampunan pajak”. Yup, tax amnesty merupakan sebuah kebijakan pengampunan pajak, yaitu adanya penghapusan pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan dananya di luar negeri, dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak di dalam negeri. Dalam kebijakan ini, WP mendapat pengampunan pajak dengan hanya membayarkan denda pajak.

Dengan diberlakukannya tax amnesty, diharapkan para pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri akan memindahkan dananya ke Indonesia dan menjadi WP baru yang patuh. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pajak negara.

Pemerintah baru aja menetapkan kebijakan baru yang dikenal dengan Tax Amnesty via thejakartapost
Pemerintah baru aja menetapkan kebijakan baru yang dikenal dengan Tax Amnesty via thejakartapost

Kebijakan baru di Indonesia yang memiliki tagline “Ungkap-Tebus-Lega” ini turut mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Oleh karena itu, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UI, Tax Centre UI, dan Observation and Research of Taxation (Ortax) mengadakan diskusi panel “Tax Amnesty, What’s Next?” yang diadakan pada Rabu (3/8/2016) di Auditorium Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok untuk membahas mengenai pro kontra kebijakan Tax Amnesty dan pokok-pokok Undang-undang Pengampunan Pajak yang telah aktif per 1 Agustus 2016 kemarin.

Para ahli dan pemerhati pajak dari turut hadir dalam diskusi tersebut, di antaranya adalah Prof. Haula Rosdiana (Guru Besar FISIP UI), H. Mukhamad Misbakhun (Anggota Komisi II DPR RI), Sugeng Teguh Santoso (Sekretaris Jenderal Perhimpunan Advokat Indonesia), Drs. Iman Santoso (Tax Partner Ernst & Young), dan Yustinus Prastowo (Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis).

Salah satu pembicara, Sugeng Teguh adalah salah satu tokoh yang melakukan permohonan Judicial Review atas Tax Amnesty ke Mahkamah Konstitusi. Menurutnya UU Pengampunan Pajak tidak menghargai asas keadilan dan kepastian karena pemerintah belum mempersiapkan mekanisme apa ke depannya yang bisa memastikan bahwa kebijakan tax amnesty ini memang akan memberikan keuntungan bagi negara.

“Tax Amnesty, What’s Next?” yang diadakan di Auditorium Pusat Studi Jepang via ortax
“Tax Amnesty, What’s Next?” yang diadakan di Auditorium Pusat Studi Jepang via ortax

Di lain sisi, Mukhamad Misbakhun menyatakan bahwa semua kebijakan atau peraturan pasti dibuat untuk kebaikan bersama dan sesuatu yang besar, bukan hanya bagi kepentingan segelintir orang. Dalam suatu kebijakan prinsip keadilan juga harus diperhatikan, tapi di atas itu semua kita harus memperhatikan kepentingan yang lebih besar, manfaat yang lebih besar untuk semua orang.

Sementara menurut Prof. Haula, komunikasi politik menjadi peran penting dalam menunjang keberhasilan kebijakan tax amnesty di suatu negara. Karena kebijakan ini melibatkan semua unsur negara, mulai dari masyarakat, pemerintah, sampai organisasi masyarakat, agar terjalin komunikasi yang baik dan meminimalisir terjadinya kesalahpahaman.

Nah, bukan hanya pejabat dan pengamat pajak aja nih yang boleh berpendapat, karena di UI juga ada yang namanya Administrasi Fiskal, pasti mahasiswanya juga mengamati dan selalu update mengenai hal ini.

Kalau menurut Achmad Eko Prabowo yang merupakan mahasiswa Administrasi Fiskal UI 2011, “Kebijakan Tax Amnesty telah meruntuhkan kewibawaan Indonesia sebagai negara hukum. Gimana engga? Kebijakan itu telah menciderai prinsip keadilan dalam penegakan hukum pajak. Wajib Pajak nakal diampuni, sedangkan Wajib Pajak patuh hanya diapresiasi. Dengan begitu, tax amnesty ini tentunya menimbulkan disharmoni dalam penyelenggaraan sistem perpajakan di Indonesia ke depannya.”

Pada akhirnya, balik lagi seperti yang kata orang-orang bilang: semua itu diciptakan gak instan dan pastinya melalui kajian dan pemikiran yang panjang dari berbagai pihak terlebih dahulu, barulah diputuskan kebijakan yang menyangkut seluruh lapisan masyarakat. Jadi, ambil positifnya aja, kita lihat seberapa efektif kebijakan ini berjalan dan tetaplah menjadi Warga Negara yang taat terhadap pajak.

Pro dan Kontra OSPEK

Libur lebaran telah usai, kini tiba waktunya bagi para mahasiswa baru untuk siap-siap merantau ke daerah tempatnya mengenyam bangku perkuliahan dan mempersiapkan segala perlengkapan, fisik, dan mental pra-perkuliahan atau yang biasa disebut dengan OSPEK. Anw, yang masih menerka-nerka apa itu kepanjangan OSPEK, daripada nanya mbah gugel lagi mending tak kasih tau ya. Jadi, OSPEK ini merupakan singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Gitu.

