Di Kontrakan, Dikontrakan, atau Dikontrakkan?


0

Teks (ilustrasi ditambahkan Admin)

Berjalan-jalanlah di sekitar daerah Barel, Sawo, Kober, Kutek, ataupun Kukel. Tentu akan dengan mudah ditemukan pamflet atau poster yang bertebaran di sepanjang jalan. Di antara begitu banyak kertas yang menempel di dinding-dinding bangunan, banyak yang menawarkan kos-kosan, rumah untuk disewakan, atau bahkan tanah untuk dijual. Selain kegiatan-kegiatan kampus yang diselenggarakan oleh mahasiswa UI, tentunya.

Namun satu yang selalu menjadi perhatian saya adalah iklan untuk rumah yang hendak disewakan. Bukan karena saya sedang mencari, namun lebih karena judul iklan-iklan tersebut. Ada begitu banyak variasi tulisan untuk menyatakan kehendak untuk menyewakan properti. Tentunya teman-teman juga menyadarinya, bukan?

“RUMAH DI KONTRAKAN”

“RUMAH DIKONTRAKAN”

“RUMAH DIKONTRAKKAN”

Hayo… mana yang benar?

Jujur, saya gemas melihat salah kaprah yang sedemikian dahsyatnya. Terus-menerus terjadi, dan semakin lama semakin “kreatif”. Rasa gemas itu terus berlanjut dalam kehidupan saya sehari-hari. Tiap hari, ada saja yang membuat saya berjengit karena kesalahan fatal dalam penulisan.

Yang parah, kesalahan ini banyak ditampilkan oleh stasiun-stasiun televisi dalam penulisan headline berita. “Pelaku Perampokan Di Tangkap”. Saya selalu spontan berkomentar, “Tangkap itu di daerah mana ya?”.

Yang membuat saya kemudian ingin menangis sejadi-jadinya adalah ketika membaca berbagai tulisan yang banyak diunggah di anakui.com ini. Begitu banyak yang membuat hati saya teriris-iris hanya karena kesalahan penggunaan “di”.

Account Twitter resmi Universitas Indonesia, @univ_indonesia pun sering menuliskan keterangan link dengan “Silakan lihat disini”. Padahal, tulisan-tulisan tersebut tentunya ditorehkan oleh mahasiswa, alumni, dan bahkan dosen UI!

Saya sendiri tidak akan menyatakan diri sebagai ahli bahasa, dan memang saya bukan siapa-siapa. Namun setidaknya untuk penggunaan “di”, saya sudah berada di tingkat pede untuk berbagi dengan orang lain.

Saya ingat ketika SMA, guru saya sedemikian bernafsunya mengajarkan untuk senantiasa berbahasa di jalan yang benar. Untuk mudahnya, berikut ini adalah pedoman penggunaan “di” yang saya pegang hingga kini. Dan sungguh, ini mudah!

  • “di-” sebagai imbuhan awalan (prefiks)

diikuti kata kerja dasar dan berfungsi sebagai predikat dalam kalimat pasif

: Kiki sedang dimarahi oleh Pak Sabar.

  •  “di” untuk menunjukkan keterangan tempat

diikuti kata benda untuk menunjukkan keterangan tempat

: Kiki ada di mana? Dia di ruang dosen.

Sekarang coba gabungkan dua kalimat di atas. “Kiki sedang dimarahi oleh Pak Sabar di ruang dosen.” Terlihat bedanya dengan jelas, bukan?

Jadi untuk mengiklankan properti, penulisan yang benar tentunya adalah “Rumah Dikontrakkan”. Penggunaan dua huruf “k” terjadi karena kata dasar “kontrak” diapit imbuhan “di-kan”. Tidak ada imbuhan “di-an” dalam bahasa Indonesia.  Jika kemudian ada yang bertanya melalui SMS, sekarang lagi di mana? Balasan yang tepat kita berikan tentulah “Di kontrakan teman.” (menunjukkan keterangan tempat)

Lalu bagaimana dengan penulisan di mana/dimana seperti dalam kalimat “Depok adalah kota suburban di mana dapat kita jangkau dalam waktu satu jam dari ibu kota Jakarta.” SALAH BESAR. Itu adalah penerjemahan langsung dari kalimat bahasa Inggris “Depok is a suburb area where we can reach in an hour from the capital Jakarta.” Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk “di mana”, “dimana”, “yang mana”, ataupun “dengan mana”. Bentuk tersebut sering digunakan sebagai padanan “who”, “whom”, “which”, dan “where” dalam bahasa Inggris. Lebih baik menggantinya dengan kata “yang”, dan itu pun tidak bisa sering-sering.

Ada begitu banyak kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain masalah “di” ini, yang paling sering pula ditemukan adalah salah kaprah penggunaan “kita” dan “kami” seperti dalam percakapan berikut.

“Kita mau ke Bali lho!”

“Kita? Loe aja kali.”

Benar, karena jika sedang berbicara dengan orang yang tidak terlibat langsung dengan konteks kalimat, yang betul seharusnya adalah “Kami mau ke Bali.”

