Entferner Korruption UI Berhasil Meraih Posisi Runner-Up dalam Lomba Investigasi Korupsi ICW dan Jatam


0

Masih ingat dengan artikel yang ini?

Indonesian Corruption Watch (ICW) beserta JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) akhirnya telah mengumumkan lomba investigasi korupsi (Anak Muda Berantas Korupsi) pada tanggal 29 Oktober 2009 yang lalu bertempat di Universitas Jayabaya. Perlu diketahui bahwa kami melewati rangkaian perlombaan ini cukup panjang. Mulai dari masa pendaftaran dan pengumpulan proposal di bulan Juni. Tahap penilaian proposal di awal juli (dari 70 proposal yang masuk hanya 5 yang diterima). Lalu tahap pelatihan di akhir bulan Juli. Tahap investigasi selama bulan Agustus. Pengumpulan laporan dan penilaian dari bulan September hingga Oktober.

Barulah diumumkan pemenangnya berdasarkan point terbanyak. Dan untungnya hasil perjuangan kami, tim Entferner Korruption Universitas Indonesia tidak sia-sia karena kami berada di posisi runner-up dengan perolehan point sebesar 231. Sedangkan, pemenang pertama adalah tim dari UNPAD dengan perolehan point sebesar 235 dan di posisi ketiga adalah Regu Belajar Bojonegoro dengan perolehan 204 point. Kenapa bisa begitu? Menurut juri, topik yang kami ambil sangatlah unik dan kreatif. Apalagi KRL yang merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang public service. Hanya saja, sayangnya kami kurang komperhensif dalam hal memetakan alur “aktor” pelaku korupsi padahal analisisnya sudah tepat dan sudah mengarah pada ranah kasus korupsi.

Topik yang kami ambil dan kita telusuri adalah dugaan korupsi di PT. KRL Commuter Jabodetabek. Kenapa? Mari kita bermain imajinasi. Tahukah kamu, ada aturan yang menjelaskan bahwa aktifitas berdagang dan mengemis itu dilarang dan dapat dikenakan denda sebesar Rp15 juta? Coba hitung ada berapa pedagang dan pengemis yang lalu lalang setiap harinya di dalam gerbong kereta. Kenapa mereka tidak ditindak? Ratusan pedagang dibiarkan begitu saja. Sudah berapa milyar uang yang denda yang hilang yang bisa dibayarkan untuk pembangunan negeri ini? Karena KRL adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara. Apalagi ketika kami semua berhasil mengetahui bahwa pihak KRL mengeluarkan “kartu izin” agar para pedagang bisa menjalankan usahanya di gerbong KRL.

Indikasi yang kedua sebenarnya ini permainan lama yaitu permainan dengan karcis suplisi. Karcis suplisi sendiri adalah karcis yang digunakan sebagai “karcis denda” karena penumpang tidak membawa karcis. Ironis-nya, penumpang yang tidak membawa karcis tersebut biasanya dikenakan harga yang lebih tinggi dari suplisi atau bahkan menggunakan harga suplisi tetapi bukti tiket yang diberikan bukanlah tiket suplisi. Berapa rupiah pungutan-pungutan yang terkumpul setiap harinya? Dan masih banyak indikasi lainnya yang telah kami investigasi dan dimasukkan ke dalam laporan beserta data-data yang kami miliki.

Proses investigasi yang berlangsung selama bulan Agustus cukup melelahkan. Emir (Geografi ’08) yang biasa bekerja di lapangan sewaktu itu dipercayakan untuk menjadi field coordinator untuk melakukan planning simulasi. Chandra (Elektro ’08) saat itu dipercayakan untuk menjadi fotografer dan juga field assesment yang bertanggung jawab untuk me-rekap semua data lapangan. Sedangkan Anto, Radian, dan Rangga (FH ’08) bertanggung jawab untuk bagian analisis kasus berdasarkan data yang diperoleh. Karena kekurangan tenaga, tetap saja kami berlima secara langsung turun ke lapangan untuk mencari data.

Dalam proses pencarian data ternyata banyak ditemui kendala-kendala yang tidak diduga. Jadwal kereta yang terlambat adalah salah satunya. Kekurangan link atau “orang dalam” yang bersedia untuk diwawancara. Begitu pula dengan kejadian-kejadian yang tidak diduga. Seperti sewaktu ada mbak-mbak yang berniat ingin membayarkan denda kepada kondektur karena salah satu anggota tim kami tidak membawa tiket (padahal ASLI hanya sandiwara dan untuk menguji kebenaran tentang praktek suplisi!). Atau ada beberapa anggota tim yang tersasar sampai Tangerang. Dan berbagai pengalaman menarik lainnya.

