“Terimakasih, Pak!

Adalah kalimat yang dulu sering saya dengar setiap kali naik bikun. Mungkin ini bukan postingan pertama yang membahas tentang tata krama berbikun. Mungkin saya orang kesekian yang merasakan, “kok yang naik bikun sekarang kesannya cuek ya?”

 

advertisement

“Geser ke tengah lagi, Dek!

Adalah kalimat yang dulu tidak pernah saya dengar setiap kali naik bikun. Mungkin saya bukan satu-satunya yang merasakan hal demikian. Pun bukan saya satu-satunya yang dongkol setiap kali mendapati bagian tengah bikun kosong melompong sedangkan yang di luar bikun udah nggak bisa masuk lagi.

 

advertisement

Saya mencoba untuk berbagi cerita.

Dulu, jamannya saya masih maba tahun 2011 –bahkan sebelum jadi maba, waktu saya lalu lalang di UI jamannya persiapan tes SNMPTN 2011– kalimat ucapan terimakasih selalu terdengar. Saya merasa senang, karena ada ikatan emosi antara mahasiswa dan Bapak Bikun, tampak dari ucapan terimakasih yang diucapkan dengan semangat dan suara lantang! Tak jarang saya melihat Bapak Bikun selalu tersenyum setiap ada yang naik-turun bikun. Logikanya, siapa sih yang nggak senang sama orang yang selalu berterimakasih pada kita tanda pekerjaan kita dihargai?

Jaman itu juga, tidak pernah sekali pun Bapak Bikun teriak (selama saya menggunakan jasa bikun di jaman sebelum maba-jaman maba), meminta penumpang untuk geser ketengah. Semua orang sadar diri dan tahu diri! Semuanya jadi enak, yang mau turun gampang, yang naik juga nyaman. Apa susahnya sih geser dikit ke tengah??

advertisement

Pun dulu, tidak ada tulisan-tulisan yang ‘memenuhi’ kaca jendela bikun. Tulisan yang berisi ajakan untuk geser ke tengah dan petunjuk naik-turun bikun (yang menurut saya sia-sia karena, toh, tetap saja bagian tengah Bikun kosong melompong). Tidak ada tulisan seperti itu. DULU!

 

Mengapa sekarang harus ada??

advertisement

Kasarnya, mungkin karena MAHAsiswa UI jaman sekarang banyak yang nggak tahu diri dan nggak sadar diri.

Hari ini saya membuktikannya –lagi dan lagi–, kalau memang, perlu dikemplang sampai ada yang mau geser ke tengah (padahal udah ada tulisan segede gaban di jendela. BACA!) dan minimal ucapin terimakasih ke Bapak Bikun saat akan turun. Teriak juga nggak apa-apakan? Mengapa harus malu? Harusnya kita bangga dan senang karena ada Bapak Bikun yang mau capek-capek keliling UI nganterin kita ke tujuan masing-masing. Ini bukan masalah, “itu udah kerjaannya,” tapi masalah tata krama berbikun!

 

Ada budaya yang perlahan hilang dan lenyap: budaya sadar diri dan berterimakasih. Budaya Berbikun

Kemana perginya????

Saya hanya merindukan gema ucapan terimakasih setiap ada yang turun bikun dan kesadaran diri untuk memperhatikan sekitar (dalam bikun). Bukan hanya memperhatikan bangku kosong! 🙂

 

(maaf, min, kalo tulisannya rada-rada. Kebawa emosi. Hehe ^^v)