Sering merasa nggak nyambung sama dosen di kelas, karena hidup ‘beda zaman’ sama mereka? Sering merasa dosenmu kuno dan nggak paham pembahasan para mahasiswanya?

Hal seperti ini jarang dirasakan oleh anak-anak FISIP, karena FISIP dipenuhi sama dosen-dosen muda yang seru dan menghidupkan suasana kampus. Namun, apakah cukup belajar di kelas yang asyik? Bukankah dosen yang masih muda biasanya kurang berpengalaman dan nggak berwibawa? Coba kenalan dulu sama tiga dosen FISIP UI ini, untuk membuktikan bahwa usia nggak menentukan kompetensi!

1. Muda dan Kritis: Inaya Rakhmani, S. Sos., MA (Departemen Ilmu Komunikasi)

Inaya Rakhmani

Mbak Inaya Rakhmani, Departemen Ilmu Komunikasi

Cantik dan kaya ilmu – mbak Inaya, begitu ia biasa disapa, mengenyam pendidikan S1 di Departemen Ilmu Komunikasi UI dan S2 di Universiteit van Amsterdam, Belanda. Di usianya yang belum genap 35 tahun, dosen yang juga merupakan Ketua Departemen Kerjasama Luar Negeri Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia ini sedang dalam proses untuk meraih gelar S3 (PhD)-nya di Murdoch University, Australia.

Berfokus pada Kajian Media, karya-karya ilmiah mbak Inaya aktif diterbitkan dalam jurnal-jurnal internasional, antara lain kajiannya mengenai budaya Islam mainstream dan sinetron Indonesia yang diterbitkan dalam Asian Journal of Social Science dan kajian spesifik mengenai komersialisasi dakwah yang diterbitkan dalam International Communication Gazette. Tulisan-tulisan beliau dalam bentuk review film juga banyak diterbitkan oleh media lokal sebagai bentuk respons kritis terhadap budaya populer.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen, peneliti dan ibu dengan satu anak, mbak Inaya merupakan pengguna Twitter (@inayarakhmani) dan blogger yang aktif. Coba, deh, buka blog mbak Inaya (http://inayarakhmani.blogspot.com/) dan bersiap untuk dibuat kagum dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis, namun disampaikan dengan sederhana – mulai dari pengalamannya sebagai seorang ibu, tulisan reflektif mengenai seni dan budaya, hingga tips-tips bagi para mahasiswa.

advertisement

This has been how we’ve been building our society for the past decades.

A huge, safe bubble that is supported by objects to give a sense of comfort from an insecure, unreliable world…

I would rather not live in a bubble, than live with fear thinking of how it might burst one day.”

Inaya Rakhmani

2. Muda dan Berdedikasi: Julian Aldrin Pasha, S.IP, M.A., Ph.D (Departemen Ilmu Politik)

Julian Aldrin Pasha

Mas Julian Aldrin Pasha, Departemen Ilmu Politik

Sering menonton berita politik? Jika ya,  tentu sering mendapati mas Julian berbicara di layar kaca. Julian Aldrin Pasha adalah dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI yang terkenal karena profesinya sebagai Juru Bicara Kepresidenan Kabinet Indonesia Bersatu II. Lahir pada tahun 1969, mas Julian berusia muda jika dibandingkan dengan figur-figur lain dalam pemerintahan. Kontribusinya di dalam kamus pun tak kalah  signifikan – mas Julian pernah menjabat sebagai Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI dan Wakil Dekan FISIP UI.

Pria kelahiran Lampung ini terkenal dengan sifatnya yang disiplin, cermat dan tenang. Karena itulah, ia menjadi sosok idola bagi mahasiswi dan mahasiswa FISIP UI. Lulusan S3 Ilmu Politik di Hosei University, Jepang, ini membuktikan dedikasinya yang tinggi bagi dunia akademis dengan kembali mengajar di FISIP UI setelah selesai bertugas sebagai juru bicara presiden.

advertisement

“Saya kembali ke kampus, mengajar. Saya tidak akan ke mana-mana.”

Julian Aldrin Pasha

 

3. Muda dan Eksis: Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc.Sci (Departemen Sosiologi)

Daisy Indira Yasmine

Mbak Daisy Indira Yasmine, (Departemen Sosiologi)

Cobalah membaca berita tentang isu-isu sosial-politik di portal berita online manapun, entah itu berita tentang kekerasan remaja, ketersediaan lapangan kerja, hingga berita mengenai caleg-caleg selebriti dan perceraian pasangan selebriti. Jika diperhatikan, dalam setiap artikel berita biasanya ada pihak akademisi atau tokoh ahli yang diwawancara untuk diminta pendapatnya tentang isu sosial-politik yang dibahas. Nah, kalau soal ini, mbak Debby ahlinya!

Di FISIP, mbak Daisy Indira Yasmine lebih dikenal dengan panggilan akrabnya, mbak Debby. Dosen kelahiran 1972 ini sangat eksis di luar kampus karena sering diundang untuk menjadi narasumber di berbagai acara on-air dan off-air, salah satunya ketika menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD. Mbak Debby sering dikutip pendapatnya oleh media seperti Kompas, Berita Satu, majalah bisnis SWA, portal marketing Marketeers, Kawanku, Kapanlagi.com dan banyak lagi. Ternyata, terkenalnya mbak Debby di media ini adalah hasil dari tanggapan-tanggapannya selalu menarik dan memberi perspektif baru dalam berita.

Nggak hanya eksis di luar kampus, dosen dengan gelar Magister dari the National University of Singapore ini juga terkenal di dalam kampus. bahkan banyak diidolakan oleh mahasiswa-mahasiswa yang diajar olehnya. Jelas saja terkenal, mbak Debby sudah mengajar banyak sekali mata kuliah, antara lain Filsafat Sosial,  Sistem Sosial Masyarakat, Pengabdian Masyarakat, Perempuan dan Politik, juga Identitas Sosial dan Globalisasi. Selain itu, karir mbak Debby di kampus pun cemerlang – di usia yang sangat muda, dosen ini pernah menjabat sebagai Sekretaris Program Pascasarjana Sosiologi UI dan Sekretaris Program, Laboraturium Sosiologi UI.

*

Ketiga dosen muda dari FISIP ini telah membuktikan bahwa mereka nggak kalah keren dibandingkan dosen-dosen yang sudah lebih tua – bahwa age is just a number. Kalau dosennya saja se-inspiratif ini, gimana mahasiswanya nggak ikutan berprestasi?

Siapa dosen muda FISIP lainnya yang menurutmu berprestasi? Berbagi di komentar yaa!

#YangMudaYangBerprestasi

 

**

 

Sumber foto:



[reaction_buttons]