ui bukan UI (Renungan atas aksi “anak UI” 29-09-2010)


0

Apa yang membedakan “ui” pertama dan “UI” yang kedua? Ya, secara eksplisit hurufnya, yang satu menggunakan huruf kecil, sementara lainnya huruf besar. Tapi, apakah hanya itu?

Sesuai dengan subtitle yang saya buat, tulisan ini akan berbicara tentang aksi yang dilakukan oleh orang-orang yang seakan-akan mewakili suara UI di Goethe Institute tanggal 29 September 2010. Untuk yang belum tahu beritanya, ini beritanya,  “Mahasiswa UI Tolak Pemutaran Q! Film Festivalhttp://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/09/29/brk,20100929-281415,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Singkatnya, beberapa mahasiswa UI (SALAM UI) melakukan demo menolak Q! Film Festival dan menggunakan jaket almamater UI. Hal ini menjadi heboh (paling tidak di twitter) karena ternyata tidak semua mahasiswa UI setuju dengan demo tersebut, dan merasa para pendemo tersebut dapat mencoreng nama UI, seakan-akan kebanyakan anak UI tidak setuju dengan festival film tersebut.

Sebenarnya kehebohan karena ada beberapa mahasiswa UI berdemo seperti ini bukan kali pertama dalam 4 tahun terakhir. Masih tahun ini, pada bulan Maret, Sri Mulyani dihadang saat akan masuk ke UI oleh sebagian mahasiswa UI (FAM UI) (http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/03/08/brk,20100308-230931,id.html) dan kejadian ini sempat dibahas panjang juga di anakui.com juga. https://www.anakui.com/2010/03/08/tentang-rusuh-demo-mahasiswa-saat-kedatangan-ibu-sri-mulyani-hari-ini/

Dari dua kejadian tersebut, saya melihat SALAM UI melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh FAM UI. Mereka membawa nama UI padahal tidak semua anak UI setuju dengan pendapat mereka. Yang jadi masalah adalah karena masyarakat awam tidak mampu membedakan anak UI yang mana? Yang diketahui masyarakat (termasuk pers) adalah saat jaket kuning turun ke jalan berarti itu mewakili suara anak UI secara keseluruhan. Ini tentunya menjadi masalah yang besar apabila yang disuarakan oleh para pendemo itu ternyata tidak sesuai dengan suara anak UI kebanyakan.

Oleh karena itu, saya berharap untuk anak-anak UI lainnya, organisasi-organisasi di UI supaya bisa lebih bijak sebelum bertindak. Ingat! Kalian akan membawa nama UI dan apapun yang kalian lakukan akan dianggap masyarakat sebagai suara warga UI, jadi hati-hati dalam bertindak dan berpendapat.

Kembali ke pertanyaan awal saya, yang saya maksud dengan ui huruf kecil adalah para pendemo tanggal 29 September 2010 kemarin. Sementara UI huruf besar adalah warga UI secara umum. Jadi, para pendemo kemarin hanyalah versi (kecil) minoritas dari suara UI yang sesungguhnya. Semoga tidak ada lagi aksi-aksi kurang cerdas dari “ui-ui” lainnya.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Christian

103 Comments

Leave a Reply

  1. Maaf, tapi sejauh saya membenci sekelompok mahasiswa UI yang mendemo QFF, saya merasa bahwa tulisan ini pun miskin argumen dan tidak menyadari situasi yang terjadi masalah bentrokan simbolik dan representasi yang terjadi di era informatika ini.

    Tidakkah setiap warga UI berhak bicara atas nama almamaternya? Tulisan seperti ini sangat berbau totalitarian dan tidak demokratis. Apa mesti berkumpul dan bikin konvensi dulu baru bisa bawa nama UI keluar kampusnya?

    Memang, demonstrasi tersebut bukan hanya mencemarkan nama UI tapi juga mencemarkan nama mahasiswa dan intelektualitas secara umum. Maka itu mari kita lihat dari perspektif yang lebih besar dari itu: pertama, mahasiswa UI memang multikultural dan memang mendapatkan pengajaran yang berbeda-beda; kedua, kalau ada golongan yang narrow minded dan bersikap seperti FPI itu, mestinya ada tandingannya bukan, yaitu golongan intelektual kritis. kemanakah golongan itu?

    dan yang pantas dipertanyakan lagi adalah, bagaimanakah UI mendidik mahasiswanya sehingga ada golongan narrow minded yang tidak ilmiah, moralis, dan tidak intelek mendemo QFF. Bagaimana ada golongan yang mendasarkan tindakannya bukan berdasarkan keilmiahan tetapi berdasarkan opini dan hukum moral relatif di UI? bagaimana kaum seperti ini bertambah banyak hari ke hari? Apa sih yang diajarkan di UI?

    Saya anak UI, tapi saya malu bahwa teman-teman se universitas ada yang seperti ini. dan mereka juga anak UI dengan hak yang sama seperti saya. Oh, UI, apa yang terjadi?

  2. say sangat kecewa, karena :
    1. Betapa teman2 dari SALAM UI tidak menyadari tentang kecenderungan masyarakat untuk menggeneralisir apa apa yg “berjaket kuning” sebagai anak ui secara keseluruhan. Harusnya untuk aksi mengenai isu2 yg sensitif seperti ini, teman2 dari SALAM UI mempunyai cukup intelegensia untuk mengetahui bahwa tidak semua masyarakat UI mempunyai pandangan yg sama dengan mereka mengenai kasus ini.
    2. Sebagai anak UI, sebagai kaum yang terpelajar, seharusnya teman2 SALAM UI menyadari tentang eksistensi HAM dan supremasi hukum di negara ini, yang menjamin kebebasan tiap individu untuk berekspresi, jangan semua-muanya dibenturkan dengan “kepentingan masyarakat umum”. INGAT!!! tugas negara demokrasi bukan hanya memenangkan kehendak mayoritas, tapi juga melindungi hak-hak minoritas.
    .
    .
    .
    .
    saya rasa ini adalah degradasi dari pergerakan mahasiswa UI, yang dulunya menjadi pemonitor jalannya negara dan pemerintahan, eh sekarang malah jadi polisi moral.
    mengingatkan saya akan sebuah ‘ormas’.

  3. Memiliki pendapat & menyuarakan pendapat kelompok/golongan sah2 aja. Tapi sebaiknya nama yg digunakan ya nama kelompok tsb, dimana semua anggotanya punya suara yg sama. Di UI terdapat pendapat2 yg berbeda, yg jg harus dihargai & diperhatikan haknya. Singkatnya, sblm memastikan seluruh anak UI punya pendapat sama, sebaiknya jaket kuning gak usah dipakai. Atau kalau tetap ingin masyarakat tahu kalian dr UI, jgn lupa tekankan nama organisasinya. Jd gak ada pihak yg merasa dirugikan. Salam damai! 😀

  4. @nosa: iya nos, ini emang gua bikin ringkas karena tujuan gua disini biar banyak orang yang mau baca, kalo kepanjangan nanti orang males baca. dan gua emang ga mau ngebahas masalah bahwa pemikiran si pendemo itu salah ato benar. poin utama gua disini adalah supaya orang2 tau kalo ga smua anak ui menyuarakan yang didemokan kemarin. thx buat tanggapannya.. long time no see nos. ^^

  5. setuju. Aksi itu memang tidak bisa jika dilakukan secara spontant. harus ada kajian yang mendalam dan sosialisasi ke minimal 13 fakultas yang ada di UI.

  6. hwakakak…film maho aja ada yg dukung.. jgn2 maho juga.. jelas2 tuh bertentangan dengan sila pertama dan sila kedua pancasila.. masih aja ada yg bela..

    soal HAM.. HAM itu asalnya fitrah dari Tuhan, mana ada Tuhan yg membela maho, ada juga dilaknat tuh maho..

    salam damai selalu,,,

    1. Wahyu… maaf ya, wawasan Anda perlu diasah lagi rasanya. Anda pernahkah melihat film-film yang anda katakan Maho itu? Barangkali Anda sudah prejudis duluan, sebelum melihat kenyataannya.

      Tahun lalu ada satu film yang sangat menarik, menceritakan gay yang begitu cinta dengan keIslamannya. Proses pencahariannya, mempertanyakan apa yang terjadi dalam dirinya, mengapa Allah SWT memberikan ujian yang begitu berat (di mata dia). Seandainya Anda menyaksikan film ini, saya yakin Anda sebagai seorang muslim sejati akan bisa merasakan konflik batinnya.

      Kalau anda berpandangan yang mendukung film LGBT pasti LGBT, aduh kasihan sekali kamu! Nonton film-film dengan isu ini tidak mengajak/mempengaruhi kita jadi LGBT. Justru kita lebih mengerti rasa kemanusiaan itu.

      belajar lagi ya…

  7. @wahyu: nah itu dia yg saya maksud beda pendapat. Dari SD kan kita diajarin utk saling menghargai pendapat masing2 (:

  8. setuju dengan comment dari Nosa dan Wahyu

    bahkan ada misi terselubung dari film itu (dari siaran tvOne)
    bahkan depkominfo aja menolak tidak memberi izin
    bahkan akal sehat kita pun tidak mengatakan itu hal yang sesuai dengan kebudayaan indonesia

    bahkan sy heran dengan tulisan ini, keknya cuma Anda aja yang mempermasalahkan bahwa aksi itu tidak mewakili seluruh anak UI (maksudnya tidak mewakili Anda)

  9. buat wahyu dan google :
    saya ragu apakah anda benar anak ui.
    dilihat dari komentar anda yg sangat utopis, terlihat bahwa kalian berdua jauh dari objektifitas keilmuan yg dijunjung tinggi akademisi UI.
    gini ya, mau anda bilang Tuhan benci gay, Tuhan melaknat gay, tapi nyatanya Tuhan MENCIPTAKAN gay!
    ingat, mereka diciptakan sebagai manusia jg.
    realistislah, memang mau kalian apakan orang2 ini? mau anda rampas hak2 mereka?
    dan ingat, ini hanyalah festival film yg mengangkat realitas kehidupan manusia. apakah film ttg pelacur haram? apakah film ttg koruptor haram? apakah film ttg teroris haram?
    lalu mau anda apa? mau film yg tokohnya orang alim semua?

  10. coba balik lagi ke semeter awal, ke mpkt..
    baca lagi bahasan ttg Pancasila..
    atau ke Pendidikan Agama..
    dan tanya hati kecil anda..
    “Apakah pantas Diri anda menjadi Gay/Lesbi?”

    ga mau diterusihn ah.. ntar kya dia.. bisa2 jadi atheis..
    masa maho didukung,..

