Apa Saja yang Harus Kita Siapkan Di Tengah Globalisasi?


0
Globalisasi (Ilustrasi ditambahkan admin)
Globalisasi (Ilustrasi ditambahkan admin)
Globalisasi (Ilustrasi ditambahkan admin)
Globalisasi (Ilustrasi ditambahkan admin)

Memasuki abad 21, dunia diliputi oleh fenomena-fenomena yang cenderung seragam. Internet, serat optik, MTv, Mcdonald, pasar bebas, IMF, World Bank, dan kemajuan teknologi informasi telah membuat batas-batas suatu negara tidak sejelas era 70, dan 80-an dan mulai mempengaruhi identitas lokal, konsumerisme yang meningkat, tidak hanya di kota-kota besar, namun juga menyelusup ke ranah pedesaan, lunturnya karakter budaya lokal akibat infiltrasi budaya barat. Bahkan, relasi antar personal yang semula disemangati semangat gotong royong cenderung disubstitusi dengan hubungan fungsional yang serba formal.

Menganalisis fenomena-fenomena di atas, yang bisa hadir di segenap sendi kehidupan di pelosok negara mana pun, dapat disimpulkan bahwa ,pada abad 21 ini, kita menghadapi isu kolektif yang sama : globalisasi. Globalisasi dicirikan sebagai proses pengintegrasian dunia dalam satu sistem yang tiada akhir, bukan hanya terjadi pada domain ekonomi, melainkan juga dalam domain identitas dan budaya, yang terjadi melalui proses interaksi antara sistem-sistem lokal. ( Wallerstein : 1974 )

Namun, satu pertanyaan yang harus dilontarkan adalah apakah benar, globalisasi sebagai penyebab fenomena-fenomena tersebut? Ataukah justru disebabkan oleh ketidaksiapan kita dalam hal menyeleksi dan mengimplementasikannya?

Sebagai jawaban, Dr. Joseph Stiglitz dalam bukunya Globalization and Its Discontents berpendapat bahwa negara-negara membangun dan miskin dapat mengambil keuntungan dari globalisasi dengan syarat globalisasi ditangani dengan baik oleh negara tersebut, baik pemerintahnya maupun rakyatnya.

Generasi muda, dengan karakter yang dinamis dan sedang mencari sebuah equilibrium prinsip, berpotensi gamang menghadapi globalisasi ini. Menurut Erik Erikson seorang ahli psikologi Jerman dalam bukunya Young Man Luther: A Study in Psychoanalysis and History (1958) , generasi muda yang tergolong dalam kategori umur adolesen dan dewasa awal memiliki hasrat untuk mencari identitas diri dan menyatukannya dengan identitas orang lain tanpa takut kehilangan identitas diri sendiri.

Sementara, di tengah globalisasi yang penuh dinamika prinsip akibat interaksi berbagai sistem sosial ini, generasi muda akan dibanjiri oleh berbagai macam perspektif ide tentang prinsip-prinsip yang dominan dalam pencarian identitas.

Tanpa pemikiran yang tepat untuk menyeleksinya, generasi muda akan terpuruk, tidak adaptif, dan akhirnya tertinggal. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengetahuan tentang apa sebenarnya esensi globalisasi dan bagaimana cara menghadapinya.

Globalisasi sebagai suatu fenomena peradaban umat manusia memiliki karakter spesifik yang membedakannya dengan fenomena sosial lain. Pertama adalah interkoneksi, yang dapat diartikan sebagai tidak ada satu pun entitas yang dapat mandiri dan berdiri sendiri. Konsekuensi logisnya adalah saling ketergantungan antar entitas.

Ciri globalisasi yang lain adalah semakin memudarnya batas-batas nilai, budaya, dan tempat seiring dengan kemajuan teknologi informasi, komunikasi , dan transportasi. Hal ini berimplikasi pada banyaknya konfrontasi yang mewarnai proses globalisasi. Nilai yang kita anggap selama ini benar dipertanyakan keabsahannya sehingga terjadi proses dekonstruksi berupa ‘benturan’,’negosiasi’, dan ‘komunikasi’ antar nilai.

Contohnya adalah isu pornografi. Di Cina, pemerintah menggulirkan program “Great Firewall of China” yang menyensor seluruh konten pornografi di internet sehingga mengundang protes negara barat. Di Indonesia, polemik RUU Pornografi dan Pornoaksi yang digodok di DPR sempat terkatung-katung akibat banyaknya suara pro dan kontra.

Oleh karena itu, agar tetap dapat adaptif dan progresif di tengah globalisasi ini, generasi muda harus melakukan persiapan berupa manajemen personal atas beberapa aspek.

Pertama adalah mengenal diri sendiri. Mengetahui siapa diri kita menjadi penting untuk dapat memberikan arahan dan menentukan sikap terhadap isu tertentu sehingga tidak terombang ambing dalam globalisasi ini.. Hal ini dapat diketahui dengan cara mengidentifikasi keluarga, asal usul, kebiasaan, paradigma hidup, dan lokasi geografis tempat kita dibesarkan.

Kedua adalah menolak absolutisme. Pemutlakan bahwa hanya prinsip kita yang paling benar hanya akan menghalangi kita untuk terus belajar.

Ketiga adalah toleransi. Era globalisasi penuh dengan ambiguitas prinsip mana yang paling benar. Dengan mengutamakan toleransi, kita tetap dapat saling berinteraksi dan saling melengkapi sehingga tetap dapat progresif.

Keempat adalah pembelajaran tiada henti. Perubahan adalah hakikat globalisasi. Kemampuan untuk menghadapinya bergantung pada seberapa besar keinginan dan kemampuan kita untuk terus belajar. Kita harus belajar dari masa lalu diri sendiri dan orang lain, belajar dari interaksi, dan selalu berpikir kritis agar dapat menentukan prinsip terbaik. Hal yang perlu diingat adalah tidak ada finalisasi proses, sebab dengan banyaknya perubahan,kita akan terus senantiasa belajar.

Perlu dipahami bahwa proses pembenahan diri sendiri ini adalah kunci penting untuk membentengi diri menghadapi globalisasi ini. Jika generasi muda tidak dapat beradaptasi dengan semestinya dan mundur, bisa dipastikan, di tengah kompetisi yang semakin ketat untuk maju ini, generasi muda tersebut akan menjadi terbelakang dan tersingkir dari kancah pergaulan global.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Khaira Al Hafi
Kegelisahannya pada kecendrungan pemuda untuk menuntut dan hanya bicara tentang perubahan Indonesia yang lebih baik sangat mewarnai perjalanan Al Hafi sebagai mahasiswa. Melalui organisasi yang didirikannya, UI to PIMNAS dan Kreanovator Indonesia, Al memiliki visi untuk menciptakan budaya 'perubahan adalah Saya' , dimulai dari diri sendiri. Ia pun percaya bahwa, agar perubahan tiap individu bisa berdaya guna untuk sekitarnya, dibutuhkan modal : ilmu. Itulah sebabnya Al sangat berminat di bidang riset sehingga dapat memenangkan berbagai kompetisi seperti Oikos UNDP International Economic Competition 2013, Green Economic national Call for Paper competition Fakultas Padjadjaran 2012, Inovator layak paten Kementrian Pendidikan Nasional 2013, Mahasiswa Berprestasi Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2013, dll. Al juga telah diundang untuk berbagi pandangannya mengenai pemuda, inovasi, dan kepemimpinan pada berbagai kesempatan seperti G20 Youth Forum, St. Petersburg, Russia, Central and Eastern European Economic Meeting 2013, Warsaw, Poland, International Interdiciplinary Conference 2013, Venice, Italy, Konferensi Nasional Ilmu Administrasi Negara 2013 UI Depok, dan belasan kesempatan lainnya baik di luar maupun dalam negri.

2 Comments

Leave a Reply