6 Stigma yang Melekat pada Mahasiswa FIB UI

Apa yang muncul di benakmu ketika ditanya tentang mahasiswa FIB UI? Daripada bingung, simak enam stigma yang melekat pada mahasiswa FIB UI.


0

Apa yang terbesit di benak kamu soal mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI? Gudangnya UI Cantik? Kumpulan anak gaul yang pintar berbahasa asing? Atau kumpulan mahasiswa santuy yang kuliah pakai sandal jepit?

FYI, FIB UI merupakan fakultas dengan jurusan terbanyak yang ada di UI. Totalnya ada 15 jurusan. Nggak hanya sastra, di fakultas ini juga ada jurusan yang mempelajari ilmu humaniora, seperti Filsafat, Ilmu Sejarah, dan Arkeologi. Dengan keanekaragaman jurusan itu, secara nggak langsung mahasiswa FIB pun terkenal juga dengan keberagaramannya. Hal tersebut secara tidak langsung membentuk berbagai macam stigma pada mahasiswa FIB.

Kali ini, anakui.com akan memberikan sedikit bocoran seperti apa sih anak FIB itu. Namun, tulisan ini cuma gambaran umunya saja, ya. Kalau kamu kepo, langsung aja gih cari temen atau gebetan di FIB, hehe.

1. Terkenal Gaul

Sumber: pixabay.com

Kalau kamu lihat cewek dengan rambut “badai” dan baju cakep, serta cowok yang rapi dan selalu pakai sneakers mahal, coba tanya jurusannya. Stigma seperti itu biasanya melekat pada mahasiswa jurusan sastra Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, dan Rusia.

Gaya mereka seakan sesuai dengan budaya dari negara yang mereka pelajari. Jadi, jangan heran kalau mereka cakep dan gaul, ya.

2. Suka Nongkrong Bergerombol

Sumber: pixabay.com/free-photos

Setiap jurusan di FIB punya tempat nongkrongnya masing-masing. Namun, ada beberapa jurusan yang tempat nongkrongnya ini mudah dikenali. Kenapa? Karena sejak maba—pas masih pakai name tag dan identitas jurusan—mereka sudah rajin ngumpul di sana bareng temen seangkatan. Alhasil, tempat itu pun jadi ciri khas dari jurusan tertentu.

Misalnya, anak Sastra Indonesia biasa nongkrong di depan Koperasi Mahasiswa (Kopma); anak Sastra Jawa nongkrongnya di belakang Gedung V; anak Sastra Jepang nongkrong di sekitaran Kantin Humaniora (Kanhum); dan anak Sastra Arab yang suka ngumpul di Musas (Musala Sastra). Uniknya, anak Sastra Arab sering dianggap alim karena ngumpul-nya di Musas.

Eits, walaupun begitu, bukan berarti anak jurusan lain nggak boleh duduk-duduk di sekitar situ, ya. Mereka santai-santai saja kalau ada anak dari jurusan lain. Justru anak dari jurusan lain itu yang mungkin bakal canggung kalau ada di situ, hehe.

BACA JUGA: FIB UI Tanpa Acara Mahasiswa Bagai Sayur Tanpa Garam, Kurang Lengkap!

3. Kuliah Pakai Sandal

Sumber: pixabay.com/girasol75

Jangan kaget kalau main ke FIB lihat mahasiswa yang cuma pakai sandal jepit pas ngampus, ya. Pemandangan tersebut sudah lumrah terjadi di FIB. Kebanyakan dosen juga nggak melarang mahasiswa pakai sandal di kelas. Jadi, mereka santai-santai aja kuliah pakai sandal jepit dan kaos oblong.

Stigma seperti itu biasanya melekat pada mahasiswa jurusan Arkeologi, Ilmu Sejarah, dan Filsafat. Eits, tapi jangan sepelein mereka. Walaupun gaya mereka santai, bukan berarti kuliahnya juga santai, ya.

4. Diam-Diam Menghanyutkan

Sumber: pixabay.com/sammy-williams

Di antara anak-anak gaul FIB, ada juga golongan yang jarang terekspos, loh. Biasanya, penyebabnya adalah jurusan mereka kurang populer atau justru sebaliknya, jurusan mereka dianggap susah sehingga mereka lebih sering kelihatan ngambis daripada nongkrong.

Salah satu jurusan yang (katanya) kurang populer yaitu Ilmu Perpustakaan. Anak-anaknya pun “kurang terlihat” di lingkungan pergaulan FIB. Sementara itu, salah satu jurusan yang anak-anak ambis karena tuntutan akademik yaitu Sastra Cina. Jurusan tersebut merupakan salah satu jurusan yang masuk dalam daftar “segitiga bermuda”-nya FIB, loh. Jadi, kalau nggak ambis, bisa-bisa mereka ketinggalan jauh, deh.

5. Suka Ngidol

Sumber: pixabay.com/free-photos

Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang awam sering menghubungkan jurusan Sastra Jepang dengan Wibu dan jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) dengan K-Pop. Dari luar mungkin kelihatannya memang begitu. Mereka yang masuk Sastra Jepang atau BKK mungkin awalnya punya alasan “ingin mempelajari bahasa atau budaya dari idolanya”.

Namun, seiring berjalannya perkuliahan, alasan tersebut pun bergeser. Mereka tidak hanya menjadikan artis atau anime favorit sebagai hiburan, tetapi juga sebagai objek penelitian. Itu namanya ngidol yang bermanfaat ya, hehe.

6. Barisan Biasa Aja

Sumber: pixabay.com/wokandapix

Stigma ini mungkin bukan stigma yang unik dan menarik. Dan dua jurusan di FIB ini boleh dibilang punya stigma itu. Mereka dianggap biasa saja dan cenderung diremehkan. Dua jurusan itu adalah Sastra Indonesia dan Sastra Jawa. Jarang sekali ada yang kepo dengan jurusan itu. Jadi, orang-orang hanya menganggap seperti, “Oh, anak sastra Indonesia, ya?” atau “Oh, anak Sastra Jawa, ya?”

Padahal, secara nggak langsung mereka membantu melestarikan karya sastra, mulai dari karya sastra daerah sampai karya sastra populer Indonesia, loh. Jadi, jangan meremehkan jurusan apapun sekalipun terlihat gampang, ya!

***

Selain enam stigma tersebut, ciri khas yang paling melekat di mahasiswa FIB adalah gemar “berpesta” dengan berbagai acara setiap bulannya dan suporternya yang selalu ramai ketika perhelatan Olimpiade UI. Pokoknya, nggak ada habisnya deh kalau ngomongin FIB, hehe

BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
1
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Language and Writing Enthusiast. Temui saya secara pribadi di aniesapramitha.medium.com

0 Comments

Leave a Reply