BOP-B untuk Klinik (Pendidikan Profesi) FKG UI: Masih Adakah Harapan?


0

Memasuki tahun 2012, Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP-B) masih menjadi topik hangat untuk diperbincangkan di lingkungan civitas Universitas Indonesia, khususnya di Fakultas saya, Fakultas Kedokteran Gigi. Pro dan Kontra masih menyelimuti sistem pembayaran yang telah beberapa tahun diterapkan di kampus rakyat ini.

Setidaknya, ada tiga golongan mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda mengenai BOP-B, yaitu mahasiswa yang belum merasa mendapat keadilan, mahasiswa yang sudah merasa mendapatkan makna keadilan dan mahasiswa yang acuh tak acuh terhadap berjalannya sistem ini.

Terlepas dari fakta bahwa sistem BOP-B ini belum bisa memuaskan semua pihak, ada satu permasalahan mendasar yang sekarang sedang menjadi problematika di lingkungan civitas FKG UI, yaitu bahwa BOP-B tidak diterapkan di jenjang pendidikan profesi FKG UI.

Kita tahu bahwa mahasiswa FKG harus menempuh pendidikan sarjana selama 3,5 tahun untuk mendapatkan gelar SKG (Sarjana Kedokteran Gigi) lalu melanjutkan pendidikan profesi (klinik/ko-ass) selama 1,5 tahun untuk mendapat gelar dokter gigi. Saya yakin bahwa hampir setiap mahasiswa yang memilih jurusan Kedokteran Gigi tujuannya untuk menjadi dokter gigi, bukan Sarjana Kedokteran Gigi.

Lalu bagaimana dengan harapan teman-teman kita untuk menjadi dokter gigi harus tertunda hanya karena masalah biaya? Bagaimana nasib teman-teman kita yang biasanya membayar uang semester sebesar Rp100.000 kini harus membayar Rp7.500.000 untuk setiap semesternya, ditambah dengan uang pangkal sebesar Rp10.000.000? Bukankah mahasiswa klinik juga mahasiswa Universitas Indonesia yang berhak mendapatkan keadilan?

Tahun ini, sistem tersebut sudah mulai diterapkan untuk mahasiswa angkatan 2008 yang kini akan memasuki jenjang profesi. Semua dipukul rata dan tidak ada keringanan sama sekali. Mungkin kalian sering mendengar bahwa kuliah di FKG itu mahal. Ya, memang mahal, apalagi ditambah ‘pengeluaran harian’ selama menjalani pendidikan di klinik.

Yang saya takutkan adalah, kalau sudah begini, di saat pengeluaran yang begitu besar harus dikeluarkan oleh mahasiswa, maka nanti kalau sudah memasuki lingkungan kerja, berapa banyak dokter gigi UI yang sibuk bekerja keras dengan orientasi untuk mendapatkan uang balik modal dan melupakan kewajiban dalam pengabdian masyarakat.

Menurut teman-teman, adakah solusi cerdas yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

6 Comments

Leave a Reply

  1. Sy trkjt dgn mmbc artikel ini,krn sy pun br mengetahui’a.apakah ini jg brlaku u/ mhs fkui?ap hny fkgui sj?
    Hm srn saya,mmg sgala mslh hrs dikomunikasikan,cb u/ dikomunikasikan ke bem fklts trlbh dhl agr laporan nnt bs ditrskn ke pihak rektorat.
    Andai sj rektorat mmbc artikel yg mba bwt..

  2. kurang tahu kalau FK gimana, SK Rektor tentang BOP-B tidak diberlakukan di pendidikan profesi ini baru aja dikeluarin. Mungkin ada temen-temen FK yang bisa jawab?

    Terima kasih ya atas sarannya, setahun ini teman-teman dari BEM dan BPM FKG sudah mengusahakan agar BOP-B diberlakukan di tingkat klinik. Tapi akhirnya SK Rektor tentang tidak berlakunya BOPB di tingkat klinik ini dikeluarkan. Entahlah, apakah SK Rektor tersebut bisa diubah atau tidak. Sekarang masih mencoba mengkomunikasikannya ke pihak dekanat, semoga bisa diteruskan ke pihak rektorat, Mohon doanya yaa 🙂

  3. Miris ya mbak…

    Sepertinya tidak ada tempat untuk anak petani dan anak nelayan bermimpi untuk jadi dokter gigi ya….

    Semoga ada jalan keluar ya mbak..
    Klo butuh bantuan anak anak siap turun…

  4. Berdasarkan perhitungan ekonomis sih memang tidak masuk akal bila tidak ada lagi keringanan..

    Sekedar INFO UMR JABODETABEK 2012 :
    Rp 1.529.150.

    Kalo 7.500.000 / semester berarti per bulannya jadi :Rp 1.250.000

    Sisa 250.00/bulan.
    Makan nasi aking tuh keluarga. haha

    Emang pendidikan di negara ini makin mahal.
    Gak ada otaknya semua.
    Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

  5. Pertama, keputusan ini memang cukup mencengangkan dan membuat mahasiswa pasti merasa tidak siap dengan keputusan SK Rektor.
    Pertanyaannya tindakan apa yang sudah dilakukan mahasiswa FKG di Salemba sana?
    karena dengan lokasi kampus yang berbeda mungkin membuat mahasiswa lain di luar FKG menjadi kurang tau, tapi dengan adanya tulisan ini saya jadi tau.

    Mungkin sedikit memberikan saran sebagai orang awam yang tidak tau banyak soal BOPB :
    – Melakukan mediasi melalui BEM FKG lalu diteruskan ke pihak Mahalum yang bertanggung jawab. Mediasi agar Pendidikan Profesi bisa mendapatkan BOP-B
    – Melakukan hubungan komunikasi dengan Alumni (ILUNI FKG) agar dapat membantu menyelesaikan masalah ini, atau bisa melakukan penggalangan donasi bagi mahasiswa yang tidak mampu untuk membayar uang pangkal dan BOPB. Pasti Alumni kita baik-baik orangnya dan ada yang sudah cukup mapan, saya yakin betul.
    – Menerapkan sistem cicilan bagi mahasiswa yang ingin menempuh profesi agar dapat membayar tidak sekaligus tetapi sesuai jangka waktu dan jumlah yang ditentukan.

    Semoga bermanfaat dan bisa segera teratasi masalah ini. Kami mahasiswa UI mendoakan. Sejatinya tidak ada seorangpun atau apapun yang menghalangi seseorang untuk meraih cita-citanya, baik rektor maupun Uang sekalipun. Diluar sana masih banyak bertebaran beasiswa dan orang baik hati yang akan membuat Putih itu lebih Indah dari sang Hitam.

    Salam, Jaya Gaya

  6. Gw mahasiswa FK, saat ini lagi di jenjang profesi. Cuma mau bantu konfirmasi aja. Gw angkatan 2007 jadi gadapet bopb. Tapi dr yg gw tanya ke temen gw di 2008, dia di klinik dapet kok bopb (dia masih bayar 4jt, bayaran dg bopb yang sama spt pas dia di preklinik dulu).

    Terus terang gw baru denger masalah ini di FKG. Dulu FKG angkatan 2007 yg gw tau permasalahannya cuma yang ada tarikan dana tambahan pas mau masuk klinik itu aja. Temen gw jg baru denger ttg ini. Gw jelas nggak tahu kenapa diberlakukan peraturan seperti itu di FKG, mnurut gw sih kalian harus tanya betul, terutama alokasinya ke mana. Kejar terus lewat BEM kalian, dan mgkn bisa sampai lewat MWA.

    UI memang lagi begini kawan, transparansinya dipertanyakan. Tapi jangan patah semangat ya. Dan jangan kehilangan idealisme kalian. Statement penulis ttg balik modal itu memang benar mungkin terjadi. Tapi itu di luar. Gw percaya dokter dan dokter gigi lulusan UI akan selalu punya idealisme dan kepedulian sosial yang tinggi (yang nggak ya namanya oknum, hehee :p).

    Semangat selalu kawan! Salam sejawat!