Untuk Ku Renungkan: “BUDAYA BACA” Sebuah Esensi Pendidikan yang Terabaikan


0

TIME IS KNOWLEDGE Sebuah kalimat yang menyiratkan kronik kehidupan pelajar yang harus bertempur dengan waktu setiap saat. Prestasi, kesuksesan, kegagalan, dan usaha, kata-kata ini sebagai bingkai pelengkap langkah pelajar mengukir masa depan. Namun masikah hal itu terpatri pada potret pelajar sekarang ? dan realisasi apakah yang terjadi dewasa ini, ditambah hadirnya dunia globalisasi? Serta masihkah dikenal budaya baca oleh sekumpulan pelajar sekarang? .Hal inilah yang perlu mendapat kalkulasi dari serangkaian seminar dan teori mengenai pendidikan bangsa kita.

Membenarkan hadirnya dunia global di era sekarang tidak menutup kemungkinan eksistensi pelajar juga harus global. Terkait persoalan system pendidikan, dinilai sudah sangat mapan oleh adanya berbagai langkah dan kebijakan pemerintah. Hanya saja objek dari paradigma pendidikan saat ini belum pas dengan apa yang dicita-citakan. Salah satu upaya pemerintah mengatasi hal tersebut adalah dengan aplikasi sebuah kurikulum pendidikan terbaru yakni KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang dianggap mampu melibatkan seluruh komponen pendidikan baik siswa, guru maupun masyarakat.

Estetika sebuah pendidikan akan tampak jika pelajarnya menampakkan diri sebagai pelajar yang sesungguhnya, dalam artian bahwa pendidikan itu dinilai berfungsi secara optimal jika objeknya mampu mengaktualisasikan teorema dari pendidikan itu sendiri. Fenomena inilah yang menjadi sebuah esensi para pakar pendidikan saat ini. Sementara dalam hal peningkatan mutu pelajar, berbagai langkah pemerintah juga telah ditempuh mulai dari pembaruan system pendidikan hingga kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan, seperti adanya program pengadaan perpustakaan di setiap sekolah sebagai sumber pendidikan, bahkan sampai penghapusan biaya pendidikan berjangka 12 tahun sekalipun. Sebagai sampel adalah pemerintah Kabupaten Sinjai, yang telah mengambil langkah berani untuk program penghapusan biaya sekolah berjangka 12 tahun, langkah yang ditempuh oleh pemerintah Sinjai ini merupakan terobosan besar bagi paradigma pendidikan sehingga sudah tidak ada kata “putus atau tidak sekolah” lagi untuk anak – anak di Kabupaten Sinjai.

Hal ini diperjelas pada Pasal 31 UUD 1945 yang telah mengamanatkan bawa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya. Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya (ayat 1 huruf c dan d). Selain itu, pada pasal 40 ayat 1 dikatakan bahwa Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat

Disamping itu upaya lain pemerintah adalah dididrikannya sebuah perpustakaan milik daerah yang telah menyediakan berbagai literatur dan sumber bacaan bagi pelajar mulai dari literatur buku sekolah hingga bacaan referensi pendidikan. Namun fenomena social yang terjadi sekarang, semua fasilitas tersebut tidak dioptimalkan oleh para pelaku pendidikan khususnya masyarakat. Salah satu persoalan utama yang hingga sekarang masih berlanjut ialah kurangnya minat atau budaya baca masyarakat yang secara tidak langsung mempengaruhi eksistensi pendidikan daerah. Kemampuan membaca tidak hanya memungkinkan seseorang meningkatkan keteampilan kerja dan penguasaan berbagai biang akademik tetapi juga memungkinkan brpartisipasi dalam kehidupan social budaya, politik dan memenuhi kebutuhan emosional (Mercer, 1979: 197).

Penanaman budaya baca di masyarakat sangatlah penting demi terciptanya suatu daerah yang berorientasi pada masyarakat informasional sejalan dengan perkembangan pengetahuan. Salah satu factor kurangnya minat baca masyarakat adalah mengenai kesulitan belajar membaca atau sering disebut disleksia (Lerner, 1981 :295). Menurut Mercer (1983: 309) ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca yaitu berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) gejala-gejala serbaneka. Melihat faktual tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah yaitu dengan program pemberantasan buta aksara baik dalam ejaan bahasa Indonesia maupun buta aksara terhadap huruf-huruf Al-Quran. Berdasarkan data pencatatan buta aksara usia 15 tahun keatas di Sul-Sel tahun 2006-2009 terakhir ini, tercatat sekitar 601.736 orang dengan berskala 25 kabupaten/kota dan Kabupaten Sinjai sendiri tercatat ada 15.747 orang penyandang buta aksara (Fajar Pendidikan 18/10/2006). Olehnya itu pemerintah terus berusaha keras mengatasi hal ini dengan semaksimal mungkin. Sehingga kedepan, selain dapat terbentuk masyarakat yang berwawasan IPTEK juga akan terbentuk masyarakat yang kaya akan wawasan IMTAK. Namun maksimalisasi hal ini dapat tercapai dengan adanya jalinan kerja sama berbagai pihak dalam mengambil andil dan peran dalam pelaksanaan hal tersebut.

Lebih jauh, dapat dikatakan bahwa pendidikan sumbernya tiada lain adalah membaca, membaca dan membaca. Tanpa membaca dan pengetahuan yang cukup, telah dipastikan kita akan dihempaskan pembaruan zaman dan waktu yang berputar. Dalam implikasinya, kreatifitas pengetahuan masyarakat juga menjadi konsep kotomis yang sesungguhnya dapat dianulir menjadi suatu potensi yang besar bagi pembangunan bangsa menuju pada konsep paradigma pendidikan abad ke-21 yang berwawasan luas, berdedikasi tinggi, dan berasaskan pengetahuan. Insya Allah, (*).

“BUDAYA BACA” Sebuah Esensi Pendidikan yang Terabaikan
Miktha Farid Alkadri
(Mahasiswa Arsitektur UI 2008)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
miktha.farid

2 Comments

Leave a Reply

  1. Saya setuju jika budaya baca disebut sebagai salah satu esensi yang penting dalam pendidikan. Tapi, saya tidak setuju jika dikatakan minat baca masyarakat Indonesia kurang. Bukti nyatanya adalah masih banyak media cetak yang terbit dan beredar di Indonesia yang memeperlihatkan jika bisnis media cetak adalah lahan yang masih subur untuk digarap. Itu artinya minat baca masyarakat Indonesia dapat dikatakan cukup baik, jika masih enggan untuk mengatakan baik ataupun baik sekali. Jadi, tidak ada ada masalah dengan minat baca masyarakat.
    Masalahnya justru ada di kualitas bacaan masyarakat. Akan sangat sulit untuk mengharapkan terciptanya masyarakat yang cerdas, arif, dan bijaksana jika bahan bacaannya mayoritas adalah koran-koran “kuning” ataupun majalah-majalah serta jenis media cetak lain yang tidak berkualitas. Itulah sebenarnya yang menjadi masalah terbesar dalam upaya mengembangkan “budaya baca” di Indonesia.
    Satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, yaitu disleksia adalah disfungsi yang disebabkan oleh gangguan saraf otak atau kondisi biokimia otak yang tidak stabil sehingga menyebabkan kesulitan dalam membaca dan menulis. Salah satu tokoh yang memiliki disfungsi ini adalah Albert Einstein yang menurut saya memiliki minat baca yang cukup baik dan kecerdasan luar biasa. Jadi, menurut saya disleksia tidak dapat dijadikan faktor rendahnya minat baca karena kesulitan dalam membaca tidak serta-merta membuat orang itu kehilangan minat membaca.

  2. tambahan bahwa minta baca di Indonesia tidak kurang..
    coba lo ngadain sesi kumpul2 bareng anak jalanan, trus lo sodorin buku ke anak2 jalanan,mereka pasti akan tertarik (dalam pengalaman gw sudah terbukti)..minat baca bukan berarti bahwa sang subjek hanya bisa membaca,tapi ketertarikan untuk membaca juga aspek di dalamnya..
    dalam suatu minat baca ada banyak komponen:
    1. pembaca
    2. sumber informasi
    3. akses terhadap sumber informasi
    Segala komponen ini saling berkaitan, dan apabila ada komponen yang satu ga berfungsi, maka takkan bisa terbangun minat baca tersebut..
    gempuran dunia televisi juga sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi budaya baca mereka ketika dewasa..