UI, ITB, UGM : Versus or Featuring?


0

Logo UI-ITB-UGM

“Jelas UI lah paling oke.. Siapa si yang gak kenal sama jaket kuning?”

“ITB gak tertandingi! Teknik paling bagus seIndonesia gitu..”

“UGM donk! Perusahaan kalo mau rekrut pegawai pasti yang pertama dituju UGM!”

Begitulah kira-kira perdebatan untuk memperebutkan tahta menjadi perguruan terbaik di Indonesia ini terus terjadi sejak bertahun-tahun silam. Secara kuantitatif, penilaian rangking banyak dilakukan oleh beberapa lembaga survei independen seperti QS dan Webometric. Kita bisa dengan mudah melihat ย siapa lebih di atas, siapa yang ada di antaranya, dan siapa yang ada di urutan terbawah (tergantung borang penilaian). [VISIT -> http://www.topuniversities.com/university-rankings/asian-university-rankings/2011]

Semua orang juga bisa membaca tabel dari QS tersebut dan melihat bahwa UI berada di urutan 50, UGM di urutan 80, dan ITB di urutan 98 se Asia. Namun, apa yang seharusnya kita interpretasikan dari data tersebut? Apakah kesimpulannya anak UI lebih unggul daripada UGM dan ITB? TIDAK, BUKAN SEPERTI ITU! Sama sekali tidak penting siapa ada di urutan berapa, yang paling esensial adalah ke arah mana kita menuju.

Jika kita lihat tabel dari situs asli QS, maka kita bisa mempelajari dengan seksama bahwasanya ada 49 universitas lain dari seluruh Asia yang posisinya ada di atas UI. Universitas-universitas unggulan di Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia lain seperti Hongkong, Jepang, dan Singapura.

Kenapa bisa demikian? Padahal kita tahu bahwa banyak mahasiswa baik dari UI, ITB, maupun UGM yang sangat cemerlang dan memperoleh penghargaan di tingkat internasional. Kita punya profesor-profesor yang menunjang setiap kegiatan akademis kita, fisik kampus kita bagus, fasilitas lengkap, akses terhadap informasi memadai, tetapi baik UI, UGM, dan ITB masih sulit mengejar ketertinggalan dibandingkan kampus-kampus seperti HKUST, NUS, bahkan UM (Malaysia) di level Asia ini.

Seperti ilustrasi dialog di atas, para mahasiswa kita justru lebih banyak memperdebatkan siapa yang berhak meraih posisi pertama di Indonesia, bukannya mencari tahu kenapa kita belum bisa menyalip saingan-saingan berat kita dari luar negeri. Sentimen-sentimen negatif, kepicikan, dan persaingan tidak sehat sering terjadi ketika mahasiswa UI bertemu dengan ITB juga UGM dalam berbagai ajang kompetisi. Arogansi almamater kerap dinomorsatukan daripada kebanggaan akan satu identitas yang sama, INDONESIA.

Apa saja kemungkinan yang menyebabkan mahasiswa kita menganggap kampus satu dengan lainnya harus bermusuhan? Barangkali mereka pikir hal ini menjadi salah satu ajang pertarungan hidup dan mati untuk mereka bisa mendapatkan kesempatan beasiswa ke luar negeri. Dan yang lebih krusial tentu saja alaumni kampus yang satu akan menganggap alumni kampus lain sebagai rival saat mencari pekerjaan.

Untuk itulah kita harus mulai membangun paradigma baru karena UI, UGM, maupun ITB sejatinya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Kita telah menerima amanah besar sebagai pelita peradaban ilmiah di negeri ini. Tegakah kita terus mengejar ambisi pribadi/golongan tertentu saja dan malah mengorbankan rintihan ratusan juta rakyat kita yang menanti akan kehidupan yang lebih baik di luar sana?

Seharusnya mahasiswa UI, UGM, dan ITB mulai menegakkan kembali tiang-tiang pancang negeri ini yang sudah runtuh. Pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah dan tidak akan mungkin bisa dilakukan sendiri. Di sinilah kita membutuhkan sinergi yang nyata antar kampus.

