Wawancara Orang Terakreditasi – Tim Medis Formasi 21 FIB UI

Zulfian Prasetyo: Kenangan Yang Menjadi Masa Depan

Zulfian, begitu ia kerap disapa. Meskipun dia mengaku sebagai orang yang selalu serius, pada saat wawancara untuk pembuatan artikel ini atmosfer yang tercipta begitu berbeda. Ya, Zulfian selalu melayangkan berbagai gurauan di sela-sela wawancara hingga kesan tersebut tak nampak pada dirinya yang selalu tersenyum.

advertisement

Zulfian Prasetyo sudah mengantongi tiga buah buku yang merupakan karyanya sendiri. Diary Dodol Pelajar Konyol, Panjul’s Diary, dan Coret-coretan (sedang dalam proses akhir) adalah judul-judul yang dimaksud. Trilogi bukunya ini menceritakan perjalanan hidup konyol Zulfian yang bermula dari zaman bersekolah di SMK N 26 (dulu STM Pembangunan) hingga sekarang. Selain memiliki nuansa komedi dosis tinggi, tulisannya juga memiliki visi tentang masa depan dalam usahanya mencari jati diri dan beberapa hal kontemplatif yang diselipkannya.

Mahasiswa Ilmu Sejarah ini mengakui, karier kepenulisannya diawali dengan keisengan menulis pengalaman-pengalaman pribadinya dengan cara yang fun di blog. “Niatnya iseng. Kebetulan waktu masih sekolah di STM, saya dapet temen-temen gila. Ternyata berperan besar dalam membuat saya gila, hahahaa….” Sosok yang akrab dipanggil Fian ini mengaku, lingkaran pertemanan itu ternyata memiliki peran dalam membentuk voice tulisannya.

Tak disangka, tulisannya disukai para peselancar dunia maya. “Waktu itu ada seorang pembaca bilang, ‘wah tulisannya lucu nih, bisa bikin semua bagian tubuh gue bergerak, hahahaa…. Kenapa gak dibikin buku aja biar seru?’ Dari situ saya baru kepikiran, ternyata bener juga,” ungkapnya. Dari situlah Zulfian mulai berpikir untuk mencoba menulis.

advertisement

Menulis tiga buku bukan berarti tanpa masalah. Dalam proses inkubator naskah-naskahnya, sempat timbul masalah-masalah yang menguji idealisme menulisnya. Mulai dari keluarga yang kurang menyetujui hobinya karena dianggap tidak memiliki manfaat ekonomis di masa depan, hingga kejenuhan yang timbul dalam menulis. Baginya, itu merupakan sebuah ujian akan benturan idealismenya dengan realita yang ada. “Waktu itu saya marah. Namun saya sadar, kemarahan ini harus menjadi energi positif untuk membuktikan bahwa saya mampu berkarya. Saya ingin menunjukkan, khususnya kepada orangtua, bahwa saya mampu mencapai eksistensi dalam dunia menulis.”

Impiannya terkabul. Naskah pertamanya, Bibir Kuda Laut, diterima oleh penerbit LPPH (Lingkar Pena Publishing House) dan diubah judulnya menjadi Diary Dodol Pelajar Konyol. Saat surat perjanjian penerbitan datang, orang tua yang sempat menentangnya justru terlihat lebih sibuk dari dia. “Saya senang, mereka akhirnya bisa bangga juga sama anaknya. Hehehe…” Semangat pembuktian dirinya inilah yang membuat dia tetap bergelut dalam dunia tulis-menulis hingga akhirnya membuahkan buku keduanya, Panjul’s Diary.

Sukses mengeluarkan dua judul buku bukan berarti mudah untuk langkah selanjutnya. Di proses penulisan buku ketiga, kejenuhan menulis melanda. Namun, dia mencoba mencari kesibukan di dunia lain yang bertolak belakang dengan dunia kepenulisan. Seni peran, tarik suara, hingga public speaking dipelajarinya. “Iya, waktu itu emang lagi jenuh banget. Makanya saya iseng aja cari kesibukan di luar. Saya mau coba bidang-bidang yang sebenernya ‘bukan gue banget’ kayak akting, nyanyi, sampe jadi MC OKK 2011. Deg-degan parah karena aslinya saya kurang percaya diri dan dari segi skill juga masih kurang. Tapi, ya, namanya juga belajar.” Penulis ini juga memberi saran, jika sudah kembali fresh, jangan lupa untuk kembali ke akar minat kita. “Pengalaman mencoba hal-hal yang berbeda itu seru dan bisa jadi inspirasi buat tulisan kita. Tapi jangan lupa, kita awalnya maunya jadi apa. Tetep istiqomah sama niat awal kita.”

advertisement

Untuk mereka yang gemar menulis, Zulfian berpesan, “Menulis itu nggak butuh skill. Menulis itu justru butuh konsistensi karena itu adalah energi utama dalam menulis sendiri.” Selain itu, ia juga menambahi arti pentingnya menekuni apapun yang menjadi minat kita. “Buat apa punya kemampuan atau bakat tapi kamu emang nggak minat? Kalau menulis itu adalah passion kamu, ya udah terus kejar. Jujurlah sama diri sendiri, jangan bohongi apa yang kamu inginkan karena insya Allah nggak ada yang sia-sia,” pungkasnya.

Interviewed and written by Zero – Japanology ‘10

Prodi : Sejarah 2009
TTL : 5 Juni 1990
Website : http://bibirkudalaut.blogspot.com

advertisement

WANTED Zulfian