Nggak perlu jadi anak FEB untuk tau perkara supply and demand, dan aplikasinya nggak jauh dari permintaan publik dan supply dari produsen. Sederhananya, Ketika sesuatu lagi musim atau lagi trend, semua ngikut. Menjelang Natal, film-film Hollywood semuanya mengandung salju dan natal. Ada lebih dari 10 musisi bikin musik dengan tema Natal. Ketika lagi Imlek, kamu lihat barongsai dan dekorasi sesuai tahunnya, naga ya naga, tikus ya tikus. Begitu juga ketika Ramadhan. Selalu ada yang namanya edisi Ramadhan, yang tentunya ada di sekitar kamu wahai para mahasiswa.

Acara TV Edisi Ramadhan

Yang antagonis juga jadi pake jilbab. (Sumber: mdentertainment)

Si antagonis juga jadi pake jilbab loh? (Sumber: mdentertainment)

Obvious-lah ya. Semua yang ada di TV jadi Ramadhan. Nggak masalah sih, justru malah jadi tantangan sendiri buat kamu yang suka nonton TV, apa yang berubah dari acara-acara itu. Sinetron, pasti berubah. Tokoh yang muncul mayoritas berhijab. Lucunya adalah selain bikin unsur temporalnya bulan Ramadhan adalah memakaikan juga hijab ke tokoh yang antagonis. There, we got Ramadhan version of an antagonist.

Acara musik? MC yang kemarin pakai high heels, you-can-see-and-you-wanna-touch, dan kalung bling-bling, kini menutupi rambut dan segenap tubuhnya. High heels tetep pake sih, kan kaitannya ama tinggi badan. Musisi, baik yang di bis kota maupun di layar kaca, ganti playlist ke edisi Ramadhan. Hayo, acara apa yang nggak berubah? Acara entertainment aja punya edisi Ramadhan.

 

Perpus UI Edisi Ramadhan

Yang diputer lagu-lagu religi. (Sumber:)

Dan yang diputer di HP selalu lagu-lagu religi. (Sumber: carilaguin)

Ini UI banget. Kamu yang habitatnya di perpusat UI, entah ngapain, pasti pernah denger lagu-lagu yang diputar sebagai penanda bahwa perpustakaan akan segera tutup. Kalau bukan Ramadhan, playlist-nya lagu daerah. Seru, hingar-bingar, dan biasanya kalau kamu udah kecanduan ‘bermalam’ di perpus, kamu sadar bahwa lagunya itu-itu aja.

Perpus UI edisi Ramadhan, lagunya religi. Tapi belum pernah denger sih di perpus edisi Ramadhan ini disetel rekaman tadarusan. Perpus juga tutup lebih cepet. Starbucks tetep buka, tapi kaca ditutup semua. Ini multifungsi, agar yang puasa tidak merasa terganggu dengan adanya orang yang menghilangkan dahaga di siang hari yang terik, dan agar yang di dalam Starbucks nggak terganggu dengan tatapan haus, ngiler, atau malah judge-y dari mereka yang melintas. Trust me, it works both ways.

advertisement

 

Sleep Pattern Edisi Ramadhan

Sleep patern edisi Ramadhan. (Sumber:)

Sleep patern edisi Ramadhan. (Sumber:Photo Credit: russelljsmith via Compfight cc)

“Maka rusaklah sleep pattern seorang mahasiswa ketika libur semester bersamaan dengan bulan puasa.” Bener. Banget. Oke, mungkin kamu emang jiwanya kalong yang hidup sehidup-hidupnya ketika malam hari, libur nggak libur, puasa nggak puasa. Tapi buat mereka yang punya sleep pattern yang konvensional, sleep pattern mereka punya edisi Ramadhan.

Konvensional: Tidur malam pukul 10 atau 11, bangun pagi pukul 5, tidur siang pukul 11-14 atau 13-16.

Ramadhan konvensional: Tidur malam pukul 12 atau pukul 1, bangun sahur pukul 4, tidur pagi pukul setengah 6, bangun pukul jam 10, tidur siang pukul 13-16.

Ramadhan hardcore: Tidur malam pukul 2, tidur pagi pukul setengah 6, bangun pagi pukul 12, tidur siang sesi satu pukul 13-15, tidur siang sesi dua 15.45 – 17.45.

Intinya, tidur ketika puasa, bangun ketika bisa makan dan minum. Ini salah satu alasan kenapa kamu yang niatnya diet pas puasa tapi malah naik 4 kg selepas lebaran.

advertisement

 

Temen-temen Edisi Ramadhan

Teman-teman edisi Ramadhan. (Sumber:)

Teman-teman edisi Ramadhan. (Sumber:Photo Credit: Farid Iqbal via Compfight cc)

Ini juga real. Perhatikan detailnya. Kepribadiannya berubah, kata-kata dijaga dan sumpah serapah diminimalisir. Ada satu atau dua orang yang mulai pake kerudung atau hijab, tanpa ada teaser atau trailer (macam film) tentang itu sebelumnya. Diskusi hangat tentang bukber, bahkan yang biasanya di grup cuma nge-read sekarang muncul ketika ngomongin bukber. Tetiba salah satu teman jadi rekan kamu yang bersanding tak hanya di kelas tapi juga di Mushola.

Malah kadang papasannya di tempat wudhu karena teman kamu yang biasanya ‘lupa’ sholat itu udah nyampe Mushola lebih dulu dari kamu. Ada yang cerdas memanfaatkan mitos “puasanya batal kalo bohong” dan menanyai kamu dengan pertanyaan yang provokatif dan mengoyak privasi.

Tapi semua itu baguslah, masih positif karena mereka jadi sosok yang berusaha untuk jadi lebih baik walaupun cuma edisi Ramadhan. Semuanya baik, kecuali temen kamu yang satu itu, yang waktu wudhu kumur-kumur 3x dan kumur-kumur terakhir ditelen. Wudhu edisi Ramadhan, ceritanya. No, dude. Wudhu is not a license to put water in your mouth and ‘accidentally’ swallowed it.

—

Ketika kamu beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa UI, hal-hal ini sudah tidak lagi kamu lakukan lagi ketika ramadhan tiba. Baca kelanjutan tulisannya di sini.

Kamu tahu apa lagi yang ada edisi Ramadhan-nya? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line biar kamu juga punya pribadi edisi Ramadhan, sebagai orang yang nge-share apa pun yang berbau Ramadhan ketika puasa!



[reaction_buttons]