Kita sangat butuh untuk memulai membuka dialog untuk ikut berpikir secara kritis apa yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk negeri ini. Banyak kombinasi prestasi antara UI, UGM, dan ITB yang bila diimplementasikan akan berdampak masif untuk masyarakat. Hal ini bisa dilakukan oleh masing-masing mahasiswa secara mandiri, tidak perlu menunggu perintah dari organisasi formal seperti BEM atau Ikatan Mahasiswa.

Setumpuk hal menyenangkan bisa kita lakukan bersama-sama, misalnya saja mahasiswa Teknik Material UI dan Teknik Material ITB bisa melakukan riset bersama untuk mengkreasikan sel surya bagi kepentingan listrik desa-desa terpencil, mahasiswa FE UI dan FE UGM bisa mulai membangun banyak UMKM untuk memberdayakan masyarakat marginal, mahasiswa Arsitektur ITB bisa bekerja sama dengan Arsitektur UGM mengikuti pameran-pameran internasional demi mempromosikan keunikan rumah-rumah tradisional Indonesia, dan terakhir ketiganya mungkin bisa ikut mengkontribusikan kemampuan terbaiknya untuk membangun sebuah industri pertambangan sehingga kita bisa terbebas dari cengkeraman perusahaan-perusahaan tambang asing yang sudah mengeruk habis kekayaan alam kita.

Dengan kerja sama tersebut, kita juga bisa ikut mendorong agar rangking ketiga kampus ini bisa lebih terangkat naik. Mungkin kita harus menjadikan target UI, UGM, dan ITB setidaknya bisa tembus 10 besar Asia. Setelah ketiga kampus tersebut bisa masuk ke 10 besar, maka ketiganya akan bisa menarik serta kampus-kampus lain di Indonesia untuk meningkatkan kualitasnya hingga merangkak naik menyusul.

Jika tiap kampus masih terus berjalan sendiri, pasti akan sulit sekali mengungguli kampus-kampus negara maju itu. Contohnya saja UI yang tahun 2009 menempati peringkat 201 terbaik dunia, tetapi tahun 2011 malah merosot menjadi rangking 217. Bagaimana nasib UI di masa depan dan apakah UGM dan ITB harus mengalami hal yang serupa?

Banyak hal lain yang bisa kita lakukan dan dapatkan sebenarnya dari sini. Ambil contoh seandainya ada salah seorang alumni UI yang kuliah di Jepang dan dia mengetahui akan ada konferensi roket internasional. Maka meskipun bukan almamaternya, ia akan tetap mengajak kawan-kawannya dari Teknik Dirgantara ITB untuk berpartisipasi. Misalnya lagi ada alumni ITB di Swiss yang mengetahui ada program short research di CERN, maka ia tidak akan sungkan mengompor-ngompori temannya dari Teknik Nuklir UGM untuk ikut mendaftar. Dan bila ada mahasiswa Komunikasi UGM mengetahui akan ada seminar mengenai submarine di London yang masih mencari nara sumber, maka dia akan langsung menawarkan untuk mengundang lulusan Teknik Perkapalan UI. Ini adalah beberapa karakter yang mengedepankan kepentingan bangsa dibandingkan egoisme pribadi.

Pola pemikiran berebut job vacancy bagi lulusan UI, UGM, dan ITB seharusnya sudah dibuang ke tong sampah sejak dulu. Untuk apa kuliah di kampus terbaik jika akhirnya kita hanya menjadi karyawan perusahaan-perusahaan asing dimana seberapa keraspun kita bekerja tidak akan pernah menyentuh jabatan teratas. Rencana hidup setelah lulus akan bertitel sebagai JOB SEEKER seharusnya diubah menjadi JOB GIVER.

Bayangkan saja, apabila banyak lulusan kampus tersebut bisa menggalang kekuatan untuk bersatu menumbuhkan industri-industri baru di negara kita, tentu negara kita seperti diberikan jet engine yang bisa membuatnya terbang ke atas dalam waktu yang singkat. Selain itu, jika alumni UI, UGM, maupun ITB yang berprestasi bisa dikumpulkan dalam satu wadah, maka kita tidak perlu repot-repot lagi mencari mata air ilmu dari negara lain.

Justru kita bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maju yang menjadi tujuan orang asing untuk memperoleh pendidikan. Jadi, pemikiran-pemikiran linear bak mencari kerja setelah kuliah ataupun mengais beasiswa di luar negeri seharusnya bisa direkayasa agar kita justru yang memberi kerja serta menebarkan banyak kesempatan beasiswa.

“Para Visioner adalah orang-orang yang pemikirannya Out of The Box” (Prof Gumilar Rusliwa Soemantri – Rektor UI)

Nasionalisme bisa ditumbuhkan kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. Kecintaan pada negeri ini tidak ditunjukkan dengan cara menyanyikan Indonesia Raya keras-keras di tengah Bundaran HI. Cinta butuh pembuktian, cinta butuh pengorbanan! Perasaan senasib dan seidentitas bisa menjadi driving force yang sangat baik agar kita tetap konsisten bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan 250 juta rakyat Indonesia. Hanya orang CUPU yang masih bersikap egois dan arogan.

Kita harus bisa bertindak lebih cekatan dan melihat peluang-peluang apa yang semenjak dahulu luput dari penglihatan kita. Di saat-saat kritis seperti ini, kita bukan hanya perlu berjalan maju, kita butuh loncatan besar untuk meraih cita-cita mulia bangsa ini.

โ€œAYO BEKERJASAMA! Tidak ada peradaban besar yang bisa dibangun sendirian, sekalipun oleh orang yang hebat. Semua harus didukung dengan kerjasama, antara yang satu dengan yang lainnya.โ€ (Eep Syaifullah)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Sari Octaviani
- Bachelor Degree at University of Indonesia, majoring Metallurgy and Materials Engineering (2009 - 2013) - Master Degree at University of Indonesia, majoring Metallurgy and Materials Engineering (2013 - 2014) - Fastrack Scholarship Holder, DGHE Indonesia (2012 - 2014) - PhD Degree at University of Southampton, majoring Engineering Materials (2014 - 2018) - FFTF Schlumberger Award Holder (2014 - )

114 Comments

Leave a Reply

  1. wah, pantesan tulisan sebanyak ini yg baca nggak ada yg komentar, ternyata setting untuk komentarnya ditutup, entah kenapa..

    mohon maaf ya kawan2 semua

    – admin

  2. Wah, padahal yg baca sudah lebih dari 3700.. paling enggak ada 50 komen ya.. hehe..harapannya yg udah baca bisa menambah masukan, hal riil apa yg ingin temen2 sumbangkan untuk berkolaborasi.. ๐Ÿ™‚

        1. bukannya diskriminasi,, ini cuma ngambil contoh yg tension’y paling tinggi aja kok.. kalo semisal di Semarang UNDIP mau ngajak kerjasama UNISULA, UDINUS, dsb mah monggo2 aja… semakin banyak yg berinisiatif melakukan kolaborasi justru makin bagus.. Gak perlu saya sebut semuanya juga kan.. toh dalam salah satu paragraf sudah disebutkan bahwa outputnya juga bisa ngajakin univ2 laen untuk maju bareng.. :-))

      1. ohh.. boleh banget.. kebetulan ini memang saya di UI lagi mau ngerancang satu kegiatan tingkat nasional bareng banyak universitas (ITB, UGM, UNPAD, UNJ, PNJ, dll) Insya Allah dari inisiasi kecil ini bisa berdampak masif… ๐Ÿ™‚

    1. kita semua satu, kita mahasiswa yang memilki tugas yang sama membangun indonesia menjadi yang lebih baik lagi, jangan pernah mempermasalahkan perbedaan PTN ๐Ÿ™‚

  3. Dalam ruang kelas, musuh kita bukan di samping tempat duduk kita

    Dalam kompetisi Nasional, musuh kita sama sekali bukan peserta lain (lagi)

    Musuh kita di luar Indonesia sana, berada di peringkat lebih tinggi sedang menanam rumput yang semakin kelihatan hijau

  4. mungkin seharusnya dibuat pemeringkatan mana perguruan tinggi yang paling banyak memberi manfaat bagi masyarakat, bukan cuma peringkat perguruan tinggi yang jadi jawara di belantara ilmu.