  11. @gugel: apakah Anda pny twitter ato fb?dsana smpat heboh pnolakan ank2 ui lain ats demo it.
    Hm,cb bc lg komen nosa,dia menolak pendemo kmarin.
    Mslh budaya,jd yg ssuai am budaya indo ap?mw lbh ekstrim,ap c definisi budaya?haha.
    Gausah sampe segituny.skali lg,tujuan tulisan in bkn mendukung ato menolak gay,tp utk myadarkn masy. Bhwa yg demo kmarin BELUM TENTU mwakili ui.spy jgn sampe trbntk opini sosial bhwa ui mnolak gay.

    @wahyu:pancasila y?sila 1,ktuhanan yg maha esa.tw drmana gay ga brtuhan?sila 2,manusia yg adil n bradab.kl kta ga adil am gay,ssuai ga am sila it?saya kcewa bgt pancasila dtafsirkan kyk gt,tujuan pancasila it utk memastikan rakyat indonesia seluruhnya hdup makmur.oy,pdhal hr in hr ksaktian pancasila.

  12. gini ya, mau anda bilang Tuhan benci gay, Tuhan melaknat gay, tapi nyatanya Tuhan MENCIPTAKAN gay!…

    Sekalian aja tanya, buat apa tuhan menciptakan Iblis, jika masuknya neraka.. :ckckck…

    Agama mana yg yg diakui di Indonesia yg memperbolehkan Gay/lesbi?..

  13. seperti halnya pelanggaran hukum negara vonisnya ditentukan hakim, biarlah pelanggaran hukum agama vonisnya ditentukan Tuhan.

    Tapi ini udah out of context deh. Tulisan ini kan ngga mempermasalahkan aksi protes, tapi nama yang dibawa dlm aksi tersebut..

  14. Saya sepakat dengan tulisan ini. Intinya adalah untuk menghimbau anak-anak UI yang ingin menjalankan sebuah aksi untuk lebih memikirkan tindakan dan pendapatnya di lapangan tidak hanya karena tidak semua mahasiswa UI setuju dengan aksinya, namun juga karena mereka membawa nama UI sebagai sebuah institusi dengan memakai atribut jaket kuning.

    Karena jujur saja, saya agak kaget melihat berita yang memuat pendapat salah satu pendemo yang menurut saya aneh mengenai pelaksanaan Festival film ini. Demikian juga ketika saya membaca berita yang mengenai kedatangan ibu sri mulyani, mereka dengan menggunakan jaket kuning, naik ke atas mobil. menurut saya itu merupakan tindakan yang kurang pantas dilakukan oleh mahasiswa (apalagi mereka menggunakan jaket almamater).

    Setuju dengan dimas. Setiap aksi, lebih baik dibicarakan dengan 13 fakultas yang ada. dengan begitu aspirasi yang ada dari semua mahasiswa bisa tersampaikan. 🙂

  15. eh SALAM UI kemarin damai damai aja kan ya demonya? 😮 Saya rasa tidak separah FAM UI deh. Saya kira itu masih hal yang baik dilakukan. Mohon maaf karena tidak ada anarkisitas yang terjadi. Hanya ada penyuaraan pendapat oleh mahasiswa tersebut.

    Ini kan negara demokrasi, kalau Anda menuntut kebebasan dalam HAM, mereka juga berhak bersuara dong, bukan hanya Anda saja. Ya toh?

  16. wahyu:
    pengkotakan agama menjadi 5, hanyalah teori saja. pada kenyataannya 5 agama itu telah bercabang menjadi ratusan sesuai dengan intepretasi dan keyakinan pemeluknya. apakah negara berwenang untuk memaksa pemeluk agama untuk menyeragamkan keyakinannya menjadi 5 macam saja?
    begitu jg dgn seseorang yg mempunyai keyakinan bahwa Tuhan memang menciptakan dan mencintai gay, apakah negara berwenang melarang orang itu?
    selama hal itu tidak merugikan atau membahayakan orang lain, negara gak berhak mengatur keimanan seseorang.
    itulah mengapa, lemah sekai klo mendasarkan peraturan dgn alasan agama.
    @ahmad yunus :
    penyuaraan pendapat memang dijamin kebebasannya. tapi ada batasnya, batasnya adalah melarang pendapat yg justru tidak tolerant dgn kebebasan itu.
    tolerant to tolerance, intolerant to intolerance.
    @christian :
    maaf sudah mengotori artikel anda dgn diskusi yg OOT dari tujuan artikel ini.
    tpi dengan membaca diskusi ini, setidaknya orang sudah tahu bahwa tidak semua anak ui mengamini aksi yg dilakukan salam ui kemaren.

  17. “apakah film ttg pelacur haram? apakah film ttg koruptor haram? apakah film ttg teroris haram?”
    ^^ telak sob!!

    @Christian: saya stuju sama Anda! you’re NOT ALONE.

    lagipula sesuai dengan hukum kemahasiswaan di UI ini, wadah kemahasiswaan kita itu IKM UI. yang berhak mengatas namakan UI ya badan eksekutif (BEM UI) atau badan legislatif yudikatifnya (DPM UI).

  18. HELLOOO..
    gw bosen banget dah. gw yang tau medan nya kaya gimane aje biasa aje dah. setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. bukankah demikian?

    sekarang gw tanya.emang tiap kali BEM UI turun ke jalan, apakah mewakili semua suara anak UI?

    semuanya tentu tahu jawabannya tidak.

    silahkan dijawab sendiri. tulisan ini bukan opini menurut saya. hanya sebuah komentar panjang berparagraf. ga ada data.

  19. ahmad : gw stuju boi. orang di UUD aje ude jeas2 noh bebas berpendapat.

    anw all : aksi konkrit lo dengan kata ‘menghargai gay’ tu sejauh mana?
    kalo cuma diem2 aa sih bisa jadi apatis. atau ‘terpaksa peduli’ karena reaktif setelah ada tindakan dari temen2 salam ui, itu mah sama aja.

    kalo lo menghargai dan ada tindakan konkritnya gimana cara lo menghargai mereka sih oke2 aje.

    oh ya, jangan cuma mikir pendek dengan mempertimbangkan pemikiran si kaum gay or lesbi apapun itu, pikirin juga dong dampaknya ke masyarakat laen. bisa jadi smakin banyak yang abnormal, masyarakat jadi merasa hal yang ‘abnormal’ jadi ‘normal-normal’ aje

  20. @whoever dan legend
    ayo tampilin nama asli kalian,,, berani berbicara berani bertanggungjawab!!! Jangan teriak-teriak kritik sana-sini tapi di satu sisi kalian malah ngumpet. Ayo budayakan diskusi yang sehat dan bertanggungjawab

  21. @whoever:ptanyaan ptama,anda anak ui?
    Medan apa yg anda tau?
    Siapa yg bilang gay it abnormal?kalau brpatokan pada buku DSM IV,buku pegangan dokter jiwa di sluruh dunia,gay it normal2 aja.gmana tuh?
    Saya tdk mempermasalahkan mengungkapkan pndapatnya,tp jgn pake nama UI saya dan (mungkin) anda smbarangan krn dampaknya buat smua ank ui.
    Data?ya,memang minim,tp cb liat lg 2 artikel tempo yg sy kutip.siapa yg demo?siapa yg menentang sri mulyani dan Q!film festival?MAHASISWA UI. Bahkan media sekelas tempo pun ga membedakan mahasiswa ui yg mana.bahaya kn?
    Tentu saja peringatan ini berlaku utk bem ui dan apapun lmbaga di ui.hati2 brtindak,kita diawasi masyrkt,dan mreka sgt brharap kita membela mereka saat smakin sdikit wakil rakyat yg bisa diandalkan.
    Aksi konkrit?Kami tdk mengganggu dan menyudutkan gay.

  22. @whoever :”setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya”
    haha. munafik sekali anda. untuk melegitimasi aksi kalian, kalian memakai alasan ini, tapi tindakan kalian malah merampas kebebasan orang lain untuk menyuarakan pendapatnya dan berekspresi.
    sekali lagi saya tegaskan, kebebasan pendapat itu ada batasnya, yaitu tidak boleh ada pendapat yg justru merampas hak kebebasan mengemukakan pendapat itu.
    tolerant the tolerance, intolerant the tolerance.
    .
    .
    .
    tentang hal abnormal: emg ukuran eksak apa yg anda pakai untuk menyatakan suatu hal abnormal. pada kenyataannya perkembangan sosial memang membuat hal2 yg dulu dianggap abnormal menjadi normal.dan gak ada masalah dgn itu. dan satu lgi, gak semua yg dianggep masyarakat itu baik, benar2 baik. sometimes kehendak masyarakat harus dilawan. perbudakan dan penindasan wanita juga dulu dianggap normal oleh masyarakat umum. kalo semua orang dulu berpikir sempit kyk lo (dengan menuhankan kepentingan masyarakat, tanpa peduli hak individu) , gw yakin jakarta akan jdi pusat perdagangan budak.
    .
    .
    .
    tau kenapa gw masih make username ini?
    karena gw tau, masih banyak orang berpikiran sempit kyk lo yg offensive kpd isu2 homoseksual, bahkan terhadap pendukungnya sekalipun.

  23. “anw all : aksi konkrit lo dengan kata ‘menghargai gay’ tu sejauh mana?
    kalo cuma diem2 aa sih bisa jadi apatis. atau ‘terpaksa peduli’ karena reaktif setelah ada tindakan dari temen2 salam ui, itu mah sama aja.”

    >> Menurut gue menghargai gay adalah dengan menganggap mereka sama seperti kita. Ya memang apa yg harus dilakukan? Mereka kan ngga berbeda dgn org lain. Makanya ketika ada yg menganggap mereka berbeda dan berbahaya DAN memanfaatkan nama institusi pendidikan utk menyuarakan pendapat, kami tersinggung. Sori, kami ngga mau dibilang berpikiran sempit juga.

  24. Salam UI a.k.a. Tarbiyah antek2nya partai PKS itu memang udah tabiatnya begitu, bawa2 nama UI segala secara gak lgsg! Enak aja lo, sok suci bgd tau gak. DEMOKRASI WOY! Sadar gak sih, Indonesia bukanlah negara islam, tp negara demokrasi. Amit2, kok salam UI jd kayak FPI gini sih? Permainan kotor Pemira nanti (seperti biasa dr taun ke taun) oleh mrk bakal kyk apa ya? Dgr2 anak ft mau maju tuh si m*man

  25. saya pikir buat diskusi terkait HAM- Gay dll bukan substansi yg disampaikan dlm tulisan ini.
    (butuh diskusi yg lebih dalem terkait ini…karena ini masalah ideologi dan value masing2x orang)

    Tulisan ini mengkritik terkait anak SALAM UI yg memakai Jakun..menurut penulis itu salah..

    comment saya:
    menyamakan SALAM UI dan FAM UI jelas tidak tepat..karena SALAM UI FORMAL dan LEGAL disahkan oleh IKM UI..sedangkan FAM UI NONFORMAL dan ILEGAL dan tidak DISAHKAN di IKM UI…

    Dalam konteks aksi kemarin..saya kira SALAM UI berdiri bukan atas nama UI..tapi atas nama Organisasi SALAM UI..dan itu sah-sah saja..
    karena secara legal Formal SALAM UI itu hanya mewakili mahasiswa yang tergabung dalam SALAM UI..
    berbeda jika aksi itu dilakukan oleh BEM UI..
    karena BEM UI itu secara LEGAL FORMAL mewakili seluruh entitas mahasiswa UI..karena BEM UI dipilih langsung dalam proses PEMIRA IKM UI..sedangkan SALAM hanya salah satu organisasi peminatan keagamaan..sama seperti KMB UI, Kuksa, PO dll..
    jadi sifatnya lokal..dan tidak representatif keseluruhan UI..

    saya harap..kita dalam berpendapat dan menulis
    lebih rendah hati, terbuka dan objektif..

    Salam
    Muhammad Kholid FEUI 2006

  26. Yak elah mo nyuarain pendapat aja ribet amat.

    SALAM-nya sih udah bilang ini atas nama SALAM UI, kalo mo nyalahin orang ya salahin wartawannya yang bodrex :p

    Kalo masalah SALAM ga boleh berpendapat, menurut gw sih wajar aja ada yang berpendapat kek gini. Udah sering kok di mana2, kebebasan berpendapat dan HAM cuma buat mereka. Bagi golongan di luar mereka, ga ada kebebasan berpendapat dan HAM. Standar ganda? Udah jadi kebiasaan dari dulu… 😆

    Oh ya, pernyataan si Ahmad ditanggapin dong, kecuali lo pada terguncang yeh 😆
    Lagian maho kok pake acara difestivalin… :nohope:

    Anyway, selamat yaa buat adminnya. Ni website jadi rame lagi gara2 masalah ini 😀

  27. @kholid: Kalau cuma atas nama SALAM UI ada baiknya gausah pake Jaket kuning, karena masyarakat ga bisa membedakan anak ui yang mana yang demo.

    @bukan pks:Saya sangat tidak perduli SALAM UI mau berpendapat apa atas festival film itu, tapi yang jadi concern saya dan beberapa teman adalah mereka keluar dan membawa nama ui dengan memakai jakun, kalo memang berani cuma sebagai SALAM UI kenapa ga pake jaket SALAM UI? ada kan? Anda bebas berpendapat tapi jangan bawa nama orang lain. Ahmad? itu uda ditanggepin disa tapi kok ga dibales lagi ama ahmad?

  28. hahahaha.. ini Out of Context banget…

    masalah yang diangkat adalah Jangan sampai terulang lagi aksi2 demo dengan mengatasnamakan UI tanpa adanya publikasi ke seluruh fakultas..

    ,,

    hanya itu yang dipermasalahkan ..
    dan diharapkan.. semua lembaga ga melakukan hal yang sama,, kalau mau demo atas nama organisasinya masing2 ya , pakai atribut masing2…( sebenernya cuma ini yang dimaksud oleh tulisan ini) tapi kenapa membleber kemana2 ya? hehe hehehe lucu sekali…. ,,,… ..

  29. salam kenal..
    untuk menanggapi permasalahan tersebut….. ada baiknya klo memang demo yang dilakukan itu menggunakan jaket almamater maka yang berhak adalah BEM karena pembentukannya dipilih oleh seluruh mahasiswa.. itupun harus ada kajian secara akademik (Seminar) terlebih dahulu supaya suara2x dari mahasiswa dapat tersampaikan

    apabila ada sebagian mahasiswa yang mau menyuarakan aspirasinya tanpa mekanisme BEM biasanya menggunakan organisasi sayap seperti contoh SALAM UI, FAM UI atau sejenisnya yang pembentukannya didasarkan dari berbagai kajian baik itu agama, politik, hukum dsb maka dalam penyaluran aspirasinya jangan menggunakan jakun namun gunakan atribut /jaket dari organisasinya sendiri meskipun ada tulisan UI didalamnya gak ada masalah toh dia juga mahasiswa UI juga kan.
    dari Dimas A Prihandoko, Prihandoko354@gmail.com Magister Hukum HKI UI

  30. Salam Kenal juga:
    hemmm
    Coba pikir lagi tentu berbeda:

    “Atas nama UI”
    dengan
    “Atas nama Mahasiswa UI” dua frase ini tentu berbeda; coba saja,
    UI itu apa dan siapa?

    Jika UI adalah Lembaga Majelis Wali Amanat + Rektorat + Dekanat/Fakultas-fakultas + Elemen Ikatan Mahasiswa Fakultas (IKM FAKULTAS) dan IKatan Mahasiswa supra-Fakultas (IKM UI)

    maka, semua AKTIVITAS KELUAR yang dilakukan SALAM UI atau Organisasi Peminatan lain yang sah sekalipun dalam IKM UI/FAKultas UI bisa dikatakan sah “MEMBAWA BAMA?ATAS NAMA UI”, karena mereka Memang bukan dan tidak cukup KAPASITASNYA SEBAGAI UI.

    TAPi teman,saudara2 tentu tahu: Semua Aktivitas kedalam dan KELUAR yang dilakukan MWA dan REKTORAT/DEKanat itu akan orang katakan MEREKALAH yang membawa nama UI, merekalah yang UI.

    Saya pikir ada BENARNYA apa yang di kata Saudara Muhammad Kholid FE UI 2006: “Dalam konteks aksi kemarin..saya kira SALAM UI berdiri bukan atas nama UI..tapi atas nama Organisasi SALAM UI..dan itu sah-sah saja..
    karena secara legal Formal SALAM UI itu hanya mewakili mahasiswa yang tergabung dalam SALAM UI..”
    Aksi SALAM UI atau elemen IKM UI/FAK UI hanya membawa “Atas nama MAHASISWA UI” dan bukan “Atas Nama UI (Universitas Indonesia)”.

    dan sejauh saya TAHU pun dalam UUD IKM UI, tidak ada yang menegaskan bahwa BEM UI dan IKM UI itu membawahi/garis komando ke BEM Fakultas/IKM Fakultas, walaupun namanaya BEM UI/IKM UI tapi tetap IKM UI itu SEJAJAR dengan IKM Fakutas.

    monggo dicek UUD IKM UI 😀
    Zatmiko FIB 2006

  31. @apapun nama2 aneh yang anda pakai
    no name, no faculty = UI HOAX..
    dibata aja..ha3..

    kalo besok gw lari-lari pake jakun di lapangan banteng terus bawa-bawa poster gede “Anak UI menolak pernikahan Risty Tagor-Rifky Balweel” pada malu kan semua anak-anak UI?

    *mikir se’rendah’ itu aja koq repot sih..sampe debat pake bahasa tingkat tinggi..

    asiiik anakui rame lagii..

    1. @ randy : jiaah randy… giliran ada org yg berpendapat pake dasar2 yang jelas malah ga digubris. Ntar pas pada ngasih komen2 ga jelas, dibilangnya malah ga ilmiah.
      saat ini yang benar emang dibilang salah. yang salah malah dibilang bener…

      SALAM UI demo atas nama organisasi SALAM UI dan LDF se UI.. mereka juga bawa bendera dan atribut lembaganya. jadi, emang bukan atas nama seluruh mahasiswa UI. kenapa harus diributkan? bukankah Anda juga bilang, bahwa semua berhak untuk berpendapat. demikian juga lembaga SALAM dan LDF.

      gitu aja ko repot sih.

    2. btw, ngasih perbandingan juga ko jauh bgt ya.. “Anak UI menolak pernikahan Risty Tagor-Rifky Balweel”?

      yiaii…

  32. empu website udah nulis di bawah:

    Kami semua di anakUI.com sangat menghargai apabila kamu bersikap seperti mahasiswa, yaitu dewasa dan bertanggung jawab dengan mencantumkan identitas asli (nama, email, dan asal fakultas) kamu.

  33. eHeumm,..
    haduhh,…saudaraku,
    jadi masalahnya bukan ‘anak UI’ nolak pernikahan orang kan?…dan kalo mau ‘beraksi’ tentu bukan sembarang aspirasi/isu yg disuarakanlah ..
    inget ajalah kata bung Gusdur, “gitu aja kok repot’
    betul.., betul,. betul,.. :

  34. coba baca beritanya yang bener ya,,,
    perasaan disana ditulis yang aksi itu SALAM UI deh bukan mahasiswa secara umum,,, :p

    Untuk itu massa yang merupakan gabungan dari organisasi dakwah seluruh UI dan Nuansa. Islam Mahasiswa mendesak agar dilakukan penghentian pemutaran Q! Film Festival di Goathe Institute Jakarta, tutup akses beredarnya film dan produk media lainnya yang bersifat asusila di Indonesia, dan menyerukan kepada warga Indonesia menolak segala bentuk penyelewengan seksual.

    1. Ya harusnya sih tahu,, krn kalo selama ini salam dan lembaga dakwah fakultas (LDF) UI demo, biasanya mereka bawa atribut mereka kok.

      bisa jadi media yang terkadang salah menuliskan bahwa aksi itu atas nama mahasiswa ui. tapi biasanya sih klo SALAM aksi, pasti klo masuk berita ditulisnya ats nama SALAM UI kok.

  35. saya rasa untuk mengangkat isu yang sifatnya umum, boleh – boleh aja tuh mau pakai nama siapa. mau BEM kek, SAlam kek, apa kek. misal ada aksi tentang menolak korupsi,siapa coba yang gak setuju?? sama lah dengan aksi ini, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi norma kesopanan, apalagi sila pertama tentang ketuhanan, ya wajar. jelas – jelas Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk berpasangan. justru aksi ini menunjukan bahwa mahasiswa masih memiliki moral..
    lain kali coba lah BEM yang gerak, masa isu2 umum kayak gini kalah ama SALAM..