Di UI sendiri, OSPEK sudah tidak asing lagi didengar di telinga mahasiswa. Semua mahasiswa pasti pernah merasakan manis dan getirnya perjuangan OSPEK itu sendiri. Akan tetapi, siapa sangka bahwa sampai saat ini OSPEK masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Apa saja ya kira-kira? Berikut anakui.com menyimpulkan pendapat yang pro dan kontra terkait dengan hal ini.

Tak selamanya ospek itu menyedihkan
Dengan mengikuti OSPEK kamu bisa lebih dekat dengan teman-teman seangkatan! via wepreventcrime.org

Pro Terhadap OSPEK

OSPEK merupakan sarana awal bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi terhadap kehidupan kampusnya. Mereka akan lebih mengenal lingkungan kampus, sistem, maupun organisasi-organisasi yang dapat mengembangkan minat dan bakat mereka nantinya.

  1. OSPEK melatih mahasiwa baru agar lebih disiplin. Semua rangkaian kegiatan dalam acara OSPEK ini telah disusun dengan rapi dan sistematis serta memiliki tujuan khusus, sehingga mahasiswa baru sudah sepatutnya mengikuti semua kegiatan OSPEK dengan disiplin dan tepat waktu.
  2. OSPEK membuat mahasiswa baru lebih dekat dengan teman-teman satu angkatannya, juga dengan senior yang akan mereka temui setiap hari nantinya. Hal ini sangatlah berguna untuk menjalani kehidupan perkuliahan, karena di dunia perkuliahan tidak ada yang dapat benar-benar berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain.
  3. Jangan ambil sedih dan pahitnya, pasti OSPEK ini menjadi cerita bagi mahasiswa baru nantinya. Dibentak dan harus mengerjakan berbagai macam tugas itu wajar dalam OSPEK, karena merupakan salah satu bentuk adaptasi. Lakukan aja yang terbaik, nanti juga jadi pengalaman yang seru dan bisa diceritain ke teman-teman dan adik-adik di bawah kamu, kok.
  4. Selain itu juga karena kamu ikut OSPEK, kamu juga bisa tau tempat kantin di UI yang demure (dekat, murah, enak). Belum lagi sarana penunjang belajar yang berstandar di Internasional yang wajib kamu cicipin, yaitu perpustakan UI. Itu baru sedikit manfaat dari ikut OSPEK loh!
Yakin deh senior kamu di UI sudah membuat program terbaik untuk masa OSPEK kamu
Yakin deh senior kamu di UI sudah membuat program terbaik untuk masa OSPEK kamu via wepreventcrime.org

Kontra Terhadap OSPEK

  1. OSPEK itu buang-buang waktu, apalagi jika menggunakan atribut yang aneh-aneh. Silahkan lihat di luar negeri yang telah maju di sana, apakah mereka menggunakan cara OSPEK seperti di Indonesia untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang sukses?
  2. Kata siapa OSPEK akan berkesan bagi para mahasiswa baru? Banyak cara yang dapat membuat pengalaman berkesan bagi mahasiswa baru. Justru dengan rangkaian kegiatan OSPEK yang penuh dengan tugas, tensi, dan tekanan, akan membuat kesan yang buruk dan menurunkan semangat baru para mahasiswa baru.
  3. Tidak mengikuti OSPEK bukan berarti tidak dapat menjalani perkuliahan dengan sukses. OSPEK hanya permulaan. Hanya awal. Tujuan berkuliah adalah untuk menimba ilmu, sedangkan masalah OSPEK seharusnya adalah pilihan bagi tiap individu, apakah mau mengikutinya atau tidak. Tidak ada peraturan yang mengharuskan mengikuti OSPEK sebagai syarat menjalani perkuliahan nantinya.
  4. Sebagian besar panitia OSPEK hanyalah mengambil peluang ini untuk bermain-main, menjaili mahasiswa baru dengan segala kekuasaan yang dimilikinya. Mereka juga menjadikan OSPEK sebagai ajang balas dendam akan perlakuan OSPEK tahun yang lalu. Akan begitu seterusnya.

 

Well, OSPEK ini masih menjadi kultur dalam penyambutan mahasiswa baru di Indonesia. Bagaimanapun juga, mahasiswa baru membutuhkan orientasi dan sarana untuk mengenal lebih jauh tentang kampus yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu untuk beberapa tahun ke depan.

Semua hanya masalah pengemasan OSPEK itu sendiri, apakah diisi dengan materi-materi yang bermanfaat dan berguna ataukah hanya berisi omong kosong dan hal yang membuang-buang waktu. Kalau menurut kamu, OSPEK itu gimana? Jangan lupa share tulisan ini via Facebok, Twitter dan Line ya!

[Diskusi] Bagaimana Pendapat Anak UI mengenai LGBT?

