4 Cara Aksi Mahasiswa yang Kekinian

Mahasiswa UI belakangan ini lagi gencar-gencarnya aksi, orasi, dan mengekspresikan pendapat nih! Bentuknya beragam. Nah, salah satunya dengan cara ini.


0
Protes lewat teatrikal via teknikaftui

Mahasiswa UI belakangan ini lagi gencar-gencarnya aksi, orasi, dan mengekspresikan pendapat nih! Ini buat kamu yang somehow melewatkan isu-isu besar yang lagi hangat di kampus, gara-gara gak terlalu merhatiin apa yang ada di sekeliling kamu! Nih, beberapa jenisnya. Bangkitkan kepedulian kamu terhadap kesejahteraan bersama, siapa tau kamu punya solusinya.

BACA JUGA: Hal-Hal di UI yang Gak Akan Berubah Meski UKT Naik

 

Orasi dan Demo

Turun langsung ke jalan dan menuntut perubahan via pamflet
Turun langsung ke jalan dan menuntut perubahan via pamflet

Ada yang di depan rektorat langsung, ada juga yang depan stasiun. Ini versi old school karena gerakan mahasiswa seperti yang digandrungkan oleh alumni angkatan-angkatan lama adalah yang turun langsung ke jalan dan menuntut perubahan. Dengan adanya aksi-aksi seperti ini, pihak kampus tak punya pilihan lain selain membuka dialog dengan perwakilan mahasiswa kalau tidak mau suasana tambah ramai. Beberapa waktu lalu terjadi di depan stasiun, aksi dan orasi menolak kenaikan UPT. Berhasil mencuri perhatian orang yang datang ataupun melewati stasiun, dan berhasil juga membuat lalu lintas depan stasiun tersendat. Setidaknya itu bisa membuat mobil yang lalu lalang noleh sedikit, kan?

Ada yang agak miris, ketika selesai orasi kemarin di depan stasiun, mahasiswa yang berorasi menutup sesi dengan berteriak ‘Hidup Mahasiswa’, tapi hanya beberapa orang yang menyahut dan mungkin itu pun teman-temannya yang ikut orasi. Ini bisa berarti tiga hal; mahasiswa yang hadir kurang peduli, yang orasi kurang maksimal, atau keduanya.

 

Via Medsos

Ya, ada banyak yang berorasi atau malah berkoar-koar lewat medsos via oncampusadvertising
Ya, ada banyak yang berorasi atau malah berkoar-koar lewat medsos via oncampusadvertising

Ya, ada banyak yang berorasi atau malah berkoar-koar via medsos. Menyuarakan pendapat melalui tulisan singkat yang meskipun tidak selalu mencerminkan pemahaman mengenai permasalahan, setidaknya ia peduli dan berhasil memunculkan diri di timeline banyak orang, mendapat like sehingga postingannya di-share lagi ke banyak orang. Semakin banyak orang tahu, semakin banyak orang liat, semakin banyak yang peduli juga.

Mirip sama hukum orang jualan, minimal promosiin ke 100 orang, 10 orang tertarik dan mungkin 1 orang akan ikut peduli dan bersuara. Better than nothing. Oh, dan jelas lebih baik daripada nge-like postingan tentang jomblo-jomblo melas baperan susah jodoh atau postingan tipu daya didoain admin akun official supaya jadi orang kaya. Duh mahasiswa, mari pintar membedakan mana polos dan mana pembodohan massal.

 

Via Jokes

Lawakan yang nyindir dan ngatain pihak-pihak tertentu kadang lebih ngena via rachmadseptiawan
Lawakan yang nyindir dan ngatain pihak-pihak tertentu kadang lebih ngena via rachmadseptiawan

Ya, jujur aja ya namanya orang Indonesia pada umumnya paling suka bikin lawakan yang nyindir dan ngatain pihak-pihak tertentu atau nyindir suatu kebijakan tertentu. Kalian pasti sering lihat yang namanya meme yang di-remake dengan tagline yang menyindir kekonyolan dan banyak nonsense yang patut dikritik. Jokes udah jadi bagian dari upaya mengkritik suatu pihak, dan serunya adalah banyak yang lucu. Makin offensif biasanya makin lucu, dan lucu sekali kalau yang dikatain marah dan berarti jokes itu memang benar adanya, dan kalau yang dikatain marah karena disindir biasanya mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malem, temennya kurang banyak. Kapan lagi aksi disertai lawakan dan sindiran cerdas tingkat tinggi? Jokes pun tampaknya lebih bisa masuk ke kalangan mahasiswa dan lebih mungkin dapat banyak respons positif dari mahasiswa dibanding orasi biasa.

 

Berkarya

Protes lewat teatrikal via teknikaftui
Protes lewat teatrikal via teknikaftui

Ini mungkin bukan orasi secara harfiah, bukan juga aksi yang mainstream, tapi percayalah mengkritik lewat karya itu terbukti berhasil. Mulai dari Multatuli hingga Pramoedya Ananta Toer, yang namanya karya itu bisa hidup mengarungi zaman dan kalaupun gagal menundukkan otoritas dan ketidakadilan di suatu masa. Karya berhasil merekam ketidakadilan tersebut dan berhasil memberikan obor perjuangan ke penerus-penerus. Karya pun gak sebatas bikin buku. Sekarang zaman udah modern, nge-blog bisa nulis di timeline bisa, bikin poster bisa, pementasan drama bisa juga. Kritik yang cerdas itu yang membangkitkan semangat, dan juga bikin yang dikritik mikir.

Nah, gimana? Udah dapet bayangan gimana aksi mahasiswa masa kini? Yuk, share inspirasi ini lewat Facebook, LINE dan Twitter kamu! Mulailah peduli dan teruslah buka mata pikiran dan hati untuk lihat isu masyarakat yang perlu ditangani. Jadilah mahasiswa.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Admin anakUI.com
Semua postingan resmi dari anakUI.com, baik itu pemberitahuan, info, dan lain-lain, hanya diposting dari akun ini. Follow juga twitternya @anakuidotcom dan FB Fanpagenya.

0 Comments

Leave a Reply