  36. @UI’08 (Wahid): saya lebih menghargai BEM yang tidak menggugat masalah ini dibanding SALAM yang langsung melakukan aksi.
    buat saya tindakan SALAM UI sama dengan yang dicontohkan randy. “kalo besok gw lari-lari pake jakun di lapangan banteng terus bawa-bawa poster gede “Anak UI menolak pernikahan Risty Tagor-Rifky Balweel” pada malu kan semua anak-anak UI?”

    gimana menurut anda?

  37. Saya sih cuma senyum aja liat artikel dan diskusi disini ^^

    SALAM UI sudah melakukan aksi-aksi semacam ini dari tahun 1998 dan tidak pernah meminta persetujuan seluruh mahasiswa UI atas aksi-aksi tersebut karena memang tidak pernah mengklaim sebagai “Suara Mahasiswa UI” (bukan UKM SUMA ye). Awalnya saya heran, kenapa ada beberapa mahasiswa UI yang protes atas aksi SALAM UI yang kemarin, bahkan sampai dikait-kaitkan dengan aksi salah satu ormas Islam yang sangat terkenal.

    Lalu saya tanya kepada beberapa mahasiswa pemrotes tersebut. “Emangnya aksi SALAM UI kemaren barbar yah? Biasanya SALAM UI klo aksi damai-damai aja kok”. Mereka gak ada yang kasih jawaban yang meyakinkan saya kecuali klo mereka memprotes SALAM UI karena SALAM UI menyuarakan aksi menolak Q Film Festival. Lalu masalahnya dimana?

    Lantas ada lagi argumen yang bilang. “Kan malu, dianggapnya semua anak UI menolak Q Film Festival, buktinya di beberapa media nulis kayak gitu”. Astaga, media di Indonesia itu ya kerjaannya emang kayak gitu. Instead of nulis “SALAM UI menolak Q Film Festival”, ya lebih menjual “Mahasiswa UI menolak Q Film Festival”. Lalu sekali lagi, masalahnya dimana?

    *anak-anak SALAM UI juga sering “dilarang-larang” sama beberapa pihak. santey aja lah bro, yang pengen Indonesia nerapin demokrasi juga bukan SALAM UI kok. dan SALAM UI cuma menolak penyelenggaraan Q Film Festival, bukan melarang penyelenggaraan Q Film Festival. Salahin aja tuh KemBudPAr yang ga ngasih izin pemutaran film homoseksual, bilang ama Bapak Jero Wacik, Indonesia negara demokrasi bapak menteri

  38. @hilman :
    stujuuu !
    “media di Indonesia itu ya kerjaannya emang kayak gitu. Instead of nulis “SALAM UI menolak Q Film Festival”, ya lebih menjual “Mahasiswa UI menolak Q Film Festival”. Lalu sekali lagi, masalahnya dimana?”

    itu dia kan dah dibilang, liat noh judulnya gede2 tulisan nya :

    Mahasiswa UI Tolak Pemutaran Q! Film Festival

    bisa di cek lagi kalo masih abu2 tuh tulisan segede itu, di
    http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/09/29/brk,20100929-281415,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

    padahall di paragraf TERBAWAH ya, mereka (red media) menulis yang sebenarnya,

    “Untuk itu massa yang merupakan gabungan dari organisasi dakwah seluruh UI dan Nuansa. Islam Mahasiswa …………”

    masyarakat taunya ya memang anak UI.
    tapi peran MEDIA disini sangat berpengaruh.
    efeknya luar biasa buat narik pembaca.

    tapi sekali lagi media itu pun menyertakan kalo yang aksi SALAM UI. namun, diakhir tulisan.

    yang seharusnya sekalian saja dimuat,
    SALAM UI menolak Q Film Festival.

    dimana kesan awal pada judul yang sangat dominan mempengaruhi pembaca.

  39. Kami semua di anakUI.com sangat menghargai apabila kamu bersikap seperti mahasiswa, yaitu dewasa dan bertanggung jawab dengan mencantumkan identitas asli (nama, email, dan asal fakultas) kamu.

    wakwaw 😀

    nurul FIK 07

  40. @christ:
    gimana to sampean ini, mau ngrampok pake jakun juga gak ada yang nglarang kok. gitu aja kok repot.. pinter2nya anda ajalah jaga nama baik UI,kan mahasiswa.. selama aksi itu tidak mencoreng almamater, okelah.. bisa membedakan kan yang mencoreng atau gak?? yang mencerminkan mahasiswa atau bukan??

  41. halooooooooooooooooooooooo, saya hanya ingin bertanya, apakah manfaat konkrit dari aksi kemarin? coba disebutin, pengen tau aja, alhamdulillah kalo ada manfaatnya, jangan sampe justru membawa kerugian berupa “rasa malu” pada orang lain, naudzubillahh

  42. @hilman, lunbul: media dimanapun memang seperti itu, mencari headline yang shocking dan menggiring pembaca. Bisakah kita mengendalikan media? mampukah kita menyuruh media,”hei kalo bikin judul yang bener dong!” I don’t think so, nah, kalo kita ga bisa ngendalikan media, kenapa ga kita aja yang belajar mengendalikan diri?

    @UI’08: Menurut anda melanggar kebebasan orang lain dengan alasan yang tidak ilmiah itu mencerminkan mahasiswa bukan? btw, saya cukup tersinggung dengan pernyataan anda bahwa merampok pake jakun juga gapapa. Saya sangat kecewa dengan mahasiswa yang berpikiran seperti anda.

  43. @christ: saya nanya lagi. ngendaliin diri bagaimana? gak boleh aksi? masalahnya apa SALAM UI aksi menolak pemutaran film di Q Festival? gak ada masalah bukan? sama kayak aksi-aksi yang laen, pake jakun juga, dan gak ada masalah (fyi, juga saya tidak 100% mendukung isu-isu yang diangkat saat aksi mahasiswa UI).

    klo SALAM UI aksi menolak film di Q Festival sampe ribut-ribut, bakar ban, mukulin orang sampe nama baik kampus kita tercoreng baru lah, saya juga angkat bicara nasehatin SALAM UI (kayak kasus FAM UI kemaren)

    klo urusan malu, saya juga malu ngeliat beberapa gelintir senior di UI yang pake jakun marah-marahin maba di acara ospek beberapa fakultas. apa lantas saya berhak menyuruh mereka melepaskan jakun saat marah-marahin maba? nggak juga kan

  44. mohon maaf nih buat semua, klo saya baca komen-komen yang kontra aksi SALAM UI. teman-teman itu kontra di isu nya yah? tidak setuju dengan aksi yang dilakukan SALAM UI karena mengangkat isu “Tolak Pemutaran Film di Q Film Festival”. saya kira, tidak ada argumen kuat yang menyalahkan SALAM UI karena pake jakun saat aksi.

    Tolong pendapat saya dikomentari dulu, karena jika topik diskusi di artikel ini mengenai make jakun saat aksi dan urusan membawa aspirasi mahasiswa UI. semuanya sudah clear merujuk ke komennya Khalid dan Zatmiko. klo ada yang bermasalah dengan jakun, saya persilahkan untuk membantah argumen khalid dan zatmiko secara argumentatif. sama halnya dengan urusan membawa aspirasi mahasiswa UI. walaupun saya bukan juru bicara SALAM UI, saya bisa menyatakan bahwa SALAM UI tidak pernah mengklaim di setiap aksinya bahwa mereka merepresentasikan mahasiswa UI, even klaim merepresentasikan mahasiswa muslim UI pun saya yakin tidak pernah.

    Klo mau diskusi mengenai isu yang diangkat SALAM UI yaitu menolak penyelenggaraan Q Film Festival saya kira bisa berdiskusi di artikel sebelah atau mas christ bikin artikel baru yang intinya membantah argumen SALAM UI mengenai penyelenggaraan Q film festival. biar fokus aja nih dan gak banyak komen-komen anonymous ga jelas yang berusaha memperpanas diskusi dengan debat kusir ga jelas

    Thank you

    1. Dari awal saya sudah menekankan hal itu, tapi tmpaknya memang banyak yang gatal untuk mengomentari Q! Film Festival dan masalah homoseksual, tapi selalu saya berusaha kembali ke topik awal kan?

      untuk pendapat anda bahwa sudah clear kenapa hanya merujuk pendapat kholid dan zatmiko?apakah anda tidak merujuk pada komen mas prihandoko?

      siapapun memang tidak pernah klaim bahwa mereka mewakili ui, tidak fam, tidak salam, dllnya. tapi apakah masyarakat dan media tahu akan hal itu? itu poin utama yang akan jadi masalah. Selama belum ada kesepakatan bersama anak ui mendkung ato tidak suatu isu, saya rasa kalo memang mau aksi/demo ya paket aja jaket organisasi masing2, jangan pake jaket kuning yang SUDAH DAPAT DIPASTIKAN akan dikenali sebagai mahasiswa UI, tidak perduli mewakili siapapun dia.

      1. saya merujuk pendapat zatmiko dan khalid karena menggunakan referensi resmi dalam dunia kemahasiswaan. SALAM UI berhak memakai jaket kuning karena dia organisasi yang legal dan formal di dalam naungan kampus UI.

        namun, jika bicara organisasi mana yang paling pantas mewakili mahasiswa UI, ya jelas BEM UI dan DPM UI. itu tidak ada yang membantah. makanya saya tegaskan kembali, SALAM UI tidak mewakili mahasiswa UI. meskipun begitu tidak mengurangi hak SALAM UI untuk menggunakan jaket kuning karena dia adalah organisasi resmi yang ada di kampus kita ini.

        persepsi masyarakat bahwa setiap yang memakai jaket kuning adalah representasi mahasiswa UI tidak bisa dicegah. biarkan saja, toh itu hanya persepsi dan pendapat masyarakat. hukum legal dan formal nya kan udah jelas, organisasi yang mewakili mahasiswa UI adalah BEM UI dan DPM UI.

        eniwei, setiap kali BEM UI aksi juga, tidak semua mahasiswa UI sepakat kan? kalau menurut saya, penggunan jaket kuning bukan poin utama untuk melakukan penilaian, tetapi bagaimana sikap sekelompok orang yang melakukan aksi dengan jaket kuning tersebut. selama ‘sopan-sopan saja’, saya kira tidak masalah. kalau sudah keterlaluan baru itu jadi masalah

        *nah, kira-kira ada yang mau ndak yah ngadain poling kayak yang diusulkan tigor.
        *baru kali ini emang aksi SALAM UI dibilang aksi mahasiswa UI sama media, padahal cuma puluhan orang doang, biasanya tetep dibilang SALAM UI. salut buat fahmi 😀

        1. “kalau menurut saya, penggunan jaket kuning bukan poin utama untuk melakukan penilaian, tetapi bagaimana sikap sekelompok orang yang melakukan aksi dengan jaket kuning tersebut. selama ‘sopan-sopan saja’, saya kira tidak masalah. kalau sudah keterlaluan baru itu jadi masalah”

          Kalau saya kumpulin 200 orang dan beraksi teatrikal atas nama aliansi mahasiswa anti facebook menentang adanya facebook, pake jakun, dan pada akhirnya dimuat di media massa bahwa MAHASISWA UI MENENTANG PEMAKAIAN FACEBOOK gimana? saya sopan2 saja tuh, damai2 aja, apakah anak ui lainnya akan diam2 saja? ga masalah?

