Geopolitik dan Geostrategi serta Kaitannya dengan Masalah Lingkungan


0

Menurut ilmuwan politik dan militer, istilah geopolitik didefinisikan sebagai wawasan nasional sebagai wujud dari kesatuan cara pandang dan pengetahuan yang berguna untuk mempertahankan ruang hidup suatu bangsa. Namun konsep wawasan nasional yang ada di setiap bangsa pada kenyataannya berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan dua unsur pokok dalam konsepsi geopolitik, seperti yang terdapat dalam buku Mata Ajar Pengembangan Kepribadian III (BP FKUI; 2010), yakni profil diri bangsa (sejarah, pandangan hidup, ideologi, budaya) dan geografi.

Geopolitik juga tidak hanya memandang ciri-ciri khusus suatu negara (geografis) dari segi politik negara semata, melainkan juga perilaku manusia di dalamnya saat menghadapi tantangan yang timbul berdasarkan bentuk geografinya. Menurut Srijanti, dkk (2008), adapun geopolitik Indonesia yang dinamakan Wawasan Nusantara bertujuan untuk mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia. Kemudian, pelaksanaan geopolitik dalam suatu negara disebut dengan geostrategi.

Pada awalnya, istilah strategi hanya terbatas pada kepentingan militer saja. Akan tetapi, lebih lanjut geostrategi didefinisikan sebagai kebijakan untuk menentukan upaya-upaya dalam menguasai sumber daya (terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui) dengan tujuan kelangsungan hidup bangsa.

Ditinjau dari aspek kewilayahan nusantara menurut Srijanti, dkk dalam Etika Berwarga Negara (2008), pengaruh geografi dalam suatu negara merupakan fenomena yang mutlak diperhitungkan karena mengandung beraneka ragam kekayaan alam, baik di atas maupun di bawah permukaan bumi, serta memiliki jumlah penduduk yang besar. Dengan demikian, kondisi geografi Indonesia yang memiliki keunggulan sekaligus kerawanan sudah sepatutnya diperhitungkan dalam geopolitik Indonesia.

Ketika geopolitik Indonesia (dalam hal ini disebut Wawasan Nusantara) bertujuan untuk mewujudkan rasa nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan, maka sudah seharusnya merupakan kewajiban bagi kita untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam kita yang melimpah.

Namun pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Eksploitasi terhadap hutan terus terjadi dimana-mana, dan kesadaran masyarakat juga sangat rendah untuk menjaga dan melestarikan lingkungannya. Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi kita untuk mengembangkan sumber daya manusia agar sumber daya alam dapat dikelola dengan baik dan memadai.

Maka, langkah yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkatkan sumber daya manusia yang jumlahnya besar tersebut serta menumbuhkan kepedulian pemerintah dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Langkah ini pun harus diterapkan kepada generasi penerus sejak dini melalui pendidikan lingkungan hidup di sekolah mereka.

Sebab, ketika isu pemanasan global terus mendorong negara-negara untuk melakukan program-program dan gerakan penyelamatan lingkungan, perilaku masyarakat kita pada umumnya tetap saja tidak berubah. Selama dampak dari pemanasan global itu belum dirasakan, maka tidak perlu mengambil tindakan untuk mulai memelihara lingkungan. Pandangan seperti ini tentunya tidak tepat dan harus segera diubah, karena sangatlah disayangkan jika bencana-bencana seperti banjir dan longsor terus terjadi di sekitar kita akibat kesalahan kita sendiri.

Maka, mulailah dari sekarang untuk memahami dan menghayati Wawasan Nusantara melalui penghargaan akan lingkungan dengan melestarikannya agar tidak tercipta keindahan harmoni yang sesaat saja.

referensi:

Srijanti, A. Rahman H. I., Purwanto S. K. 2008. Etika Berwarga Negara. Jakarta: Salemba Empat.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
debbynov

One Comment

Leave a Reply