Seorang filsuf Yunani Socrates (469 SM-399 SM) pernah berkata:

“Pendidikan itu mengorbankan api, bukan mengisi bejana”

Kata-kata Socrates itulah yang membuat saya terdorong untuk membuat tulisan ini dan kiranya tulisan ini dapat menyuarakan bahwa sistem pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak selama ini sebenarnya salah.


Mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, guru selalu mendidik
anak seperti mengisi sebuah botol kosong, padahal pendidikan bukanlah sekedar mengisi tong yang kosong.

 

 

advertisement

BACA JUGA: Rombak Sistem Evaluasi Pendidikan Indonesia!

Pendidikan adalah sebuah kemandirian otonom yang selalu dicetuskan dengan maksum “Sapere Aude” yang artinya berani berpikir sendiri. Kemandirian untuk berani menggunakan akalnya sendiri adalah bentuk pendidikan sesungguhnya.

Akibat sistem pendidikan di negara kita yang selalu mendidik anak-anak dengan mengisi tong kosong adalah minat baca anak-anak indonesia yang sangat rendah, bahkan kebanyakan pendidikan yang dilakukan di Indonesia adalah pendidikan hafalan tanpa mengerti suatu konsep. Anak-anak tidak diajak untuk berfikir mengapa hal ini terjadi, mengapa harus begitu, mengapa tidak yang lain. Anak-anak kita tidak pernah mengkritisi sesuatu hal yang diberikan secara kritis dan argumentatif. Tatkala diberikan suatu pernyataan dan ilmu, anak-anak cenderung hanya menyerapnya dan langsung mempercayainya.

Contohnya pada pernyataan matahari akan terbit esok hari, semua anak-anak pasti akan menyakini bahwa matahari pasti akan terbit esok hari. Jika ada seorang yang mengatakan bahwa matahari tidak akan terbit esok hari maka pernyataan itu langsung dianggap salah.

George yang dididik kritis

George penasaran (sumber: forward.com)

Anak-anak kita tidak diajak untuk mempertanyakan dan berdialog, mengapa saya percaya matahari akan terbit esok hari, apa alasan saya mempercayai matahari akan terbit esok hari? Apakah karena saya terbiasa melihat matahari dari dulu sampai sekarang selalu terbit maka saya berharap secara psikologis bahwa matahari akan terbit esok hari juga?

Jika begitu berarti kepercayaan saya bahwa matahari akan terbit esok hari sebenarnya tidak rasional dan hanya berdasarkan kebiasaan. Contoh lainnya adalah mengapa pemerintah membuat peraturan harus memakai helm untuk pengendara motor? Apakah pemerintah peduli dengan rakyatnya atau pemerintah takut kehilangan satu orang pembayar pajak sehingga mengurangi APBN? Nyawa manusia-kah yang lebih penting atau APBN?

advertisement

BACA JUGA: Gerakan Paguyuban Daerah di UI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Dari contoh pernyataan matahari esok hari akan terbit dan mengapa pemerintah membuat peraturan memakai helm menunjukkan bagaimana model mendidik anak lewat pertanyaan dan kritisisme, dengan pertanyaan itu anak-anak diajak untuk berfikir dan membuat konsep-konsep mereka sendiri dan hal inilah yang tidak dipunyai oleh sistem pendidikan Indonesia.

Jika kita tidak ingin ketinggalan dalam bidang sumber daya manusia, kita harus mengikuti model pendidikan anak-anak di Eropa terutama Finlandia yang mana mengajarkan anak-anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Model pendidikan pertanyaan dan kritisisme adalah model pendidikan yang paling baik karena mengajak anak-anak untuk berfikir sendiri. Model pendidikan pertanyaan yang diterapkan di Eropa juga menjadi salah satu alasan mengapa Eropa selalu menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang hebat dan berkualitas karena mereka tidak sekedar menghafal tetapi mengerti, paham, dan berinovasi.

Anak-anak kita adalah generasi penerus yang akan mewakili Indonesia di masa depan, jika anak-anak kita mengalami ketertinggalan pendidikan, bagaimana Indonesia bisa menjadi negara maju dan sanggup menghadapi revolusi industri 4.0.

Yang penting untuk membangun suatu bangsa bukanlah infrastruktur seperti gedung-gedung dan jalan tol melainkan pendidikan yang mengutamakan kemandirian anak menggunakan pikirannya sendiri dan tidak sekedar menghafal ataupun menyerap informasi tetapi mempertanyakan informasi tersebut. Model pendidikan inilah yang harus dijalankan Indonesia jika ingin menjadi negara maju dan menghadapi revolusi industri 4.0 yaitu model pendidikan pertanyaan kritisme bukan pernyataan dan hafalan.

BACA JUGA: 10 Pelajaran Hidup Yang Bisa Kalian Dapatkan Dari Bangku Kuliah

Daftar Referensi

  1. https://news.detik.com/kolom/d-3838611/mendidik-anak-bukan-sekadar-menyekolahkan
  2. https://siedoo.com/berita-3703-pentingnya-pendidikan-anak-pada-usia-emas/
  3. Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Filsafat Kritisisme Kant.” Komunitas Salihara (2016) :6-10
  4. Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Rasionalisme.”Komunitas Salihara (2016) :23-24
  5. Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Empirisme/Skeptisisme.” Komunitas Salihara (2016) :7-13
  6. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200328183621-307-487858/inilah-alasan-pendidikan-anak-jadi-investasi-masa-depan

Referensi Gambar Header: Anak SD