Keputusan Majelis Tinggi Amerika Serikat untuk melegalkan pernikahan sesama jenis menimbulkan berbagai macam respon dan komentar. Ada yang setuju, menolak mentah-mentah, bahkan menghujat dengan cacian dan makian.

Berita ini membuat banyak orang geram untuk ikut menyuarakan pendapatnya mengenai fenomena ini di berbagai media sosial. Oleh karena itu, anakUI.com mencoba merangkum apa saja pendapat-pendapat umum yang sering disuarakan oleh teman-teman yang juga merupakan anak UI. Sebab anak UI ga boleh menutup mata akan apa yang terjadi di sekelilingnya, ya!

 

Kontra LGBT

Karena admin yakin di Indonesia sendiri masih banyak yang kontra akan hal ini, maka admin akan mulai membahas ke bagian kontra terlebih dahulu.

  1. Hubungan sesama jenis dilarang oleh agama dan tergolong dosa besar. Hal ini telah diatur dalam kitab di semua agama, dan setiap orang pasti memiliki tafsiran atau pemahaman yang berbeda-beda akan hal tersebut.
  2. Manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Tuhan, sudah seharusnya kita sebagai manusia mengikuti aturan tersebut dan tidak bertindak melawan kodrat. Orang yang tergolong dalam LGBT merupakan mereka yang melakukan penyimpangan dan upaya perlawanan terhadap Tuhan.
  3. LGBT merupakan penyakit dan digolongkan dalam gaya hidup yang tidak sehat. Pengaruh lingkungan yang buruk sangat menentukan perilaku tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kemauan yang sungguh-sungguh dari pelaku LGBT agar dapat sembuh dan kembali normal.
  4. Bencana alam semakin hari semakin banyak terjadi dan merupakan tanda-tanda berakhirnya zaman, seiring dengan semakin banyaknya orang yang menyatakan dirinya bagian dari LGBT, apalagi dengan maraknya pernikahan sesama jenis.

 

Pro LGBT

Belum banyak masyarakat Indonesia yang pro akan LGBT, mengingat masih rendahnya pengetahuan masyarakat Indonesia akan hal ini serta perbincangan tentang LGBT yang masih dianggap tabu.

  1. Seharusnya kita dapat menghargai keberadaan LGBT atas dasar kemanusiaan sebagaimana kita menghargai perbedaan yang ada di sekitar kita. Ingat, LGBT juga manusia yang sama seperti kita yang berhak menjalani kehidupan dan meraih kesuksesan.
  2. Mendukung bukan berarti menjadi bagian darinya. Kita cukup menerima dan memahami keadaannya, bahwa terlahir berbeda bukanlah perkara mudah. Jangan mengucilkan apabila ia tidak mengganggu kita. Apakah kita pantas mengucilkan ciptaan Tuhan?
  3. LGBT bukanlah lagi penyakit atau kelainan mental menurut penelitian yang dilakukan oleh American Psychiatric Association semenjak tahun 1973. Stop mengatakan bahwa LGBT dapat disembuhkan.
  4. Setiap orang berhak jatuh cinta dan semestinya mereka tidak boleh dipisahkan. Sayangnya, setiap orang tidak ada yang dapat memilih untuk jatuh cinta dengan siapa; laki-laki dengan wanita, laki-laki dengan laki-laki, atau laki-laki dengan wanita. Orientasi seksual seseorang tidak dapat diubah, ia telah diatur dalam gen manusia ketika lahir muncul secara alamiah ketika manusia memasuki masa pubertas.

 

Mungkin segitu aja rangkuman admin anakui.com mengenai pendapat-pendapat anak UI tentang LGBT. Btw, yang mungkin temen-temen ga sadari, sebenernya LGBT ini udah ada dari masa lampau, jauh-jauh hari sebelum Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis. Pernikahan sesama jenis juga telah lebih dulu dilakukan oleh Belanda dan Irlandia.

Namun, inilah salah satu pengaruh media, dapat mengangkat permasalahan yang sebenarnya telah lama ada menjadi hangat diperbincangkan kembali. Ditambah lagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka melebih-lebihkan. Yang sedang hangat diperbincangkan adalah pernikahan sesama jenis, tetapi bangsa kita heboh memperdebatkan mengenai pelakunya itu sendiri, yakni LGBT; apakah pantas diterima atau tidak.

Yang jelas, tentu saja kita sebagai anak UI yang berpendidikan tinggi harus memiliki pedoman dan prinsip masing-masing bagaimana untuk menyikapi permasalahan ini, jangan mudah terprovokasi dan harus tetap berpikir logis. Semoga kita tidak termasuk dalam orang yang terbuai akan Pancasila sila pertama, sampai pada akhirnya lupa akan empat sila lainnya.

Teman-teman sendiri, bagaimana pendapatnya mengenai LGBT?

 


Artikel dengan judul [Diskusi] adalah artikel yang mengundang teman-teman semua untuk berbagi pendapat lewat kolom komentar.

Apakah teman-teman punya topik yang bisa memancing diskusi seperti ini? Tulis saja di anakUI.com ya!


error: This content is protected by the DMCA