Pada hari Rabu tanggal 21 November 2007 silam, kedua pasangan calon ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) untuk periode 2008 – 2009 yaitu (1) Basori – Toha dan (2) Edwin – Pongki berkesempatan untuk mengadakan diskusi dan debat di lobi kampus perjuangan UI Salemba, Jakarta Pusat.

Sebelum pasangan Basori – Toha dan Edwin – Pongki beraksi, seorang calon perwakilan mahasiswa untuk Majelis Wali Amanat (MWA) UI serta seorang calon DPM UI telah lebih dulu berkampanye yang semuanya dimulai pada sekitar pukul 4 sore, lebih kurang 30 menit mulur dari waktu yang ditentukan dan selesai sekitar pukul 9 malam dengan lancar.

Diketahui bahwa acara ini merupakan rutinitas tahunan di kampus UI Salemba, yang terutama terdiri dari mahasiswa fakultas kedokteran (FK) dan fakultas kedokteran gigi (FKG) dan selalu ramai dihadiri oleh mahasiswa FK maupun FKG dari jenjang D3 maupun S1. Demikian pula acara ini dihadiri perwakilan dari BEM UI periode 2007 – 2008, yang sayangnya tidak diwakili langsung oleh ketua BEM UI, dan panitia pemilihan raya (PEMIRA) dari UI Depok.

advertisement

Tersebutlah kabar bahwa kampanye berbentuk debat terbuka di kampus tersebut berlangsung ricuh dan konyol. Hal ini diketahui dari tersebarnya video cuplikan kampanye tersebut yang terpampang di website video hosting terkemuka, YouTube.

Dalam video tersebut, tampak Basori dan Edwin diperlakukan tidak selayaknya seorang calon ketua BEM UI yang seharusnya tampil berwibawa dan mengayomi. Edwin berusaha menguasai keadaan dengan mengajak hadirin menyanyikan mars “Totalitas Perjuangan” namun ditolak mentah-mentah oleh seorang hadirin karena dianggap menghina jalannya PEMIRA sebagai pesta demokrasi. Tampak pula hadirin di lobi bawah kampus perjuangan itu berbuat aneh-aneh seperti menari-nari ketika Basori membacakan puisi diiringi nyanyian dari pasangannya, Toha, demi menghibur hadirin di UI Salemba.

Berbagai respon muncul atas pemuatan video ini di website YouTube, sebagian besar berpendapat bahwa video ini justru menunjukkan bahwa mahasiswa UI Salemba yang selama ini dicap terbaik, berinteligensia tinggi dan sebagainya ternyata tidak benar karena telah berbuat konyol sesuai yang terekam di video.

advertisement

Penulis di sini yang merupakan mahasiswa FKUI, yang juga menghadiri acara kampanye debat terbuka tersebut, yang juga menjadi panelis untuk acara kampanye debat terbuka tersebut walaupun kemudian dikosongkan, yang juga turut membuat riuh suasana, yang juga merekam video tersebut melalui piranti telepon seluler, yang juga menyunting video tersebut di komputer dan yang juga memuat video tersebut ke website YouTube, akan berusaha meluruskan apa yang sebenarnya terjadi pada kampanye debat terbuka tersebut.

Sekitar pukul 4 sore, lobi bawah FKUI sudah dipenuhi berbagai hadirin terutama mahasiswa FKG UI, mahasiswa D3 FKUI, mahasiswa S1 FKUI dari angkatan 2007 hingga 2002 serta rekan-rekan dari UI Depok yang terdiri atas panitia PEMIRA dan perwakilan dari BEM UI periode 2007 – 2008 yang seingat penulis adalah koordinator publikasi dan humas BEM UI. Demikian pula para kandidat yang berhubungan dengan PEMIRA ini seperti kedua pasangan calon ketua dan wakil ketua BEM UI, seorang calon wakil mahasiswa untuk MWA UI dan seorang calon DPM UI.

Sebagai panelis telah hadir ketua BPM FKUI periode 2007 – 2008, mantan ketua Senat Mahasiswa (SM) FKUI periode 2006 – 2007, ketua SMFKGUI periode 2007 – 2008, ketua SMFKUI periode 2007 – 2008 dan penulis sendiri menggantikan koordinator Kastrat SMFKUI periode 2006 – 2007.

advertisement

Rangkaian acara PEMIRA ini dibuka langsung dengan kampanye calon wakil mahasiswa untuk MWA UI, yang sayang sekali penulis lupa namanya. Ketika memasuki sesi tanya jawab, wakil untuk MWA ini terkesan tidak mengetahui permasalahan yang terjadi di kampus UI Salemba, tidak mampu mengakomodasi tuntutan mahasiswa dan tidak mampu mengidentifikasi komponen yang diperlukan dalam pekerjaannya sebagai MWA kelak. Bagaimana mungkin seorang perwakilan mahasiswa di MWA UI yang terdiri dari berbagai elemen tidak mengetahui apa-apa yang harus dikerjakannya. Tentu saja hadirin yang terutama adalah mahasiswa UI Salemba demikian kecewa dan menunjukkan kekecewaannya dengan berbagai cemooh, taburan botol galon dan sebagainya.

Sekitar pukul 5 sore, kemudian calon DPM UI mendapat giliran untuk kampanye. Hal ini tidak berlangsung lama karena panelis serta hadirin dikecewakan oleh kehadiran calon DPM UI yang hanya satu orang saja dari seharusnya tujuh orang. Belum sempat calon DPM UI itu mengemukakan programnya secara tuntas, ia diminta untuk menghentikan kampanyenya karena secara umum panitia PEMIRA dan calon DPM UI telah tidak menghormati mahasiswa UI Salemba karena ketidak hadiran keenam calon lainnya, ditambah lagi calon DPM UI yang hadir itu menggunakan sandal jepit yang semakin memperkuat kesan bahwa mahasiswa UI Salemba disepelekan.

