Gerakan Mahasiswa UI Sudah Menurun!


0
Ilustrasi: Pergerakan Mahasiswa (ditambahkan oleh admin)
Ilustrasi: Pergerakan Mahasiswa (ditambahkan oleh admin)
Ilustrasi: Pergerakan Mahasiswa (ditambahkan oleh admin)
Ilustrasi: Pergerakan Mahasiswa (ditambahkan oleh admin)

Hari Kamis minggu lalu saya mendapat sebuah pesan singkat. Isinya sore itu akan diadakan kampanye BEM UI di FE. Hhmm…menarik juga mendapatkan sms seperti itu. Sehabis kuliah saya segera menuju selasar dekanat FE. Namun tampaknya keadaan kampanye PEMIRA IKM UI masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sepi. Kurang mendapat sambutan dari publik FE. Mahasiswa yang hadirpun sebagian besar adalah pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu kandidat ketua dan wakil ketua BEM, panitia, dan tim sukses. Sungguh miris.

Pada kesempatan itu karena sudah terlanjur hadir saya mengajukan pertanyaan kepada kedua kandidat. Salah satu pertanyaan saya adalah setujukah kedua kandidat jika dikatakan BEM UI sudah memasuki tahap penurunan. Kedua kandidat sepakat dengan pernyataan saya. Masing-masing memberikan penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi dan solusi untuk mengatasinya.

Saya cukup tertarik dengan jawaban salah satu kandidat tentang fungsi pelayanan yang harus dilakukan BEM UI. Hal ini juga terkait dengan alasan mengapa BEM UI seperti sudah berada dalam fase penurunan. Menurut saya dinamika kemahasiswaan di UI yang direpresentasikan dengan tingkat awareness terhadap BEM UI memang sudah sangat menurun. Saya pernah membaca sebuah liputan di Majalah Suara Mahasiswa terbitan tahun 90an bahwa dulu debat calon ketua BEM UI diadakan di Balairungn dan dihadiri oleh banyak orang. Sungguh merinding membacanya.

Saya berpandangan bahwa kehidupan kemahasiswaan UI tidak akan pernah kembali pada masa kejayaannya jika proporsi mahasiswa kurang mampu dan atau berasal dari luar Jakarta masih rendah seperti saat ini. BEM UI-lah yang harus memastikan hal itu. Masa kejayaan yang saya maksud di sini adalah ketika mahasiswa UI kembali menjadi agen kontrol sosial dan politik nasional di Indonesia.

Sebagai penutup silakan perhatikan fenomena berikut.

Orang-orang yang terlibat aktif di organisasi kemahasiswaan khususnya BEM UI sebagian besar pasti masuk dalam kategori:

1. Bukan berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi kaya.

2. Berasal dari luar Jakarta.

3. Aktivis gerakan tarbiyah.

Apakah kategori yang saya sebutkan di atas benar? Sekali lagi ini hanya opini pribadi berdasarkan pengamatan selama lebih dari empat tahun kuliah di UI.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

39 Comments

Leave a Reply

  1. 1. Bukan berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi kaya.

    2. Berasal dari luar Jakarta.

    3. Aktivis gerakan tarbiyah.

    lalu apakah orang kaya yang punya mobil bukan aktivis? tahun ini di pusgiwa banyak mobil loh…

    menurut saya gak melulu harus dari luar jakarta dan yang gak kaya.. terpenting ya punya keinginan..

    1. Danu,
      Tolong lihat lagi tulisan saya. Saya mengatakan sebagian besar, tentu saja ada yang di luar kategori yang saya sebutkan di atas tapi coba liat lagi apakah mereka beririsan dengan kriteria yang lain. Saya berani jamin (berdasarkan pengalaman selama ini) yang berasal dr luar 3 kategori tersebut akan jauh lebih kecil jumlahnya.

      Menurut Anda bagaimana cara membentuk keinginan tersebut? Inti dari tulisan saya adalah jika ingin dinamika kemahasiswaan UI kembali hidup ubahlah inputnya. BEM UI adalah salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk itu. Jika selama ini BEM UI selalu lemah melawan rektorat sekaranglah saatnya untuk saling adu secara head to head. Rektorat ingin terus meningkatkan pemasukan dari mahasiswa tapi BEM UI melawan dengan memastikan semakin banyak mahasiswa tidak mampu namun berprestasi yang kuliah di UI. Caranya tentu bermacam-macam. Perlu dibuat tulisan tersendiri sepertinya. Sehingga salah satu indicator keberhasilan kepengurusan BEM UI adalah peningkatan proporsi jumlah mahasiswa tidak mampu namun berprestasi & berasal dari luar Jakarta.

