WARNING!!! Tulisan yang satu ini hanya diperuntukkan buat kamu, kakak-kakak alumni UI yang udah kece dan siap untuk berkeluarga.

Ish. Sombong banget! Mau ngomongin apa, sih?

Bukan apa-apa Masbro, kalau yang baca ini mahasiswa yang masih jomblo-jomblo unyu nanti sakit ati. Percaya deh.

Karena oh karena, kita bakal ngomongin seputar PER-NI-KAH-AN! Yup! Pernikahan haha.

Bagi kakak-kakak alumni, setelah lulus kuliah tantangan hidup berikutnya yang harus dihadapi adalah dunia kerja dan dunia pernikahan.

advertisement

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Bagi sebagian orang, pernikahan tidaklah menjadi hal yang diutamakan. Namun, bagi sebagian lainnya, pernikahan bagaikan ultimate satisfaction of life yang harus dicapai demi mendapatkan kebahagiaan tertinggi. Hati siapa yang tak ‘kan tergoyang di saat orang tua udah membisikkan kalimat sakti, “Kapan ya, bapak/ibu bisa nggendong cucu? Kalau kamu kerja bapak/ibu kan kesepian di rumah.”

Ingin sih nikah, tapi sama siapa? Itu pertanyaan yang sering bergemuruh di hati kita. Namun, bagi kamu yang memang mempersiapkan diri untuk menikah, ada baiknya kamu mempertimbangkan bahwa pendamping hidup yang akan kamu nikahi adalah alumni dari Universitas Indonesia. Bukan, bukan bermaksud sombong. Namun ada beberapa hal baik yang bisa kita petik bersama dari karakter pribadi seseorang yang telah menjalani 3-4 tahun atau bahkan lebih di komplek kehidupan Universitas Indonesia yang mungkin akan sangat jarang didapatkan di lingkungan kehidupan lainnya.

 

Berjiwa Kepemimpinan

Berjiwa kepemimpinan. (Sumber: depoktren)

Berjiwa kepemimpinan. (Sumber: depoktren)

Sounds too good to be true, tapi bisa dicek. Tak sedikit mereka yang telah menghabiskan waktu untuk memperjuangkan hidupnya di lingkungan civitas akademika Universitas Indonesia, memiliki jiwa kepemimpinan yang tidak biasa. Sifat kemandirian yang telah terlatih secara tak sadar, sejak pertama kali menjejakkan kaki di kos-kosan pertama, sifat tak mudah menyerah saat mengerjakan tugas dan mengejar dosen pembimbing. Atau bahkan sifat yang membuat dirinya percaya bahwa setiap mimpi adalah hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan, mampu membentuk jiwa setiap insan di Universitas Indonesia memiliki jiwa kepemimpinan yang tidak biasa.

Benar saja, udahlah seleksi masuknya susah, tiap hari ketemu manusia dengan beragam karakter bahkan tak sedikit ketemu orang yang bilang “Kamu yakin punya cita-cita jadi pilot? Udahlah fokus aja sama mata kuliah kamu.” Hal-hal seperti ini membuat para mahasiswa UI semakin memegang teguh mimpi yang mereka peluk erat-erat sedari hari pertama mereka melewati gerbang utama Universitas Indonesia. Mereka percaya pada mimpi. Dan ingatlah, ada kata “Pemimpi” di dalam kata “Pemimpin”

advertisement

 

Kreatif dan Imajinatif

Kreatif dan imajinatif. (Sumber: youtube)

Kreatif dan imajinatif. (Sumber: youtube)

Pernah main ke kosan teman kamu yang kuliah di UI? Coba lihat rak bukunya, apa saja yang mereka baca? Coba lihat dinding kamarnya, apa saja puisi-puisi yang mereka tuliskan? Dan coba lihat koleksi musisi idolanya, siapa saja yang mereka idolakan?

Kemampuan untuk mengelola mimpi hingga menjadi nyata, bukan satu-satunya potensi alumni UI yang patut diacungi jempol. Perlu diketahui, untuk berpegang teguh pada mimpi, seseorang memerlukan role model yang juga berpegang teguh pada cita-citanya. Dan tak sedikit, dari sekian banyak role model tersebut, muncul dari kalangan seniman dan penggiat budaya. Orang-orang seperti Pramoedya Ananta Toer, Soe Hok Gie, Chairil Anwar, hingga Steve Jobs, Adolf Hitler, Leo Tolstoy atau Hayao Miyazaki, adalah sebagian dari tak sedikit deretan role model yang selalu memotivasi anak UI dari generasi ke generasi.