  45. Hehe, karena sudah masuk media dan tercitrakan sebagai aksinya anak UI, berarti aksi SALAM UI berhasil. Ini namanya SUKSES, Gung !!!

    Penolakan terhadap aksi SALAM UI pastilah ada, dan itu wajar, pro kontra pasti lazim dong, cuma memang eskalasinya tidak seheboh aksi FAM ui, waktu itu seolah (hampir) semua anak UI meng-amin-kan ketidaksetujuannya terhadap FAM ui. Satu hal yang menghilangkan citra UI pada aksi FAM adalah “corak yang relatif anarkis”, penolakan dari banyak elemen UI (dosen, mahasiswa, dan alumni), dan motif yang tidak kuat.

    Dari situ, sebenernya bisa dimunculkan sebuah pertanyaan, “Lebih banyak mana anak UI yang mendukung atau yang menolak aksi SALAM UI?”

    | Skema 1 |

    Hasilnya lebih banyak yang mendukung! Dan atas nama demokrasi, itu berhak disebut sebagai aksi anak UI

    | Skema 2 |

    Hasilnya lebih banyak yang tidak mendukung! Dan atas nama demokrasi, itu tidak berhak disebut sebagai aksi anak UI

    Itu idealnya, kalau mau setiap aksi harus ada polling seperti tadi, tapi kalau tidak bisa, ya itu pinter2nya anak UI aja lah mengemas rencana aksinya.

    Dan jangan lupa, belajar yang rajin yah mumpung masih mahasiswa, jangan sampai pas lulus nanti malu-maluin UI.

    Damai, Tigor M. Dalimunthe (udah lulus)

  46. Bagus Salam UI, terus berjuang mewakili suara mayoritas anak UI. Suara minoritas (sgelintir orang) yg setuju dgn homo, ke laut aja.

    Si empunya tulisan ini kayaknya minim pengalaman demo, nih. Ini namanya strategi,bung/mbak.

    Strategi ini pula yang digunakan oleh para pelajar pencetus Sumpah Pemuda.

    1. Ijortejab…

      Wow Anda bangga sekali dengan strategi itu. Kalau Anda mengatakan,”yang setuju homo ke laut aja.” Bagaimana kalau Anda yang ke laut? Insya Allah Anda akan mendapatkan ilmu yang lebih mumpuni dan memikirkan kembali penyataan,”yang setuju homo ke laut aja.”

      Anda menyamakan strategi demo itu = Sumpah Pemuda? Wah… lebih parah lagi. Belajar sejarah Indonesia yang baik dan benar ya. Perjuangan Sumpah Pemuda itu sangat mulia, yang melahirkan BANGSA, NEGARA dan BAHASA INDONESIA, yang kamu tinggali ini. Seandainya mereka yang ikut dalam memperjuangan Sumpah Pemuda membaca tulisanmu, mereka sangat terluka, Nak.

      Satu hari apa yang Anda benci dan hujat, justru merekalah teman sejatimu. Merekalah yang barangkali menolongmu ketika yang Anda katakan teman, ternyata bohong belaka.

      Selamat… Anda homofobik sejati.

      Nah bagi yang mendalami kajian Islam dan Al-Qur’an, silakan membaca Surat Al Hujurat 11-12, dan berkacalah pada diri Anda… Semoga mata-hatimu semakin terbuka. Amin.

      1. haha.. 😀
        debat via tulisan emang gak ada ujungnya…

        saya juga berkomentar pake gayanya si Vasthi ahh…

        Wooww.. Bu Vasthi yang terhormat, anda perlu belajar sejarah lagi tuhh…. terutama tentang Sumpah Pemuda.
        Pencetus Sumpah Pemuda hanya beberapa orang pemuda saja lhoo!! (sama kayak Salam UI, cuma beberapa pemuda). Namun berhasil menjadikannya sebagai perwakilan seluruh pemuda di Indonesia (membawa nama UI). Itulah strateginya, Nenek Vasthi yang kuhormati.

        Jadi Bu Vasthi juga perlu tuh mengatakan apa yang ibu sarankan ke saya “Belajar sejarah Indonesia yang baik dan benar ya”. Kita sama-sama belajar lho, Bu.

        Selamat ya Bu, anda memang hebat, jadi kalo baca Qur’an jangan setengah-setengah ya,Bu.

        Selamat… Bu Vasthi memang homofobik sejati. Kerenn….

        1. Strategi apaan? Cuma nebeng2 nama orang lain aja bangga! kalo emang SALAM UI ngerasa didukung anak ui secara sepenuhnya, kenapa cuma ada puluhan orang yang akhirnya ikut?? anggota salam gua rasa jauh lebih banyak dari itu kan? 1 fakultas aja isi forum dakwahnya lebih banyak dari BEM biasanya, di psikologi itu 50 orang lebih kalo ga salah. tapi kenapa akhirnya yang ikut cuma puluhan?
          masalah sumpah pemuda, bener2 de ya… Sumpah pemuda itu emang dilakukan oleh beberapa pemuda. tapi coba baca lagi, pemudanya itu dari mana aja? mereka itu adalah PERWAKILAN dari seluruh wilayah nusantara saat itu. itu perlu dicatat!

          Ok, saya dapet kabar dari teman saya, di depan stasiun ui ada baliho besar memampang poto ketua SALAM UI yang katanya mau jadi relawan ke GAZA, saya sangat berharap dia tidak pake jakun disana, karena ga smua anak UI mendukung aksi dia.

        2. @ Christian :

          Yah, kalau SBY aja ngedukung relawan ke Gaza, dan pemerintah RI (bersama organisasi multi elemen) rutin ngasih bantuan kesana, PLUS adanya kutukan dari dunia internasional terhadap serangan Israel, masak sih lo sebagai anak UI gak ngedukung. Eling brur…

          Seperti yang udah dibilang sebelumnya, jangan-jangan opini lo itu lebih kecil daripada sekedar minoritas, jangan naif gitu dong.

          Plis deh, jangan membuat diri lo dinilai segitu rendahnya, dan jangan bawa-bawa nama UI dalam opini lo yah. Plis, malu-maluin tau gak?!

          Kalau lo gak dukung aksi kemanusiaan, terus lo dukung siapa? TERORIS ISRAEL tuh, pembunuh ibu-ibu dan anak-anak, yang kaya gitu yang lo dukung? SAMPAH LO !!!

  47. @ Christian :

    Yah, kalau SBY aja ngedukung relawan ke Gaza, dan pemerintah RI (bersama organisasi multi elemen) rutin ngasih bantuan kesana, PLUS adanya kutukan dari dunia internasional terhadap serangan Israel, masak sih lo sebagai anak UI gak ngedukung. Eling brur…

    Seperti yang udah dibilang sebelumnya, jangan-jangan opini lo itu lebih kecil daripada sekedar minoritas, jangan naif gitu dong.

    Plis deh, jangan membuat diri lo dinilai segitu rendahnya, dan jangan bawa-bawa nama UI dalam opini lo yah. Plis, malu-maluin tau gak?!

    Kalau lo gak dukung aksi kemanusiaan, terus lo dukung siapa? TERORIS ISRAEL tuh, pembunuh ibu-ibu dan anak-anak, yang kaya gitu yang lo dukung? SAMPAH LO !!!

    1. ini oot banget ya??? satu hal aja yang saya perlu tanggapi saudara GIRI AWAN, kenapa tidak berani pake nama asli?

  48. saudara Cristian..

    saya harap Anda adalah penganut HAM dan Demokrasi..dan saya ingin menjelaskan secara teoritical frameworknya kepada Anda bagaimana Anda seharusnya memahami dua hal itu..

    Pertama, HAM. Konsep dasar HAM adalah kita semua mengakui secara defacto dan dejure bahwa setiap manusia memiliki hak-hak dasar yang wajib dilindungi dan dihormati..bagaimana cara melindunginya?
    Maka dibentuklah konsititusi yang menjamin HAM itu bisa tegak..Siapa yang menegakkannya? Itulah fungsi state. karena itu Fukuyama bilang..state itu harus kuat..agar dia bisa menjalankan konstitusinya..

    Lantas..bagaimana state itu membentuk konstitusinya?
    Salah satu caranya demokrasi..
    Dalam dunia demokrasi..The winner takes all..
    itulah kelebihan sekaligus kekurangan demokrasi yg sejak awal dikiritik oleh para oponentnya..

    Kalo anda ikuti berita2x debat Obama dan McCain di negara pengusung HAM dan Demokrasi itu..
    maka..betapa kita melihat ada pertentangan yang sangat besar..

    Salah satu contoh:
    Masalah aborsi dan pernikahan Gay:
    Obama dan demokrat mendukung..
    McCain dan republik menolak..

    Knp obama dan Demokrat mendukung? Karena mereka berideologi liberal..
    Knp McCain dan Republik menolak? karena mereka berideologi Kristen-Konservatif.

    Dampaknya? Di negara demokrat menang..gay dan aborsi dilegalkan
    Di republik yg menang dilarang..

    Jadi..dalam demokrasi itu pun didasari oleh values dan ideologi negara itu..

    karena itu, untuk mewujudkan ideologi ndan values mereka..mereka mebutuhkan ORGANISASI FORMAL seperti partai politik…

    Dalam konteks SALAM UI…mereka sudah mengikuti proses demokrasi, konstitusi di IKM UI yang sudah menjadi Social Contract seluruh mahasiswa UI..dan aspirasi mereka juga tidak melanggar konstitusi di UUD 45..

    masalah interpretasi publik?
    Siapa yg bisa kontrol media sekarang ini?
    Presiden saja dihajar media..

    contoh anda tidak relevan ttg aksi dg 200 orang td yag tidak jelas..dlm organisasi apa..
    karena dalam demokrasi harus ada TANGGUNGJAWAB..
    dan pengenaan jaket kuning sembarangan tanpa dinaungi organisasi FORMAL itu tindakan yg tidak bertanggungjawab..dan itu antidemokrasi..

