Apakah agama ada terlebih dahulu dibandingkan manusia atau manusia lebih dahulu ada dibandingkan dengan agama?Apakah agama hasil wahyu atau sekedar proyeksi manusia?

Pertanyaan yang sangat menarik dan sangat penting dalam segi intelektual. Tetapi bertolak secara deduktif sangatlah sulit, yang bisa kita lakukan adalah bertolak secara induktif dan melihat sejarah agama. Agama dari dulu hingga sekarang sebenarnya dapat di bagi dua kategori yaitu politeisme dan monoteisme, dua agama ini telah mempengaruhi manusia di segala abad baik peperangan maupun perdamaian.

Saya akan berusaha memberikan refleksi filosofis mengenai politeisme dan monoteisme dalam kontelasi sejarah manusia.

advertisement

Agama politeisme adalah agama asali yang lebih dahulu ada dibandingkan dengan agama monoteisme. Pada zaman primitif banyak dari manusia menciptakan dewa-dewanya masing-masing. Dewa-dewa dalam agama politeisme selalu digambarkan dengan wujud-wujud berhingga yang terdapat di dalam alam empiris. Dewa zeus, dewa poseidon dan dewa-dewa yunani lainnya selalu digambarkan secara antropomorfisme yaitu berwujud manusia.

Uniknya dewa-dewa Yunani yang digambarkan secara antropomorfisme sangat mirip dengan ciri fisik orang-orang yunani. Dan jika kita bertolak kepada orang-orang Cina yang beragama politeisme, dewa mereka juga sangatlah mirip dengan ciri fisik orang Cina.

BACA JUGA: Filsafat Cinta Eksistensialis Gabriel Marcel

advertisement

Dari refleksi induktif ini kita bisa mengatakan bahwa dewa-dewa dalam agama politeisme adalah proyeksi manusia belaka, mengapa? karena tidak mungkin Tuhan digambarkan dalam benda-benda berhingga yang terdapat di dalam alam.

Seorang filsuf dari kolophon yaitu Xenophanes pernah juga berkata:

“Jika bangsa Etiopia disuruh menggambarkan Tuhannya, maka Tuhannya itu akan berkulit hitam dengan hidung pesek, jika bangsa Thracia disuruh menggambarkan Tuhannya maka akan dihasilkan Tuhan yang berambut pirang dan bermata biru. Bahkan jika kuda dan sapi bisa menggambar, maka dia akan menggambarkan Tuhannya mirip kudan dan sapi juga”

advertisement

Tetapi kendati dewa-dewa dalam agama politeisme hanyalah proyeksi manusia belaka ternyata suasana pada saat umat manusia memeluk agama politeisme sangatlah toleran dibandingkan pada saat umat manusia memeluk agama monoteisme.

Agama-agama (sumber: islam.nu.or.id)

Tuhan di dalam agama monoteisme sangatlah berbeda dengan agama politeisme, Tuhan dalam agama monoteisme tidaklah bergambar ataupun memiliki rupa dengan benda-benda di alam empiris. Maka dari itu kita tidaklah dapat mengatakan agama monoteisme adalah proyeksi manusia belaka seperti yang terjadi di dalam agama politeisme, satu-satunya kemungkinan adalah Tuhan dalam agama monoteisme berasal dari wahyu oleh sosok trasenden itu sendiri.

Tetapi ironinya kendati Tuhan dalam agama monoteisme bukanlah Tuhan hasil proyeksi masalahnya suasana keagamaan pada saat manusia memeluk agama monoteisme lebih berdarah dan tidak sangat toleran dibandingakan dengan politeisme. Pada saat umat manusia menganut politeisme, dunia sangatlah tenteram dan toleran, antara suku dengan suku lain tidak meributkan agama masing-masing karena mereka bisa menciptakan dewa-dewanya sendiri-sendiri.

advertisement

BACA JUGA: Apa Kabar Kerukunan Umat Beragama di Indonesia?

Tetapi ketika agama monoteisme lahir dimana dalam pandangan monoteisme hanya ada satu Tuhan, suasana toleran tersebut hilang, bahkan puncak tidak toleran dari agama monoteisme tergambarkan jelas dalam sejarah yaitu dengan terjadinya perang salib. Agama monoteisme juga mengajarkan sikap untuk tunduk terhadap Tuhan dan merasa tidak berdaya di hadapan Tuhan. Sikap tersebut membuat manusia lemah dan membuat manusia lari dari realitas sesungguhnya, agama menjadi semacam sikap menyerah diri dan lari dari dunia yang penuh dengan pertentangan dan kompetisi. Sikap sepeti itu sangatlah tidak mendidik manusia menjadi dewasa.

Jadi kita disini melihat dilema yang terjadi antara politeisme dan monoteisme. Benar-benar sangat ironis, agama politeisme yang merupakan ciptaan manusia lebih dapat menghasilkan suasana toleran dibandingkan dengan agama wahyu yaitu monoteisme.

Tulisan ini dimaksudkan dalam rangka akademis dan tidak untuk tujuan lainnya, penulis dalam membuat tulisan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Filsuf David Hume mengenai analisisnya terhadap agama. Penulis dalam mempelajari pemikiran David Hume dibantu oleh para Dosen di Universitas Indonesia. Sekali lagi penulis memaksudkan tulisan ini untuk tujuan akademis dan tidak untuk tujuan lainnya

Daftar Pustaka

 Kennedy Sitorus,Fitzerald. “Sang Skeptis Radikal David Hume”. Komunitas Salihara (2016):14-17

Ari Yuana, Kumara. 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM- Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. (Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET, 2010)

Sumber gambar header: Different Religion