Evaluasi Budaya Riset & Pencapaian UI di PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional)


0

Dimanakah wajah Universitas Indonesia?

terasa jleb banget ketika saya mendengar pertanyaan skaligus “sindiran” itu,yang terlontar oleh seorang sahabat saya di Forum Indonesia Muda,yang kebetulan juga sedang kuliah d universitas tuan rumah PIMNAS tahun 2011 : Universitas Hasanuddin.

Bukan hanya beliau,namun pada setiap komunitas mahasiswa yang saya ikuti mempertanyakan inferioritas UI di ajang kompetisi ilmiah perguruan tinggi terbesar Nasional ini : Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional.

Terlepas apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah kritikan atau “lebih” dari itu,saya pikir sudah sepantasnya kita tanggapi secara positif.

Saya sangat terkesan dengan note brader claudio, PO OIM UI 2011  yang luar biasa tentang mentalitas juara yang insy allah sudah kita miliki. Sekarang saatnya teman-teman,kita berusaha keras menjadi juara sejati. Karena setiap juara sejati akan selalu memiliki & memupuk mentalitas juara,dan lebih dari itu juga berpikir dan bertindak kongkret untuk mencapainya, dan akhirnya bertawakal kepada Yang Kuasa. 

Ngomong2 soal berpikir dan bertindak,saya pikir sebenarnya kita sudah memulainya yaitu dengan menyelenggarakan OIM UI,kampanye oleh P & K BEM UI,dll. Namun ternyata semua itu belum cukup. Yang kita butuhkan saat ini sama skali bukan berusaha dari garis start, namun mungkin melakukan akselerasi sehingga usaha kita bisa mencapai garis finish dengan efisien namun tetap rasional. 

keluargaku sekalian, mari kita mulai tulisan ini dengan penentuan problem dan sedikit analisisnya.

Usut punya usut,ternyata hasil PIMNAS kita yang belum maksimal hanyalah sebuah asap yang muncul dari dalam sekam teman2 skalian. Kenapa demikian ? karena ternyata memang secara umum,api yang sebenarnya adalah iklim riset dan pengembangan di UI yang belum kondusif.

Berdasarkan Data dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) pada tahun 2009,diketahui bahwa proposal riset yang masuk ke DRPM hanya berjumlah 609 proposal. Jumlah yang sangat kecil untuk ukuran universitas sekelas UI yang berkeinginan menjadi world class university.

Sementara itu, publikasi jurnal internasional pun tergolong minim. Terbukti data yang didapatkan dari website resmi UI hanya memperlihatkan 10 jurnal yang masuk ke dalam kategori jurnal internasional pada periode 2005 – 2009. Hal ini menyebabkan peringkat UI turun dari 201 ke peringkat 236 universitas terbaik dunia versi Quacquarelli Symonds pada tahun 2010

kesimpulannya teman-teman,mungkin kita sepakat bahwa budaya riset masih belum membumi di kampus kita ini. Apa  kira2 penyebabnya?

Paling tidak, akan ada dua alasan:
1. Secara internal,kesadaran yang rendah untuk mengimplementasikan teori yang dimiliki,karena kalah dalam bentrok prioritas,misalnya pengerjaan tugas2 kuliah lainnya atau keinginan pengabdian pada masyarakat yang belum muncul sepenuhnya.

2. Secara eksternal,stimulus dari pihak kampus ( rektorat dan dekanat ), BEM,UKM, dll yang belum maksimal dalam melaksanakan sebuah kolaborasi bersama.

Saya berpikir dan mungkin sudah pernah terlintas di benak kita masing2 juga bahwa,kendala bagi kita untuk melakukan akselerasi adalah satu hal : ketidakseimbangan komitmen dari seluruh pihak yang terlibat : pihak rektorat, dekanat, dosen, BEM, mahasiswa. Ketiadaan konsistensi dari salah satu pihak hanya akan menjadikan setiap tepukan usaha kita akan berakhir sebelah tangan, tidak mampu mengeluarkan bunyi “plok” yang enak di dengar semua orang.

Lalu,apakah usaha yang dapat kita lakukan? yang mungkin perlu digaris bawahi teman2ku sekalian, usaha yang perlu kita lakukan adalah sebuah usaha yang harus mengkolaborasikan seluruh pihak yang berkepentingan karena lidi hanya bisa membersihkan hanya setelah disatukan bersama dalam satu ikatan yang satu dan kuat bukan?

Pertama terkait budaya riset yang rendah. Menurut saya,sebuah budaya  muncul dari kebiasaan dan kebiasaan baru akan tercipta jika secara eksternal disodorkan keuntungan2 yang akan diperoleh jika bersedia melakukannya.

Yang saya maksud keuntungan bukan lah seperti menjuarai PIMNAS atau perasaan bahagia bisa mengabdi pada masyarakat yang bagi sebagian kita mungkin masih dianggap keuntungan “sekunder” . Untuk tahap awal kita perlu menyodorkan keuntungan “primer” : keuntungan yang mungkin lebih bersifat pribadi.

Pihak rektorat dapat berkontribusi pada aspek ini dengan memberikan stimulus yang lebih kuat.misalnya dengan penglibatan penelitian untuk PKM ini sebagai bagian dari kurikulum yang wajib bagi setiap mahasiswa, pembebasan para pemenang PIMNAS dari sidang skripsi, kuota intensif penelitian untuk mahasiswa S1,dll.

BEM ataupun UKM yang telah ada dapat berkontribusi dengan membentuk komunitas khusus PKM yang berfungsi sebagai wadah sosialisasi riset secara umum, forum sharing dengan para peserta PIMNAS sebelumnya, bahkan kalau perlu ,membentuk tim-tim yang khusus memiliki jobdesk untuk membantu pembuatan poster PIMNAS atau pembuatan prototype/model masing-masing kelompok yang lolos PIMNAS sehingga setiap kelompok dapat fokus hanya untuk meneliti.

Selain itu, kita akan terus menggalakkan usaha2 yang sudah ada seperti  penggalakan kompetisi OIM UI, helping assistant untuk urusan administrasi oleh BEM,dll.

Sebagai sebuah tindakan nyata bagi kita yang alhamdulillah diberi rezki untuk lebih maju selangkah sehingga dapat mengecap pahit manisnya PIMNAS dibanding teman2 lainnya, saya mengusulkan untuk diselenggarakannya sebuah forum pertemuan dengan seluruh pihak terkait untuk membentuk kolaborasi bersama.

Kita sebagai peserta PIMNAS tahun ini,bersama P & K BEM UI dapat menginisiasi sebuah forum dengan pihak rektorat,perwakilan dekanat seluruh fakultas, BEM, UKM terkait, dan kalau perlu mengundang perwakilan juri PIMNAS dan perwakilan dikti untuk mengupas masalah secara lebih mendalam,lalu menyusun sebuah rencana bersama yang jelas dan terukur.

Karena saya meyakini bahwa usaha kampanye dan sosialisasi saja tidak lah cukup. karena budaya untuk dapat diubah secara komprehensif membutuhkan revolusi , revolusi membutuhkan regulasi baru,dan untuk meng advokasi regulasi,kita butuh untuk berkonsultasi dengan bapak ibu kita yang berwenang.

Ini hanyalah sebuah ide teman2.sebagai pelampiasan atas keprihatinan pribadi. segala gagasan yang tertulis,dapat diperbincangkan bersama2,terutama mungkin terkait visibilitas atau possibilitasnya.

Mudah2an bisa menjadi bahan renungan kita bersama dan bisa menjadi langkah awal kita untuk bersumbangsih,untuk UI yang lebih baik,untuk pendidikan yang lebih berkualitas.

Khaira Al Hafi –
Teknik Industri 2010
Kordinator Umum UI to PIMNAS
Alumni PIMNAS XXIV Universitas Hasanuddin, Makassar 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Khaira Al Hafi
Kegelisahannya pada kecendrungan pemuda untuk menuntut dan hanya bicara tentang perubahan Indonesia yang lebih baik sangat mewarnai perjalanan Al Hafi sebagai mahasiswa. Melalui organisasi yang didirikannya, UI to PIMNAS dan Kreanovator Indonesia, Al memiliki visi untuk menciptakan budaya 'perubahan adalah Saya' , dimulai dari diri sendiri. Ia pun percaya bahwa, agar perubahan tiap individu bisa berdaya guna untuk sekitarnya, dibutuhkan modal : ilmu. Itulah sebabnya Al sangat berminat di bidang riset sehingga dapat memenangkan berbagai kompetisi seperti Oikos UNDP International Economic Competition 2013, Green Economic national Call for Paper competition Fakultas Padjadjaran 2012, Inovator layak paten Kementrian Pendidikan Nasional 2013, Mahasiswa Berprestasi Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2013, dll. Al juga telah diundang untuk berbagi pandangannya mengenai pemuda, inovasi, dan kepemimpinan pada berbagai kesempatan seperti G20 Youth Forum, St. Petersburg, Russia, Central and Eastern European Economic Meeting 2013, Warsaw, Poland, International Interdiciplinary Conference 2013, Venice, Italy, Konferensi Nasional Ilmu Administrasi Negara 2013 UI Depok, dan belasan kesempatan lainnya baik di luar maupun dalam negri.

15 Comments

Leave a Reply

  1. ya bg ilman..kita udah nanya2 non formal ke temen2 UGM, IPB, n Unbra Malang.kita juga udah dapet data dari ksm ep UI waktu studi banding ke IPB..Hasilnya kya yg saya tulis di atas
    mengenai kebijakan rektorat :
    penglibatan penelitian untuk PKM ini sebagai bagian dari kurikulum yang wajib bagi setiap mahasiswa, pembebasan para pemenang PIMNAS dari sidang skripsi, kuota intensif penelitian untuk mahasiswa S1,intensif khusus dari universitas sebesar Rp 200ribu untuk setiap proposal pkm yang diusulkan.

    Pembentukan komunitas UI to PIMNAS sendiri adalah hasil pembelajaran dari univ2 pemenang yang sudah lama memulai dengan komunitas serupa, bang.. 🙂

    /

  2. Selamat Sore,

    Tulisan ini salah satu tulisan yg menarik. Saya mencoba sedikit memberi komentar. Saya juga pernah mendengar hal yang sama dari teman yang ikut PIMNAS tahun lalu bahwa kontingen dari UI selalu terkenal dengan jumlah rombongan yang sedikit, dan kita akan menemui kata ” mengapa ?”.

    Alasan yang diungkapkan oleh penulis ada benarnya, tetapi tidak benar sepenuhnya. Menurut saya minat pasti banyak, tetapi partisipasinya yang ternyata rendah. Hal ini dikarenakan paradigma bahwa, “PIMNAS bukan segala-galanya”. Kenapa ? karena universitas kita ternyata memiliki banyak sekali kegiatan yang ternyata juga membutuhkan perhatian yang tidak main-main, contohnya kegiatan UKM, berapa banyak sudah prestasi nasional maupun internasional yang diboyong UKM2 kita atas nama UI, dan tentu untuk meraih itu semua membutuhkan usaha yang setimpal.. Karena ada kesempatan-kesempatan seperti ini lah saya rasa kenapa mahasiswa yang sejak awal dari maba hanya dikenalkan pada UKM2, sehingga dari awal mereka komit untuk bergabung dan berkonsentrasi pada UKM yg dia minati, ataupun dgn komunitas lain yg ada di tingkat fakultas dan jurusan. (Tapi ini hanya pendapat karena saya sendiri belum mendapatkan data utk mengomparasi jumlah UKM dan Komunitas mahasiswa tingkat fakultas maupun jurusan di UI dan di Universitas lain , sehingga utk asumsi awal saya pikir mahasiswa UI sudah banyak yg terlibat dalam aktivitas dalam komunitas tersebut )Semuanya membutuhkan perhatian jika memang ingin serius. Dan saya tidak tahu apakah PIMNAS ini sudah menjadi sebuah lembaga / perkumpulan khusus di UI, jika belum ada, sebaiknya dibuat sepertinya layaknya UKM, karena dengan begitu semua akan lebih terorganisir dan memiliki badan yang jelas utk menentukan langkah demi langkah yg ditempuh, karena kita tidak bisa tiba-tiba langsung serta merta meledakkan semangat teman-teman kita begitu saja utk ikut PIMNAS, karena mereka sendiri juga tentu memiliki ikatan lain yg harus diprioritaskan dan tidak main-main.

    Pihak UI sendiri juga menurut saya mereka bukan berarti lepas tangan, saya sempat berbincang dengan pihak dekanat fakultas saya dan kemudian masuk ke dalam topik ke PIMNAS dan beliau memang mengatakan hal yang serupa mengenai partisipasi mahasiswa dalam PIMNAS. Hal yang dapat saya ambil dri obrolan singkat itu adalah bahwa pihka fakultas maupun universitas punya niatan dan perasaan yg sama mengenai PIMNAS, tetapi PIMNAS bukan satu-satunya yg harus diurus, dan ditambah lagi, bisa kita bayangkan berapa ratus jenis kelompok kegiatan mahasiswa yang ada di UI yang harus diurus, dan tentu dgn begitu PIMNAS tidak bisa dijadikan nomer satu kepentingannya. Satu kejadian khusus yg pernah saya temui berkaitan dgn PIMNAS adalah, teman sekelompok saya yg telah lulus seleksi K2N diminta mundur oleh rektorat (yg saat itu diwakili oleh pak Arman) agar bisa fokus utk PIMNAS, padahal dia berniat ingin ikut dua-duanya, karena memang ketika lihat jadwal hal itu dimungkinkan, tetapi dia tidak diperbolehkan dan diminta mundur agar bisa lebih fokus di PIMNAS.

    Dari situ kita bisa melihat, bahwa perlu ada yg harus mencoba membela dan mengedepankan kepentingan PIMNAS, dan menurut saya perlu dibentuk badan resmi untuk kontingen UI utk PIMNAS, bukan kegiatan lepas semata. Dengan ada badan resmi tentu akan ada pengurus yang akan menentukan dan menyusun strategi kebijakan untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas partisipasi UI di PIMNAS nanti. Setelah menjadi badan resmi, tentu UKM UI to PIMNAS punya kesempatan untuk mempresentasikan program ketika OKK seperti layaknya UKM lain, di situlah kesempatan menggaet Maba dari awal, dan voila ! , semoga terus berkembang dengan adanya susunan yg teratur.

    menanggapi tulisan penulis, ” BEM ataupun UKM yang telah ada dapat berkontribusi dengan membentuk komunitas khusus PKM …” justru menurut saya PKM jangan sebatas membentuk komunitas khusus tapi justru maju dan diajukan menjadi badan setara UKM utk bisa bergerak dan merekrut massa, dan diingat tentu semua itu tidak bisa instan. Memang butuh waktu, mungkin teman2 alumni PIMNAS bisa dikumpulkan utk merembukkan hal itu, karena kalian yang lebih mengenal seluk beluknya, sehingga bisa menyusun dan mengusung gagasan utk menjadi badan resmi itu ke rektorat dan dengan mengusung urgensi bahwa sudah saatnya UI to Pimnas dijadikan komunitas resmi.

    Terima kasih, semoga bisa sedikit membantu 🙂

  3. Sebagai tambahan, mungkin utk mnegetahui bagaimana agar UI to Pimnas bisa menjadi lembaga resmi, sebaiknya langsung bertemu dan mengobrol dgn pak Kamarudin, atau manajer yang dibawahinya.

  4. Terima kasih mas dona,
    sebenarnya Untuk analisis penyebab yang lebih akurat, kami sedang menyusun riset khusus mengenai hal ini mas.

    namun ya benar saya sependapat bahwa salah satu penyebab rendahnya partisipasi UI di PIMNAS adalah prioritas yang belum diutamakan, baik oleh mahasiswa dengan alasan keseriusan di UMKM masing2 dan rektorat/dekanat , yang menghandle banyak varian kegiatan kemahasiswaan.

    Mengenai organisasi yang mewadahi PKM/PIMNAS, alhamdulillah sudah terbentuk mas, dengan nama komunitas UI to PIMNAS yang dimotori alumni PIMNAS XXIV 2011 di Makassar.

    Secara umum kita memiliki rancangan kerja : sosialisasi dan publikasi, networking dengan lembaga2 sejenis di fakultas2 dan keilmuan bem, training n mentoring, local competition, pelayanan administrasi, dan advokasi kebijakan kepada rektorat/dekanat..

    Secara keseluruhan kegiatan2 yang sedang dan akan berjalan ini adalah usaha buat berangsur memulai nyelesaiin masalah prioritas yg mas bilang. Kepada mahasiswa2, diharapkan dengan organisasi dan kegiatan yang lebih terorganisir bisa meningkatkan posisi pkm ke prioritas yang lebih tinggi. Kepada rektorat/dekanat, kami berharap dengan skala kegiatan yang makin luas dan terintegrasi akan meningkatkan bargaining power, selain itu melalui advokasi kebijakan, yang berisi positioning statement berdasarkan riset, kami berharap kebijakan yang lebih memprioritasknan PIMNAS, seperti yang telah dilakukan universitas besar lainnya juga dapat diterapkan di UI. ( sebagai catatan, kebijakan yang telah di tetapkan tsb, bisa cek di tulisan n juga bisa di komentar saya di atas mas )

    Bahkan ini dapat menjadi stimulus utama peningkatan partisipasi mahasiswa ( bayangin kalo menang pimnas ga usah skripsian lo mas :P, atau penulisan PKM yang berbobot 3 SKS di kurukulum :P)

    Jika dilihat aplikasi dari rancangan program di atas, Kita udah ngelakuin beberapa program kerja sejak Agustus tahun lalu mas : seminar-seminar sosialisasi di berbagai fakultas , kampanye,konsultasi,dan kegiatan fasilitator langsung melalui pembuatan tutorial referensi,komik cara penulisan PKM,poster dan flier dan saat ini sedang disusun template PKM GT dalam rangka penyederhaan panduan yang disusun dikti sehingga lebih simple..
    Selain itu juga ada kegiatan online via facebook, twitter,dan blog bisa dikunjungi di
    grup fb UI to PIMNAS, twitter di @uitopimnas dan blog http://uitopimnas.co.nr/
    insy allah juga februari ini kita bakal ngadain training PKM GT se UI, mohon doanya ya mas.

    Secara jangka panjang, ya kita juga memiliki keinginan secara struktural bisa jadi lembaga otonom seperti UKM2 yang lain, mas..
    Untuk sampai disana , kami berpendapat, eksistensi harus dimapankan terlebih dahulu, baik dari struktur organisasi,proker,jumlah mahasiswa partisipan, dll
    Baru setelah itu akan menyampaikan pengajuan secara administratif untuk menjadi UKM atau sejenisnya..

    Mohon doanya ya mas.. 😀

  5. kalo misalnya mau, anakUI.com siap ngebantuin gerakan UI to PIMNAS.. lihat menu Spesial di atas (warna hijau kan?) nanti dibikinin sub menu khusus UI to Pimnas kaya sub2 menu yg udah ada di atas..

    tapi kamu harus sering posting (cross posting dari webnya UI to pimnas aja) setiap perkembangan, berita, acara, dsb di anakUI.com..

    semua tulisan di anakUI.com bakal otomatis ditwitin sama @anakuidotcom selama 5 hari setelah postingan tsb dipublish di anakUI.com, jadi lumayan buat menarik anak2 buat baca..

  6. wah bg ilman, beneran ini serius??? hehehe
    sumpah,surprise banget..benar2 apresiasi positif banget buat kami bang..makasi banget bang..
    sebelumnya, saya boleh nanya ya bg?
    “sering posting” menurut bg ilman sendiri itu spesifiknya kira2 seberapa update ya bang?
    apakah harus posting minimal 3 hari sekali, atau seminggu sekali,? etc..
    Saya nanya ini supaya kami bisa mempersiapkan sumber daya yang dibutuhin , bang
    😀

    1. iya lah, serius, masa boongan 😀

      tentang frekuensi, hmm, sebenernya sih terserah kalian aja, makin sering (tapi teratur) frekuensinya kan makin bagus, karena orang makin banyak yang baca..

      pokoknya terserah aja deh, tapi saya merekomendasikan sekitar seminggu sekali..

      eh btw, itu di akhir komentarmu kok ada link ke adsence, pandora, limewire sih?

      komentar yg sebelumnya sempet dianggap spam soalnya gara2 ada link2 itu..

  7. Sebenernya dari mahasiswa mungkin yang berminat buat bikin PKM banyak, namun terkadang niat mereka tehalang sama kemampuan. Contoh: Di fakultas saya alu PPAA mewajibkan mahasiswa baru mengumpulkan PKM sebagai salah satu syarat wajib mendapatkan status IKM aktif, namun kami sebagai mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa tentang cara membuat PKM merasa kurang mendapat bimbingan secara mendetail tentang PKM. Oke di PSAF dan PSAD ada sesi tentang PKM, namun yang dibahas hanya garis besarnya saja, kurang mendetail dan tentunya saya yakin bimbingan PKM ini tidak bisa dalam waktu singkat.

    Menurut saya itu salah satu penyebab rendahnya partisipasi UI dalam PIMNAS. Mohon dikoreksi jika ada yang salah

    1. sedikit share,kalo kami d geografi untuk jalur PPAA kemarin memang membentuk kelompok2 PKM untuk maba, namun setiap kelompok akan diberi seorang mentor yakni kami dari 2009 dan 2010,tidak hanya sebagi mentor, kami jg turut serta menjadi peserta PKM,diusahakan bukan kami sebgai mentor sebagi ketua PKM, tapi kami memilih dari maba tersebut, hitung2 sebagi latihan…alhamdulillah dari 19 kelompok yang dibentuk 9 kelompok lulus didanai DIKTI…mungkin memang perlu suatu sistem yang apik untuk menata PIMNAS di UI

  8. @ bang ilman : o ya bg maaf, ada kesalahan di tag kayanya..

    insya allah bang kita usahakan..mekanismenya gimana bang? mungkin bisa minta nomor kontak bg ilman ke email saya : khairaal_ti2010@yahoo.co.id..

    @ mas leo : insya allah jika berjalan lancar, bakal diadain training penulisan pkm gt se UI mas..untuk update, kamu gabung di grup fb kita ya di UI to PIMNAS..

    ditunggu mas di grup kita..tetap semangat #kuningkan jogja 😀

  9. Saya khawatir tujuan PIMNAS ini menjadi melenceng. Terbukti dengan banyaknya kegiatan yang langsung berhenti ketika PIMNAS berakhir. Sedih 🙁

    1. itu juga bahan masukan buat kita mas..insy allah masalah itu bakal coba kita selesiin di ui to pimnas bekerja sama ama keilmuan se ui 🙂
      progresnya kalau sudah ada akan dipublikasi juga di anakui.com ini insy allah..