    Kasus FAM contohnya.
    Kalo mereka GENTLE…harunya mereka mendaftar secara LEGAL formal dlam IKM UI..baru boleh pake Jakun dan nama UI..karena ada Responsibilitynya…
    begitu…
    Giman mas Cristian?
    Any question?

    Muhammad Kholid FEUI 2006

    1. Jawaban yg cerdas menurut saya setiap tindakan yg kita lkukan di negara kita harus sesuai dengan budaya setempat. lagian manfaatnya apa sih kita nonton acara seperti itu ? mau keren2an daripada nonton kaya gitu mending nonton film kebudayaan indonesia , terus dokumenter yg membawa isu sosial yg positif. lebih bermanfaat dibanding menonton lesbian dan gay. lebih baik lagi gimana agar kita bisa memberikan arahan kepada mereka yg menyukai sejenis itu pada sadar.

  49. Salam kenal,

    Mau ikut berpendapat nih.

    Hmm.. sebelumnya saya tegaskan bahwa saya tidak bermaksud mendiskreditkan siapa pun.

    Simple aja sih, saya rasa semua orang yang telah membaca serta mengamati artikel dan diskusi ini, harusnya faham bahwa masalahnya adalah KEEGOISAN penulis artikel.

    Mengapa demikian?

    1. Pada dasarnya penggunaan jaket almamater adalah hak setiap mahasiswa.

    2. Tidak ada yang namanya suara semua anak UI. Karena pastilah dalam setiap kumpulan orang terdapat perbedaan pendapat. Nah, kalau dilarang pake jakun karena takutnya dikira itu mewakili suara semua anak UI, maka tidak akan ada satu pun aksi mahasiswa UI yang pake jakun.

    3. Seperti halnya tidak semua anak UI menolak qff, TIDAK SEMUA ANAK UI PULA MENDUKUNG QFF.
    Jadi saudara penulis pun terjebak dalam generalisasinya bahwa ‘bnyk keributan di twitter dan fb menolak demo tsb’. INGAT BISA JADI ANAK UI YANG MENOLAK QFF LEBIH BANYAK (mengingat bahwa mahasiswa UI menjunjung tinggi moral, intelektualitas dan agama. dimana ketiga nilai tersebut memberikan nilai negatif terhadap homoseksualitas).

    Saran saya untuk mas Christian: mbok ya diturunin dikit egonya. Terus kalau emang mendukung QFF dan banyak temennya yg mendukung kenapa tdk bikin aksi juga? dan ngomong2 di Agama saudara kan homoseksualitas juga dilarang, apa ga malu menentang nilai agamanya sendiri?

    Sekian. Mohon Maaf. Semoga bermanfaat.

  50. Renungilah … karena perenungan akhirnya akan mengembalikan ke jalur yang benar … kalo pendapatnya pada dikeluarin semua malah pertengkaran nih … bukan renungan …

    menurut saya sih fine-fine aja kalau anak SALAM UI mau memprotes keberadaan festival pilm apa tu lah …

    Masyarakat menilai kalau kita semua melakukannya? biarkan saja … seperti pepatah lama “baik tertitik dan kebatilan akan terlihat” …

    kan mereka cuma menghasilkan penilaian … didunia tak ada kebenaran dan kesalahan … yang tampaklah kebaikan dan keburukan … persepsi biarlah jadi persepsi … asalkan dari dalam diri kita berkeyakinan untuk memberikan yang terbaik …

  51. aduh kaka2 aqu jadi ga ngerti dah..tapi tetep menurutqu SALAM UI itu keren,
    kaya lagu yang sering dinyanyiin “katakan hitam adalah hitam,katakan putih adalah putih” klo yang hitam mau diputih-putihin n dianggap sebagai HAM apa kabar dunia?

  52. sebetulnya debat ini ngak perlu diperpanjang dan di perparah. kalau kita mau bicara tentang allowed dan not allowed kita lihat dulu negaranya.

    Indonesia adalah salah satu negara yang tidak mengizinkan perkawinan sesama jenis. Jadi jika mas chirs ingin melakukan perkawinan sesama jenis atau melakukan festival semacamnya pastinya akan ditolak oleh negara dan masyarakat Indonesia. sama saja seperti di belanda yang negaranya mengizinkan WN mereka untuk membawa ganja atau heroin untuk dkonsumsi. Mau dipaksakan juga budaya tersebut masuk kesini? Jangan memaksakan budaya barat untuk dilegalkan di negara ini. karena ujung2nya akan terjadi perpecahan yang disebabkan oleh kaum minoritas.

    Intinya jika mas chris ingin menuntut haknya untuk melakukan hubungan terhadap sesama jenis bukan di Indonesialah tempatnya, karena memang negara dan masyarakat Indonesia tidak mengakui adanya hak-hak tersebut. dan tidak ada kewajiban untuk memenuhinya.

    bicara tentang HAM, tiap negara dan masyarakat punya kriteria yang berbeda juga. jangan menggunakan HAM sebagai kambing hitam dari dilarangnya kaum gay dan lesbi. toh banyak orang yang menganggap Gay dan Lesbi adalah pelanggaran HAM. Jadi tidak usah diperdebatkan lagi

    semoga mas christ bahagia dengan jalannya

    satu lagi : tidak ada bayi yang terlahir sebagai homo dan lesbi

  53. Dear mas Ridwan,
    1. Penulis artikel ini bukan seorang gay. Jadi ini bukan artikel pembelaan diri.
    2. Memang mungkin gak ada bayi yg terlahir gay, tapi banyak dari mereka sudah menjadi gay sebelum mereka mengenal cinta dan seksualitas.

  54. Hahaha… Masih ada kelanjutannya toh diskusi ini…
    Ok, pertama-tama saya minta maaf kalo mungkin ada pihak2 tertentu yang merasa saya egois dan arogan dalam menulis artikel dan komentar di sini. Dimaafin ga?

    Di sini saya tegaskan, saya bukan homoseksual walopun masih jomblo. Lalu, saya juga bukan pendukung homoseksual.

    Tujuan utama saya menulis artikel ini sebenarnya lebih untuk orang luar UI supaya mereka tau bahwa yang berdemo kemarin atau yang menghadang Sri Mulyani itu bukan anak UI secara keseluruhan. Belum ada sosialisasi, belum ada pencerdasan, dll. Tapi mereka memang menggunakan atribut almamater. Tujuan kedua baru untuk anak UI supaya lebih berhati2 dalam melakukan aksi trutama hal2 yang sensitif seperti ini. Sejujurnya saya juga menyesalkan aksi2 yang dilakukan anak UI sekarang kebanyakan mengurusi hal yang kurang esensial.Masih banyak hal penting yang sebenarnya tanggung jawab kita, seperti kebijakan2 pemerintah dan wakil rakyat yang semakin lama makin tidak masuk akal, atau lebih konkrit, anak-anak jalanan yang bertebaran.

    Tapi ternyata, lebih banyak yang suka untuk berdebat mengenai gay itu boleh ato ga sih? hahaha… Mungkin karena lebih seru ya?

    Saya berpendapat seperti ini, saat masyarakat dan media sudah tidak mampu membedakan anak ui mana yang berdemo karena dirancukan oleh jaket almamater, mengapa tidak kita berhati2 dalam menggunakannya? Almamater hanya digunakan saat ada aksi oleh BEM UI atau BEM Fakultas. Sisanya? Saya yakin setiap lembaga punya jaket masing2 kan? kenapa ga pake itu aja supaya masyarakat dan media ga “tertipu”?

    @kholid:”masalah interpretasi publik?
    Siapa yg bisa kontrol media sekarang ini?
    Presiden saja dihajar media..” Nah! ini dia, media ga bisa dikontrol kan? kenapa ga kita yang kontrol diri kita? hehe

    @rani: “Terus kalau emang mendukung QFF dan banyak temennya yg mendukung kenapa tdk bikin aksi juga? dan ngomong2 di Agama saudara kan homoseksualitas juga dilarang, apa ga malu menentang nilai agamanya sendiri?” Untuk apa bikin aksi tandingan? emang segitu urgentnya masalah ini? MASIH BANYAK MASALAH NEGARA YANG HARUSNYA KITA PEDULIKAN DIBANDING MASALAH INI. Teman2 mahasiswa tolong ingat ini. Di agama saya diajarkan untuk tidak mengganggu orang lain dan tidak menghakimi.

    @ridwan: Tidak ada bayi dilahirkan homoseksual? hahaha…
    http://www.psychologytoday.com/blog/the-human-beast/200906/could-homosexual-genes-be-naturally-selected

    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11564471

    itu 2 artikel dari banyak artikel lain yang saya temukan bilang kalo gay itu genetis.

    1. Hmm……
      Mas Cristian yg baik…
      sepertinya Anda masih belum menangkap moral story dari tulisan saya..

      meminta orang lain untuk mengkontrol diri mereka (dalam konteks karena anda tidak setuju dg sikap mereka) itu sebenarnya menunjukkan sikap anda yang tidak demokratis dan anti-HAM..

      kenapa?
      karena Anda menegasikan kebebasan dan HAM mereka dalam berpendapat…Sebagaimana teman2x Q-film yg punya HAM untuk mengadakan acara itu…

      masalah pengenaan Jakun..itu memang hak mereka karena mereka sudah mendapat hak formal dan legal di IKM UI…

      terus masalah media.
      anda khawatir dengan penilaian publik (media lebih tepatnya) kalo mahasiswa UI identik dengan ormas FPI yg anti kebebasan..

      tidakkah anda juga berpikir (dalam kerangka berpikir mereka) betapa khawatirnya mahasiswa-mahasiswa muslim UI yg taat beragama itu dinilai setuju dengan Q-film itu..karena buat mereka acara itu adalah hal yg buruk dan diharamkan oleh Tuhan (sesuai ideologi dan value mereka)?

      jadi..biarkan saja media menjadi salah satu variabel demokrasi kita…
      sebagai kaum intelektual..
      mari kita nikmati demokrasi ini..

      anda dengan ideologi Anda..saya dengan ideologi saya..kritik dan ketidak sepahaman adalah bunga-bunga demokrasi…
      bukankah bunga-bunga itu indah dan baunya harum?
      lantas, kenapa kau tak suka dengan keindahan dan keharuman itu, sahabat?