    1. penilaian QS itu komprehensif, dibandingkan Webometric.. Riset dan Pengabdian masyarakat ada dalam satu borang penilaian biasanya… sayangnya memang sekarang ini masih sedikit dosen yg bener2 concern mengarahkan risetnya untuk kepentingan masyarakat kalangan menengah ke bawah. tapi Alhamdulillah saya kemaren bisa ikutan salah satu proyek Pengabdian Masyarakat punya dosen Teknik Mesin (saya Teknik Metalurgi) untuk bikin UMKM (yg notabene kerjaan anak Ekonomi)..

      Intinya semua bisa dilakukan, asal ada passion dan effort lebih dari masing2 individu.. Lagipula seperti kasus saya, kerjasama dengan orang yg berbeda disiplin ilmu juga harus ditumbuhkembangkan.. Jangan sok eksklusif, maunya cuma ngerjain riset2 sama temen2 dr prodi sendiri aja,, itu katrok.. haha

    1. secara praktis aja : jalan sendiri rangking melorot! dan saya yakin kalo kita jalan bareng2 rangking bisa naik pesat, lebih banyak yg bisa kita lakukan, lebih banyak perusahaan yg mau nyumbang buat kita, lebih banyak rakyat yg merasakan efek baik universitas…

    1. peringkat universitas kan dinilai dari banyak hal, misalnya Jumlah Profesor, Jumlah Publikasi, Jumlah Lulusan, Banyaknya Mahasiswa yg ditampung, Fasilitas Kampus, Kurikulum, Kelengkapan Laboratorium dan Sarana Pembelajaran…

      Faktanya itu semua ngaruh besar sama kekuatan sebuah bangsa.. Pendidikan itu sektor strategis, dan jelas perguruan tinggi menjadi mesin penggerak yang sangat krusial..

      1. makanya kita perlu ngeliat kelebihan para universitas yg ada di peringkat atas,, contoh NUS dan NTU, mereka itu berpengaruh besar ke kemajuan Singapore.. kita harus bisa juga menambah bahan bakar biar bisa setingkat mereka..

    2. betul, peringkat itu terkadang hanya formalitas, mereka hanya melihat dari luar yang tau keadaan yang sebenarnya adalah kita warga UI sendiri. apalagi kalau peringkatnya digunakan untuk membandingkan dengan PTN lain. sangat tidak tepat .

  5. subhanallah.. keren bro!
    gini deh, gw dari Teknik Industri UGM
    ngajak semua temen2 UI dan ITB yang emang mau mendedikasikan hidupnya untuk ngbuat korporasi baru (wirausaha) untuk join ke FMWI (FORUM MAHASISWA WIRAUSAHA INDONESIA) dan aktif di dalemnya..
    cz, waktu forum ini di buka, semua univ di Indonesia dateng, kecuali UI dan ITB (tanya kenapa?)

    so.. konkritnya join forum ini!! aktif!! dan hub gw kalo btuh info lebih lanjut ๐Ÿ™‚

    1. saya angkatan 2009, tingkat 3.. memang ada yg gak begitu, tapi itu deviasi (kebetulan kemaren baru ikut ngisi stan pameran+lomba di ITB dan anak2 ITB yg ikutan ramah2 sama saya).. tapi secara general tension sangat besar, utamanya masalah pekerjaan…

    2. oya, lagipula apa udah ada proyek2 besar antara mahasiswa UI, UGM, dan ITB untuk masyarakat?? apa udah ada kolaborasi pameran kebudayaan atau pembangunan usaha2 baru dari mahasiswwa antar kampus?? boleh donk dishare, pasti pada pengen berkontribusi..

