Do Good Anyway


0

“Mendoakan orang lain itu kayak main karambol kak,

kamu sentil cakramnya ke arah lawan juga akhirnya balik ke kamu.”

– Ayah saya, di sebuah percakapan saat makan malam

Selama ini apa sih bentuk berbagi dengan orang lain yang pernah kamu lakukan? Banyak orang yang memberi sedekah berupa uang atau barang, mendonorkan darah atau memilih untuk membagi ilmu yang dimiliki, meluangkan waktu untuk sesuatu yang menghasilkan kontribusi positif serta masih banyak bentuk lainnya. Mulai dari derajat yang tergolong sederhana, hingga yang penuh perjuangan hingga disebut ‘pengabdian’—semuanya bentuk dari usaha untuk berbagi dengan sesama.

Logisnya, nggak ada manusia yang bisa hidup sendiri, jadi sudah sewajarnya kita saling berbagi selama bisa. Saya sendiri selalu percaya dengan ungkapan ‘what goes around comes back around’—apa yang kita lakukan itu yang pada akhirnya kita akan dapatkan. Tapi dalam hidup, nggak selamanya gitu kan? Belum tentu semua usaha yang secara optimal telah kamu lakukan mengantarkan kamu ke tujuan yang diharapkan. Belum tentu juga niat baik kamu untuk orang lain dihargai seperti yang kamu pikir dan/atau kamu harapkan. Lalu, jadi tidak mau berbagi?

Harusnya tidak. Kalau kamu pernah merasa lelah karena niat tulus yang dimiliki belum jodoh sama yang dituju—seperti ingin donor darah tapi tekanan darah rendah, ingin sedekah tapi tabungan habis atau malah sudah usaha tapi tidak dihargai, atau kalah jauh dengan apa yang dilakukan orang lain—itu normal. Manusiawi kalau kamu kecewa sama hidup. Manusiawi kalau kadang kamu merasa ingin tidak peduli dengan orang lain, fokus dengan diri dan hidup sendiri—yang penting saya nggak bikin mereka repot. Waktu-waktu seperti itu yang sering membuat orang berhenti berusaha untuk berbagi. Cepat menyerah—atau sudah terlalu lelah untuk mencoba.

Padahal ada satu cara untuk berbagi yang paling mudah dan bisa dilakukan kapanpun, dimanapun dengan modal ketulusan hati. Doa. Saya juga selalu percaya semua doa yang memohon kebaikan itu pasti didengar Tuhan. Jadi nggak ada salahnya untuk mulai belajar meluangkan waktu dan melapangkan hati, berdoa untuk orang lain—dari yang membuat kita kecewa hingga yang membuat tertawa.

In sum,  your kindness can’t be interpreted in the same way by everyone. There will always be people who don’t seem to care, who underestimate or even worse those who say bad things about your deed. Do good anyway! Since it’s people we’re talking about, yet God that matters after all—and He, won’t miss a thing. You’ll get what you give.

Sincerely yours, Clarissa Rizky


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Clarissa Rizky
A Psychology student who will try her best, to live in balance.

One Comment

Leave a Reply

  1. Sayangnya sepertinya kebanyakan dari kita amat mementingkan pendapat orang lain tentang kita. Mungkinkah sudah bawaan DNA?

    Ada trik-trik psikologis? Agar kita bisa sepenuhnya mengacuhkan ‘haters’? Dan fokus mengerjakan hal yang kita yakin baik?