Buat Kamu Yang Merasa Masuk UI Karena Keberuntungan Aja…

Setiap kali kamu merasa bahwa keberuntungan lah yang membuatmu diterima menjadi mahasiswa UI, kamu berarti tidak mengakui usaha - usaha kecil yang walaupun tidak terlihat, tetap berhasil membawamu sampai di posisi yang ada sekarang.


0

Lagi – lagi nilai gak sesuai ekspektasi.

Lagi – lagi dikomentarin negatif sama orang tua karena gak lulus – lulus.

Lagi – lagi dicibirin om dan tante karena gak bisa sesukses anak mereka atau anak orang lain.

Lagi – lagi ditolak magang sana – sini.

Ditambah lagi dengan adanya status sebagai Anak UI. Sebutan anak UI jalur belakang, atau anggapan masuk UI karena keberuntungan aja makin melekat di diri gue.

Kenapa ya, kok gue gak bisa jadi kayak yang lainnya?

Ada yang pernah ngalamin hal di atas? Ada pastinya. Kapan kamu ngalaminnya? Di semester awal perkuliahan? Atau justru saat mendekati waktu kelulusan? Kenapa ya, kok bisa – bisanya otak kita membuat kita berpikir seperti itu? Terus apakah punya pikiran seperti itu selamanya buruk?

Locus Of Control

Apakah kamu merasa memiliki kontrol yang besar terhadap hidupmu? Misalnya saat kamu menghadapi berbagai masalah yang mengganjal, apakah kamu merasa bahwa masalah tersebut dapat kamu selesaikan oleh dirimu sendiri? Atau mungkin kamu justru merasa bahwa masalah tersebut berada di luar kuasa dan kendalimu sebagai seorang manusia biasa?

Berhubungan dengan cerita sebelumnya,

Apakah kamu pernah merasa bahwa menjadi mahasiswa Universitas Indonesia merupakan suatu keberuntungan yang kamu terima dengan tiba – tiba?

Hal ini wajar saja jika terjadi di awal – awal perkuliahan yang mana kamu masih harus beradaptasi dengan lingkungan kampus yang baru. Yang gak wajar tuh kalau selama 4 tahun masa perkuliahan, kamu terus – terusan merasakan hal ini.

Locus of control adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Julian B. Rotter. Menurutnya, locus of control tiap individu berbeda. Ada yang  internal, dan ada yang external. Internal Locus of control dimiliki oleh mereka yang setiap kali mengalami kegagalan atau keberhasilan, mereka akan mengatribusikan kegagalan maupun keberhasilannya tersebut sebagai akibat dari diri mereka sendiri. Sebaliknya, external locus of control dimiliki oleh mereka – mereka yang mengatribusikan kegagalan maupun keberhasilan yang mereka capai pada sesuatu yang berada di luar, atau selain diri mereka.

Ketika kamu memiliki locus of control yang sifatnya external, kamu akan cenderung pasrah dan kurang berusaha untuk mengubah apa yang terjadi di dalam hidupmu. Seperti cerita di atas. Setiap kali kamu merasa bahwa keberuntungan lah yang membuatmu diterima menjadi mahasiswa UI, kamu berarti tidak mengakui usaha – usaha kecil yang walaupun tidak terlihat, tetap berhasil membawamu sampai di posisi yang ada sekarang. Ketika kamu gagal di suatu mata kuliah, kamu pun pastinya tidak akan berusaha untuk mengubah keadaan tersebut dan justru menyalahkan lingkungan sekitarmu. Bener gak?

Locus of control bukan hanya memengaruhi caramu merespon terhadap kejadian yang ada di sekitarmu, tapi juga  caramu bertindak. Sebagai contoh, ketika nilaimu jelek di suatu mata kuliah. Apakah kamu jadi semakin semangat belajar mengejar ketertinggalanmu di kelas? Atau justru menyalahkan dosenmu yang tidak memberikanmu lebih banyak waktu untuk belajar? Atau ketika kamu merasa masuk UI hanya untung – untungan. Bagaimana kamu bertindak selanjutnya di perkuliahan? Apakah kamu akan memanfaatkan waktumu dengan sebaiknya di UI, atau justru ingin cepat – cepat lulus karena takut keberuntunganmu akan cepat hilang?

Gak selamanya buruk!

Punya locus of control yang sifatnya external gak selamanya buruk, kok. Ada beberapa saat di mana kamu perlu mengalihkan locus of control mu yang tadinya internal menjadi lebih external. Misalnya di saat kamu tahu bahwa dirimu sebetulnya gak pinter – pinter amat di suatu mata kuliah. Menjelang hari H, kamu yakin kamu akan gagal karena kamu merasa  mata kuliah itu benar – benar di luar kemampuanmu. Tapi tiba – tiba kamu teringat, kalau ujian kali ini diadakan di pagi hari, di mana kamu biasanya lebih fresh dan semangat. Kamu juga melihat bahwa beberapa orang temanmu duduk di sekitarmu dan ikut menyemangatimu. Kamu pun merasa lebih rileks dan tenang. Gak disangka, ternyata kali ini nilaimu di atas ekspektasimu. Tuh kan, ada untungnya, kok.

Locus of control dapat memberikan pengaruh yang besar dalam hidupmu, dari mulai caramu bereaksi, sampai dengan caramu bertindak. Nah, kalau kamu sendiri gimana, lebih ke external apa yang internal?

Sumber gambar header: Kamaba UI


Like it? Share with your friends!

0
Cindy Rachma Muffidah
Cindy is a psychology student who is also a passionate writer and book reader. More of Cindy's Articles.

0 Comments

Leave a Reply