Berdagang Birahi: Pubersitas Agama, Tradisi, dan Budaya


0

Agama adalah way of live manusia secara universal. Mustahil setiap agama tidak mengatur tindak-tanduk kebutuhan manusia, terutama seks. Islam menjelaskan dengan Al Qur’an dan Sabda Rosulullah SAW, Kristen dengan Al Kitab, dan kitab Manu bagi agama Buhda/Hindu.[1]

Tradisi dan budaya ketimuran manusia Indonesia juga menjadi “corong” perkembangan khazanah seks manusianya. Selain itu, Multikulturalisme yang “megah” di tanah Indonesia juga menyiratkan banyak tafsiran tentang seks yang Indonesiana.  Dinamika manusia Indonesia di atas tentu tidak sekongyong-konyong[2] membentuk suatu social group. Dalam ranah ini, peran “pubersitas” agama, tradisi, budaya turut andil dan menjalankan fungsinya di dalam pembentukan kelompok sosial masyrakat. Bagaimana agama, tradisi, dan budaya merekonstruksi dan memengaruhi (influencing) seksualitas manusia Indonesia?

Manusia sebagai mahkluk sosial selamanya akan “dipenjarakan” dalam tiga dimensi kelompok seksualitas yang berbeda[3]. Pertama, kelompok yang berlebih-lebihan, yaitu kelompok yang mendewakan seks. Msyarakat dunia mengenal dengan “sindiran” masyarakat free sex. Kelompok ini berpandangan bahwa seks sangat bebas – tanpa batasan etika dan keagamaan – dengan orientasi seks sebatas kepuasan semata.

Kedua, kelompok yang teledor, kelompok yang “menajiskan” seks – meskipun mereka tidak terlepas dari kebutuhan seksual – dan menganggap seks lebih kotor dari buang air. Pandangan mereka tentang seks hanya terpaku pada dogma agama secara subtantif-ekslusif, sehingga “ngelantur” dari realitas dan tuntunan keagamaan (syari’at).

Ketiga, kelompok garis tengah, adalah kelompok yang memahami seks dengan kesadaran fundamental terhadap agama secara utuh – terutama agama Islam dan Kristen. Kelompok ini membredel kajian keagamaan, tradisi, dan budaya secara jernih dan rasional.

Agama, tradisi, dan budaya memiliki kaitan erat dalam pembentukan struktur kognisi masyrakat. Seks sebagai kebutuhan dasar manusiawi terlalu gamblang jika dijelaskan dengan pendekatan psikologis-biologis. Kajian dari angle agama, tradisi, dan budaya Indonesia merupakan “ritme” baru dalam menengahi problematika “perdagangan birahi” yang meroket setiap saat.

Ketiga kelompok masyrakat di atas adalah hasil “pubersitas” agama, tradisi, dan budaya yang benar-benar Indonesia. Adalah tugas manusia itu sendiri dalam hal menentukan the way of life mereka untuk menghindari dampak fisik, perilaku dan kejiwaan, sosial, ekonomi, dan tentunya dampak keagamaan.
{Download}

Mang Oejank Indro @2010
Daftar rujukan :Asror, Mustaghfiri. 1983. Emansipasi Wanita: Dalam Syari’at Islam. Semarang : CV. Toha Putra.Jusuf, Ahmad. 2006. Bahaya Seks Bebas pada Remaja: Tinjauan Aspek Medis dan Islam. Dalam makalah yang disajikan pada penyuluhan bagi siswa-siswi SMA Diponegoro Rawamangun Jakarta, Kamis 28  Desember 2006Tolani, Tofan, 2004. Cinta, Seks dan Problematikanya, Jakrta: Restu Agung.Umar, Abu, B. 2006. Sutra Ungu, Solo : Rumah Dzikir.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
mang.oejank

Mang Oejank Indro (Iswanda F.S.) Gresik, 15 April 1990 International School of Computer & Bussiness Weanes Education Center Malang 2008 Universitas Indonesia 2010 "Saya hanya orang Indonesia biasa, yang belajar dan bekerja dengan cara Indonesia, untuk benar-benar menjadi Indonesia." Berawal dari kebudayaan dan kecintaan saya dengan dunia pendidikan. Sengaja saya melayangkan blog sederhana ini untuk meramaikan gempita pendidikan berbasis kebudayaan dan teknologi. Pendidikan memang menjadi "barang" langkah untuk dinikmati. Biaya pendidikan yang terus meroket, ketimpangan subsidi pemerintah, dan kebijakan-kebijakan yang jauh dari konteks kemiskinan merupakan fenomena yang lumrah di Negeri kita. "Negeri kaya yang tak berdaya" mungkin jargon ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Sebagai mahasiswa di Universitas yang menyandang nama Negara, saya ingin menjalankan salah satu Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Saya bisa mengenyam pendidikan di UI juga tidak terlepas dari jeritan rakyat, karena rakyat yang menanggung biaya studi saya. HIDUP MAHASISWA HIDUP RAKYAT INDONESIA Mang Oejank Indro @ 2010

One Comment

Leave a Reply