Catatan Berharga dari Simposium Pendidikan: Membangun Visi Pendidikan Nasional


0

Pertama kali saya diminta untuk menjadi fasilitator dan presidium di acara ini, saya langsung mengiyakan, tanpa berfikir lebih lanjut. Tentu saja karena melihat judulnya pun, Simposium Pendiidkan, sudah cukup untuk membuat saya ingin hadir di sana. Walaupun untuk dapat hadir terdapat kerikil-kerikil yang harus saya lalui, namun ada niat ada jalan, dan Alhamdulillah saya bisa hadir dan menjadi fasilitator serta presidium di acara ini.

Dan Alhamdulillah, sungguh pengalamann yang sangat luar biasa. Saya mendapat banyak pelajaran yang tentu saja sangat mahal harganya. Sebagai fasilitator di sebuah focus group discussion, dimana pesertanya terdiri dari ahli pendidikan, LSM pendidikan, Para guru yang tergabung di FGII dan PGRi, serta mahasiswa yang memang concern mengenai isu pendidikan, tentunya banyak hal yang terungkap dari pengalaman mereka yang sangat luar biasa.

Saya belajar bahwa begitu banyak masyarakat ibukota yang tidak memiliki KK dan Akte kelahiran (Jakarta minus Jaksel, dari daerah yang didampingi LAPAM, ada sekitar 1600 anak, itu baru yang terdeteksi oleh LAPAM), yang akhirnya tidak bisa mengecap pendidikan dasar di ibukota. Dan pilihan bagi mereka, adalah pulang kampung (walau sebenarnya tidak punya kampung), atau akhirnya tidak sekolah.

Saya belajar bahwa betapa kelompok difable sangat tidak diperhatikan. bahwa sekolah regular tidak menyediakan fasilitas untuk mereka, dan betapa SLB secara kualitas bisa dibilang jauh dari cukup. Satu guru yang mungkin hanya memiliki keahlian untuk menghadapi satu atau dua jenis kebutuhan khusus, harus mengajar banyak anak, dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda. Mereka adalah warga Negara Indonesia, yang juga memiliki hak atas pendidikan. Mereka berhak mendapatkan semua yang tercantum di dalam Kovenan Ekosob, berikut General Comments nya.

Saya belajar bahwa masih banyak terdapat perpustakaan yang hanya terdiri dari tumpukkan buku di tangga, yang jauh dari lengkap untuk menjawab kebutuhan siswa. Belum kita berbicara mengenai WC yang jauh dari layak, laboratorium yang tidak semua sekolah punya

Saya belajar bahwa masih ada diskriminasi lembaga pendidikan dari segi pendanaan oleh APBN. Antara sekolah-sekolah di desa dan kota. Antara Negeri dan Swasta, sementara dana yang ada di diknas:yang disalurkan ke sekolah, adalah 70:30.

Saya belajar, bahwa masih banyak guru honorer, guru bantu, guru PTT, pahlawan tanpa tanda jasa kita yang digaji jauh di bawah UMR dan UMP. Bahkan 300.000 di Jakarta. Belum lagi, mereka tidak memiliki asuransi kesehatan, juga tunjangan untuk menjamin social security mereka.

Dan di hari terakhir, walaupun permasalahan yang diungkapkan tidak terlalu dalam dibahas, karena bentuknya hanya presentasi dari masing-masing komisi, namun secara garis besar saya berhadapan dengan orang-orang yang tahu persis mengenai permasalahan pendidikan di Negara ini. Dan yang terpenting memiliki kesamaan misi untuk pendidikan yang lebih baik.

Impian kami sama, Sekolah gratis (bukan murah dan terjangkau, tapi benar-benar GRATIS) di semua jenjang pendidikan, temasuk juga kualitas dari pendidikan itu sendiri. Kesejahteraan guru dan jaminan hari tua. Realisasi kovenan hak Ekosob. Mewujudkan pendidikan yang benar-benar bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus membentuk karakter kepribadian bangsa kita melalui pendidikan. Adalah impain yang tertanam di benak masing-masing orang yang ada di sana.

Dan BHP,,
Wajib dicabut..

Ketika di FGD, kami dari komisi 1 bersepakat untuk tidak membahas BHP, karena memang kami semua sudah satu kesepahaman untuk mencabut UU tersebut

Ketika perwakilan komisi dan presidium merumuskan rekomendasi, dan terungkap dari bibir ini: “Pengalaman BHMN UI saja sudah sangat menyayat hati”, dan diamini oleh semua yang ada di situ. Seorang ahli pendidikan, Beberapa dosen, beberapa mahasiswa, dan banyak guru.

Dan ketika di rapat pleno pengesahan rekomendasi pun seluruh forum menyepakati Cabut UU BHP sebagai salah sartu poin rekomendasi kami.

Hmm, Saya merasa sangat bersyukur dipertemukan oleh orang-orang hebat, cerdas, dan peduli pada pendidikan Indonesia. Pendidikan yang menjadi faktor penting untuk membentuk suatu bangsa akan jadi apa. Rasanya sangat nyaman, walaupun sadar bahwa PR kami masih teramat panjang. Dan jalan yang harus kami lalui akan melelahkan. Namun menjadi suatu semangat dan kemantapan hati tersendiri.

Dan jadi terbersit sebuah pemikiran
Kalau di forum sebesar ini, dengan berbagai latar belakang yang berbeda, kami saja bersepakat untuk menolak UU BHP (dalam artian mencabut bukan merevisi). Lalu apa yang ada di kepala orang-orang yang mendukung UU ini?

Toh, mereka tidak lebih berpengalaman dan bersentuhan langsung dengan pendidikan sepeti orang-orang hebat di hadapanku ini.

# Makasih ya buat temen2 simposium dan Bem Fisip, dan semua peserta karena saya udah dikasih kesempatan buat dapetin pengalaman dan pelajaran yang begitu berharga ini,,,Mkasih Bnget,, ini semua ga ternilai harganya,,
Semangat Terus!!!!


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
dnay

2 Comments

Leave a Reply

  1. Wah, jadi terharu nih baca tulisannya kak Nisa. Saya sebagai salah satu panitia simposium juga mengucapkan terima kasih banyak buat kak nisa dan teman2 lain yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Mudah2an hasil simposium ini benar2 dijadikan bahan rekomendasi untuk pendidikan Indonesia 5 tahun ke depan. O, ya alhamdulillah saya dapat kabar hasil rekomendasi simposium ini sudah sampai ke telinga SBY langsung dan mudah2an beliau (didukung komitmen dari anggota DPR yang menandatangani hasil simposium) dapat menjadikan hasil tersebut sebagai masukan bagi kebijakan pemerintah 5 tahun ke depan….amin

    hidup pendidikan Indonesia!

  2. kanisa,,, terimakasih sudah bersedia jadi fasilitator dan presidium,, saya sangat senang jika kaka merasa puas dalam simposium pendidikan waktu itu..
    semoga pendidikan yang kita harapkan sekarang menjadi kenyataan untuk masa depan indonesia, aamin..