    1. 4icu parameternya menurut apa? kalo di webometric kayanya UI nomor embek banget, kalah jauh sama univ2 swasta, tapi kalo masalah green environment UI nomor 15 dunia..

      Kenapa saya ambil QS? karena QS itu penilaian menyeluruh, jadi bisa dijadikan acuan.. kalo yg urusan green atau intensitas dunia maya mah gak bisa menggambarkan.. rank QS menurut saya bisa jadi acuan buat perbaikan ke depannya, kita punya kekuatan apa dan kelebihan apa, perlunya apa buat ngejar ketertinggalan… simple aja sih..

    1. ini tulisan ringan aja kok, sekedar menggugah kesadaran.. saya biasa nulis sejenis gini, dan itu bisa sangat detail jadi 8 halaman HVS spasi 1 font 11,, pasti pada males bacanya dan gak dapet message’y.. ๐Ÿ™‚

    1. berarti melihat banyak join research antara anak ui, itb, ugm yaaa,, banyak melihat anak2 mahasiswa pada gak desek2an ngantri kerja donk.. subhanallah, mungkin anda termasuk orang yg sangat beruntung..

      Dulu waktu ada jobfair di ITB, di salah satu meja pendaftaran perusahaan minyak disetting 2 line : ITB dan NON-ITB, secara terang-terangan mereka bilang anak ITB akan dapat fasilitas yg lebih dibandingkan anak2 pelamar dari Universitas laen… what is it about??

    2. oya, mungkin anda liat juga ada yg menilai UI, UGM, ITB ada di urutan 1,2,3 se ASIA?? WAW!!

      pokoknya jangan makan mentah2 satu paragraf teratas aja.. Itu HANYA ILUSTRASI.. okelah saya penulis, saya biasa bikin tulisan awal itu yg Eye Catching.. memang bener anak UI dan ITB gak akan pukul2an di depan umum debat kaya gitu, tapi di balik itu ada kondisi terselubung yang memang sulit dijangkau secara visual biasa..

  6. ada 3 hal berbeda yang dipadukan di tulisan ini, antara mahasiswa, rektorat/pengambil kebijakan kampus & pendidikan tinggi secara global.

    Ok kita lihat dulu kasus WCU. Siapa sih yang kepingin WCU? Rektoratlah yang pengin.

    Mahasiswa? Saya kira mahasiswa tidak terlalu peduli almamaternya no ke-berapa di dunia. krn jadi urutan no 1 di dunia tidak serta merta membuat mereka lebih gampang cari kerja.
    Dosen pun banyak yang tidak setuju kalau kampus hanya mengejar WCU, silahkan diskusi dengan dosen2 di 3 perguruan tinggi tadi kl tidak percaya.
    Mengejar WCU semata hanya kepentingan rektorat karena sistem yang berlaku secara global seperti itu.

    lalu jika rebutan posisi ini ada di level atas, kenapa membawa2 mahasiswa? Persaingan tidak sehat ketika kompetisi? Bisa diberikan contohnya?
    Kalau saat kompetisi masing2 grup melakukan yelyel atau membangga2kan almamaternya, saya rasa wajar karena mereka confident dengan timnya.

    joint research antar 3 univ itu? sebentar… kita deskripsikan dulu research seperti apa. kl yg saya pahami research itu mesti staf dosen. dan tentu terserah si dosen mau menggaet siapa untuk jadi partner risetnya. pengalaman saya sendiri, kl mau riset saya pilih sesuai kompetensi dan saya utamakan yg sudah saya kenal baik.
    Jika saya dosen fisika ui, ingin riset ttg fisika teori, di 3 univ tsb memang ada dosen2nya. Lalu kenapa saya tdk kerjasama dgn dosen itb/ugm? krn kalau kompetensi dosen di 3 univ tsb sama, kenapa mesti saya pilih yg jauh? mending yg teman sekantor… dan untuk riset antar univ birokrasinya tidak mudah. tanyakan saja sama dosen2 di 3 univ tsb…

    Kl yang dimaksud riset mahasiswa, ya silahkan tanya mhssw yg bersangkutan. Ada dana nggak untuk bolak balik antar univ?

    anak mahasiswa desek2an ngantri cari kerja? Itu kan wajar, krn semua univ di dunia saat ini hanya jadi pabrik sarjana saja. Tidak ada relevansi dengan mana yg terbaik dr 3 univ td. Saya punya teman anak ITB udah 4 tahun nggak dpt kerja juga… Anak UI juga sama…. :)) apa bedanya? bahkan justru mahasiswa dari 3 univ itu yg pilih kerjaan. Kalau ada syarat; “bersedia ditempatkan di mana saja” biasanya nggak mau. kl jabatannya biasa aja biasanya juga nggak mau. tapi bukan krn rebutan posisi siapa terbaik toh?

    pas jobfair di ITB dibedakan ITB dan non-ITB? Itu juga wajar lah. Krn jobfairnya di ITB….. pernah ikut jobfair di UGM? sama saja….
    Dan itu bukan terkait dengan siapa yg terbaik. Semata krn tempat jobfair saat itu. Dan apakah kl ada dikotomi itu lantas pelamar dair ITB didahulukan? Tidak juga bro…

    Mahasiswa Bio UI pernah menanyakan ttg mahasiswa S3 ITB, mau diundang jadi pengisi materi kajian agama. Bukankah ia tidak melihat asal almamater?

    Memang saya akui ada rebutan posisi untuk menjadi yang terbaik. Tapi tulisan ini justru nge-flame. Kenyataan itu hanya terjadi di level atas aja kok…

    1. saya ini perempuan, tapi dipanggil bro juga gpp, udah biasa di teknik.. hehe

      First of all, thx bgt atas komen’y… saya pengen jawab detail, tapi saya masih mau ngerjain beberapa proyek.. ๐Ÿ˜€

      *Jawaban WCU sudah ada di komen atas, kenapa WCU itu menjadi penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Bukan untuk nilai prestisius, tapi lebih ke arah pentingnya pendidikan yg berkualitas itu sendiri.

      *Untuk ketiadaan kerjasama mahasiswa antar kampus bisa liat komen Mas Budi darI Teknik Industri UGM. Itu dia bersaksi langsung loh..

      *Orang desek2an nyari kerja itu wajar? Yaahh.. biar publik yg menilai komen mas yg satu ini..

      *Mendingan riset sama satu departemen aja? Case di Teknik Metalurgi Material UI tu malah kita join research sama korea, jauh bgt yak! Kalo saya sendiri kepengen banget join research sama temen2 dari teknik material ITB+ITS, terus digabung sama Farmasi UI, UGM, ITB, dan kedokteran UNDIP, UI, UNAIR, UGM,, bikin produk nanoteknologi untuk obat kanker, biar semua pasien kanker bisa sembuh dg biaya murah dan gak ada lagi orang yg menderita karena kemoterapi… Tapi kalo Anda masih tetep pengennya cuma sama temen2 anda sendiri, ya itu pilihan hidup Anda. Ndak papa kok… Tergantung orangnya si, ngeliat ke tujuan utamanya atau ke hambatan2nya…

      *mahasiswa UI kalo mau ngadain seminar emang ngundangnya darimana2, bahkan kami terbuka sama lulusan HARVARD (Obama-red), tapi kan kita gak jadi berkegiatan sama mahasiswa Harvardnya, gak ada output jangka panjang.. cuma di waktu 30 menit itu aja ngedengerin speechnya dia. that’s it..

      *Ngeflame? Sebenernya gak ngerti sama maksud Anda.. Yang pasti tulisan ini udah dibaca 8000 kali, dishare fb 620 kali, diretweet gak jelas berapa kali. Kesimpulan sederhana, temen2 dari berbagai kampus merasa ada manfaat yg bisa dipetik dari tulisan saya,, gak ada juga yg nyuruh admin ngehapus tulisan saya, berarti mereka merasa tulisan saya baik2 saja..

      Terima kasih.. Mohon maaf kalo ada salah2 kata…

    1. bukan perasaan, tapi memang ada.,, santai banget UNAIR, jarang nampak, mungkin sibuk riset.. emang harusnya Indonesia bisa masukin minimal 20 universitas di rangking 100 besar ASIA.. (aamin aamin!!)

  7. Menggugah,
    Pernahkah terpikir jawabannya itu featuring? Hmm,
    Tidak mudah sampai ke ibukota dan berkuliah di almamater ini. Bangga, mungkin juga kebablasan, haha. Dan saya yakin itu yang dirasakan mahasiswa ketiga perguruan tinggi itu, dan masing-masing merasa lebih hebat dari lainnya. (dan kayanya orang yang duduk di atas juga gitu)
    .
    Anehnya, masing-masing mengklaim berada di tempat terbaik juga, dengan dasar survey di QS, 4icu, webometric, argumen semi-rasional, atau omongan orang lewat.

    1. integrasikan dulu kampusnya, baru kolaborasi sama kampus lain ya… bilang sama temen2nya : kamu, saya, mereka, semuanya cuma debu yg terserak di tengah2 galaksi… mau apa sih kok tawuran terus… ๐Ÿ™‚

  8. wah bagus tulisannya mba…. judul yang eye catching emang ini.. mahasiswa universitas manapun pasti ingin berkomentar liat judulnya apalagi mahasiswa/alumni ketiga universitas tersebut. ๐Ÿ˜€

    iya sinergitas baik mahasiswa dan dosen antar universitas yg ada di seluruh indonesia dapat membawa perubahan yang besar baik untuk Indonesia maupun universitas itu sendiri…

    tapi menurut saya arogansi atau rivalitas juga penting.. masalah arogansi sebenranya baik buruknya tergantung persepsi yg ada. karena tidak selamanya arogansi untuk menjadi yang terbaik adalah hal yang buruk. contohnya dengan ada arogansi dulu ketika mahasiswa kita begitu mendengungkan bahwa jurusan kita paling hebat seteknik atau fakultas kita paling hebat se UI sehingga kita bersaing satu sama lain untuk menjadi yg terbaik.. akan tetapi ketika sudah bekerja akan sangat bangganya kita mengetahui kalau ada senior walau beda fakultas atau jurusan tetapi sama2 dari UI yg sama bekerja ditempat kita juga. sehingga kita bersaing lagi dikehidupan pasca kampus dengan label almamater universitas masing2 untuk menjadi terbaik..

    Arogansi atau yg saya lebih suka sebutnya rivalitas akan membawa kita ke persaingan dan persaingan adalah salah satu cara menuju atau menempa kita terus memperbaiki kualitas diri sehingga dapat menjadi lebih baik dan bermanfaat.. tentunya selama persaingan yang ada persaingan yang sehat. sinergitas dan rivalitas apabila sama2 dijalankan menurut saya itu lah yang lebih baik.. ๐Ÿ˜€

    sekarang alhamdulillah walau pas mahasiswa dulu saya hanya menjadi mahasiswa yang biasa saja dan hanya dapat berkontribusi yang sebatas saya lakukan., saya dapat bekerja ditempat yang berisi alumni2 seperti dari ITB, UGM, ITS, UNDIP, UNIBRAW, UNSRI, UNILA, USU dan PTN serta PTS top lainnya … kami dapat bersinergi untuk kemajuan perusahaan yang nantinya akan berdampak baik untuk negara (karena perusahaan negara) dan masyarakat khususnya masayarakat sekitar. tapi kami juga satu sama lain juga menjadi rival dalam bekerja untuk mencapai prestasi yang lebih baik… bukankah sifat dasar manusia ingin menjadi yang lebih baik..hehe

    oh ya saya baca2 dari komentar diatas mba ud mau membuat acara melibatkan ya mba… saya salut mba semoga suskses acaranya nanti…dan terus bermanfaat hingga pasca kampus nanti…

    just from my humble opinion..

