3 Argumen Ateis Yang Digunakan Untuk Menyangkal Keberadaan Tuhan

Masalah Tuhan memang paling menarik untuk dibahas karena Tuhan telah memengaruhi kehidupan manusia bahkan pada dimensi paling dasar sekalipun. Tetapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai bukti keberadaan Tuhan seperti di tulisan sebelumnya melainkan kali ini gue akan membahas tiga argumen yang digunakan untuk menyangkal keberadaan Tuhan. 


0

Masalah Tuhan memang paling menarik untuk dibahas karena Tuhan telah memengaruhi kehidupan manusia bahkan pada dimensi paling dasar sekalipun. Tetapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai bukti keberadaan Tuhan seperti di tulisan sebelumnya melainkan kali ini gue akan membahas tiga argumen yang digunakan untuk menyangkal keberadaan Tuhan.

Bis dengan Spanduk Tidak Ada Tuhan (sumber: time.com)

Apa saja tiga argumen tersebut? Adalah masalah kejahatan, masalah penyelamatan tuhan, dan masalah proyeksi manusia. Argumen-argumen ini sering dipakai oleh para ateis untuk menyangkal Tuhan. Mau tau penjelasan argumennya yuk simak.

1. Masalah Kejahatan

Argumen Epikuros (sumber: flickr.com)

Argumen pertama yang sering digunakan oleh para ateis untuk menyangkal keberadaan Tuhan adalah mengenai asal-usul kejahatan. Tuhan Maha Baik ,Maha Kuasa dan Maha Penyayang lalu mengapa ada kejahatan, penderitaan, dan bencana? Bukankah ini kontradiksi. Perumusan lebih radikal diberikan oleh Filsuf Epikuros yang menyebutnya the problem of evil :

Jika Tuhan sanggup tetapi tidak mau menghilangkan kejahatan di dunia ini maka dia jahat

Jika Tuhan tidak sanggup tetapi mau menghilangkan kejahatan di dunia ini maka dia tidak Maha Kuasa

Jika Tuhan sanggup dan mau menghilangkan kejahatan di dunia ini, lalu mengapa ada kejahatan?

Jika Tuhan tidak sanggup dan tidak mau menghilangkan kejahatan di dunia ini, lalu mengapa dia disebut Tuhan?

Sebuah argumen paradoks yang langsung membuat kita meragukan keberadaan Tuhan, karena bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Baik, Maha Kuasa, Maha penyayang, dan Maha Mengetahui membiarkan terjadinya kejahatan di dunia ini, membiarkan terjadinya berbagai  penyakit dan kelaparan di dunia ini. Dengan argumen paradoks ini para ateis mengatakan konsep Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Baik, Maha penyayang, dan Maha Mengetahui sebenarnya terbantah dengan sendirinya melalu keberadaan evil atau kejahatan di dunia ini, jadi konsep Tuhan adalah konsep yang absurd sehingga keberadaannya harus ditolak. Tidak mungkin Tuhan ada tetapi sekaligus terdapat kejahatan karena kejahatan ada maka Tuhan tidak ada.

2. Masalah Penyelamatan Tuhan

Lukisan Indah (sumber: steemit.com)

Argume kedua ini sering dipakai oleh beberapa ateis untuk menyangkal Tuhan. Argumen ini berbunyi: Tuhan Maha Tahu yang artinya dia bisa mengetahui segalanya termasuk apakah si A masuk surga atau neraka bahkan sebelum memutuskan menciptakan si A menjadi manusia. Tetapi jika Tuhan Tahu misalnya bahwa si A sebelum diciptakan menjadi manusia pada akhirnya si A akan masuk neraka, mengapa Tuhan tetap memutuskan menciptakan si A padahal Tuhan bisa menyelamatkannya bukankah ini sadis? Sifat sadis ini tentu bertentangan dengan konsep Tuhan yang Maha Baik. Maha Kuasa, dan Maha Penyayang sehingga yang terjadi adalah kontradiksi. Kontradiksi itu menunjukkan Tuhan tidak ada karena suatu hal yang ada tidaklah mungkin kontradiksi.

