UI, Masih Pantaskah Disebut Kampus Rakyat?


0

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang yang sebagian besar penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Sungguh kenyataan yang pahit lagi pedih dimana sebuah negeri dengan tanahnya yang subur, melimpahnya kekayaan alam dan tingginya kecerdasan budaya yang tertuang dalam banyak maha karya baik berupa sajak maupun bangunan-bangunan kuno seperti Borobudur, Prambanan, dan ribuan situs lainnya.

Bukan karena terlalu lama kita terjajah oleh bangsa asing, bukan pula karena telah terbiasa tertindas selama 350 tahun, namun lebih kepada tidak adanya karakter kebangsaan yang kuat di kalangan cendikiawan/intelektual yang duduk di pemerintahan dan yang paling menyedihkan adalah hilangnya karakter kebangsaan di kalangan intelektual muda yang duduk rapih di bangku-bangku kuliah di dalam ruangan ber-AC di sebuah kampus yang menyandang gelar kampus rakyat.

Sebuah kampus yang seharusnya menjadi rahim gerakan sosial telah kehilangan identitasnya, lapangan parkir diperluas, ruang-ruang kuliah dilengkapi dengan AC dengan desain interior yang semakin dipercantik, gedung rektorat menjulang tinggi dengan segala visi dan misinya untuk menjadi universitas riset yang memakan banyak biaya, namun semakin minim akan nilai-nilai sosial. Para sarjana dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan ‘pasar’ yang semakin gencar memberikan beasiswa dan suntikan dana pada universitas, namun kita lupa bahwa ‘pasar’ kapitalis inilah yang membuat sebagian besar rakyat Indonesia harus merasakan pedih hidup dalam rasa lapar dan selalu dihantui penyakit menular yang bebas berkeliaran di sekitar mereka.

Sering diungkit bahwa UI merupakan sebuah badan hukum milik negara yang membuat kampus ini harus mencari sendiri sumber dana untuk membiayai kebutuhan operasional kampus yang tinggi. Kondisi ini dijadikan sebuah pembenaran untuk menarik uang lebih dari calon-calon mahasiswanya yang menyebabkan UI lebih diminati oleh kalangan kelas atas dan kalangan ini pun memiliki tuntutan yang lebih akan fasilitas di kampus ini dan pada akhirnya menyebabkan biaya operasional semakin melambung tinggi.

Rakyat sama sekali tidak membutuhkan sebuah kampus riset dengan semua kelengkapan dan kemegahan fasilitasnya, akan tetapi rakyat membutuhkan sebuah institusi pendidikan yang walaupun sederhana namun dari dalamnya terlahir gerakan sosial bermasyarakat yang manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan nyata, rakyat butuh insinyur-insinyur yang siap diajak bersimbah keringat bersama dalam membangun, rakyat butuh dokter yang tidak gentar mengobati orang sakit hingga ke pelosok desa dengan bayaran seadanya, rakyat menginginkan perawat yang siap merawat secara menyeluruh tanpa melihat status ekonomi, rakyat memimpikan ahli-ahli hukum yang dengan gagah dan berani membela kepentingan kaum tertindas, rakyat sangat berharap memiliki ahli ekonomi yang selalu memihak pada pelaku ekonomi mikro, rakyat juga sangat merindukan karya-karya sastra yang dapat menggugah keberanian dalam menyuarakan kebenaran, dan yang pasti rakyat sangat membutuhkan kaum intelektual yang berani bersikap jujur yang siap memberikan ilmunya untuk menciptakan masyarakat yang bernyali dalam menyuarakan kebenaran dan membangun peradaban kejujuran.

Untuk kawan-kawanku mahasiswa UI, cobalah untuk menanyakan ke hati kita masing-masing, Apa yang menjadi motivasi kita dalam menjalani perkuliahan selama ini, untuk uang atau kehidupan bermasyarakat yang lebih baik? apakah dengan suksesnya kita setelah lulus dan menghasilkan karya-karya terbaik sudah dapat dikatakan bermanfaat bagi rakyat kecil? Mana yang lebih berguna untuk rakyat kecil, uang atau pengabdian total dari kaum intelektual seperti kita? Dan pertanyaan terakhir setelah kita melihat kondisi diri kita, kondisi di sekeliling kita, dan kondisi kampus kita, masih pantaskah UI menyandang gelar kampus rakyat?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
ramadoni

http://ramadoni.com

24 Comments

Leave a Reply

  1. menurut salah satu dosen, Universitas Indonesia memang tidak pernah disebut sebagai Kampus Rakyat.