      Muhammad Kholid FEUI 2006
      .

  55. hahaha konyol sekali dengan standar ganda yg dianut rekan2 tercinta SALAM UI. untuk menilai boleh/tidaknya q film fest, dia berpikir bahwa kepentingan masyarakat hrus dipertimbangkan, dan tidak apa apa mengesampingkan hak-hak dasar penyelenggara q film fest itu. sedangkan untuk menilai aksinya, mereka mendahulukan hak mereka untuk menggelar aksi, dan mengesampingkan pendapat masyarakat yg akan menggeneralisir mereka sebagai “seluruh anak UI”.
    hahahaha
    what a stereotype

    1. saudara Legend..(siapa nama asli Anda?)

      bukan hal konyol..itulah demokrasi..Itulah HAM..
      kita hidup didunia yang penuh kebebasan..
      reformasi telah mendobrak dan melahirkan lanscape sosial politik yg baru..

      pertarungan ideologi dan value tak terelakkan..
      demokrasi telah meliberalisasi kehidupan bernegara kita..

      Karena itu..jika memang anda memiliki value dan ideologi spt itu..perjuangkanlah..dan biarlah demokrasi yang akan menjadi ‘market mechanism’
      dimanakah equilibrium konstitusi negara kita melegalkannya..

      tapi ingat..dalam dunia demokrasi ada rule..
      apa rulenya? konstitusi…

      di kampus ada UUD IKM UI
      di Indonesia ada UUD 45

      jika anda tidak setuju..
      rubahlah..tapi lakukan secara konstitusional..

      masalah standar ganda?
      jelas setiap orang menilai dan bersikap dengan ideologi dan value masing2x..
      buat temen2x SALAM..ideologi mereka adalah Islam…dimana Islam dalam pandangan mereka mengharamkan gay…
      sedangkan Anda? mungkin ideologi anda liberal (sy tidak tau pasti)..makanya anda selalu menilai apa yg dilakukan teman2 SALAM anti-HAM dan tidak demokratis..

      jadi..take it easy guy..!
      itu sudah biasa…
      saya tidak tau agama anda apa? kalo Islam, kita bisa diskusi lebih jauh

      Muhammad Kholid FEUI 2006

      1. walaupun oot tapi tertarik untuk bertanya nih..
        kalau memang setiap orang menilai berdasarkan value masing2, dan itu lumrah
        lalu apakah kiranya SALAM UI sudah mengetahui value dan ideologi apa yg dianut oleh para pembuat film, pemeran, bahkan penontonnya? kalau memang value nya berbeda lalu aksi yg dilakukan kemarin berarti sia2 donk. karena setiap pribadi memang memiliki value tersendiri..

        1. Saudara Udaya..
          saya tidak tau…karena saya bukan SALAM UI..
          tapi kalo yg menyelenggarakan Q-film itu pro-gay , maka hampir bisa dikatakan secara oposisi biner SALAM berbeda value dg mereka..
          karena yg satu mendukung..yg satu menolak keras..

          tidak sia2x mbak..karena diera sekarang ini kita saling berebut pengaruh…kita sama2x menjadi ‘pendakwah’ ideologi kita masing2x…
          dari perebutan pengaruh itulah..nanti kita akan melihat kepada siapa publik memenangkan pilihannya melalui proses demokrasi ini..
          ideologi apakah yg akan dimenangkan..?
          baik dimenangkan secara struktural (jalur konstitusi) maupun secara kultural (kesadaran diri secara invidual maupun komunal)..

          inilah konsekwensi kita menganut paham demokrasi…

          Muhammad Kholid FEUI 2006

        2. Ini agak OOT tapi menarik, kita ber3 (udaya, kholid dan saya) angkatan 2006 ya? Kenapa kita masih perduli begini2an? haha,. saya harap karena angkatn yang masih aktif berjuang untuk rakyat di bidang yang lebih konkrit.

          Ok. back to topic. Saya sepakat dan paham yang dimaksudkan bung kholid. Demokrasi memang pertarungan ide dimana yang banyakan suara yang menang, secara gampangnya.

          Gini menurut saya,IMHO awalnya Q! Film Festival kan tidak mengganggu siapapun. Mau nonton boleh, nggak juga ga masalah. Just like another film festival, sepakatkah? Lalu SALAM UI mendemo festival film ini di depan tempat pelaksanaannya. Bukankah ini dapat dikatakan mengganggu? Bagaimana kalau ada yang ingin nonton? susah kan?
          selain itu, ini kutipan perwakilan SALAM UI yang diwawancara (ada di artikel di atas)
          “…Fahmi menambahkan pemutaran film penyimpangan perilaku seksual ini telah melanggar hak warga Indonesia sebagai negara yang mayoritas beragama Islam. Pelanggaran dilakukan karena film ini sarat akan pelanggaran dari nilai moral dan agama… ”
          “Jika banyak yang menonton film ini maka akan bertambah pula yang terjun ke dunia seperti itu untuk mempelajari detail tentang prilaku penyimpangan seksual. Ini melanggar moral,”

          Pernyataan ini tentunya tidak tepat. Setuju ga? Film2 di sana hanya menggambarkan kehidupan kaum LGBT, kadang malah digambarkan betapa sulitnya, bukan menggambarkan keindahan hidup sebagai LGBT saja.

          Saya punya kekhawatiran orang tua-orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke UI karena berpikir bahwa UI sudah lebih moderat dan dapat menerima perbedaan agama dan suku berpikir ulang. Saya berasal dari etnis tionghoa, dan kalau di survei akan ditemukan kebanyakan etnis tionghoa kurang suka memasukkan anaknya ke universitas negeri. Ini jadi efek domino kan? padahal kata2 dari si Nur Fahmi (Hukum UI’06, lagi2 06) belum tentu menggambarkan keadaan UI kan?

          Ini menurut logika saya kenapa lebih baik kita berhati-hati membawa nama institusi kita, apalagi mahasiswa. Gimana menurut yang lain?

  56. saya pikir jawaban mas kholid sudah cukup menjawab apa yang dipertanyakan oleh mas cristian, mas cristian pun sepertinya sudah tidak mempertanyakan lagi tentang apa yang sudah disampaikan mas kholid..

    sedikit mengutip pernyataan mas cristian:
    “MASIH BANYAK MASALAH NEGARA YANG HARUSNYA KITA PEDULIKAN DIBANDING MASALAH INI”

    kalau memang seperti itu mari kita berdiskusi untuk hal2 yang lebih penting karena isu yang diangkat oleh mas cristian sudah clear jawabannya.. 🙂

    1. sebenarnya saya masih mengganjal di masalah kontrol media. Kalau kita tidak mungkin mengontrol media, kenapa tidak kita yang mengontrol diri? begitu bukan? hehe

      1. hmm.. kalo pendapat saya seperti ini mas..
        ketika kita merasa media sekarang ini tidak terkontrol sehingga kita pun sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah, artinya ketidaktepatan (saya kurang nyaman menyebutnya sebagai kesalahan) telah terjadi pada media.. dan ketika keputusan kita hanya pada sampai mengontrol diri sendiri maka tidak akan pernah ada perubahan yang terjadi pada ketidaktepatan media tadi.. dan ketidaktepatan ini akan terus bergulir karena setiap orang hanya berpikir untuk mengontrol dirinya sendiri tanpa punya cita2 memperbaiki media.. mungkin suatu saat mas cristian bisa menjadi salah seorang yang akan memperbaiki kinerja media 🙂

        tapi untuk kasus pemberitaan “Mahasiswa UI Tolak Pemutaran Q! Film Festival ” pada tempointeraktif.com, kita pun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media karena di akhir paragraf tempointeraktif.com sudah menyebutkan bahwa yang melakukan itu adalah lembaga dakwah se-UI, dan penggunaan judul yang menyebutkan “Mahasiswa UI” menjadi hal yang wajar dalam upaya komersialisasi berita kecuali jika suatu saat nanti ada orang2 yang menolak gaya media untuk mengkomersialisasi beritanya seperti sekarang ini.. 🙂

        1. Sejujurnya saya kurang setuju dengan pendapat Anda, karena menurut saya media dimanapun tentunya akan membuat judul yang heboh seperti itu, jadi akan sangat sulit untuk diperbaiki. Selain itu, jaket kuning sudah menempel (identik) dengan anak UI, masyarakat juga melihatnya akan bilang anak UI demo,karena mereka tidak tahu siapa yang demo.

          Nah, itu masih masalah menurut saya. Tapi, saya di sini tetap konsisten pada demokrasi dan HAM. Memang harus ada perbedaan untuk adanya demokrasi, kalo ga buat apa ada demokrasi? tapi tetap menghargai dan tidak saling mengganggu.
          Saya tetap berharap ada kontrol diri dari pemilik jaket kuning supaya tidak menggunakan bila memang keadaan tidak genting.

      2. pertanyaan saya,,
        seberapa jauh kita bisa mengendalikan diri sehingga menutup kemungkinan adanya interpetasi yang salah dari media.
        serapat apapun kita membangun tameng pertahanan terhadap media, pasti selalu ada celah di sana.
        andai SALAM UI tidak mengenakan jakun (ini defenisi mengendalikan diri yang mas Christian masksudkan kan?) apakah kita yakin takkan ada judul media yang berbunyi: “mahasiswa UI tolak festival film Q” di koran atau berita TV? bisa kita memberi jaminan seperti itu?

        di sini mas Christian berasumsi bahwa kelompok mahasiswa apapun yang mengenakan jakun akan di-interpetasikan dengan ‘mahasiswa UI’. Saya menyebut ini asumsi karena argumen ini tidak berdasarkan data, hanya berdasarkan prasangka.
        di sini mas Christian juga ber-argumen bahwa Mahasiswa SALAM tidak boleh menggelar aksi dengan menggunakan jakun bila mengangkat isu-nya sendiri atau aksi ber-jakun hanya boleh dilakukan oleh BEM UI atau BEM fakultas kan?
        Melarang orang untuk menyampaikan aspirasinya dengan dasar asumsi di atas, tidak dengan dasar bukti pelanggaran aturan yang berlaku dalam demokrasi itu sendiri bukannya berarti sudah melukai arti dari demokrasi itu sendiri ya?
        Seperti yang dikatakan saudara Kholid bahwa value kebebasan yang dijunjung oleh demokrasi itu bisa dibatasi hanya dengan rules yang berlaku, bukan dengan asumsi apalagi prasangka.
        Lagipula tidak ada aturan dalam UU IKM UI yang melarang hal itu. sehingga bila dasar argumentasi mas Christian memakai dasar asumsi yang berasal dari prasangka bahwa ‘takut kalau SALAM UI nanti diinterpetasikan sebagai mahasiswa UI secara keseluruhan’ saya rasa terlalu berlebihan.

        analoginya seperti
        anggota parlemen yang dilarang bicara karena bila ia bicara ditakutkan membawa tanggapan negatif terhadap konstituennya, bukan karena ada aturan yang melarang ia bicara.
        bukannya terlalu berlebihan ya?
        kan saya dan kita semua punya hak bicara, kecuali bila ada aturan dalam sistem demokrasi ini yang melarang saya untuk bicara. Kalau mau supaya yang boleh mengenakan jakun dalam aksi UI hanyalah BEM UI dan BEM Fakultas menurut saya lebih baik dirubah saja UU IKM UI nya.

        kalau masalah media yang tidak bisa dikendalikan, ya itu juga berlaku saat kita sudah mengendalikan diri sendiri. Media masih tidak bisa dikendalikan bahkan ketika kita sudah mengendalikan diri. Lagipula defenisi mengendalikan/mengontrol diri di sini juga masih bias batasannya.

        Andreas S
        Fasilkom UI 2007

  57. Mohon jaga komentar dan tanggapan di AnakUI.com. Media ini bisa dibaca siapa saja. Tulisan di-ayak dulu sebelum ditulis.

    Malu anak UI debat kayak gini. Saya merasa di beberapa komentar terlihat ketidakcerdasan dalam menulis (sadar diri aja ya)

    Ini debat gak lagi pada pake jakun kan ??

    xD Ckakaka

    Serius mode : On
    Untuk semua kawan-kawan UI, apapun paham, sudut pandang, warna makara, organisasi dan idealisme kalian, yang penting sama-sama kontribusi aja untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

  58. @Christian
    kalo gitu saya juga mengikuti asumsi mas christian bahwa media sulit diperbaiki..

    dan karena mas christian menggunakan pandangan demokrasi maka apa yang dilakukan oleh Salam UI sebenarnya tidak bisa dikatakan salah karena Salam UI tidak melanggar konstitusi IKM UI, merujuk pada apa yang sudah disampaikan kholid..

    “tapi tetap menghargai dan tidak saling mengganggu.”

    ketika kita menggunakan kata2 saling menghargai, tidak mengganggu maka semuanya akan menjadi makna yang relatif bergantung pada siapa yang menafsirkannya.. dan untuk menyamakan penafsiran akan hal2 seperti ini maka cara yang paling mudah mengembalikannya kapada hukum2 yang tertulis..

    dalam hal saling menghargai dan tidak mengganggu Salam UI pun telah coba mewujudkannya dengan melakukan aksi yang tidak anarki, aksi yang dilakukan hanya berupa penolakan tidak sampai melakukan perusakan, dan jika mengacu pada hukum2 yang berlaku saya pikir aksi yang dilakukan Salam UI masih ada dalam konteks hukum yang benar dalam negara demokrasi ini..

    Semoga ke depannya kita bisa sama2 melakukan hal2 yang lebih baik lagi.. 🙂

  59. Saya fikir sekumpulan mahasiswa itu ingin membela Moral bangsa ini,kagak bagus jika konsumsi bangsa Indonesia yang bermoral adalah film2 murahasn seperti ini..dan mereka hanya ingin mengingatkan bahwa sudah bukan jamannya lagi untuk bikin film2 kayak gini di Indonesia..yang hanya mengundang maksiat belaka..

  60. mau nanya boleh?
    “Kalau kita tidak mungkin mengontrol media, kenapa tidak kita yang mengontrol diri? begitu bukan?”

    itu maksudnya cuma untuk yang sifatnya turun ke jalan doang (demo) ato yang juga tampil di tv (media juga kan)?
    misalnya nih, gw nonton acara debat di tv, dan penonton di debat itu maba ui, terus dia pake jakun. terus dia mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang kurang argumentatif (kebetulan maba yang beneran masi awam). menurut lu apa maba tersebut ga bisa mengontrol dirinya?

    yang gw tau, orang di rumah gw juga taunya mereka anak ui. kagak peduli maba apa bukan. apa baiknya mereka disuruh lepas jakunnya? (demi menjaga ui yang terkenal cerdas berargumen)

    gw sih sepakat2 aja kalo salam, ato ukm mana pun lain2nya melakukan aksi tampil ke media pake jakun. asal ya tadi, tetep sopan dan tidak merugikan orang lain =)
    toh mereka bawa identitas yang jelas.

    atma mipa

    1. Pertanyaan yang bagus! haha…

      Jujur saya ga tau pasti jawaban yang terbaik gimana. Ini menurut pendapat saya saja ya… Kalo menurut saya, saat ada mahasiswa UI dipanggil untuk masuk ke stasiun televisi, berarti dia sudah dapat dikatakan mewakili UI atau minimal fakultas tertentu di UI karena biasanya ada undangan resminya. Kalau sudah dikatakan mewakili UI, tidak apa2 dong dia pake jakun. Sekali lagi ini menurut saya. Mohon maaf kalau salah. Silahkan dikritik

  61. Ah gue gak suka orang-orang yang mendiskriminasikan golongan tertentu.

    Dasar FPI/ SALAM/ dan kawan2nya yg sok suci

  62. komentar singkat:
    Aneh ya, Bapak-Bapak kita (cukup tahulah) yang ada di UI aja tidak memberikan petisi atau apapun yang ke SALAM UI bahwa aksi kemarin itu tidak selayanya dilakukan.

    Simpelnya : bapaknya ada ga marah, loh kok kita yang sesama anak/saudara saling menghujat.

    SALAM damai…..

  63. selama aksi mahasiswa UI itu damai apapun panjinya mau it BEM, SALAM, FAM sekalipun saya gak masalah…

    Mengenai aksi penolakan SALAM UI terhadap {FEstival FIlm Gay, saya rasa postif aja tuh,..karena memang seharusnya kita nih yang kultur timurnya masih kental dan sebagai warga negara yang katanya beriman kepada Tuhan yah seharusnya kontra dengan festival2 yang menodai kultur sosial dan budaya kita..

    GO SALAM GO
    GO BEM UI GO..

    pokoknya saya dukung terus deh setiap pergerakan mahasiswa yang DAMAI selalu dalam aksinya..

    UI cinta DAMAI

  64. Saya mencoba menarik benang merah dari apa yang didiskusikan panjang, bahwa

    1. Penulis artikel tidak menyetujui UI direpresentasikan oleh segolongan orang yang belum tentu mewakili suara semua mahasiswa
    jawaban : Setiap mahasiswa UI memiliki hak asasi untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat yang dijamin undang undang. Tidak pula dibatasi ideologi dan kepercayaannya, semua bebas berbicara asal bertanggung jawab

    2. Penulis mencoba menyamakan peristiwa ini dengan kasus FAM UI vs Sri Mulyani beberapa waktu yang lalu, terutama pemakaian jaket kuningnya.
    Jawaban: FAM UI adalah organisasi ekstra kampus yang tidak terdaftar di UI, sedangkan SALAM UI jelas memiliki kontrak dengan IKM UI. Ini tentunya berbeda jauh, dan (sekali lagi) SALAM memiliki hak dan kewajiban untuk menggunakan jakun, apapun isunya.

    3. Penulis khawatir apabila nama besar UI tercoreng di media, lebih besar lagi pada khalayak luas, karena tindakan suatu golongan. Dapat ditangkap pula bahwa media di indonesia lebih suka mencari sensasi daripada membuat berita yang objektif. Akan lebih baik kalau kita menahan diri dari isu-isu sensitif
    Jawaban: Setiap golongan memiliki value yang menjadi identitas masing masing benderanya. Sensitifitas dan urgensinya pun berbeda-beda. Jadi biarlah pro kontra ini menjadi ‘bunga bunga demokrasi’ yang harum wanginya, asalkan semua pihak bertanggung jawab atas apa yang dia suarakan

  65. bung kholid ini sepertinya sangat membangga banggakan pemahaman salah kaprahnya ttg demokrasi dan HAM. demokrasi tak sesedrhana itu bung! tak sesederhana ‘demokrasi adalah suara terbanyak’. rousseau si pencetus demokrasi pun tak serta merta menyatakan demokrasi adalah suara terbanyak. mari liat dulu sejarahnya…. demokrasi adalah akibat kekuasaan sewenang wenang raja. karena dulu, kedaulatan rakyat seluruhnya telah didelegasikan ke tangan raja. jadi raja menjadi diktator. nah, para pencetus demokrasipun pemikirannya tak sependek anda dgn bilang bahwa demokrasi adalah kekuasaan tertinggi berada di tangan mayoritas. karena kalau begitu, demokrasi tak lebih dari diktatorisme oleh mayoritas. makanya, di mana2 demokrasi selalu berdampingan dgn HAM. ham berfungsi untuk membatasi kekuasaan mayoritas itu dari merusak hak2 dasar yg dimiliki tiap orang. ham itu bukan hukum, ham itu universal, jdi tidak tergantung pada kehendak mayoritas.
    dan jelas, apa yg dilakukan SALAM UI sudah SANGAT MEMALUKAN! karena bisa2nya mereka sbg mahasiswa UI membutakan diri dari adanya hak tiap individu untuk berkumpul dan berekspresi. mo pake alasan karena itu dilarang islam??? saya rasa islam juga melarang kalo kita berkumpul dan menyembah yang bukan Allah. masuk neraka malah. nah lalu kenapa SALAM UI gak mendemo dan nyuruh bubar orang2 yg beribadah selain islam??? hahaha
    standar ganda lagi???
    ngakak.
    yg paling konyol. bung kholid melegitimasi aksi SALAM UI dgn embel2 demokrasi, padahal SALAM UI dan organisasitarbiyah lain itu sangat menggemborkan daulat khilafah islamiah yg malah gak mengenal demokrasi itu.
    hahaha
    streotype …stereotype…
    tarbiyah…tarbiyah

    1. “karena bisa2nya mereka sbg mahasiswa UI membutakan diri dari adanya hak tiap individu untuk berkumpul dan berekspresi.”

      Nunjuk diri sendiri, mas/mbak? 😆

    2. cukup tiga komentar saya:
      (1) baca lagi sejarah, definisi dan konsep demokrasi
      (2) baca lagi baik-baik komentar saya
      (3) be gentle! siapa anda sebenarnya?