Proses penyusunan laporan lebih ribet lagi. Karena data yang didapat cukup banyak dan semuanya berantakan. Seperti puzzle yang pecah dan harus disusun rapih. Padahal waktu itu dateline tinggal beberapa hari lagi. Kami pun berhasil mengumpulkan laporan beserta data-data pendukung via e-mail beberapa jam sebelum dateline.

Satu lagi yang menurut kami luar biasa adalah kami bekerja lintas fakultas. Benar-benar baru bertemu dan bekerja sama dalam tim untuk satu perlombaan. Pertama Emir hanya kenal Radian dan Chandra (itu juga belum pernah tatap muka), Chandra hanya kenal Emir, Radian kenal teman-teman dari FH (Anto dan Rangga) dan Emir. Pertama bertemu dan berdiskusi memang ada rasa canggung. Tapi luar biasanya, beberapa minggu saja kami semua dapat bekerja tim dan kerja sama tersebut membuahkan hasil.

Itu saja yang dapat kami ceritakan bagaimana proses perlombaan yang menurut kami “sangat panjang”. Namun, kami sangat bersyukur karena kami mewakili UI dan masih dapat menyumbang prestasi. Tak lupa, kami ucapkan juga terima kasih atas dukungan teman-teman beserta beberapa dosen yang sering kami jadikan ajang “curcol” untuk diminta saran serta analisisnya. Semoga kedepannya jika ada lomba sejenis, kami akan berusaha lebih baik lagi.

Salam,
Chandra Hartanto (Elektro ’08)
Emir Hartato (Geografi ’08)
Prakoso Anto Nugroho (Hukum ’08)
Radian Adi Nugraha (Hukum ’08)
Rangga Sujud Widigda (Hukum ’08)

Update : Press Release dari website Indonesia Corruption Watch (ICW)

Nisa Rahmatika dan Winy Oktavianti. Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas padjajaran Bandung keluar sebagai juara lomba investigasi korupsi Anak Muda Berantas Korupsi 2009. Mereka Mengangkat tema atau judul Dugaan Korupsi dalam Proses Pembebasan Lahan Terkait pembangunan PT Cirebon Elektrik Power.
Lomba ini telah dimulai sejak lebih dari dua bulan lalu, yang merupakan kerja bareng antara Indonesia Corruption Watch (ICW), The Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) Filipina, dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam). Menurut Tama Satria, sang ketua panitia lomba, tindak lanjut dari investigasi peserta akan dikembalikan lagi untuk diadvokasi lebih jauh lagi. Misalnya ditelusuri lagi data atau dokumen tambahan. Bahkan yang juara pertama sekalipun, tidak langsung diteruskan ke institusi penegak hukum. Baru nanti kemungkinan terakhir akan diteruskan ke institusi penegak hukum seperti Kejaksaan atau KPK. “Sebenarnya yang lebih memenuhi unsur pidana korupsinya adalah juara ketiga, namun kasus ini telah ditangani oleh kepolisian setempat”, kata Tama.

Perlu diketahu dari hasil lomba ini, di posisi kedua adalah Emir Hartato dan Radian Adi (entferner Corruption-Universitas Indonesia) yang mengangkat tema Indikasi tinda pidana di dalam lingkungan kereta api listrik Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang. Sementara juara ketiga ditempati Regu Belajar Bojonegoro atas nama yuliani dan Nurul Isnawati dengan mengangkat tema Jasmas, Korupsi atas Nama Rakyat. Juara Harapan satu ditempati Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda atas nama Siswandi dan Nurulita Piliani yang mengangkat tema Mengungkap Sisi Gelap Ijin Kuasa Pertambangandi Samarinda. Sementara juara harapan dua diduduki Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip Universitas 45 Mataram atas nama Hari Sukisman dan Rohmayanti dengan mengangkat tema Korupsi dalam penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di BNP3TKI.

Juara pertama berhak mendapat hadiah uang sebesar sepuluh juta rupiah dan juara harapan dua mendapat hadiah uang dua juta lima ratus ribu. Selain itu juga akan mendapatkan piagam penghargaan.

Penerimaan hadiah dan pengumuman pemenang dilakukan 29 Oktober 2009 di Kampus Universitas Jayabaya Pulomas Jakarta. Penerimaan hadiah dikemas dengan acara seminar tentang peran kaum muda dalam pemberantasan korupsi. Menghadirkan pembicara staf dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Koordinator Badan Pekerja ICW.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
emier

0 Comments

Leave a Reply