    Nama itu hanyalah opini dari para mahasiswa saja yang merasa dengan perjuangan di tahun 1960 dan tahun 1998 UI menjadi kampus rakyat.

    jadi berdasarkan pendapat dari dosen tersebut. “Masih Pantaskah UI Disebut Sebagai Kampus Rakyat?”, “Dari Dulu Juga UI Tidak Pernah Disebut Sebagai Kampus Rakyat”

    Thanks

  2. he. . he. . maaf klo agak OOT, komen saya sebelumnya itu didasarkan atas pendapat salah seorang dosen ketika saya menulis sebuah artikel tentang Kampus UI, dan di dalamnya saya menyertakan frase “UI KAMPUS RAKYAT”.

    Dosen tersebut menyanggah dan mempertanyakan frase dalam tulisan tersebut, dan setelah itu saya baru tahu klo frase “UI KAMPUS RAKYAT” itu muncul dari perjuangan para mahasiswa dan bukan lahir dari masyarakat apalagi pihak kampus.

    klo “UI KAMPUS KUNING” atau “UI KAMPUS PERJUANGAN ORDE BARU (setelah reformasi, ORDE BARU nya dicoret)” mungkin frase yang lebih familiar. tapi sepertinya perlu ada crosscheck juga dengan banyak pihak terkait dua frase tersebut.

  3. yah itu hanya masalah sebutan saja…
    tapi yang coba saya angkat disini adalah, sudah seberapa jauh UI berguna buat rakyat kecil yang jumlahnya lebih dari separuh jumlah total penduduk Indonesia? sudah berapa banyak lulusan UI yang menjadi intelektual pengkhianat yang senantiasa berpihak kepada pemilik modal? berapa orang manusia yang awalnya aktivis kampus dengan segala idealismenya tiba-tiba menjadi peliharaan penguasa yang menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan penindasan pada rakyat miskin? ingat bahwa kampus kita menyandang nama sebuah negara, sebuah bangsa, dan sebuah peradaban, INDONESIA….

  4. Ah lagi-lagi opini yang sifatnya memelas terhadap dinamika yang ada di lingkungan UI.

    Padahal kita investor terbesar lho. Sementara itu kita cuma bisa bermain-main dengan jargon “rakyat” dan “Indonesia”. Realisasinya nol.

    +iR+

  5. @iR:
    waduh….realisasi apa nih yang nol??
    n apa maksudnya investor??
    jadi kita semua merasa investor di kampus ini, yang pada akhirnya nanti berharap akan meraup keuntungan??
    inilah pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan para petinggi yang menganggap bahwa untuk meraih kedudukan mereka harus menginvestasikan hartanya pada kampanye2, dan ketika sudah berhasil maka itulah saatnya meraup keuntungan…. tanpa berpikir karena siapa dan untuk siapa sebenarnya kekuasaan dan kesuksesannya… TRAGIS sekali pola pikir yang dimiliki seorang mahasiswa kini… UI lagi..

  6. Buat doni kayaknya anak bem ya, jadi lu perlu tahu ketua bem ui dulu yang digantikan oleh edwin saja -andika- dia punya pemikiran bahwa dia adalah investor dengan kuliah di UI oleh karena itu begitu ada beasiswa ke singapura meskipun jelas-jelas dibiayai oleh Temasek -BUMN Singapura yang berperan pada komersialisasi indosat pada tahun 2001- langsung diambil, meskipun jaman ketika dia jadi pempimpin mahasiswa isu yang dia tekankan adalah anti penanaman modal asing. Ironis memang begitulah makanya kalau buat wacana tolong diarahkan ke hal-hal yang faktual sifatnya.

  7. kapitalis = demokrasi
    anak ui peduli rakyat ?
    setahu saya pada umumnya mahasiswa di indonesia hanya pandai berdemo tanpa membantu pemerintah mencari solusi yang tepat guna dan efektif. berdiri di depan istana, berteriak2, menyebabkan kemacetan, tapi hasil yang konkret gak ada. didengerin juga enggak. jadi lebih banyak manfaat ato mudharatnya tuh ?
    ikut kepanitiaan / organisasi buat apalagi kalo bukan buat menuhin CV biar entar gampang cari kerja.

  8. iya saya teragbung di BEM UI, di Akprop tepatnya…
    terima kasih atas infonya, mudah-mudahan itu bukan fitnah semata, karena sampeyan taukan resiko memfitnah…??
    kalau pun memang benar, itu akan menjadi bahan koreksi bagi diri saya sendiri semoga saya tidak akan menjadi orang yang akan termakan oleh kata2 dari mulut saya sendiri… Ammiinn…

  9. “hanya pandai berdemo tanpa membantu pemerintah mencari solusi yang tepat guna dan efektif.”

    Assalamualaikum..
    saya mau mencoba menjelaskan.. untuk lingkup UI (saya kurang tahu universitas lain), setiap kali akan turun aksi, selalu ada kajian komprehensif yang melatarbelakanginya.. bahkan saking ingin kajian dengan berbagai solusi itu tepat guna dan efektif, aksi bisa ditunda.. walaupun sebenarnya agak lucu, bapak – bapak dan ibu – ibu di pemerintahan itu kan sudah s1, s2, s3 atau bahkan profesor, seharusnya ga perlu dikasih solusi sama anak yang belum lulus s1. Tapi ya, memang tidak boleh hanya bicara saja, jadi dibuatlah solusi – solusi tersebut dan dijalankan di lingkup kecil oleh mahasiswa sendiri, siapa tahu.. ide – ide kreatif dan teladan dari mahasiswa bisa menjadi solusi untuk masalah kronis bangsa ini

    kembali saja ke diri masing – masing.. sudah berbuat apakah kita 🙂

    Fio, FKG UI 2005.
    pusat kajian dan studi gerakan BEM UI 2008

  10. doni: no silly, bukan investor untuk mendapatkan keuntungan. Kita sebagai mahasiswanya UI, notabene investor terbesar terutama dari uang² admission, seharusnya mengerti ini kampus mau di bawa ke arah mana, yang NYATA-NYATA memberi kontribusi ke rakyat, bukan memberikan harapan palsu dengan sering-sering bikin rapat pepesan kosong, sekonyong-konyong turun ke jalan mengemban isu-isu yang basi atau aplikasinya nol.

    Contoh mengarahkan kebijakan kampus agar lebih merakyat ya sering-sering bikin baksos atas nama UI, kiRim bantuan dan paramedis ke daerah-daerah dilanda bencana, sunatan massal, operasi katarak massal, fasilitasi nikahan massal, penyuluhan gratis mengenai penyakit-penyakit masyarakat seperti pergaulan bebas pranikah serta judi; jangan cuma bikin acara-acara ladies’ night, pentas-pentas seni, tanem pohon seremonial, aksi-aksi ngotorin jalan bikin macet dsb.

    Capek gw BEM UI dari taun ke taun selalu ngajak terus, mengungkapkan borok-borok siapa kek beserta statistik yang entah ngarang entah dari Roy Suryo, tapi gak pernah ngasi solusi.

    Gw pikiR rakyat gak membutuhkan isu yang sifatnya ngoyo, tapi premis-premis yang mengarah kepada perumusan solusi. Apakah UI bisa merumuskan hal itu, dengan atau tanpa BEM UI?

    +iR+

  11. yah untuk mahasiswa yang semanganynya mudanya masih bergejolak, jangan cuma bisanya protes aja ya. protes mulu… kalo ada program bagus gak didukung, kalo ada borok sedikit langsung diprotes. padahal belom tentu suatu kebijakan pemerintah itu sengaja diciptakan, atau memang maunya pemerintah. tapi karena mau-tidak mau harus dijalankan. coba kita ambil contoh dari olahraga sepak bola. seringkali permainan para pemainnya yang sudah lelah atau tidak bersemangat terdongkrak kembali oleh dukungan dan sorakan para supporternya. apa yang terjadi jika para pemain bola yang sudah lelah dan kehilangan semangat, mendapat lagi cemoohan dan teriakan bengis dari para supporternya. mungkin kalah, kalah dengan membawa kehinaan. nah itu juga mungkin yang harus kita lakukan terhadap pemerintah kita. ok
    selamat berjuang untuk indonesia yang lebih baik

  12. @ir
    ok bang ir, saya ngerti maksud situ…
    terus terang saya setuju dengan ide2 bang ir mengenai solusi konkrit yang harus UI berikan ke Indonesia, namun…
    kita harus juga ingat seberapa luas cakupan kita (UI, baik BEM maupun non-BEM) untuk dapat berkontribusi langsung lewat baksos,dll (bukan berarti baksos itu gak efektif)…
    dan saya yakin bang ir juga tau kalau aksi dilakukan bukan tanpa kajian dan kami sebetulnya lebih memilih jalan yang tenang untuk mendapatkan kembali hak-hak rakyat kami…Lobi-lobi pun sudah kami lakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun ke jalan…

  13. pa lagi ud ad UM. .
    jadi de UI kampus rakyat KAYA!!!1
    hahahahah
    kebijakan bodoh!!1

  14. hoi-hoi jangan menjudge sesuatu yang belom jelas saudara protesum. um katanya gak beda sama spmb kok, baik soal, biaya, dll

  15. UI gak pantas disebut kampus rakyat soalnya anak S1 yg pura2 pinter alias TOLOL + IDIOT masih ada….knapa gak ditutup aja S1nya????
    HIDUP D3

  16. akh cyborg…
    komentarnya cerdas banget sih, pasti anda anak yang sangat intelektual ya ?
    otak lw tuh kaya otak2 kayanya sampe bisa bikin komen yang sangat cerdas kaya begono

  17. wah3.. anak zaman sekarang..hahaha..

    perkenalkan, saya fauzan. Kebetulan dulu juga di BEM jaman si Ai di SPI.

    ndak sengaja browsing sampailah ke tempat kalian ini..

    Iseng2 ya, terkait dengan komentar fio :
    “etiap kali akan turun aksi, selalu ada kajian komprehensif yang melatarbelakanginya.. bahkan saking ingin kajian dengan berbagai solusi itu tepat guna dan efektif, aksi bisa ditunda..”

    kajian, diskusi, dll??? itu yang selalu saya pertanyakan di zaman BEM saya..

    mungkin begini,
    Sebenarnya mungkin sedikit harus didefinisikan atau jika boleh bahkan distandarisasi seperti apakah yang kita namakan sebuah diskusi? pakai komprehensif lagi..dan yang seperti apa pula yang pantas untuk dinamakan sebagai sebuah rekomendasi?

    Masalah ini saya fikir sangat penting untuk dipertimbangkan dan diketahui oleh banyak pihak.

    Jangan sampai “ngobrol2 ringan” di warung kopi lantas bisa dianggap sebagai sebuah diskusi ilmiah dan lantas dibawa ke pemerintah dalam bungkus yang bertuliskan rekomendasi.

    Alur yang jelas dan melibatkan banyak unsur mahasiswa yang kompeten di bidangnya. Jangan nanti karena perbedaan mahzab lantas sudut pandang seseorang kita matikan. Sangat naif.

    Misal: ketika ada isu ekonomi, maka panggillah anak ekonomi…ketika ada isu kesehatan, undanglah anak kedokteran dan mungkin farmasi…

    Jadi ketika sebuah rekomendasi nantinya keluar, itu benar2 komprehensif dan mampu mewakili secara baik.

    BEM UI sebuah institusi sosial-politik menurut saya, maka akan diikuti oleh konsekuensi yang melekat pada dua hal tersebut.
    Tidak mudah, dan benar2 tidak mudah.

    jangan jadikan nama BEM untuk melegalisir keinginan atau pemikiran kit, tapi jadikan filosofi organisasi ini sebagai landasan dalam bertindak dan mengambil keputusan.

    sukses untuk semua, untuk beramal dan belajar!

    hidup Mahasiswa!
    dan Siswa!
    dan alumni juga donk!

  18. @fauzan:
    protes…. kok masalah kesehatan cuma anak kedokteran n farmasi yg dipanggil???
    jangan lupa ada anak keperawatan, kedokteran gigi, n kesehatan masyarakat…
    atau jaman dulu belum ada kali yah?? huh jadul amat…hehehe…

  19. saat ini, dimana2 biaya kuliah mahal. apapun itu kampusnya jika biayanya mahal tidak bisa disebut sebagai kampus rakyat. PTN seharusnya memperhatikan lingkungan negara kita ini. banyak yang tidak kuliah hanya gara2 biaya mahal. kapan indonesia bisa maju jika anak mudanya hanya segelintir orang yang bisa kuliah, bahkan ada yang tidak memiliki ijazah SD saja masih ada. (@~@)

  20. hmm.. numpang komen juga yah..
    gue ngerti apa yang sebenernya lo maksud di sini..

    cuma menurut gue, cara penyampaian lo yang mungkin agak kurang sesuai..
    ini sampe gue diskusiin loh sama bokap gue..

    di satu sisi gue akuin pendapat lo bagus, indonesia emang butuh orang2 yang berjiwa sosial dan peduli sama sekitar..
    tapi dari statement2 lo kayanya ada yang kesannya agak kurang ngenakin, mungkin untuk beberapa pihak..

    “…Sebuah kampus yang seharusnya menjadi rahim gerakan sosial telah kehilangan identitasnya, lapangan parkir diperluas, ruang-ruang kuliah dilengkapi dengan AC dengan desain interior yang semakin dipercantik, gedung rektorat menjulang tinggi dengan segala visi dan misinya untuk menjadi universitas riset yang memakan banyak biaya, namun semakin minim akan nilai-nilai sosial…

    …Kondisi ini dijadikan sebuah pembenaran untuk menarik uang lebih dari calon-calon mahasiswanya yang menyebabkan UI lebih diminati oleh kalangan kelas atas dan kalangan ini pun memiliki tuntutan yang lebih akan fasilitas di kampus ini dan pada akhirnya menyebabkan biaya operasional semakin melambung tinggi…

    ..Rakyat sama sekali tidak membutuhkan sebuah kampus riset dengan semua kelengkapan dan kemegahan fasilitasnya, akan tetapi rakyat membutuhkan sebuah institusi pendidikan yang walaupun sederhana namun dari dalamnya terlahir gerakan sosial bermasyarakat yang manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan nyata,…”
    ———————-
    Iya ini emang gue akuin UI sekarang udah bagus banget.. Tapi yang lo permasalahin di sini apa ?? di paragraf kedua, tulisan lo itu secara ga langsung menyiratkan bahwa “kalangan kelas atas” itulah yang menyebabkan biaya operasional jadi mahal..
    ambil contohnya kelas deh yang sekarang udah pake AC.. apa dibedain antara yang beasiswa, ngajuin BOP, bayar full, parallel, atau bahkan kki sekalipun ?? Semuanya ttp bisa nikmatin fasilitas yang sama kan ? kelas, perpus, laboratorium, kantin, musholla, dsb.
    Lain halnya kalo UI ngebeda2in perlakuan tergantung bayaran mahasiswanya.. UI kan ngelakuin itu juga buat kebaikan mahasiswanya.. supaya belajar jadi lebih nyaman.. ya pasti lo juga ngerasain kan…

    Dan kalo menurut gue, bagus lah UI mau jadi universitas riset, itu bukan sesuatu yang jelek kok.. dana yang dikeluarin itu kan juga buat menunjang para mahasiswanya.. toh kalo UI bagus yang nikmatin siapa ? yang bangga siapa ? ya semua yang pernah kuliah di sana.. Dan emang di opini gue, pendidikan yang bagus itu butuh biaya kok.. Menurut lo kenapa Harvard sm Oxford bisa maju ? Dia ningkatin kualitas lewat fasilitas dan juga sdmnya.. dan itu pasti butuh biaya.. dan yang harus diinget, UI bukan satu2nya kampus yang ada di Indonesia yang harus diperhatiin pemerintah.. ya lo pasti ngerti apa yang gue maksud ya..

    Kalo masalah berjiwa sosial atau engga, menurut gue sih itu tergantung dari pribadi orangnya.. gabisa lo ngejudge, “ih ni orang begini nih, pasti dia gini gini gini” gabisa gitu juga…
    Lo liat orang2 yang duduk di parlemen sana ? mungkin emang ada beberapa diantara mereka yang jiwa sosialnya kurang, kadang gabisa liat yang ada di bawah.. Tapi emang itu salah kampus ? Bentuk jiwa sosial itu dari diri sendiri.. Apa masih mau kaya anak sekolah yang apa2 harus dikasih tau dan dibimbing, “Lo jadi anak harus baik, harus punya jiwa sosial, lo harus gini, lo harus gitu..”

    Menurut gue kampus cm sebuah sarana buat nyari ilmu yang bisa lo pake buat bantu orang lain.. tapi kampus ga bisa maksa kan kalo lo harus bantu apa engga.. semuanya tergantung dari hati dan nurani org yg bersangkutan.. gitu aja sih simpelnya.. Ga sedikit kok orang2 yang udah sukses dan punya rezeki lebih yang ttp peduli sama rakyat kecil, yang ga pake mikir2 lagi kalo mau bantu orang..

    Jadi sebaiknya, saran gue… beraspirasi boleh.. tapi coba dicerna2 lagi apa kah yang kita tulis itu menyinggung pihak2 tertentu atau engga.. dan diusahain untuk ga melihat masalah cuma dari satu sisi aja..

    Makasih..