Hal ini membuat tak sedikit dari anak UI yang memiliki kemampuan berimajinasi dan kreativitas yang tak kenal batas. Ditambah lagi, lingkungan yang sarat dengan tenggang rasa dan saling apresiatif terhadap suatu karya semakin membuat mereka aktif dalam berkreasi. Mewujudkan karya dan ide-ide yang tak banyak orang lain pikirkan.

 

Menguasai Bahasa Asing

Menguasai bahasa asing. (Sumber: Youtube)

Menguasai bahasa asing. (Sumber: Youtube)

Percaya atau tidak, tak sedikit pula dari anak UI yang dalam kehidupan sehari-harinya berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Bukan, bukan karena mereka tidak mencintai bahasa dan budaya Indonesia, melainkan sebaliknya. Di dalam hati sanubari mereka yang paling dalam, sungguh, mereka ingin tidak hanya memperkenalkan Indonesia namun juga berkeinginan keras untuk menunjukan produk dan karya Indonesia kepada dunia.

Karena itu, tak sedetik pun, anak UI melewatkan kesempatan emas ketika ketemu native speaker dari berbagai bahasa yang juga menuntut ilmu di kampus kuning ini. Tak heran, ketika mereka lulus kuliah, mereka dapat dengan mudah menguasai bahasa asing. Semudah mengenali adanya dialeg bahasa Belanda yang janggal pada film “Merah Putih”. Atau semudah mereka bisa membantu bule Perancis yang kesasar dan nanya arah jalan di depan rumah makan ‘Es Pocong’. Tentunya ini akan menjadi modal utama dalam meraih cita-cita.

 

Visioner

Visoner. (Sumber: ui)

Visoner. (Sumber: ui)

Karena berada di lingkungan yang mengapresiasi karya, dan memicu kreativitas dan imajinasi mereka, tak sedikit alumni UI dapat mengidentifikasi problem apa yang saat ini tengah melanda Indonesia dan tak sedikit pula dari mereka yang kini tengah mengerjakan berbagai project yang tentunya akan menyelesaikan problem-problem tersebut.

Kemampuan mereka dalam ‘melihat’ masa depan menjadi kelebihan tersendiri yang kemudian mereka tuangkan dalam berbagai karya cipta. Seperti Najwa Shihab dengan ‘Mata Najwa’-nya, Rhenald Kasali dengan Rumah Perubahan-nya, Tompi dengan musikalitasnya, Garin Nugroho dengan berbagai karya filmnya atau bahkan Alm. Ibu Ainun Habibie dengan berbagai kegiatan sosialnya.

 

Cinta Alam

Mapala UI

Mapala UI

Apa yang membuat Soe Hok Gie akhirnya mencetuskan ide untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA)? Tak lain dan tak bukan karena kecintaannya pada alam dan kemampuanya dalam berimajinasi yang disertai dengan aksi nyata.

Tak berhenti di sana, jika kamu perhatikan, mari kita hitung, ada berapa banyak kegiatan mahasiswa UI yang berkaitan dengan alam namun juga di waktu yang sama menyelesaikan problem sosial? Ambil contoh, jika kamu ke stasiun Depok Baru, kamu akan menemukan bilik menyusui khusus ibu hamil yang diprakarsai oleh teman-teman kedokteran UI. Hanya kepekaan terhadap alam sekitar dan kepekaan sosial yang tinggi mendorong terjadinya ide tersebut menjadi nyata.

Poin-poin di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kelebihan alumni UI yang patut kamu pertimbangkan untuk dijadikan pendamping hidupmu. Mungkin kamu dengan mudah berfikir, “Ah masa iya kampus lain nggak nemu yang kayak gitu?”

Namun, satu hal yang pasti, mereka yang memiliki tingkat kepekaan sosial dan kemampuan intelektual yang saling melengkapi bukanlah tipe manusia yang dapat kamu temukan dengan mudah. Tidak ada salahnya, jika kamu mencoba mencari dari lingkungan terdekat, salah satunya lingkungan civitas akademika Universitas Indonesia.

Sama alam aja cinta, gimana sama kamu? Eaaa~

Buang sampah sembarangan aja nggak mau, apalagi buangin perasaan kamu sembarangan. *makin Eaaa~~*

Jika kamu merasa setuju dengan ulasan kali ini, jangan lupa untuk bagikan ulasan ini melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu ya! Jika kamu punya hal lain yang perlu kami tambahkan, kami tunggu komentar terkini kamu di comment box! 😉

 



[reaction_buttons]