Masih inget banget dulu waktu pertama kali dapet KTM, dengan noraknya maba UI beramai-ramai sama temannya naik sepekun untuk pertama kalinya. Keliling UI sore-sore karena berhubung masih maba kuliah masih belum padat dan tugas masih berbentuk makalah-makalah cantik yang kalau gak ada daftar isi atau gak pake halaman, juga gak masalah. Setelah itu, sepekun jadi sesuatu yang… yah cuma tau, cuma pernah naik, dan seringnya cuma lewatin haltenya doang.

Nah, apa yang terjadi? BMKG coba merumuskan beberapa contoh kasus atau skenario yang bisa ‘mengilustrasikan’ secara eksplisit maupun implisit, tentang apa yang terjadi. Coba perhatikan beberapa contoh kasus di bawah.

BACA JUGA:  7 Tipe Pengguna Bis Kuning

Kandang Rusa – FISIP

Jalur kandang rusa bisa dibilang sepi peminat, apalagi di pagi hari via jurnalbumi

Jalur kandang rusa bisa dibilang sepi peminat, apalagi di pagi hari via jurnalbumi

Sederhananya, yang lewat jalur kandang rusa adalah anak FIB/FISIP yang males naik bikun di pagi hari karena penuh atau anak FT atau FEB (atau fakultas entah apa) yang naik bikun ke kampus tapi nyegatnya di halte FIB.

Siapa yang naik sepekun via jalan ini? Jarang. Kenapa? Karena anak FIB gak bisa naik sepeda sampe FIB juga, dan kalau mau nyegat bikun, naik sepeda itu prosesnya bisa lebih lama daripada lari melintasi jalanan kandang rusa. Kan harus ngasih KTM dulu, masnya nulis NPM sama nama (belum lagi kalo namanya panjang dan si masnya sangat berdedikasi nulis nama ampe lengkap tanpa singkatan padahal udah nulis NPM) terus pas balikin juga demikian. Belum lagi, kalau pagi, karena kandang rusa itu penuh sama orang, jalan sepeda pun isinya orang semua. Jarang ada sepeda, kalau ada ya paling satu dua orang pesepeda yang mau ambil risiko menabrak kerumunan orang yang jalannya dilambat-lambatin.

 

advertisement

FIB – Perpus

Proses pencatatan yang lebih lama pada jalur FIB-Perpus

Proses pencatatan yang lebih lama pada jalur FIB-Perpus

Di atas ada argumen yang berlaku secara universal; sistem pencatatannya lama. Nah, untuk skenario yang ini, penempatan halte sepekunnya yang bikin mahasiswa FIB atau teknik  lebih memilih untuk jalan kaki karena bisa langsung lewat pintu depan daripada naro sepeda dulu.

 

Pocin – Perpus

Pocin-perpus, lokasi favorit sepekun via hastinmelur

Pocin-perpus, lokasi favorit sepekun via hastinmelur

Ini track sebenernya potensial sebagai salah satu track favorit seantero UI, loh. Lewat danau, lewat hutan kecil samping Balairung, terus sampe ke perpus. Berasa sejuk gitu kalau pagi atau sore, asal naik sepedanya gak keburu-buru. Nah, yang jadi masalah, pasti kebanyakan buru-buru kalau pagi dan sore karena si sepekun harus sudah kembali ke habitatnya, dengan alasan keamanan. Sayang banget loh, padahal enak sore-sore sepedaan di sekitar danau. Sabtu pagi juga seru, tapi kan Sabtu gak ada sepekun.

 

Kandang rusa – Asrama

Ya, siapa yang mau naik sepekun dari UI ke asrama?

Ya, siapa yang mau naik sepekun dari UI ke asrama?

Track-nya ada, sepedanya ada, tapi sayangnya ada bikun jadi ya ngapain juga sejauh itu naik sepeda ampe gempor kalau bisa naik bikun ber-AC? Mau diet apa begimana?

 

advertisement

FISIP – FEB atau FT

Besar kemungkinan yang bawa mobil mulai meninggalkan sepekun via kompasiana

Besar kemungkinan yang bawa mobil mulai meninggalkan sepekun via kompasiana

Ini juga jauh dan kalau kalian semua pernah, setidaknya sekali, melintasi jalanan sepeda dari halte sepekun FISIP minimal ampe FT atau depan Kutek deh, jalananya gak beres. Gak ada yang protes juga sih, karena gak ada yang pake. Semua sekarang udah pake mobil-motor jadi ya sepeda agak tersingkir untuk jarak sejauh itu.

Intinya? Ini beberapa poin banyak ‘track’ yang sebenernya kurang efisien. Gak salah, tapi gak bener-bener cerdas juga. Track kandang rusa ke perpus (via Psikologi dan FH, dan berhenti di halte sepekun MUI) lumayan cerdas dan oke, karena memang jalurnya tepat dan jaraknya mendukung, tapi yang lain belum tentu secerdas itu.

Waktunya kurang efisien juga. Kalau ada jam sore, wajarlah alasan keamanan jangan sampe itu sepekun udah menjelang malam masih dibawa uji nyali di Balairung atau di mana gitu, tapi kenapa Sabtu gak ada sepekun? Padahal pengunjung UI lumayan rame hari Sabtu dan seru juga sepedaan di UI ketika lagi gak ada agenda hari Sabtu.

Masih banyak yang menggunakan sepekun, tapi gak sebanyak itu juga karena tergantung jalur dan urgensinya. Kalo gak urgent, mending naik bikun.

 

Apa lagi yang harus diceritakan soal sepekun? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line! Siapa tau kalian jadi kangen naik sepekun terus sepedaan di musim ujan ini!

 



[reaction_buttons]