      1. tapi orang yang buka usaha sendiri itu juga kan juga “digaji” dari orang yg minta gaji mulu loh mba… so what’s the difference ?and is it bad being employee? ๐Ÿ˜€

        1. don’t get me wrong.. saya bukannya mengharamkan orang yg bekerja pada orang lain, tapi kalo kasusnya jadi diinjek2 kan gak banget.. terus kalo misalnya dalam mencari kerja itu ada praktik2 KKN atau sikut menyikut juga kan gak halal jatohnya.. mendingan bikin usaha sendiri toh?

          saya juga pernah kok kepengen kerja di Kementrian ESDM, yg penting kerjakan yg terbaik yg kita mampu,. kebanyakan orang kan gak mau mendedikasikan yg terbaik dari mereka., mereka maunya ongkang2 kaki, terus duit dateng sendiri.. ya rusak lah kehidupan ini..

      1. itu kata2nya anak teknik sebenernya,, di UI itu cuma ada 2 jurusan : TEKNIK dan NON-TEKNIK.. dimodifikasi dikit..

        emang di UI banyak dibuat kata2 yg penuh arogansi, misal : Anak FE itu paling sial jadi Menteri.. ya gitu lah pokoknya… jangan kaget.. ๐Ÿ˜€

  9. Menurut saya rivalitas yang masih berada pada jalur sehat masih jauh lebih baik dibandingkan dengan tidak adanya rivalitas..

    Dengan adanya rivalitas di ketiga univ tersebut,maka masing-masing univ akan meningkatkan kualitas diri mereka masing2 agar menjadi yang terbaik diantara ketiganya.

    bisa dibayangkan bahwa jika di indonesia tidak ada rasa persaingan antar masing-masing univnya. hal ini tentu tidak baik bagi perkembangan masing2 univ tersebut, karena tidak ada semangat untuk terus menggali potensi diri yang ada pada masing2 univ tersebut dan terus mencoba menjadi yang terbaik.

    ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

    lain hal jika kompetisi yang ada sudah melenceng di jalur yang tidak sehat.

  10. Kereen…
    Dr smua komentar..sbnrnya tinggal gmn kita dpet ‘esensi’ dr apa yg kita baca..termasuk tulisan ini…kritik boleh aja sih..tp toh ga prlu muna deh klo itu memang trjadi..-_- ga ush jauh2 bda universitas..1 kelas aja bisa kompetitif banget kok

    Semoga aja sifat kompetitif ini bisa tersalur ke kgiatan yg positif..misal pun kita tetap mnjunjung rivalitas antar univ yha ditempatkan dlm kondisi yg ssuai supaya ga useless…malah bgus klo tar ada krja sama 1 tim dr beda univ..kitany scara individual makin terpacu utk ngeliatin ‘yg terbaik’..gengsi juga donk klo trnyata kmmpuan kita ga bgitu dibutuhin…apalagi kita kan jga sdikit banyak bangga dgn embel2 anakUI-ny..seengaknya ga malu2in lah….

    Btw, ada forum apa aja sih yg kontennya kerja sma 1 tim dr univ beda?udah ada?klo ada apa aja yha???

  11. Artikel bermanfaat yang berpotensi merubah mindset seseorang. Semoga Bangsa indonesia dapat bersama sama untuk maju dalam segala aspek kehidupannya. Memang sangat sulit untuk mencapai sesuatu yang luarbiasa ini. Namun saya yakin hal ini tidak dapat tercapai jika tidak ada pola pikir kebersamaan untuk maju. Saya sendiri akan mulai dari diri saya, mohon dukungannya secara langsung maupun tidak langsung, mari saya mengajak para pembaca untuk lebih lagi menanam kebersamaan untuk maju.
    Bersama sama kita raih Indonesia yang makmur dan sejahtera, bukan hanya dengan jabatan, posisi, ataupun hal besar.
    Namun sikap dan karakter yang baik yang membawa pengaruh lewat hal” kecil sangat membangun negri ini.
    Alfandi – Sesuatu yang kelihatannya kecil dan tidak berdampak, memiliki potensi yang luarbiasa. Jangan anggap remeh kebiasaan kecil pribadi kita yang membangun bangsa ini.

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals