WANTED: Inung Imthihani

Wawancara Orang Terakreditasi – Tim Medis Formasi 21 FIB UI

Inung Imthihani: Menulis, Inspirasi Dunia

“Menulislah. Tulislah apapun yang sedang kaupikirkan.” Itulah kata-kata yang selalu ada di benak Inung Imthihani, mahasiswi program studi Indonesia 2009. “Tulislah apapun itu, sejelek apapun menurutmu, tapi lama-lama kita akan belajar dan suatu saat kita akan mendapatkan hasil yang kita inginkan,” lanjutnya. Kak Inung, begitu ia akrab dipanggil, menyukai dunia sastra sejak kecil. Segudang prestasi berhasil diraihnya, seperti cerpennya yang dimuat di Borobudur Post, beberapa antologi puisi yang dimuat di majalah, lomba baca puisi, juara di Simposium Internasional ke-5 yang diadakan Salam UI, hingga lomba cerdas cermat. Ia dikenal sebagai orang yang jago membuat puisi. Puisi-puisi karyanya seolah mengajak orang lain untuk berbicara, sangat menarik dan luwes.

“Sejak SMA sebenarnya saya hanya fokus ke akademis karena program akselerasi yang saya jalani. Saya tidak bisa ikut kegiatan ekstrakurikuler yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Tidak banyak waktu yang bisa saya luangkan untuk menuangkan hobi saya. Karena itu, saya suka curi-curi waktu untuk menulis puisi sebelum ulangan, hehe…“ cerita Kak Inung sembari tertawa.

Mahasiswi asal Purworejo ini mengaku menyukai puisi yang bertema sosial. “Tulisan memang punya tujun tersendiri, begitu juga yang bertema sosial. Menurut saya tema ini paling tepat untuk mengungkapkan kritik secara berbeda. Maknanya tersirat. Menulis membuat kita bijak memilih kata-kata dan puisi memiliki simbol-simbol kata yang maknanya bebas dipahami oleh pembaca.”

Banyak karya sastra yang disukainya, antara lain puisi karya Sapardi Djoko Damono, novel karya Tere Liye dan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. “Novel Ronggeng Dukuh Paruk misalnya sangat menarik dan inspiratif bagi saya. Belum pernah saya membaca buku yang penceritaannya sebagus itu. Saya ingin menjadi penulis yang sekeren beliau. Latar ceritanya membutuhkan riset dan pengetahuan tentang kebudayaannya yang tentunya tidak mudah,” ujarnya mantap.

Kak Inung memiliki banyak cita-cita antara lain menjadi penerjemah. Menurut Kadept Force Formasi ini, dunia penerjemahan di Indonesia masih langka. Masih banyak buku-buku dari luar yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dunia penerjemahan memberikan akses masyarakat Indonesia untuk lebih memahami ilmu dari luar.

Setiap orang yang ingin berkembang. Tidak semuanya harus pintar. Pikiran harus dituangkan walaupun tidak melulu mesti ditulis. Namun, jika ingin menginginkan sesuatu yang nyata yang bisa dikembangkan ke masyarakat dan masih ada sampai kita mati, menulislah. Kita harus berani untuk mengungkapkan isi pikiran kita dan tidak usah pedulikan apa kata orang. Ambil hal-hal yang positifnya saja. Tidak usah pedulikan kata-kata negatif yang membuatmu mundur. Banyaklah membaca. “Kita punya dua pilihan, menulis sendiri atau ditulis oleh orang lain. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan bangsa, hingga kita bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.”

Harapan Kak Inung adalah mencapai prestasi yang paling berharga, yakni kebahagiaan orang tua dan menerbitkan buku puisi tunggalnya. “Sejauh ini, saya juga sedang mempelajari bahasa isyarat. Pengajar saya sendiri adalah seorang tuna rungu yang berprofesi sebagai dokter gigi. Luar biasa sekali. Beliau sangat menginspirasi saya. Sejatinya mereka berhak menerima ilmu yang sama seperti kita, hanya terkadang mereka terisolasi.”

Itulah sepenggal kisah dari Inung Imthihani. Masih banyak hal dan prestasi yang ingin dicapainya. Motto hidupnya, “Lakukan apa yang bisa kau lakukan sekarang, karena kita tak akan pernah tahu kapan akan habis waktu kita di dunia ini.”

Interviewed and written by Misaki – Japanology ’10 FIB UI

Nama : Inung Imthihani
Prodi : Sastra Indonesia 2009
TTL : Purwokerto, 22 Juni 1992
Blog : http://manuskrippertama.blogspot.com/

 

1 thought on “WANTED: Inung Imthihani”

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA