Mengenang kembali peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, waktu itu para pemuda dari berbagai asal seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Ambon, dan lainnya berkumpul bersama untuk merumuskan Indonesia yang baru. Kongres yang diadakan beberapa kali akhirnya menyatukan suara pemuda-pemuda dan kemudian mengikrarkan janji yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Kalau melirik kembali filosofi Sumpah Pemuda itu sendiri, kira-kira bisa nggak, ya, aksi BEM se-UI yang dilakukan pada 28 Oktober 2016 di Istana Negara sejalan dengan perjuangan para pemuda 88 tahun yang lalu? Rasanya bisa banget! Tepat pada 28 Oktober 2016 Jumat lalu, BEM se-UI memiliki caranya sendiri untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini juga sebagai evaluasi kerja Presiden dan Wakil Presiden selama dua tahun masa kepemimpinannya.

cv1cv7kvmaa1uia

Persiapan aksi mahasiswa UI (via twitter BEM UI)

BACA JUGA: 4 Cara Aksi Mahasiswa yang Kekinian

Aksi yang tenar dengan #AkuKangen ini bertujuan untuk menyuarakan beberapa permasalahan yang mungkin terabaikan oleh Pemerintah dan dirasa perlu untuk diingatkan kembali. Secara garis besar, tuntutan yang ingin dikemukakan BEM Se-UI dalam aksinya adalah

(1) Penolakan privatisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi;

(2) Batalkan izin reklamasi Teluk Jakarta dan Teluk Benoa;

advertisement

(3) Tolak kebijakan ekspor konsentrat bahan tambang Inodnesia;

(4) Evaluasi perencanaan fiskal Indonesia, terakhir

(5) Tingkatkan cukai rokok sesuai amanah Nawacita.

Atau untuk lebih jelasnya, bisa kamu baca di sini.

Itulah lima tuntutan yang dibawa oleh sekitar 300 mahasiswa UI dari semua fakultas ke depan Istana Negara pada Jumat lalu. Kalau zaman-zaman peristiwa Sumpah Pemuda disatukan karena cita-cita membangun Indonesia, BEM se-UI pada tahun ini juga sama. Sebagai mitra kritis yang sejatinya bertugas untuk mengawal pemerintahan, maka nggak salah kalau aksi kali ini lebih menekan Presiden untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan terkait.

cv1cufmusaarp7n

Bikun yang mengantarkan mahasiswa ke titik aksi (via twitter BEM UI)

Untuk melancarkan aksinya, perwakilan mahasiswa yang ikut serta dalam aksi ini berkumpul di halte Psikologi UI pukul 08.00 dan digiring menggunakan tiga Bikun. Ets, tu baru kloter pertama. Kemudian, kloter kedua menyusul pada pukul 12.30. Terbayang, dong segimana banyaknya?! Adakah kamu yang di antara 300 mahasiswa yang melakukan aksi tersebut?

advertisement

Mahasiswa yang melakukan aksi di depan Istana Negara tidak lupa mengenakan Jakun kebanggaan dan menyuarakan suara mereka dengan lantang. Aksi tersebut dilaksanakan mulai pukul 14.00 sampai 19.00. Sore itu hujan mengguyur Jakarta dan Presiden nggak memenuhi kerinduan mahasiswa sehingga pertemuan yang dinantikan belum bisa terlaksana. Kayaknya #JumatBersamaBapak yang sempat diusung gagal terlaksana karena Bapaknya nggak mau membersamai mahasiswa di Jumat itu, ya?

cv13fbnvyaa7qfc

Meski hujan dan sempat mendapat larangan, namun massa tetap semangat (via tiwtter BEM UI)

BACA JUGA: Jakun Itu Dipake Buat Apa Aja Sih?

Tetapi, bagaimanapun, si Bapak merespon melalui Kepala Staffnya, bahwa beliau akan menemui mahasiswa pada hari ini, Rabu, 2 November 2016 sehingga perjuangan belum berakhir sampai #AkuKangen tetapi akan ada perjuangan lebih lanjut lagi.

Kalau aksi 28 Oktober 2016 itu menggaet #AkuKangen, maka aksi selanjutnya diberi #AkuMasihKangen. Wajar lah kalau masih kangen, karena kerinduan yang telah lama terbendung itu belum juga berujung temu.

cwa5syavmaafysu

#AkuMasihKangen (via twitter BEM UI)