6 Perusahaan (yang Kita Kira Milik) Asing


0

Dunkin Donuts, IKEA, Louis Vuitton, kamu mungkin pernah mendengar nama-nama ini. Bagaimana dengan Edward Forrer, J.Co, Olympic? Edward Forrer memiliki banyak gerai di Bandung, Jakarta, dan banyak kota besar lainnya, J.Co juga sama besarnya, pemandangan antrian bermeter-meter dapat kita temui di gerai-gerai J.Co, begitu pula Olympic yang namanya tak asing lagi di telinga kita. Kamu pasti pernah mendengarnya. Namun tahukah kamu bahwa tiga perusahaan yang disebut terakhir didirikan dan dimiliki orang Indonesia?

Selain tiga perusahaan tersebut kita juga mengenal Wings, ABC, serta Ceres. Semuanya merupakan produk asli Indonesia yang pasarannya sangat luas, bahkan hingga ke luar negeri. Sampai-sampai banyak orang Indonesia yang menyangka merek tersebut dimiliki orang asing. Artikel ini dan beberapa artikel selanjutnya akan membahas bagaimana mereka bisa membangun usahanya hingga mendunia.

Edward Forrer

Edward Forrer mungkin terdengar seperti nama orang asing, namun pada kenyataannya ini adalah nama seorang buruh di Bandung pada tahun 1980-an. Edward Forrer – biasa dipanggil Edo – adalah seorang pemuda miskin. Masa-masa kecilnya diliputi kepedihan. Sering kali ia menyaksikan bagaimana ibunya harus membujuk adik-adiknya meminum air yang banyak untuk mengganjal perut. Edo menjadi tulang punggung keluarga di usia muda ketika ayah dan ibunya bercerai. Sebagai lulusan SMA, ia tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan selain menjadi buruh kasar. Ia bekerja di bagian gudang sebuah pabrik sepatu di Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 1980-an, Edo mendapat pencerahan untuk mengubah nasibnya. Suatu hari ia membaca sebuah artikel mengenai pengembangan talenta di koran. Artikel itu dibacanya berulang-ulang dan memaksanya berkontemplasi mencari hal yang mungkin menjadi bakatnya. Butuh waktu cukup lama hingga ia teringat bahwa semenjak sekolah dasar dia sangat senang menggambar. Dia pintar menggambar apa saja. Itu satu-satunya bakat yang dimiliki, meskipun telah lama ia lupakan.

Dengan cepat, Edo menghidupkan bakatnya itu dengan objek yang sudah tidak asing lagi: Sepatu. Edo mengamati model-model sepatu di gudang tempat ia bekerja tampak begitu membosankan dan kuno. Ia pun mendesain sepatunya sendiri dengan membuat modifikasi tumpukan sepatu yang sehari-hari dilihatnya, dengan tambahan imajinasi dan kreasi. Namun sayang, bos tempatnya bekerja menolak untuk memproduksi desain itu. Penolakan itu tidak membuat Edo jera, dia tetap rajin membuat desain-desain baru meskipun ia tahu desain tersebut hanya akan berakhir di laci meja.

Pada tahun 1989, Edo mengambil keputusan berani untuk meninggalkan perusahaannya setelah melihat tidak adanya peluang untuk mengubah nasib dari bagian gudang menjadi desainer. Kepada bosnya, Edo mengaku akan membangun usaha yang sama tetapi bersumpah tidak akan menjadi pesaing.

Dengan bermodalkan sepeda kumbang tua, ia menawarkan produknya dengan cara yang gila; ketika itu ia belum memproduksi satu pun desainnya sehingga ia menawarkan sepatunya hanya dengan gambar yang ia buat. Sial bagi Edo, ide penjualan yang unik ini ditolak mentah-mentah, tak ada yang mau membeli sepatunya. Banyak orang yang ditawarinya langsung menolak mentah-mentah terlebih karena ia meminta uang muka terlebih dahulu sebelum sepatunya dibuat, ibu-ibu ketakutan dan menganggapnya penipu.

Untuk menutupi biaya hidup, Edo membuka les private. Tak disangka orang tua murid di tempat Edo mengajar menjadi pelanggan pertama Edo. Mungkin karena belas kasihan, orang tua itu memesan sepasang sepatu dan bersedia membayar uang muka untuk membeli bahan kulit. Edo girangnya bukan main saat mengerjakan pola, menjahit, menempel sol, hingga akhirnya mengantarkan sepatu untuk si ibu. Sepatu itu dibuat dengan susah payah karena meskipun pandai mendesain, dia tidak begitu pintar menge-sol sepatu. Karena itu ia terlebih dahulu belajar membuat sepatu dengan mesin jahit pertama. Produk pertamanya itu memang dipasarkan dengan cara yang tidak lazim, tetapi hasilnya bagus dan kokoh sehingga si Ibu merasa senang.

Ibu tersebut kemudian memamerkan sepatu buatan Edo ke ibu-ibu lainnya, dari arisan ke arisan, sepatu customized buatan Edo yang kokoh dan tidak pasaran menjadi terkenal dan penjualan meningkat, dari yang tadinya lima order dalam seminggu menjadi lima pesanan dalam sehari. Edo pun mengumpulkan uang dan dengan Rp.200.000 ia merekut dua orang karyawan dan membeli sebuah mesin jahit.

Seiring dengan membengkaknya penjualan, Edo tidak lagi menawarkan produknya dengan sepeda kumbang, tetapi membangun showroom kecil-kecilan berukuran 2 x 2 meter di ruang tamu rumahnya. Perkembangan selanjutnya, ia mampu menyewa sebuah toko di Jalan Saad, Bandung, namun karena ternyata tidak laku, ia memindahkan tokonya ke tempat yang lebih besar di Jalan Veteran No. 44 bandung, yang kini menjadi kantor pusat Edward Forrer.

Konsumen Edo yang tadinya ibu-ibu kelas menengah ke bawah pun berangsur angsur berubah menjadi konsumen menengah ke atas. Gerai distribution outlet atau distro mulai dibanjiri orang-orang dari Jakarta. Selain desain sepatu yang modis, orang-orang di luar Bandung itu tampaknya juga sangat nyaman dengan merek sepatu yang dilabeli dengan nama lengkap Edo: Edward Forrer. Mereka yang tidak tahu mungkin menyangka itu adalah sepatu impor mahal dari Italia. Padahal sepatu-sepatu itu dibuat di Bandung.

Menghadapi pesanan bertubi-tubi, Edo kewalahan dan memutuskan untuk tidak memproduksi sepatunya sendiri. Ia hanya menyediakan desainnya dan menjualnya dengan merek miliknya. Edo juga memantapkan tim kreatif desain dan menjadikannya sebagai bagian paling penting dalam bisnis ini. Ia menargetkan desainernya mampu menelurkan 2 model sandal dan sepatu baru setiap 10 hari.

Edo sang pemimpi kini telah memiliki gerai penjualan di luar negeri untuk mewujudkan mimpinya sebagai pembuat sepatu terbaik di dunia. Ia memiliki satu gerai ada di Malaysia dan Hawaii serta dua di Australia yang dijadikan sebagai kantor pusat urusan luar negeri. “Saya ini pemimpi dan visioner. Selalu punya mimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu,” kata Edo.

Kini Edo tinggal di Australia, menikmati hasil kerjanya; dan sesekali pulang ke Bandung untuk memantau bisnisnya dari dekat.

Next on the Series >> Olympic Furniture, kisah tentang bagaimana seorang pengusaha menciptakan peluang dari masalah yang dihadapinya.

Referensi:

  1. M. Ma’ruf. 2009. 50 Great Business Ideas From Indonesia. Jakarta Selatan: Hikmah
  2. http://www.thejakartapost.com/news/2008/11/19/edward-forrer-local-shoemaker-expanding-business-overseas.html

Penulis: Ricky Setiawan. Mahasiswa FE, Manajemen Pemasaran 2007. Operation Director Miracle Teknologi Solusindo, co-founder HargaTeman.com (http://www.hargateman.com).
Tertarik pada bidang bisnis dan manajemen, kewirausahaan, ekonomi, bahasa, web desain, dan sejarah.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Ricky Setiawan
A mixture of marketing, art, the web, and caffe latte. Hardcore fan of remarkable stuffs.

7 Comments

Leave a Reply

  1. Sewaktu baca ini:
    “……….memaksanya berkontemplasi mencari hal yang mungkin menjadi bakatnya. Butuh waktu cukup lama hingga ia………….”
    Gw jadi inget satu tahun yang lalu bertemu dengan seorang Kera Ngalam (baca: Arek Malang) yang kenal di kereta ekonomi saat perjalanan Banyuwangi-Jakarta..
    Dia kerja apapun sambil mencari bakatnya, mulai dari kuli, buruh, sampai pada akhirnya dia menemukan soul-nya, menjadi tukang service HP di kota Malang.
    walau pada awal usaha Hp nya itu, dia utang sana-sini.. tapi usahanya berkembang signifikan.
    Sayang sekali, sewaktu bertemu, beliau sedang menggembel. Usahanya bangkrut, akibat penipuan.
    Mudah2an di Jakarta ini dia sudah bertemu dengan sang penipu dan dapat menyelesaikan masalahnya.