      Indikator hidupnya dinamika kemahasiswaan versi saya adalah:

      1. Tingginya antusiasme mahasiswa UI. Indikator paling mudah adalah UI sering juara umum PIMNAS. UI untuk hal-hal non EO dan hiburan. Contohnya: debat calon ketua BEM UI diadakan di Balairung dan yang nonton penuh atau begitu juga ketika roadshow ke fakultas-fakultas.
      2. Meningkatnya kehidupan diskusi dan ilmiah mahasiswa

      1. “Saya berpandangan bahwa kehidupan kemahasiswaan UI tidak akan pernah kembali pada masa kejayaannya jika proporsi mahasiswa kurang mampu dan atau berasal dari luar Jakarta masih rendah seperti saat ini.”

        sebetulnya lebih tepat kyknya kalo tadi saya mengutip ini. 🙂 jd saya optimis kalopun di isi dengan orang kaya dan di dalam jakarta pun bisa mengubah..

        saya pun memikirkan cara bagaimana biar BEM/Mahasiswa tidak kalah ‘cerdik’ dengan Rektorat. kalo bisa dikatakan.. rektorat itu orangnya itu itu aja.. sedangkan mahasiswa datang dan pergi.. ya jadi rektorat lebih mengerti gerak kita.. jadi udah ngeti neh di tutup di mana… harus ada cara lain… dan setuju harus di buat tulisan khusus.

        ide saya agar mahasiswa bisa lebih intelek dalam membantah…

  2. buat saya pribadi setuju kalo dikatakan sulit kembali ke masa2 kejayaan.. tapi masa kejayaan mahasiswa ui adalah 66 bukan 98….karena tahun 98 justru membuat ui menjadi mundur sampe sekarang….

    lalu masalah 3 kategori itu… terlalu menggeneralisasi sih… banyak kok yang di luar itu…

    pada intinya sekarang, saya selalu bertanya dalam hati dan berdiskusi dengan beberapa teman, masih butuhkah kita BEM UI??
    gimana kalo kita bentuk badan baru yang bisa mengakomodasi kepentingan civitas lebih luas?

    1. Christian,
      Sebagian tanggapan saya sama dengan tanggapan sebelumnya ya. Menurut saya tidak akan ada gunanya membuat organisasi baru selama input mahasiswa UI tidak diubah. Itulah tantangan yang harus dihadapi organisasi-organisasi kemahasiswaan di UI khususnya BEM.

  3. Mungkin penurunan ini terjadi karena dari kecil generasi muda saat ini sudah diajari untuk meninggikan ego berpikir pragmatis dan individualis.

    Banyak pemuda (apalagi jakarta) yang ketika kecil dididik dengan pola hidup kedua orang tua kerja, pergi pagi pulang malam. Anak di tinggal di rumah bersama pengasuh dan tidak mendapatkan pendidikan tentang sopan santun (ramah tamah), kepedulian sosial, berpikir kritis apalagi menjadi seorang yang rela berkontribusi demi orang lain. Mereka sehari-harinya hanya ditinggal bersama dengan uang jajan yg lebih dari cukup dan kebebasan untuk mencari kesenangan asal akademis tetap baik.

    Tapi ini hanya pendapat pribadi. Saya melihat di sekitar saya, di fakulas yang saya tempati, masih banyak orang-orang yang rela bercapek-capek berapat-rapat untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Negeri ini masih punya harapan besar, tinggal kitanya saja yang menjadi bagian dari mereka yang kontributif , tetap komitmen pada kejujuran dan senantiasa memperbaiki diri.

      1. cara memperbaikinya bagaimana pak? gimana kita bisa menyeleksi anak yang masuk ui supaya mereka bisa berkontribusi nantinya?

        kalo menurut saya, dan pengalaman psau/psaf di psikologi, maba itu punya background macem2, tapi kita bisa memberikan mereka pengertian bahwa background mereka harus bisa menyesuaikan dengan keadaan kampus (kehidupan mahasiswa), initinya, kita yang membentuk perilaku mereka.

        1. Christian,
          Iya mahasiswa baru.Mungkin cara yang Anda sebutkan dg memberikan pengertian bisa dilakukan tapi saya tidak merasa yakin dengan cara tersebut. Kita sudah lihat hasilnya dimana tingkat apatisme mahasiswa UI sangat tinggi. Contoh: jumlah mahasiswa yang tidak menggunakan hak pilihnya saat pemira sangat besar. Tapi yang harus digarisbawahi adalah kita sebagai mahasiswa tidak mungkin melakukan seleksi namun hanya bisa memberikan informasi yang sempurna tentang peluang masuk UI. Kalau saran saya adalah mengembalikan UI menjadi kampus rakyat dengan meningkatkan proporsi jumlah mahasiswa kelas menengah ke bawah tapi berprestasi dan mahasiswa yang berasal dari luar Jakarta. Bagaimana hal itu bisa diwujudkan? Berikut cara-caranya (saya berharap peran ini dimainkan oleh BEM UI):
          1. Memaksimalkan pengumuman “TAK PERNAH ADA SELEKSI UANG DI UI ASAL MAMPU SECARA AKADEMIK” . Pengumuman tentang hal ini harus benar-benar disebarkan secara luas dan diberikan jaminan advokasi oleh BEM UI atau BEM Fakultas bahwa jangan pernah takut untuk ikut seleksi masuk UI dan pastikan kelulusan InsyaAllah calon mahasiswa baru tidak akan pernah gagal untuk kuliah di UI.
          2. Bekerja sama dengan paguyuban-paguyuban daerah untuk publikasi pengumuman di atas. Karena selama ini terdapat informasi yang asimetris antara calon mahasiswa dan pihak UI. Bahkan kalau BEM UI berani, bikin publikasi “100rb bisa kuliah di UI*”, asal benar-benar tidak mampu, yang terpenting adalah sudah diterima (lulus tes) di UI.

  4. Jika dikatakan gerakan mahasiswa ui menurun, saya pribadi kurang setuju dngan prnyataan tsebut. Kita tidak bisa scra langsung mmbandinkan dngan apa yg trjadi dngan misalny pd tahun 98 karena kondisi kekinianya yg memang sudah brbeda. Pda masa trsebut mahasiswa mmang sudah muak dngan model pmerintahan orde baru yg sudah jauh dari nilai2 demokrasi. Menurut saya setiap zaman itu PUNYA TANTANGAN TERSENDIRI

    1. Teguh,
      Saya sangat setuju jika dikatakan setiap zaman punya tantangan tersendiri. Tapi tentu ada hal-hal yang tidak boleh berubah terkait gerakan mahasiswa UI. Kalau menurut Teguh apa indikatornya sehingga berani mengatakan gerakan mahasiswa UI tidak sedang menuru turun? Kalau indikator menurut saya ada di komen pertama ya 

    2. setuju dengan komen ini dalam hal setiap jaman punya tantangannya sendiri. tapi satu hal yang sangat kurang dari anak ui sekarang dengan tantangan jaman sekarang dimana rakyat hidup semakin sulit, mahasiswa kurang memberikan kontribusi nyata. demo banyakan hanya untuk kepuasan diri sendiri, dalihnya untuk rakyat, tapi coba dipikir lagi, demo2 yang sudah dilakukan, apa urgensinya?
      coba tanya alumni2 ui, pasti semua bingung, kenapa sekarang ui sangat sering demo, padahal dulu demo anak ui itu adalah suatu hal yang amat sangat jarang karena dianggap sangat spesial. saat kondisi belum urgen untuk demo, ui tidak akan turun.
      just a coment, cmiiw… ^^

      1. Bagaimana cara mengatasi mahasiswa yang kurang berkontribusi nyata tersebut? Kalau saya tetap keukeuh perbaiki inputnya. Hehehe
        Kalau terkait aksi saya ingin, UI tidak perlu terlalu sering turun ke jalan. Tapi jika UI sudah turun ke jalan berarti isu yang diusung sangat penting & benar2 bisa menguningkan Jakarta.

  5. TARBIYAH ??
    hahahaha, saya juga tidak mengerti,
    UI = UNIVERSITAS INDONESIA, atau UNIVERSITAS ISLAM ?
    no offense, but I definitely sure that those people, majority, doesn’t have a good competent but so many in quantity and have a strategic position, in our campus politics. for any goal which I’m not sure for all people in UI, just for their community, by behalf of God. no offense, it just my opinion

  6. @rifki: dsatu sisi memang trlihat baik bhwa ui utk klas menengah kbawah.tp brarti tetap ad dskriminasi dng?thdp kelas menengah ke atas?
    It yg agk sulit.hm,sbg alumni psikologi,saya msh pcaya bhwa kta bisa membentuk tgkah laku ank2 baru.yg pnting caranya tepat.psau/psaf jaman dulu bhasil kok membentk mhswa2 ui yg unggul.knp skrg tidak?mgkn krn intrvensi lmbaga trtntu yg mganggap psau jaman dulu it bullying,mkny skrg lbh humanis pdhl org indo scra umum,kl ga dkerasin msh blm bsa sadar.
    Jd kuncinya bikin psau/psaf yg jelas tjuany dan langkah2ny.gua pcaya bisa.kt tmen2 dosen g yg angktn 90an jg bisa.haha.tgal 1 yg dcari,niat.mau ga mhswa2 it mpbaiki keadaan.

  7. Mungkin yang pertama2 harus tanyakan dlu ke yg nulis…
    Gerakan Mahasiswa macem apa sih yang situ maksud?
    Trus kontrol sosial dan politik yang anda maksud tuh seperti apa bentuknya (yang paling kecil – paling besar) ?
    Soalnya di tulisann ini saya kurang bisa nangkep definisi dari gerakan mahasiswa yg situ maksud…
    ama yang terakhir…
    penurunan yang situ maksud disini tuh secara kuantitas ato kualitas?

    tolong dijelasin mas ^^

  8. hmm…gimana ya? gerakan kemahasiswaan sedang turun krn tidak ada yg mau dikerjakan. belum ada presiden yang perlu diturunkan dari jabatannya. 😆
    btw tarbiyah itu maksudnya apa? gerakan kemahasiswaan dimonopoli oleh segolongan orang tertentu kah?

  9. @Danu: di situlah tantangannya terutama buat masa kepengurungan organisasi kemahasiswaan yang hanya 1 tahun.
    “ide saya agar mahasiswa bisa lebih intelek dalam membantah”, sebaiknya tidak hanya membantah tapi ada aksi konkret yg lebih jelas untuk beradu head to head dengan rektorat.
    @Christian: UI tidak dikhususkan untuk kelas menengah ke bawah tapi berikan peluang yang sama untuk semua kalangan (Hal ini jelas tidak mungkin). Saya melihat akses bagi kalangan menengah ke bawah namun berprestasi agak terhambat karena informasi yang tidak sempurna, misalnya: di UI sama sekali tidak ada seleksi uang. Masyarakat umum banyak yang tidak mengetahui bahwa poin terpenting adalah diterima dulu di UI.
    Saya setuju kok dengan membuat psau/psaf yang jelas tujuannya. Tapi mungkin Christian bisa tanya ke dosen-dosen angkatan ‘90an itu, dulu bagaimana proporsi mahasiswa kelas menengah ke bawah dan berasal dari luar daerah. Menurut beberapa dosen senioar di FE, dulu jelas sekali kalau UI merepresentasikan Indonesia. Anak-anak daerah yang masuk UI masih cukup banyak.
    @Muhamad Fajar/Fasilkom/2007: Kalau menurut Fajar mengapa momen penerimaan mahasiswa baru sepertinya gagal menjadi momen kaderisasi dan pewarisan nilai. (jika mengacu pada indicator dinamika kehidupan mahasiswa versi saya)
    @noname,thebluecatz: tolong berikan identitas diri yang jelas baru saya akan jawab pertanyaan anda.
    @sectio: menurunkan presiden? Menurut saya itu terlalu jauh. Perhatikan & benahi saja dulu keadaan di lingkungan terdekat (silakan liat indicator dinamika kehidupan mahasiswa versi saya) 
    (Aktifis ) Tarbiyah yang saya maksud di sini adalah orang-orang yang juga sangat concern dengan dakwah Islam. Dimonopoli? Ya bisa dikatakan demikian. Jujur saya pribadi tidak masalah dengan hal itu selagi orang yang bersangkutan kompeten. Tapi tentunya definisi kompeten tersebut harus dirumuskan dengan beberapa indicator yang harus dipenuhi.

  10. @rifki: langkah untuk menyeleksi input itu menurut saya memang baik, tapi tidak akan berguna kalau nilai2 dan tradisi UI yang ada tidak ditanamkan dengan berhasil. maksud saya di sini, nilai2 dan tradisi kampus perjuangan.
    Juga dalam bayangan saya lebih sulit untuk menyeleksi input tersebut. kalo menurut anda, cara konkritnya apa misalnya?

  11. @Christian psiko 06: Metode penanaman nilai-nilai dan tradisi kampus perjuangan inilah yang harus bisa ditentukan dengan tepat. Sepertinya harus diluruskan sedikit. Tidak mungkin (sangat kecil peluangnya) untuk melakukan seleksi input karena untuk masuk ke sebuah institusi pendidikan harusnya hanya ada seleksi intelektual atau akademis.
    Langkah konkret agar hanya berlaku seleksi intelektual untuk masuk UI:
    1. Publikasi besar-besaran dari BEM UI, bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk masuk UI. Kendala biaya bukan hambatan asal mampu secara akademis.
    Sebenarnya inti tulisan ini adalah menurut saya nilai-nilai dan tradisi kampus perjuangan di UI bisa lestari jika proporsi jumlah mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah & berasal dari luar daerah cukup tinggi. Mungkin 40:60
    Tentunya perlu dilakukan penelitian (ilmiah) lebih lanjut terkait hal ini agar observasi saya selama 4 tahun lebih kuliah di UI ini lebih valid.

    @ratih.oktarina: selamat bergabung ratih. Amiin. semoga 🙂

  12. @rifki: “Sebenarnya inti tulisan ini adalah menurut saya nilai-nilai dan tradisi kampus perjuangan di UI bisa lestari jika proporsi jumlah mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah & berasal dari luar daerah cukup tinggi. Mungkin 40:60”
    ini berdasarkan sejarah ui jaman dulu kayak gitu dan berhasil, maka mungkin jaman sekarang proporsinya seperti itu akan berhasil lagi ya?

    1. jadi masalahnya di biaya kuliah dong bukan di inputnya? hehe…

      tapi sangat amat setuju bahwa sekarang kegiatan kemahasiswaan hanya sifatnya EO…

  13. setuju sekali dgn christian..rata2 proker keg mahasiswa hanya sebatas EO tapi tidak ada kelanjutannya

  14. “Salah satu solusi, menjadikan momen Penerimaan Mahasiswa Baru (PSAF/MABIM/MK) sebagai momen kaderisasi dan pewarisan nilai.”

    cih, dengan membiarkan budaya feodal terus langgeng di UI. penekanan demi penekanan secara mental dan material lewat serangkaian acara ospek yang namanya terus berubah tiap tahun padahal tujuannya sama.

    cara cara seperti ini justru mematikan kreatifitas mahasiswa baru yang datang ke UI dgn ke’tidaktahuannya’ ttg UI lalu dicekoki dengan ideologi ideologi perjuangan yang menurut saya masih ‘asal berjuang’

    1. hmmm…. kayaknya dulu pas diospek ga dapet esensinya ya mas? ato memang ga ada esensinya?

      kalo saya dulu sih dapet banget esensinya, smua tugas ada gunanya

  15. @ Christian psikologi 06: hahaha sepertinya iya. Naiknya biaya kuliah membuat input mahasiswa yang masuk ke UI ikut berubah. Sepertinya biaya kuliah akan sulit diturunkan, langkah terbaik yg bisa dilakukan ya pastikan input yang masuk sesuai dengan kebutuhan UI sebagai kampus rakyat.
    Udah gak usah dikomentarin kalau identitas gak jelas. 😀

    @putra farmasi 2006: toss deh.hehehe 🙂

    1. ide yang menarik… hahaha…
      sebenernya biaya kuliah sangat mungkin kok diturunkan.. UI kan PTN lagi sekarang. jadi harusnya ga gitu pusing sama dana bukan? CMIIW…
      hehe

      1. Berat gan kalau mau menurunkan biaya kuliah. Coba cek PP 66 yang menggantikan UU BHP. Di situ dicantumkan bahwa PTN harus menerima minimal 20 persen mahasiswa yang berkebatasan ekonomi, namun memiliki otak cemerlang. Tapi cukukah 20% tsb untuk meningkatkan kembali dinamika kehidupan kemahasiswaan di UI? 🙂

        1. iya nih….kan minimal. duit di ui sekarang ga diatur mandiri lagi kan? jadi masuk duit negara lagi kan? so, ga ada cari untung lagi kan? jadi ga guna juga dong kalo dibates2in… gitu bukan ya logikanya?

  16. saya masyarakat indonesia… perihatin dengan keadaan negara ini…. yang mana hukum carut marut dng tidak jelasnya hukum bg yg tidak mampu tu membeli hukum tersebut,, sdangkan bagi yang mampu,,, dmn kah keadilan …. dng ekonomi yg terus aj harga terus naik dng day beli yang turun dengan terpaksa rakyat hrs membeli…… apakah adek2 yg sebagai anak titipan bangsa yg bs berpikir lebih maju dr pd saya,, knp skr hrs diam saja,,, apakah kalian smua pro dengan pemerintah…….liat rakyat ini sdh lama menderita… kami ingin membantu rakyat sdh ga jelas kmn arah ideal negara ini,,,,,,, klu perlu revolusi d semua bidang.. bangun lah mahasiswa indonesiaku,.,,,,,,

  17. satu yang terngiang dari komentar teman saya tentang bem “BEM itu apa sih? kayaknya ada atau ga ada BEM gue tetep kuliah”