Four Credit Max for Special Lecturer


0

19 Januari 2010 at 3:40pm

Dear friends who concern in education,

It’s been more than a month I haven’t write anything about UI’s education system. This Tuesday, 19 January 2010, I just received text message from one of UI’s lecturer that our beloved rector had legally made the decision (SK Rektor) that all Special Lecturer (Dosen Luar Biasa/Dosen Tidak Tetap) maximum only teach 4 creadits. We have to get that letter.

To all DLB, check all your subjects. If you’re part of a team, just divided the total credits and total lecturers. If your subject 3 credits and you have 2 other partners, so your total credit: 3/3 = 1 credit and then count your attendance. You will know how much payment you get.

You can teach more 1 subject = 3 credits by yourself, or 3 more subjects with three lecturers under 1 team, or 2 subjects with two lecturers under one team.

If you teach 2 subjects by yourself which each subject is 3 credits, the total will be 6 credits. Since your maximum credit teaching is only 4 credits, well… no payment darling for 2 credits.

The question is: Does 4 creadits/semester or 4 creadits/year? Because for Dosen Inti Pengajaran (BHMN/Civil Servant/Whoever want to dedicated your time at UI 30 hours-week), I think the maximum teaching is 16 creadits/year. if in 1st semester you teach 9 credits, then next semester should be 7 creadit max.

Hopefully other DLB from other department/faculty who last semerter had an euphoria because of the payment increasing, will rethink again that you might get really low, except you’re part of the Dosen Inti Pengajaran.

So… enjoy your teaching at UI my friends! Don’t forget tick your name at SIAK NG after teaching and… your student absence. No tick, no money. More work, less money! How marvelous.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

7 Comments

Leave a Reply

  1. Ibu sepertinya rajin sekali ‘curhat’ disini
    sudahkah ibu ‘curhat’ pada tempat yang tepat?
    saya khawatir, ‘curhat’ ibu disini tidak menyelesaikan masalah dan hanya menambah rasa was-was dan rasa kesal di hati ibu sendiri.

    ini kutipan dari salah seorang dosen saya di Fasilkom UI ketika menanggapi ‘curhat’ rekan beliau sesama dosen

    “lepaskan hak untuk sakit hati sebelum menerima tugas ini….”.

    mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan

    Regards,

    Muhammad H Hilman
    Mahasiswa Fasilkom UI 2006
    (Insya Allah calon Dosen Fasilkom UI)

  2. wah betul, sebaiknya dilampiaskan pada tempat yang tepat juga. Walaupun memberi sudut pandang yang berbeda tentang proses akademis di UI, tapi alangkah baiknya jika masalah ini bisa diupayakan untuk diselesaikan bukan menjadi suatu bahasan yang dibuat untuk dipergunjingkan nantinya.

    Btw, Hilman mau jadi dosen Fasilkom nih???wah mantab kali nanti lulusan YDBP pertama ada yang jadi dosen ^_^

  3. Terima kasih atas komennya. Bukan saya yang tag notes ini ke sini. Tetapi ada yang bersimpati untuk menyebarluaskan informasi ini.

    Curhat? Wah… sayang sekali kalau Anda menganggap ini curhat. Justru dengan tulisan-tulisan seperti ini adalah memberikan kenyataan dan gambaran yang ada DI SEKITAR KITA, PALING DEKAT DENGAN KITA. Ibaratnya kan,”Gajah di depan mata tidak tampak, tapi semut di seberang lautan begitu jelas.” Terkadag kita melihat dan membela yang begitu jauh, tetapi yang paling dekat dengan kita justru kita buta sendiri, bahkan parahnya tidak perduli.

    Apabila ada dosen fasilkom ataupun Anda sendiri setuju dengan,”“lepaskan hak untuk sakit hati sebelum menerima tugas ini….”. menurut saya adalah ‘juga keluhan’ yang dilakukan secara halus.
    Berarti kan sebenarnya kita diperlakukan tidak layak bukan?

    if you pay it with peanuts, you get a monkey… nah kalau dosen juga dianggap tidak dihargai secara baik, apakah pendidikan ini akan menjadi lebih baik?

    Cobalah untuk berpikir lebih luas…. sudah saatnya kalau memperhatikan pendidikan, melihat jangakuan yang lebih luas.

    Mari kita memikirkan dan menghargai ilmu dan pengalaman seorang pendidik sebaik-baiknya. Aset ini tidak dapat tergantikan.

    Saya ucapkan selamat bagi Anda yang ingin jadi dosen. Welcome to the the world which people are hingly appreciate us except the institution itself.

    Terima kasih…. wassalam.

  4. Sebenarnya ini bagus sekali untuk kepentingan publik. Ini, ‘kan, salah satu proses transparansi informasi ke masyarakat.

  5. Ah, ndak, ‘curhat’ nya kan pake tanda petik, tafsiran ibu bisa jadi lain dengan tafsiran saya. Maksud saya coba tulisan macem ini dikirim juga ke dekan, rektor ato pihak lain yang berwenang. Klo cuma jadi notes di facebook ato tulisan di anakui.com masalahnya gak bakalan selesai-selesai khan. Nah, saran saya adalah bukan untuk meminta ibu berhenti ‘curhat’ ato berhenti menulis di ruang publik tapi untuk mencoba memperjuangkan hak ibu juga di jalur yang lebih proporsional. Klo gak salah salah satu janji rektor kita yang sekarang pas pemilihan rektor adalah meningkatkan kesejahteraan staf dan dosen, fakta yang ibu kemukakan bisa jadi ‘amunisi’ yang konstruktif bagi birokrat kampus. Klo cuma di notes facebook ato tulisan di anakui.com tidak akan berdampak banyak bagi ibu sendiri.

    Regards,

  6. Yth Hilman, Achmad dan Gatel Komen

    Kami sudah mengirimkan surat langsung ke rektor pada bulan Januari kemarin. Sampai hari ini tidak dijawab tuh…

    Jadi jangan dikira ini sekedar curhat atau marah. Hal ini juga bertujuan unuk berbagi informasi apa yang terjadi di UI. Kalau Anda cukup sensitif dan mau berpikir lebih lanjut dan melihatnya lebih luas lagi… menyedihkan bukan renumenerasi Dosen Luar Biasa/Tidak Tetap/ Skema Lain-lain dengan tanggung jawab persiapan perkuliahan sama dengan yang dosen tetap?

    Silakan berpikir dan bukalah mata dan hati Anda semua.