Barulah acara puncak dimulai pada pukul 5.30 sore yaitu kampanye debat terbuka calon ketua BEM UI. Pada saat ini penulis mengundurkan diri sebagai panelis untuk kemudian dikosongkan karena tidak ada yang ingin mengisi bangku panelis. Suasana kembali relatif tenang selama kedua pasangan calon itu mempresentasikan program kerja mereka.

advertisement

Suasana kembali panas ketika sesi tanya jawab panelis dimulai, ketika program kerja kedua calon dianggap sudah tidak relevan dengan situasi yang terjadi di UI Salemba seperti renovasi Wismarini Otista Jakarta Timur, lomba penelitian ilmiah dan sebagainya. Suasana semakin panas ketika kedua pasangan tidak memiliki pendapat yang teguh mengenai perpindahan UI Salemba ke Depok dan masalah yang menyertainya seperti ketersediaan RS bagi mahasiswa dan dosennya, terutama bagi mahasiswa klinik dan D3.

Kedua pasangan calon semakin tidak dapat menguasai keadaan walaupun relatif tenang tanpa ada kekerasan fisik. Hadirin semakin tidak menaruh kepercayaan kepada kedua pasangan calon ketika mereka ditanyakan pertanyaan sederhana namun penting terhadap sinergisitas komponen dari keseluruhan program kerja. Ketika ditanyakan berapa jumlah suara yang diharapkan dari FKG dan FK, salah satu calon menjawab jumlah suara yang melebihi jumlah mahasiswa fakultas tersebut. Ketika ditanyakan badan apa saja yang ada di FK, salah satu calon menjawab “pecinta alam”. Suasana pun seketika hampir mencapai pada klimaks panas. Sebagai klimaks ketidak tahuan kedua pasangan calon mengenai profil UI Salemba, mereka tidak mengetahui dekan FKG dan FK serta ketua dewan guru besar UI sebagai pertanyaan bonus.

Tampaknya komunikasi dan silaturahmi antara UI Depok dan Salemba kembali menjadi dasar permasalahan kesemuanya. Tersebutlah salah satu calon berjanji akan memperbaiki hubungan komunikasi antara UI Depok dan Salemba, tersembullah ke permukaan betapa BEM UI periode 2007 – 2008 tidak beritikad baik memperbaiki hubungan kemahasiswa UI Depok dan Salemba seperti ketidak hadiran ketua BEM UI dalam acara bertema pergerakkan mahasiswa Stov-Ex beberapa waktu silam serta tidak diundangnya Tim Bantuan Medis (TBM) FKUI dalam aksi demonstrasi beberapa waktu silam sebagai salah satu komponen aksi selama bertahun-tahun.

Penulis lantas menekankan kepada salah satu calon bahwa publikasi bukanlah hal main-main bagi hubungan UI Depok – Salemba karena masalah ini jauh sudah ada mungkin sebelum jaman Rico Marbun masih berkampanye menuju kursi ketua BEM UI ketika penulis baru berstatus sebagai mahasiswa.

Hal ini cukup menohok sehingga koordinator publikasi BEM UI periode 2007 – 2008 pun tidak lama meninggalkan acara, setelah sempat berdebat mengenai keburukan BEM UI tersebut yang harusnya tidak boleh terjadi pada BEM UI berikutnya.

Selama kampanye ini berlangsung hingga pukul 9 malam, galon air, sepatu, tempat sepatu, bambu tandu beterbangan yang untungnya tidak mengenai anggota tubuh para pasangan calon. Dengan bantuan megafon maupun melalui bacot alami hadirin kerap meneriakkan rasa kecewanya. Panelis juga berulang kali menyarankan para calon untuk pulang karena BEM UI dianggap tidak berguna bagi kelangsungan UI Salemba.

Dengan situasi yang sudah demikian “terbuka”, mengingat nama acara ini adalah debat terbuka, kedua pasangan calon pun diminta untuk menghibur hadirin UI Salemba. Pada saat itulah penulis baru sadar untuk merekam kampanye debat terbuka ini secara alakadarnya selama 12 menit karena faktor fasilitas, untuk kemudian dimuat di YouTube sebagai peringatan.

Kampanye dengan nuansa seperti ini sebenarnya telah terjadi bertahun-tahun dan kebetulan saja terekam oleh penulis pada tahun ini. Walau demikian, nampaknya kedua pasangan calon ini tidak memiliki informasi dan persiapan menghadapi “debat terbuka” di UI Salemba ini.

Peringatan bahwa pemilihan ketua BEM UI juga melibatkan UI Salemba yang tentunya tidak kalah antusias dengan rekan di UI Depok. Bahwa BEM UI sebelum berorientasi kepada masyarakat harus mampu mengayomi semua unsur mahasiswa, tidak berdasarkan agama, kepentingan politik dan organisasi, tingkat kemampuan ekonomi, latar belakang akademis dan sebagainya.

Video ini merupakan luapan kekecewaan mahasiswa UI Salemba yang telah turun temurun dianggap sebagai penambah suara PEMIRA belaka oleh kepentingan tertentu dari UI Depok. Hal ini sudah terjadi bertahun-tahun dan sudah sepantasnya kedua pihak untuk membuka komunikasi dan silaturahim.

iR,
Webmaster Jadul Community Forum (http://www.jadul.org),
mahasiswa FKUI S1 angkatan 2002 (http://www.fkui02.net/)

Referensi :