“Don’t judge a book by its cover” pasti adalah salah satu kutipan yang sering banget kita denger sejak kita kecil. Kita bisa menemukan kutipan ini di dalam film, buku cerita, buku pelajaran, atau bahkan keluar dari mulut orangtua kita. Dari kutipan ini, kita diajarkan untuk menghargai semua orang tanpa melihat penampilan luar mereka. Oh ya, bukan hanya pada manusia. Kutipan ini juga berlaku pada semuanya, dan bertujuan untuk mengajarkan kita agar tidak terlalu cepat dalam memberikan penilaian, sebelum benar-benar mengenal dan memahami apa yang kita nilai tersebut.

Tapi, apakah semesta pada kenyataannya berfungsi seperti itu?

Apa yang paling pertama kalian perhatikan saat bertemu dengan orang yang baru kalian kenal? Jujur saja, pasti kalian akan memperhatikan penampilan orang tersebut. Bagaimana cara mereka berpakaian, berbicara, berjalan, apakah mereka merokok atau tidak, bentuk wajah mereka, dan masih banyak lagi.

advertisement

Lewat pertemuan pertama ini, opini mengenai orang yang diobservasi mulai terbentuk, meskipun diri kita sendiri paham bahwa hal ini tidak boleh dilakukan. Coba kalian ingat-ingat, pernahkan kalian dalam situasi krisis, misalnya saat dompet kalian hilang, meminta pertolongan pada orang asing karena menurut kalian orang tersebut mau menolong kalian? Entah karena menurut kalian orang asing itu terkesan ramah atau memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menolong kalian.

Atau mungkin sebagai mahasiswa, saat kalian sedang memilih kelas di suatu mata kuliah, pernahkah kalian memutuskan untuk lebih memilih suatu dosen dibandingkan dosen lainnya hanya karena menurut kalian dosen tersebut lebih baik wajahnya dibandingkan dosen yang satunya? Padahal, kalian sendiri belum pernah merasakan diajar oleh keduanya. Mengapa kalian bisa begitu yakin terhadap penilaian kalian tersebut?

Itulah Halo Effect!

Kesan pertama seolah-olah menjadi sangat penting karena adanya halo effect. Yap, halo effect adalah sebuah fenomena psikologis yang berbentuk bias kognitif, di mana penilaian awal terhadap seseorang malah menjadi penilaian final bagi orang tersebut.

advertisement

Sumber: inc.com

Sebagai contoh seorang mantan napi yang baru saja keluar dari penjara dan harus kembali hidup berdampingan dengan masyarakat. Mantan napi tersebut adalah subjek yang paling rentan terhadap halo effect, karena kesan pertama masyarakat sekitar terhadap statusnya tersebut. Dan pada suatu hari, terjadi tindakan kriminalitas di lingkungan tersebut. Mantan napi tersebut pasti menjadi orang yang paling pertama dicurigai karena masyarakat sekitar telah dipengaruhi oleh halo effect dari status mantan napi yang dimilikinya, meskipun belum tentu dialah pelakunya. Lebih parah lagi, bisa-bisa ada saja yang memanfaatkan halo effect ini untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Seperti lewat fitnah dan main hakim sendiri.

Jadi, apa yang menyebabkan halo effect ini muncul?

Halo effect muncul karena otak kita telah menyimpan banyak informasi yang kita temui di sepanjang hidup kita. Informasi yang diperoleh tersebut tidak hanya informasi yang berinteraksi langsung dengan kita, tapi juga informasi yang kita temui di koran, televisi, atau cerita dari orang lain. Nah, otak kita akan mendaur ulang informasi yang sudah tersimpan itu setiap kali kita menemui informasi lainnya yang serupa.

Untuk lebih mudahnya, bayangkan saja ketika kita mendengar cerita teman kita tentang perampok di dekat rumahnya yang memiliki ciri-ciri tatto di bagian lengannya. Karena cerita dari temanmu itu, kamu mulai mencurigai semua orang yang memiliki tatto di bagian lengannya, bahkan kamu cenderung menghindarinya. Dalam hal ini, kamu telah melakukan penilaian akhir pada semua orang yang memiliki tatto di bagian lengan sebagai pelaku perampokan. Padahal, baik kamu dan temanmu itu bukan hanya belum pernah melihat secara langsung perampok itu, kalian berdua bahkan tidak mengetahui bentuk dari tatto si pelaku.

advertisement

Distorsi Perspesi Manusia

Berdasarkan ilustasi di atas, kalian dapat menarik kesimpulan bahwa halo effect dapat mendistorsi persepsi manusia. Untuk menghindari diri kita menjadi korban dari halo effect ini, penting bagi kita untuk membangun kesan pertama yang baik di berbagai kesempatan. Sebagai contoh misalnya saat kita sedang melakukan wawancara pekerjaan. Usahakan untuk datang lebih awal dengan pakaian yang rapih dan tidak menonjol (seperti warna yang terlalu terang atau corak yang terlalu ramai). Hindari perhiasan yang berlebihan. Jangan menyela atau berbicara yang dibuat-buat. Dan yang terpenting, selalu tersenyum dan jangan lupa untuk mengucapkan terimakasih terhadap pewawancara. Langkah terakhir ini adalah penentu paling berpengaruh jika kalian ingin menciptakan halo effect yang baik untuk diri kalian.

Sumber gambar header Halo Effect: Pinterest, photo by Gorand Strand



advertisement