Masalah bahasa ini berlanjut dengan kaidah penulisan kata-kata serapan bahasa asing (bis atau bus), penulisan singkatan (Rp. atau Rp), penulisan akronim (SIM atau S.I.M.), dan seabreg-abreg masalah lainnya. Jika masih bingung, coba diingat-ingat lagi pelajaran semasa sekolah. Atau lebih mudah, coba saja tanya pada mbah Google. Saya sendiri pusing memikirkannya. Jika orang kemudian menuduh saya sebagai “grammar nazi”, biarlah, saya rela. Setidaknya saya berusaha untuk terus belajar dan membagi apa yang saya ketahui. Sebab, jika kalangan intelektual bangsa ini saja sering salah kaprah, bagaimana dengan masyarakat pada umumnya?

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip seseorang yang menyebut dirinya sebagai Polisi EYD, yang pada akhir salah satu artikel dalam blognya menulis “Ayo, di balik kesibukan menulis, penulisan kata depan dan awalan di jangan dibalik, ya!”.

………………………………….

Anak UI harus menjadi pemimpin yang cerdas!

Mari terus bersemangat belajar dan saling mengingatkan.

Semoga bermanfaat 🙂


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
fieee

13 Comments

Leave a Reply

  1. setuju sekali nih dengan artikel ini.
    “The Devil is in the details.” – kalo menurut peribahasa luar
    semoga aja di anakui.com tidak ada lagi yg salah yak.

    btw ada 1 masalah terjemahan yang membuat saya cukup gerah juga, penyebutan universitas kita itu bagaimana sih kalo dalam bahasa inggris?University of Indonesia, Indonesia University, atau tetap Universitas Indonesia?

    1. Kalau menurut saya University of Indonesia, karena kalau Indonesia University ambigu, seolah nama sekolahnya itu ‘Indonesia’. ‘University of Indonesia’ maksudnya universitasnya Indonesia, menyandang nama Indonesia~~~ sama seperti (misalnya) University of the Philippines Diliman.

    1. Ini menurut saya ajah lho~~~ yang Sastra Indo monggo diperbaiki kalau saya salah yah~~~

      ‘Keluar’ adalah kata kerja. “Keluar kamu!” “Dia sedang keluar.” Ke luar menunjukkan tempat, sama seperti ke dalam atau di dalam.

  2. Penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) memang baru ditetapkan pada era 1970-an, wajar bila masih salah kaprah dalam tata bahasa ataupun penggunaan yang benar. Apalagi Bahasa Indonesia baru terbentuk secara resmi pada tahun 1928.

    Saya bandingkan dengan Bahasa Inggris misalkan, ada Old, Middle, dan New English. Bahasa tersebut mengalami perkembangan dan perubahan kosakata maupun tata bahasa yang digunakan, dan hal itu memerlukan waktu ribuan tahun. Sementara Bahasa Indonesia, walaupun berakar dari Bahasa Melayu, namun masuknya pengaruh dari Bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, dan Portugis (yang paling dominan) menjadikan Bahasa ini memiliki dinamika yang menurut saya paling besar

    Sehingga wajar bila ada kesalahan yang masih dilakukan dalam tata Bahasa Indonesia, dan saya mengakui itu. Tetapi, tata bahasa yang digunakan tidak selalu menjadi batasan, bisa saja menjadikan Bahasa Indonesia berkembang mengikuti zaman. Kata-kata seperti “alay”, “kamseupay”, ataupun bahasa tidak baku lainnya bisa menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

    Tinggal kita saja bagaimana menyikapinya, seharusnya itu bukan menjadi masalah. CMIIW

  3. Hahaha saya setuju sama posting ini. Jujur kesalahan macam ini adalah satu pet peeve saya. Ini bukan masalah ‘toleran’ atau tidak tapi sudah sewajar dan selayaknya sebagai orang Indonesia yang terhitung native speaker untuk menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari dulu selalu saya tulis dikontrakkan (dua buah huruf K). Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa dan menjaga penggunaannya, siapa lagi?

    Sekedar usul, dalam memberi imbuhan, perhatikan kata dasarnya dulu. Hal ini juga baik dilakukan agar pemenggalan kata tepat (misalnya sedang menulis terus barisnya tidak cukup jadi harus dipotong ke baris berikutnya). Misalnya ‘kegiatan yang menjemukan’, karena kata dasarnya adalah jemu, maka pemenggalannya men-je-mu-kan…

  4. Maaf sebelumnya. Untuk kebaikan kamu dan pembaca, saya ingin ‘menilang’ penggunaan konjungsi ‘where’ pada contoh kalimat dalam Bahasa Inggris di tulisan kamu : dalam kalimat tersebut, kata ‘where’ seharusnya diganti ‘which’ atau ‘that’ atau ditanggalkan sama sekali karena konjungsi ‘where’ hanya digunakan untuk kata kerja tak berpelengkap, sedangkan ‘reach’ adalah kata kerja berpelengkap 🙂

  5. Dengan tata bahasa yang kelihatan sederhana namun tidak mudah, Bahasa Indonesia adalah salah satu yang tersulit untuk dipelajari. Saya saja belum tentu bisa memahami dengan benar :p

    Sudah seharusnya kita mempelajari dan melakukan sosialisasi kepada yang lain. Tetapi, tantangan memang ada, karena kebanggaan sebagian masyarakat untuk menggunakan bahasa daerah, ataupun sebagian masyarakat kita yang “mengasingkan” Bahasa Indonesia karena kurang percaya diri menggunakannya.

  6. Masukan aja, nama universitas indonesia gak diganti ke dalam bhs inggris jadi tetep universitas indonesia. Gak ada university of indonesia.

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals