Foto-Foto Privatmu Tersebar? How to Handle and Cope With It! Pertumbuhan teknologi yang semakin pesat memberikan berbagai kemudahan dalam menjalin hubungan. Rasa rindu yang dulu hanya bisa diobati lewat ketemu langsung, bisa diatasi lewat satu usapan jari saja. Semuanya serba mudah, tergantung dari sisi apa kita melihat. Banyak yang merasa diuntungkan, namun tak jarang juga kemunculan korban-korban baru dari kemudahan teknologi ini.

Penggunaan smartphone dengan fitur kamera yang tersebar luas bahkan sudah menjangkau berbagai kalangan. Tidak lagi kalangan usia dewasa dan ekonomi ‘berada’, smartphone dengan fitur kamera ini juga bisa ditemui penggunaannya di kalangan anak-anak dan mereka yang memiliki kondisi ekonomi pas-pas an. Apakah hal ini baik? tentu saja. Hal ini menandakan bahwa informasi yang ada sekarang dapat dengan mudah diakses oleh semua orang. Tapi tetap saja, beberapa kemungkinan buruk bisa terjadi. Seperti penyebaran foto-foto privat milik pribadi oleh orang yang tidak bertanggung jawab, misalnya.

BACA JUGA: Teruntuk Kalian Yang Pernah Jadi Korban Ghosting Oknum Gak Bertanggungjawab, Yuk Move On!

advertisement

Pernah dengar kata revenge porn? Terminologi baru yang setidaknya muncul dan beken di era-era kebangkitan internet. Yap seperti namanya, revenge porn atau pornografi balas dendam bentuknya berupa penyebaran foto-foto atau video privat yang dilakukan oleh salah satu pihak (karena balas dendam, seringnya) tanpa persetujuan pihak lainnya. Karena tidak adanya persetujuan dari salah satu pihak ini, tidak jarang pihak yang menjadi ‘korban’ mengalami ancaman dari berbagai pihak. Mulai dari jadi bulan-bulanan masyarakat, diobjektifikasi, bahkan menjadi korban pelecehan seksual. Belum lagi ancaman psikologis yang tumbuh berbarengan dengan ancaman lainnya.

Apa yang kita lakukan jika kita menjadi korban?

Ceritakan pada orang yang paling ‘mengerti’mu

orang yang paling mengertimu adalah orang yang akan menerima apa pun yang terjadi pada dirimu tanpa menghakimu. Bicarakan kronologis kejadian yang menimpamu dan mintalah dukungan kepadanya. Pastikan dulu pada dirimu bahwa orang yang kamu pilih adalah orang yang paling tepat untuk menjadi tempat bercerita.

advertisement

Laporkan kepada LBH

Mungkin kamu takut untuk melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib, karena ancaman yang diberikan oleh si pelaku atau sekedar malu. Kamu mungkin juga takut kasus ini tidak akan ditanggapi dengan serius. Tenang aja, kamu gak sendirian. Kamu bisa mengirimkan form laporan secara online ke https://www.lbhapik.org/p/lapor.html atau datang langsung ke Jl. Tengah No.31, Kp. Tengah, Kec. Kramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta Kode Pos 13520. Jangan biarkan kasus seperti ini berhenti begitu saja tanpa adanya perlawanan.

BACA JUGA: Analisis Fenomena Seksualitas dan Kapitalisme Sebagai Sebuah Perspektif

Matikan media sosial

It’s ok untuk istirahat sebentar dari dunia maya. Kamu boleh menghapus semua media sosial mu untuk kebaikan kesehatan mentalmu sendiri. Kamu bisa mengisi kekosonganmu tanpa media sosial dengan berolahraga, membaca, membuat karya seni, dan aktivitas-aktivitas lain yang kamu gemari.

advertisement

Pergi ke psikolog

Tidak ada salahnya pergi ke tenaga ahli untuk mengatasi keresahanmu. Psikolog punya kompetensi dan ijin untuk mengatasi masalah seperti ini. Mereka juga tidak akan menghakimimu. Berceritalah kepada mereka mengenai perasaanmu sehari-hari dan jangan ragu untuk mengikuti terapi dalam mengatasi trauma.

Setelah semua hal ini kamu terapkan, alihkan pikiranmu dari kejadian ini. Berhenti menyalahkan dirimu dan ingatlah sekali lagi bahwa semua yang terjadi bukanlah salahmu. Kamu tidak punya tanggungjawab untuk menjelaskan ke banyak pihak mengapa hal ini bisa terjadi.  Jika perlu, putuskanlah hubungan dengan orang-orang yang terkesan meyakinimu. Yakinlah bahwa badai pasti berlalu, begitu juga dengan masalahmu ini. Keep moving forward!

BACA JUGA: Mengenal HopeHelps UI, Organisasi Nirlaba Anti-Kekerasan Seksual di UI

advertisement