Masih ingat di akhir tahun 2010, saat hampir semua orang di Indonesia, baik tua maupun muda tiba-tiba ketagihan mengoleksi gelang karet yang diklaim memiliki manfaat untuk meningkatkan keseimbangan tubuh. Gelang tersebut dijual luas di masyarakat dengan warna dan harga yang beragam, dari yang sangat murah (sampai kita bingung sendiri mana mungkin sih dengan harga semurah itu kita bisa menperoleh manfaat sehebat yang diklaim oleh brand) sampai harga termahalnya yang menyaingi harga mobil dan motor.  Pada masa itu, gelang tersebut sangat laku di pasaran, terlepas dari ada atau tidaknya efek samping yang dirasakan oleh pengguna gelang. Bagi orang-orang yang tidak mengikuti tren ini, jangan harap bisa dianggap keren oleh masyarakat tahun 2010.

Maju sedikit ke tahun 2017, kali ini muncul trend bisnis kue bolu dari kalangan artis Tanah Air. Coba sebutkan, siapa aja artis-artis yang di tahun ini ikut berjualan kue bolu?  kamu bisa menemukan mereka semua dari kalangan apa saja di dunia entertainment, baik youtuber, penyanyi, sampai bintang film papan atas. Mereka semua ditemukan berjualan makanan yang sama. Anehnya, di era itu juga, tidak ada satupun artis yang terpikir untuk membuka usaha di bidang lain. Mereka semuanya terdorong untuk menjajaki dunia kuliner, meskipun tidak satupun dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman memasak atau membuat kue. Trend ini hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Di pertengahan tahun 2019, bisa dikatakan bahwa hampir semua kue-kue artis tersebut sudah dihentikan produksinya alias gulung tingkar. Waktu yang terhitung cepat untuk keberlangsungan sebuah bisnis.

Dan sekarang, sampai di tahun 2020. Mungkin pembaca semua akrab dengan fenomena aplikasi TikTok yang tiba-tiba booming di berbagai kalangan. Padahal, kalau pembaca sempat mengikuti trend dari aplikasi ini sekitar satu tahun ke belakang, banyak sekali kecaman yang dilontarkan pada pengguna aplikasi ini. Mulai dari sebutan alay, norak, kampungan, dan masih banyak lagi.

advertisement

Selain TikTok, trend yang juga muncul di tahun 2020 adalah aksi penunggangan isu COVID-19 untuk meraih ketenaran. Seperti yang baru-baru saja kita ketahui kasusnya, ada seorang youtuber mengampanyekan perilaku sembrono yang berpotensi menyebarkan COVID-19 dalam podcast yang dilakukannya. Lalu dalam waktu yang berdekatan, muncul juga seorang influencer yang melelang keperawanannya dengan dalih donasi kemanusiaan untuk membantu korban COVID-19. Belum lagi kasus-kasus lainnya yang terus bermunculan seolah-olah penjemputan dari pihak polisi tidak membuat mereka jera dan justru dijadikan sebagai ajang untuk mendapatkan popularitas.

Nah, tulisan di atas merupakan ilustrasi  dari fenomena psikologis yang paling sering muncul di Indonesia, yaitu fenomena latah sosial. Berbeda dengan fenomena latah pada umumnya yang disebabkan karena gangguan syaraf, fenomena latah sosial digambarkan dengan adanya rombongan individu yang secara berbondong-bondong meniru suatu trend tanpa adanya pertimbangan yang matang sebelumnya.

Kebiasaan meniru pada suatu trend tertentu hanya berlangsung untuk beberapa saat saja, karena setelah muncul trend lainnya, rombongan  ini akan dengan cepat mengganti ketertarikan mereka dan bahkan tidak segan-segan untuk mengubah afek mereka secara drastis, ya contohnya seperti fenomena dari aplikasi TikTok yang mana dulu kita kenal banyak dibenci orang namun sekarang berubah menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan.

advertisement

Fenomena ini ternyata ditemukan meningkat terutama setelah penggunaan media sosial semakin meluas di masyarakat. Sebenarnya, apa yang menyebabkan kemunculan dari fenomena itu?

FOMO, atau fear of missing out adalah dorongan yang dirasakan oleh seseorang untuk terus berada dalam suatu kelompok, event, trend, dan lain-lain, yang bisa menyebabkan orang tersebut merasa diasingkan secara sosial,  dan bahkan bisa berakhir pada kecemasan yang sangat intens apabila dirinya tidak segera mengikuti dorongan tersebut. FOMO biasanya banyak ditemukan pada anak muda, dan diikuti dengan Nomophobia, yaitu suatu ketergantungan terhadap handphone. Konsep dari FOMO ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena latah sosial yang ada di Indonesia.

Melihat dari ilustrasi-ilustrasi yang dipaparkan sebelumnya, mereka yang berusaha meniru trend yang muncul (terutama mereka yang ikut menggunakan isu COVID-19 demi kepentingan dan ketenaran diri mereka seorang) didorong oleh keinginan untuk terus menjadi bagian dari lingkungan sosial. Karena saat ini isu COVID-19 adalah isu yang selalu diperbincangkan oleh semua masyarakat, mereka berusaha untuk mengambil bagian. Jika tidak, mereka takut bahwa diri mereka tidak lagi dapat bersaing dengan Tidak jarang, mereka yang FOMO ditemukan sering merasa kesepian dan tidak pernah memerhatikan lingkungan sekitar mereka yang sebenarnya karena terlalu terpaku dan merasa harus terus berpacu dengan trend yang ada.

advertisement

Dampak dari FOMO?

FOMO dapat menyebabkan seseorang tidak akan pernah merasa puas terhadap kehidupan sosial mereka yang sudah ada, tidak peduli seberapa banyak teman yang mereka miliki dan seberapa populer dirinya dikenal oleh masyarakat. Hal ini dapat menjelaskan mengapa seorang yang pernah melakukan suatu tindakan menyimpang demi memperoleh ketenaran tidak akan jera meskipun sudah tahu konsekuensinya akan berurusan dengan  pihak kepolisian. Menurut mereka, tindakan mereka tersebut adalah upaya yang dapat mereka lakukan untuk tetap up-to date terhadap perkembangan jaman.

Ingat konten bagi-bagi sembako berisikan sampah yang menyebabkan si pembuat konten harus mendekam di penjara? Mengapa setelah kasus ini di up di masyarakat, masih saja bermunculan orang-orang yang melakukan perbuatan yang sama buruknya? Apakah agar ikutan dikenal masyarakat?

Seorang yang mengalami FOMO rentan terhadap depresi, gangguan kecemasan, dan perasaan inferior saat dirinya merasa gagal dalam mengikuti trend.  Oleh karena itu, mereka butuh untuk berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia maya dan menarik diri dari pergaulan. Ketika mereka sudah berhasil untuk mengistirahatkan sejenak diri mereka  agar tidak kembali ‘latah’, mereka harus memulai dari awal lagi dalam mempelajari dan memaknai arti hubungan yang sebenarnya dengan sesama manusia, di luar trend yang ada,

advertisement