3. Tuhan adalah proyeksi manusia?

Imajinasi (sumber: kompasiana.com)

Argumen ketiga yang dipakai oleh ateis untuk meyangkal keberadaan Tuhan adalah mengenai Tuhan sebagai proyeksi manusia.  Konsep batman adalah konsep yang sifatnya fiksional artinya tidak ada di dunia nyata dan hanyalah hasil proyeksi manusia, kita  bisa menciptakan konsep batman karena kita pernah melihat kelelawar dan manusia kemudian menggabungkan kedua ide tersebut. Begitupun dengan Tuhan, Tuhan adalah proyeksi manusia, makannya Tuhan itu menurut para ateis selalu digambarkan dengan rupa-rupa tertentu seperti mempunyai tangan yang banyak atau wajah yang banyak. Itu menunjukkan Tuhan adalah proyeksi manusia sehingga Tuhan tidaklah ada.


Tanggapan Pribadi Penulis

Tanggapan #1

Saya akan memberikan tanggapan mengenai the problem of evil di atas. Adanya kejahatan di dunia ini bukanlah disebabkan oleh Tuhan melainkan disebabkan oleh manusia itu sendiri. Melalui kehendak bebasnya manusia-lah yang menciptakan kejahatan dan bencana yang terdapat di dunia ini. Lagi pula manusia telah di pilih oleh Tuhan sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini sehingga segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah tanggung jawab manusia dan kita tidak dapat melemparkan tanggung jawab tersebut terhadap Tuhan. Jadi adanya kejahatan tidak menyangkal konsep dan keberadaan Tuhan karena penyebab kejahatan tersebut adalah kehendak bebas manusia. Lalu mengapa Tuhan membiarkan adanya kejahatan walaupun hal tersebut adalah hasil dari perbuatan manusia, bukankah Tuhan bisa menghilangkannya? Hal tersebut adalah konsekuensi dari diciptakannya kehendak bebas manusia, dengan diciptakannya kehendak bebas maka kejahatan akan selalu muncul beriringan dengan kebaikan. Sama hal nya seperti cahaya dan kegelapan yang akan selalu beriringan, selain itu beberapa agama telah menjawab bahwa kejahatan adalah ujian untuk eksistensi manusia dan keimanannya.

Tanggapan #2

Kita bisa memberikan jawaban terhadap si ateis yaitu seandainya ada seorang guru yang memberikan ujian kepada seluruh muridnya. Guru tersebut menuliskan di kertas ujiannya berapa 2+2? Ternyata setelah memberikan ujiannya, dia melihat salah satu muridnya menulis jawaban atas pertanyaan tersebut adalah 5, apakah guru tersebut adil jika dia mengatakan kepada muridnya ubahlah angka 5 tersebut menjadi 4. Bagaimana dengan pendapat murid-murid lainnya? Apakah menolong murid tersebut merupakan ketidakadilan? Jadi walaupun Tuhan Maha Tahu bahwa si A akan masuk neraka, Tuhan tetap tidak akan meyelamatkannya karena kita semua sedang berada dalam tahap ujian dan itu merupakan bentuk keadilan Tuhan. Selain itu yang memutuskan seseorang menjadi manusia atau tidak bukanlah keputusan Allah melainkan keputusan manusia itu sendiri. Di beberapa agama monoteisme dikatakan dalam kitab-kitabnya bahwa manusia sendirilah yang memutuskan menjadi manusia, jadi Tuhan tidaklah sadis tetapi kita yang bodoh telah memutuskan untuk mengikuti  ujiannya dan menjadi manusia.

Tanggapan #3

Tuhan dalam agama-agama politeisme yang digambarkan dengan rupa tertentu memanglah hasil proyeksi manusia tetapi Tuhan dalam agama monoteisme tidaklah memiliki rupa ataupun bergambar sehingga hanya ada satu kemungkinan yaitu Tuhan dalam agama monoteisme adalah hasil wahyu dan bukan proyeksi manusia. Selain  itu sangat tidak masuk akal mengatakan Tuhan tidak ada dalam ruang yang tidak terbatas, sesuatu hanya dapat dikatakn tidak ada haruslah berada dalam ruang yang terbatas.

DAFTAR REFERENSI

https://plato.stanford.edu/entries/evil/

Sunarko,Adrianus. “Agustinus”. Komunitas Salihara (2016):4-5

Magnis-Suseno,Franz. “Menalar Tuhan”. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,2006:114-116)

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Mohan

Seekor kucing yang suka makan dan bermain.

0 Comments

Leave a Reply